
Begitu sampai di Bandara Kota Malang, Safir dan Divya ikut pulang ke rumah Arjuno. Kalau boleh memilih, Divya jelas tidak ingin jika dirinya di bawa pulang ke kediaman mertuanya tersebut. Tapi mau bagaimana lagi, Divya harus mengikuti maunya Safir. Berharap dengan ini, Safir bisa sepenuhnya memaafkan dirinya. Dan membuang kecanggungan yang ada di antara mereka.
"Bundaaa ... Ayaaahhh ..." Si bungsu Arfan langsung lari menghampiri ke dua orang tunya. Sekalipun sudah remaja. Dan nyatanya menjadi anak laki-laki, Arfan tetap saja Manja. "Kenapa baru pulang? Lihatlah, Bun. Arfan kurusan gara-gara di tinggal Bunda."
"Drama," ucap Safir sambil mengacak-acak puncak kepala Arfan. Baru saja memasuki rumah, kini Safir sudah terlihat terhibur dengan tingkah adiknya tersebut. Safir jadi mengandai-andai, kalau saat ini ada Ruby. Pasti rumah ini akan sangat ramai karena mereka.
"Kakak sudah benar-benar sehat?" tidak bisa di pungkiri kalau Arfan juga sangat mengkhawatirkan keadaan Safir.
"Sehat."
"Sudah-sudah, Safir ajak Divya istirahat dulu. Kalian pasti lelah sekali," ucap Zantisya agar Arfan tidak terus mengajak Safir berbicara.
"Baik Bunda. Ayo."
"Bunda belikan sesuatu untuk Arfan," ucap Zantisya. Ia sengaja membelikan sesuatu yang menurutnya akan sangat di sukai Arfan.
"Apa Bunda?" tanyanya semangat.
Beberapa hal yang menjadi khas Paris. Zantisya tentu membelikan beberapa baju untuk Arfan. Ada miniatur menara eiffel. Dan juga sebuah lukisan yang terdapat wajah Arfan di sana. Zantisya sangat bersyukur karena apa yang ia beli, semuanya di sukai oleh Arfan.
__ADS_1
"Terima kasih, Bunda," ucapnya kemudian mendaratkan kecupan di pipi Zantisya.
"Sama-sama anak baik. Sekarang Bunda mau istirahat dulu ya. Nanti sore Bunda akan masakain untuk Arfan. Kangenkan sama masakan Bunda?"
"Kangen sekali. Tapi nanti sore Bunda tidak perlu memasak. Bunda istirahat saja. Biar Bibi yang masak."
"Baik, nak," Zantisya segera keluar dari kamar Arfan. Untuk sesaat, langkah kaki Zantisya terhenti. Matanya terarah pada pintu kamar Safir. Zantisya hanya menghela nafasnya lega. Ia sangat bersyukur karena anaknya masih di berikan kesehatan lagi.
Sore harinya, Divya yang sudah membersihkan diri dan merasa bosan berada di dalam kamar, ia memilih keluar dari kamar Safir tersebut. Secara perlahan Divya melangkah menuruni anak tangga. Rumah mertuanya ini memang tidak seluas seperti rumahnya. Namun kesan mewah memang terlihat begitu jelas. Meski begitu rumah ini juga tidak begitu banyak Art seperti di rumah ke dua orang tuanya. Divya jadi berpikir, apakah mampu Art yang ada di rumah ini membersihkan rumah ini setiap harinya.
"Hai Arfan," sapa Divya saat bertemu tatap dengan iparnya tersebut. Ingin sekali Divya lebih akrab juga dengan Arfan, tapi entah bagaimana caranya untuk mendekati remaja tersebut.
"Hai Kak," sapanya ramah, kemudian berlalu begitu saja.
"Selamat sore Bunda?"
"Sore."
"Apa yang bisa Divya bantu Bunda?"
__ADS_1
Untuk sesaat Zantisya menghentikan pekerjaannya. Ia melihat Divya sejenak lalu beralih ke bahan sayuran yang ada di depannya tersebut.
Meski hati Zantisya masih merasa kecewa, tapi ia juga tidak boleh terlalu lama merasa seperti ini. Apalagi sekarang sepertinya Divya sedang berniat baik ingin membantu dirinya. Sekalipun ia tidak yakin kalau Divya bisa melakukan apa yang akan ia suruh.
"Arfan minta di buatkan gorengan bakwan, jadi Divya tolong iris sayuran untuk bakwan ya."
"Baik Bunda."
Setelah memberikan perintah, Zantiysa segera memasak sayuran di oseng. Sedangkan Divya terlihat terpaku menatap segala macam, sayuran yang ada di depannya tersebut. Divya yang memang tidak begitu menyukai gorengan, dan tidak memiliki ketrampilan memasak, tentunya Divya hanya tertegun.
'Mampus aku. Mana ku tahu isian bakwan apa saja?' gumamnya mulai khawatir. Tapi kini Divya sudah menyentuh wortel.
"Non Divya mau buat apa?" tanya Art saat melihat Divya yang membagi tiga satu buah wortel.
"Buat isian bakwan, Bi."
"Owalah Non. Sebelumnya kulit wortelnya di bersihkan dulu, ndak perlu di potong seperti ini juga, Non. Kan ada parutan wortel."
Zantisya yang mengetahui hal itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia sengaja diam karena ingin tahu apakah Divya akan bertanya pada dirinya atau tidak.
__ADS_1
"Lain kali kalau Divya belum tahu, tanya sama Bunda. Tidak perlu malu. Dari pada nantinya salah kaprah dan berakibat fatal."
Entah sadar atau tidak sadar, ucapan Zantisya justru terdengar menyinggung Divya.