Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 71 Melihat Queen dan Vian


__ADS_3

"Berhenti sekarang Pak," ucap Hendri karena mobil masih saja jalan. Padahal saat ini Mobil tersebut sudah jalan pelan dan akan menepi.


"Ada apa sih Mas?" Reina semakin bingung melihat reaksi suaminya.


"Aku seperti melihat Queen."


"Mas jangan ngada-ngada deh, anak kita itu pergi ke Australia," tutur Reina mengingatkan Hendri.


"Aku harus memastikan dulu. Aku paham betul anakku seperti apa," ucap Hendri yang masih berpikir kalau ia tidak salah lihat.


Hendri bergegas keluar dari dalam mobil. Di ikuti Reina dan kedua orang tuanya. Sedangkan Hendri melangkah cepat. Memastikan lebih dekat lagi kalau penglihatannya tidak salah.


"Queen," gumamnya saat melihat anak bungsunya yang sedang melayani pembeli gorengan. Kedua mata Hendri nampak berkaca-kaca saat melihat anaknya menerima uang recehan. Belum lagi Queen yang tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih pada pembeli tersebut.


"Ini siapa yang menunggu bakwan."


Ucapan dari suara yang begitu familiar dan sudah lama tidak Hendri dengar selama hampir 3 tahun ini, berhasil mengalihkan pandangan Hendri. Siapa yang bisa menduga, jika kini Hendri tidak hanya melihat Queen, tapi juga Vian.


"Viaaannn ..." Reina yang sudah sejak tadi berdiri di belakang Hendri langsung lari untuk memeluk anak lelaki satu-satunya tersebut.


"Queen," gumam Nissa. Siapa yang bisa menduga, kalau saat ini ia melihat kedua cucunya sedang berjualan gorengan dan bukannya pergi ke Australia.


Vian dan Queen jelas terkejut karena mendengar suara Reina. Siapa yang menduga, jika kini perempuan yang telah melahirkan Vian mau menghampirinya.


"Mama," gumam Vian yang baru saja meletakkan gorengan.


Sedangkkan beberapa pembeli dan beberapa orang yang berjualan di sana jelas tidak menyangka karena kini mereka bisa melihat desainer terkenal tersebut. Selain kagum, tapi siapa yang menduga juga jika penjual gorengan langganan mereka sebenarnya adalah anak orang berada. Membuat semua orang yang menyaksikan jadi terharu sendiri.


"Vian," Reina langsung memeluk anaknya. Ia yang setiap hari menangis batin karena anaknya ini tidak kunjung pulang, kini Reina bisa meluapkan air mata yang ia tahan selama ini. Reina memeluk anaknya dengan sangat erat. Seolah meluapkan rasa rindu yang kini mendera hati Reina. "Mama kangen. Kenapa kamu tega sekali siksa Mama seperti ini. Kenapa tidak pulang? Mama sama Papa tidak marah sampai seperti itu."


"Maafin Vian, Ma," ucapnya sambil menangis dan suaranya yang bergetar. Vian memeluk Reina dengan sangat erat. Karena ia memang begitu merindukan kedua orang tuanya.


Grep!


Tiba-tiba Vian merasakan kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. Kehangatan yang penuh rasa kasih sayang karena kini dirinya mendapatkan pelukan dari Hendri juga.


"Maafin Vian, Pa."

__ADS_1


"Dasar anak nakal. Kenapa kamu marah dengan kami sampai sejauh ini."


"Vian enggak marah sama Papa dan Mama. Vian salah. Vian sudah membuat masalah dengan Om, sampai membuat Papa dan Mama malu. Maafin Vian, Pa, Ma."


Queen juga jadi menangis. Padahal rencananya saat ia akan meninggalkan Vian untuk melanjutkan kuliahnya, Queen berencana akan memberi tahu keberadaan Vian pada kedua orang tuanya. Queen sendiri tidak ingin melihat kakaknya hidup seperti ini. Memang mandiri itu bagus. Usaha dari nol tanpa bantuan orang tua juga bagus. Menunjukan kalau Vian bisa berdiri tegak. Tapi jika melihat keadaan Vian sampai seperti ini, pasti akan membuat kedua orang tua mereka sedih.


"Sini kamu anak nakal," panggil Hendri pada Queen agar mendekat dan ikut mereka untuk saling berpelukan.


Nissa mengusap air matanya. Ini bukan tanda kesedihan. Karena air mata Nissa adalah bukti dirinya terharu bahagia. Hatinya lega karena kini Reina bisa kembali bertemu dengan Vian. Namun, tidak dapat di pungkiri kalau Nissa juga sangat sedih. Melihat keadaan Vian yang sampai seperti ini.


"Agh," rintih Yusuf sambil meremas dadanya. Tiba-tiba saja Yusuf merasakan degup jantung yang begitu cepat hingga menyiksa dadanya.


Sebelum memiliki trio S. Cucu Yusuf adalah ketiga anak Reina dan Hendri. Dan yang sudah pasti, Vian adalah cucu kesayangan Yusuf karena memang Vian yang bisa ia ajak main bola bersama dengan Zen kala itu. Dirinya yang terlahir dari keluarga berada. Sanggup menghidupi anak-anaknya agar hidup tidak kekurangan. Menuruti apapun yang di minta orang-orang yang Yusuf sayangi. Siapa yang tidak syok dengan keadaan ini. Melihat Vian yang hidup seperti ini.


"Ayy," Nissa tentu terkejut saat melihat Yusuf yang sudah membungkuk. Sudah lama Yusuf tidak sakit. Hanya saja, keadaan jantungnya yang mulai melemah. Membuat siapapun tidak memperbolehkan memberikan kabar mengejutkan pada Yusuf.


"Ayah," mendengar suara Nissa, membuat Reina melerai pelukannya. Ia segera menghampiri ayahnya. Sungguh, tiba-tiba saja Reina ketakutan kalau sesuatu hal terjadi pada Yusuf.


"Opaaa ..." Kini giliran Queen dan Vian yang berteriak karena terkejut melihat Yusuf.


Vian sendiri sangat ketakutan sekarang. Ia juga merasa bersalah karena dulu Yusuf terkena serangan jantung sampai koma karena dirinya yang berkelahi dengan Zen. Sekarang Vian takut kalau terjadi sesuatu hal pada Yusuf. Apalagi dirinya belum meminta maaf pada Yusuf secara benar.


"Baik-baik saja bagaimana?" cukup sekali Yusuf sakit karena serangan jantung. Nissa jelas tidak ingin jika hal itu terjadi lagi.


"Ayah."


"Opa."


Karena Vian sudah mendekat, membuat Yusuf langsung membawa Vian dalam dekapannya.


"Sudah cukup menyiksa kami dan marah dengan kami, Vian. Opa tidak suka jika Vian seperti ini. Jika Vian tidak kasihan dengan Opa, setidaknya kasihanilah orang tuamu, nak. Jangan buat mereka sedih. Mereka merindukanmu. Inginnya anak-anak kumpul semua."


Sebagai orang tua, Yusuf jelas bisa merasakan kegundahan hati Reina. Kesedihan Reina yang sudah sangat merindukan Vian.


"Vian enggak marah dengan Opa. Vian malu makanya Vian pilih pergi untuk sadarkan diri. Vian minta Maaf, Opa."


"Ayah yakin baik-baik saja? Ayo kita ke rumah sakit sekarang," Hendri jelas mengkhawatirkan keadaan Yusuf. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, jelas tinggal Yusuf dan Nissa saja yang kini menjadi kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir."


Setelah yakin kalau Yusuf baik-baik saja, sekarang Hendri dan Reina beralih menatap anak bungsu mereka.


"Sekarang jelaskan, kenapa Queen ada di sini dan bukannya di Australia?"


Queen jelas cengengesan karena mendapatkan tatapan penuh selidik dari kedua orang tuanya.


"Keluar negeri terlalu jauh Pa, Ma. Tidak ada yang Queen kenal di sana. Queen juga belum yakin mau kuliah di sana, makanya Queen meminta Kak Vian buat jemput Queen," si manja tetap saja manja. Sekalipun mandiri, tapi tetap saja Queen menjadi yang paling manja di antara ketiga anak-anak Reina dan Hendri.


"Lalu siapa yang beberapa hari ini kirim pesan ke Mama?"


"Owh kalau itu sih Mama tanya ke Kak Vian."


Teman Vian yang kini sedang S2 di Australia tentu menerima permintaan tolong dari Vian untuk membeli nomor baru dan berpura-pura menjadi Queen.


"Itu yang beli cepat di layani," ucap Nissa saat kembali ingat kalau kedua cucunya sedang berjualan.


Kini Vian di bantu Nissa untuk menyelesaikan bahan gorengan. Sedangkan Queen dan Reina bagian membagikan Gorengan secara gratis dan di bagi dengan adil.


Queen tadi sampai meminta maaf pada pembeli yang sudah menunggu lama dan membuat mereka menyaksikan drama keharuan keluarga mereka.


Sedangkan sejak tadi Yusuf dan Hendri hanya menjadi penonton saja. Keduanya bahkan tidak siap jika mereka harus menyaksikan kehidupan Vian selanjutnya. Membuat rasa lapar yang tadi sempat mendera mereka, kini sudah hilang begitu saja.


"Cukup ini saja yang di ketahui orang tua kita, begitu juga Opa dan Oma," bisik Vian pada Queen saat ia meletakkan gorengan. Vian tidak ingin usahanya untuk bertahan hidup selama di Kota Semarang di ketahui semuanya. Vian tidak ingin membuat semua orang kembali sedih karena dirinya.


"Oke Bos."


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Reina menatap keduanya penuh curiga.


"Kami sedang membicarakan rencana makan apa setelah ini, Ma."


Sampai pada akhirnya, semua bahan dan gorengan sudah habis di bagikan. Mereka hanya menyisakan secukupnya saja. Para orang tua yang jarang sekali makan gorengan, pada akhirnya mereka melawan pantangan tersebut demi untuk merasakan gorengan yang di jual Vian selama ini.


Sambil menikmati gorengan, mereka sambil berbincang. Reina dan Hendri jelas meminta Vian untuk pulang bersama mereka. Sedangkan Queen memang sudah memiliki janji dengan seseorang, karena ia sudah memutuskan untuk kuliah di sana.


"Malam ini Vian yang akan traktir makan. Ya meskipun makanan yang tidak mahal."

__ADS_1


Kini semua orang sedang menikmati ayam bakar dan ikan bakar. Rasanya malam ini semua orang sedang merasakan kebahagiaan tiada tara. Senang sekali rasanya bisa berkumpul seperti ini.


Selanjutnya, semua orang tua sangat penasaran dengan tempat tinggal Vian selama ini. Namun, hati mereka juga harus bersiap karena mereka harus melihat kenyataan yang sudah pasti menyedihkan.


__ADS_2