Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 147 Penyesalan Divya


__ADS_3

Apa yang bisa Divya lakukan selain menyesali keadaan. Jika saja dirinya memanfaatkan waktu dengan baik saat Safir juga sedang berusaha memperbaiki rumah tangga mereka, mungkin semuanya tidak akan sampai seperti ini.


Setiap hari Divya hanya bisa melamun. Memikirkan cara agar dirinya bisa kembali lagi pada Safir. Namun, jika dirinya harus menikah dengan lelaki lain dan harus melakukan hubungan itu dengan orang yang tidak Divya sukai, tentunya Divya enggan. Membayangkan tubuhnya disentuh orang yang tidak berkenan di hati Divya saja sudah membuat Divya bergidik ngeri.


Padahal kalau diingat lagi, cukup lama dirinya menunggu Safir agar menikahinya sesuai dengan janji yang Safir buat padanya. Karena tujuannya untuk melukai hati Queen dan memanfaatkan perasaan Safir yang tidak peka, justru membuat Divya terjerumus sejauh ini. Hingga sisanya sebuah penyesalan.


"Kak, ikhlaskan semuanya. Kalau Kakak seperti ini terus, Kakak akan terus merasakan sakit hati sendiri. Meskipun Kakak berkenan menikah dengan lelaki lain dulu, tapi apa Kakak yakin kalau Safir mau kembali lagi pada Kakak?"


Divya yang sejak tadi menunduk, kini berpindah menatap Vian. Sungguh, ucapan Vian rasanya tidak ingin membuatnya sadar. Karena yang Divya ingin adalah Safir.

__ADS_1


"Sedangkan sejak awal Kakak juga tahu, arah hati lelaki itu tujuannya kemana sebenarnya. Sadar Kak, yang Safir berikan selama ini Ke Kakak itu bukan sepenuhnya perasaan cinta. Itu semua karena dia kagum dengan Kakak. Kak Di tahu itu kan?"


"Hiks ... hiks ..." Divya menangis lagi. Meluapkan isi hatinya yang kembali sakit dan penuh rasa sesal. "Kenapa hari itu aku harus bertemu dengan Dafa? Kalau saja aku langsung pulang dengan Lusi, ini semua tidak akan pernah terjadi. Semua ini gara-gara Dafa, Vian."


Vian kembali menghela nafasnya lagi. Ia harus bisa memberikan penjelasan sebaik mungkin agar Divya bisa mengerti.


"Tenang Kak, jangan menyalahkan orang lain dalam hal ini. Aku rasa kalau kakak jujur sejak awal pada Safir, sudah pasti ini semua juga tidak akan terjadi," ucap Vian mencoba memberikan pengertian pada Divya. "Sesuatu yang baik akan berakhir baik, begitu juga sebaliknya. Ayo kak, ikhlaskan saja perasaan ini. Kakak buka lembaran hidup yang baru dan jauh lebih baik. Cinta memang seperti ini, Kak. Tidak selalu berakhir seperti yang kita inginkan. Yang penting sekarang itu Kakak sehat, dan bisa berkumpul lagi dengan semua keluarga. Termasuk adik kita, Queen. Aku sampai tidak tahu lagi mau membuat alasan padanya bagaimana. Karena dia sangat rindu Kakak."


Hingga beberapa kali Divya menghela nafasnya secara kasar. Rasanya begitu menyesakkan dada saat semuanya sudah hilang dan kini dirinya baru sadar.

__ADS_1


"Apa seperti ini rasa sakit yang kamu rasakan, Fir? Kenapa kamu jadi orang bodoh yang tidak peka dengan perasaanmu sendiri. Tidak bisa membedakan antara rasa cinta dengan hubungan persahabatan. Kalau saja kamu tidak memberikan celah, mungkin aku tidak akan melangkah sejauh ini. Sekarang apa yang aku dapatkan? Aku kehilangan semuanya."


*


"Omaaa ..." panggil Queen saat menghampiri Nissa yang sejak tadi duduk di teras rumah bagian samping.


"Kenapa Nak?" tanya Nissa. Wajahnya seketika berubah khawatir karena melihat kedua mata Queen yang nampak memerah.


"Apa Kak Di tidak pernah telpon Oma atau Opa? Ini sudah satu bulan lebih Kak Di berpisah dengan Safir. Tapi kenapa sampai sekarang Kak Di tidak pernah hubungi Queen. Kak Di sebenarnya kenapa? Dia pergi kemana dengan Kak Vian, Oma? Kak Vian juga sekalipun tidak pernah menerima panggilan suara ataupun panggilan video dari Queen? Kenapa sekarang Queen jadi merasa kalau memiliki salah dengan Kak Di?"

__ADS_1


"Queen, tidak memliki salah apa-apa dengan Kak Di, nak. Saat ini Kak Di hanya sedang menenangkan diri. Biarkan dia mencari ketenangan hatinya setelah berpisah dengan Safir. Kalau Kak Di sudah merasa lebih baik, pasti Kak Di akan menghubungi Queen. Sabar ya!" ucap Nissa sambil mengusap mata Queen yang sudah berkaca-kaca.


Sudah satu minggu ini, perasaan Queen jadi tidak enak sendiri. Sebagai seorang adik, tentu Queen sangat merindukan Divya. Gadis tersebut iri, kenapa Divya bisa pergi dengan Vian untuk menenangkan diri. Namun, tidak dengannya. Queen sadar kalau saat ini dirinya sedang kuliah. Tapi setidaknya, Divya memberikan kabar padanya secara langsung. Itu saja sudah cukup.


__ADS_2