
Sejak awal, Zantisya memang tidak setuju jika Safir akan menikahi Divya. Ini bukan karena Zantisya merasa lebih dekat dan lebih tahu Queen bagaimana, tapi penilaian sekilas saat mereka berkumpul keluarga kala mereka berada di Jakarta. Kesan negatif yang Zantisya punya untuk Divya. Bagaimana tidak, gadis tersebut memang tidak menyukai pekerjaan dapur. Bukan maksud hati menuntut Divya untuk pintar memasak, karena jika untuk membayar Art juga mereka jelas mampu. Tapi setidaknya saat semua keluarga sedang asik memasak bersama, saat itu seharusnya Divya ikut bergabung. Bukannya asik menyendiri dan bermain ponsel.
"Apa ini alasan Divya mematikan sambungan telepon secara sepihak kemarin?" tanya Zantisya sambil menatap penuh rasa kecewa.
"Maaf, Bunda. Tapi ..."
"Tapi apa? Apa Divya tidak menganggap kami ini orang tua? Indonesia dan Paris itu jauh Di, Astaghfirullaaahhh ..." Zantisya semakin geram pada Divya yang kini memilih menunduk. "Apa Divya tahu, sepanjang penerbangan kami kesini, perasaan kami sangat khawatir? Kami takut terjadi sesuatu hal pada anak kami, tapi kami sendiri tidak tahu kenapa bisa anak kami bisa sampai masuk ke ruangan itu," tunjuk Zantisya dengan tangannya yang terasa bergetar.
Divya semakin mengatupkan bibirnya. Ia tahu kalau dirinya salah. Maksud hati, Divya akan menjelaskan semuanya pada kedua mertuanya tersebut saat orang tua mereka datang ke sini. Namun, siapa yang menduga kalau Arjuno dan Zantisya lebih dulu datang tanpa sepengetahuan dirinya dan keduanya telah menemui dokter lebih dulu.
"Divya berlaku seperti ini pada kami karena kalian belum punya anak. Belum mengerti perasaan menjadi orang tua, jadi kalian tidak akan tahu bagaimana perasaan kami."
Divya semakin diam. Tapi tangannya mencengkram kuat baju yang Divya kenakan. Pikiran Divya jadi kalut dan hatinya menjadi terluka. Ia melakukan ini juga agar mereka cepat memiliki anak. Siapa juga yang tidak ingin cepat di karuniai keturunan untuk melengkapi hubungan pernikahan mereka.
"Kalian berdua, sudah mengejutkan kami dengan keinginan kalian menikah secara dadakan. Tidak memberikan sebuah pilihan untuk kami para orang tua. Bunda sudah mengalah dan merestui pilihan Safir, karena mungkin Safir tahu yang terbaik untuk dirinya sendiri," bibir Zantisya sampai bergetar saat mengatakan demikian. Ia sampai menahan diri untuk tidak mengutarakan ucapannya yang sudah pasti akan menyakiti hati Divya. "Sekarang Bunda ingin tahu, kenapa Divya memberikan obat itu tanpa bilang pada Safir dulu?"
__ADS_1
Untuk beberapa saat Divya hanya terdiam. Tangannya saling mengait dan sudah merasa panas dingin karena bingung mau mengutarakan bagaimana. Mana mungkin kalau dirinya jujur tentang masalah hubungan ranjang mereka.
"Divya ..." suara Zantisya memang pelan. Tapi jelas sekali kalau saat ini Zantisya tengah menuntut Divya.
"Maafin Divya, Bunda," tidak ada yang bisa Divya ucapkan selain hal itu.
"Bunda tidak butuh Divya minta maaf. Bunda maunya Divya menjelaskan. Kemarin Divya dengan tidak sopan memutus sambungan telepon padahal Bunda masih belum selesai bicara. Sekarang kita sudah bertemu, jadi Divya harus jelaskan agar Bunda paham masalah yang terjadi sebenarnya."
Divya masih memilih diam. Bingung untuk berucap jujur bagaimana. Mungkin jika ia mengutarakan masalah ranjangnya dengan Santi bisa lebih leluasa. Tapi ini dengan mertuanya. Bagaimana mungkin Divya bisa berkata jujur.
Mendengar penuturan Zantisya yang begitu berani, membuat Divya yang sejak tadi tetap menunduk, kini Divya menatap Zantisya yang terlihat kecewa padanya.
Kini Zantisya bisa menebak jika salah satu yang ia ucapkan adalah jawabannya. "Jika memang itu alasannya. Bukankah seharusnya semuanya bisa di bicarakan baik-baik. Kalau memang yang bermasalah Safir, seharusnya kalian datang ke dokter untuk memeriksakan diri. Agar mendapatkan solusi yang tepat dan tidak asal-asalan hingga berakibat fatal seperti ini. Agar kami orang tua Safir tidak ketakutan kalau-kalau kami akan kehilangan anak kami. Aneh sekali, katanya saling mencintai, tapi masih pengantin baru hal seperti ini justru terjadi," ucap Zantisya yang semakin sinis dan tidak habis pikir. "Untung Safir sadarkan diri. Kalau tidak, Bunda pasti salahkan kamu karena rencana konyol yang berujung membahayakan anak Bunda."
Deg!
__ADS_1
*
"Ayah," gumam Safir saat ia melihat keberadaan Arjuno.
Saat ini Safir sudah tidak menggunakan selang oksigen karena nafas Safir sudah kembali normal. Namun, hati Arjuno terasa sakit karena melihat beberapa alat kesehatan yang menempel pada Safir. Seumur-umur, baik Safir maupun Ruby memang tidak pernah sakit serius seperti ini. Sampai tidak bisa di jabarkan lagi bagaimana perasaan Arjuno selama menuju ke sini.
Ingin rasanya Arjuno memeluk anaknya itu, Tapi tidak bisa karena terhalang alat kesehatan yang ada di tubuh Safir. Setidaknya sekarang rasa khawatir Arjuno sudah berkurang karena kini Safir sadar dan bisa di ajak interaksi.
"Bagaimana sekarang? Apanya yang sakit nak?"
Bukannya segera menjawab, kedua mata Safir nampak berkava-kaca. Di panggil 'Nak' oleh ayahnya sendiri, kenapa bisa hal itu terdengar seolah betapa Arjuno sangat mengkhawatirkannya. Betapa Arjuno sangat menyayanginya. Membuat rasa bersalah Safir semakin dalam terhadap kedua orang tuanya. Rasa yang kini tertinggal adalah penyesalan yang Safir tutup rapat-rapat.
"Sudah lebih baik, Ayah. Maaf, karena Safir membuat Ayah dan Bunda khawatir."
Safir memang sudah dewasa. Tapi di mata Arjuno tetap saja anaknya masih seperti anak kecil. Maka sekarang tangan Arjuno menyentuh puncak kepala Safir. "Apa ada masalah? Ajak Divya untuk konsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat dan tidak asal-asalan seperti ini. Obat kuat itu bisa bahaya. Baru pengantin baru kok bisa kepikiran menggunakan obat seperti itu," ucap Arjuno. Jika memang sudah lama menikah dan sengaja ingin mencari sensasi baru, mungkin Arjuno akan paham dengan keadaan ini.
__ADS_1
"Hah!" gumam Safir pelan yang justru nampak terkejur.