Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 91 Ke Kantor


__ADS_3

Malas melanjutkan perdebatan dengan Divya, Safir segera keluar dari kamar. Ia melangkah cepat untuk menuju kantor.


"Fiiirrr ... Mau kemana?" tanya Zantisya saat melihat anaknya yang nampak terburu-buru.


"Ke kantor, Bun. Maaf, Safir sarapan di kantor saja. Sudah di tunggu sama Pak Yusman," ucap Safir dan langsung berlalu.


Begitu sampai garasi, Safir menyadari kalau mobil barunya ada di rumah mertuanya. Sedangkan yang tertinggal hanyalah mobil lamanya. Safir hanya bisa menghela nafasnya pelan. Mana mungkin dirinya menggunakan mobil yang Safir lihat saat ini.


"Paaakkk ... Tolong antar saya ke kantor," teriak Safir pada sopir Zantisya.


Sekalipun heran karena Safir meminta untuk di antar, tapi Pak Sopir tentu saja menuruti ucapan Safir. Mungkin saja karena penerbangan kemarin masih membuat Safir merasa lelah.


"Bapak pulang saja duluan," ucap Safir saat mobil sudah sampai kantor. "Terima kasih ya Pak."


"Loh, Mas. Ini serius ndak saya tungguin?" tanyanya memastikan.


"Serius Pak. Nanti saya bisa naik ojek saja atau numpang Pak Yusman."


Setelah sopir sudah kembali melajukan mobil, Safir segera memasuki gedung kantor. Para karyawan yang ada di sana jelas terkejut karena Safir pulang lebih awal. Tapi tetap saja, mereka lebih senang kalau Safir sudah kembali bekerja.

__ADS_1


"Kosong kulkasnya? Tumben enggak ada tulang-tulang Pak?"


"Iya Mas. Kemarin ada yang borongan beli tulang-tulangan. Malah katanya kalau stok tulang sudah ada lagi kita disuruh menghubungi, Mas."


"Alhamdulillah. Saya ke atas dulu ya pak."


"Monggo, Mas."


Sesampainya di lantai 2 tentu saja Safir di sapa dengan baik oleh beberapa karyawan yang sedang bekerja. Tanpa mau berbasa basi, karena tujuannya adalah Yusman.


"Pak, kita bicara di ruang kerja saya ya," ajak Safir saat berpapasan dengan Yusman yang baru saja keluar dari ruang kerja.


"Baik Mas, saya turun sebentar."


Safir segera memasuki ruang kerjanya. Rasanya sungguh menyengakan karena Safir sudah memiliki ruangan kerja. Untuk menunjang semua urusan yang harus di selesaikan. Agar dirinya tidak lagi bingung membawa berkas kesana-kemari.


"Bagaimana Pak?"


"Begini Mas. Mas tahu usaha bakso cap kumis? Yang pusat produksi baksonya di Jakarta dan sudah punya beberapa cabang di kota-kota terdekatnya itu loh Mas. Yang kemarin virak di toktok."

__ADS_1


Safir yang tidak tahu jelas menggelengkan kepalanya. "Saya enggak main toktok Pak. Yang mana sih?"


"Sebentar," ucap Yusman sambil merogoh ponselnya untuk memberi tahu Safir tentang usaha milik seseorang itu. "Nah itu usaha sudah berdiri selama 15 tahunan Mas. Jadi usahanya Pak kumis itu dari semua jenis bakso dan bumbunya itu dari Pak kumis. lalu kalau stok bakso di beberapa cabang itu habis, maka dari tempat produksi baksonya langsung yang menyuplai. Itu di lakukan untuk menjaga cita rasa dan nama baik bakso cap kumis agar tetap terjamin," terang Yusman, setelah Safir melihat beberapa video.


"Terus?"


"Nah, beberapa hari yang lalu pihak dari Pak kumis sendiri menghubungi kita, Mas. Beliau meminta untuk menyupali daging ke sana. Bagaimana?"


"Bukannya menolak rezeki, tapi kok ya jauh sekali toh Pak minta suplai daging dari Malang ke Jakarta?" ucap Safir. Menurutnya di daerah provinsi terdekat Jakarta juga masih ada penjual sapi. Bukankah transportrasinya juga terlalu jauh jika mengambil dari Safir. Karena untuk saat ini, yang memang sudah sampai Jakarta itu hanya telur bebek saja. Itu pun dari pihak pembeli sendiri yang mengambil langsung ke Malang.


"Beliau sendiri Mas, yang mau. Toh beliau sendiri yang berniat mengambil dagingnya. Kalau begini, sepertinya kita perlu menambah akomodasi deh Mas. Beli mobil box freezer."


"Sebentar Pak, kita juga belum tahu kedepannya bagaimana kan. Lagi pula kemarin saya baru menggunakan uang untuk beli mobil juga."


"Iya mas. Jadi bagaimana? Rencanaya kalau Mas setuju, dari pihak Pak kumis akan datang ke Malang untuk survei lokasi."


"Bismillah saya. Kita coba deh Pak," ucap Safir yakin.


"Baik Mas. Oh iya, hampir saja lupa. Kemarin ada yang menghubungi saya, kabarnya ada beberapa warga yang punya sapi ingin menjual sapi mereka, Mas. Sudah umur satu tahunan lebih, dan beberapa yang umur 4 bulanan. Jadi hari ini saya mau ke lokasi untuk melihat kondisi sapinya dulu. Mas mau ikut?"

__ADS_1


"Sepertinya tidak dulu deh Pak. Saya ingin istirahat di sini."


"Oh iya, Mas kan baru sehat dan baru pulang dari luar negeri juga. Sebaiknya Mas pulang saja, istirahat yang cukup, Mas. Kalau begitu saya permisi."


__ADS_2