Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 143 Air Minum


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 05.30 WIB. Sudah sejak satu jam yang lalu Safir sudah bangun. Karena tidak terbiasa tidur lagi setelah bangun pagi, membuat Safir sejak tadi kebingungan sendiri mau melakukan apa. Mau memainkan ponselnya pun rasanya Safir malas. Menonton televisi juga Safir enggan.


Tidak ingin menyia-nyiakan waktunya. Sekaligus ingin menikmati suasana Jakarta, Safir memilih berganti baju menggunakan setelan olahraga. Beruntung sekali Safir sudah antisipasi sejak dari rumah. Membuatnya tidak perlu bingung-bingung mau menggunakan apa.


Setelan olahraga berwarna biru sudah Safir gunakan. Duda muda tersebut segera menggunakan sepatu. Sebelum meninggalkan kamar hotelnya, Safir meraih aerphone dan juga ponselnya. Pagi ini, Safir ingin joging sambil mendengarkan musik.


Meskipun masih pagi, tentunya Safir bertemu tatap dengan beberapa pegawai hotel yang sedang melakukan pekerjaan. Tidak bisa pungkir, kalau orang yang bertemu dengan Safir menjadi tertarik untuk menatap Safir secara diam-diam. Bagaimana tidak, lelaki muda tersebut memiliki wajah yang tampan dan juga kulit yang nampak bersih. Sedangkan postur tubuhnya terlihat sempurna. Membuat pasang mata ingin terus mencuri pandang.


Begitu sampai loby hotel, Safir mulai lari untuk keluar melalui pintu utama. Setidaknya, Safir akan joging selama satu jam saja.


Lelaki muda tersebut terus lari melalui sepanjang jalan trotoar. Tidak jarang juga Safir harus turun kejalanan aspal karena trotoar yang digunakan untuk berjualan para pedagang kaki lima.


"Mau bagaimanapun, udaranya memang tetap segar di Malang," gumam Safir saat dirinya sedang memutuskan untuk istirahat. Ia melihat jam di ponselnya, sudah 30 menit berlalu dirinya meninggalkan hotel.


Merasa sudah cukup untuk istirahat, Safir hendak lari lagi untuk kembali ke hotel. Baru beberapa menit Safir lari, ia kembali berhenti karena melihat seorang ibu yang sudah nampak usia sedang berjualan nasi pecel.


"Kebetulan ini untuk sarapan," gumamnya sambil merogoh celananya. Memastikan sekali lagi kalau Safir tadi tidak lupa membawa selembar uang untuk jaga-jaga saja.


"Bu, nasi pecelnya dua ya," pinta Safir. Tanpa menghubungi Yusman terlebih dulu, Safir tentunya membelikan sarapan untuk mereka berdua.


"Iya, Mas!" ucap perempuan tersebut sambil mengambil kertas nasi lalu membuka tremos berukurang sedang yang berisi nasi hangat. "Habis olah raga ya, Mas?" tanyanya ramah. Mungkin hanya untuk berbasa-basi, karena memang hanya Safir saja yang sedang membeli.


"Iya, Bu."


Setelah mengambil nasi, perempuan tersebut membuka penutup rebusan sayuran. Ada beberapa jenis rebusan sayuran hijau, kecambah, dan juga pepaya rebus, barulah nasi dan sayur di tuangi bumbu sambal kacang. Sebelum di bungkus, masih di tambah satu tempe goreng. Setelah dua bungkus nasi pecel sudah selesai dimasukkan kedalam plastik, kerupuk juga tidak lupa di tambahkan.


"Silahkan, Mas."


"Jadi berapa Bu?" tanya Safir sambil merogoh saku celananya.


"30.000, Mas."


Pas. Sangat beruntung karena tadi Safir hanya membawa uang 50.000an saja. Niat hati Safir tadi uang tersebut akan Safir manfaatkan saat dirinya ingin membeli air minum.

__ADS_1


"Kembali 20.000 ya Mas."


"Bu, itu minuman gelasnya berapa? Saya mau 3."


Ibu tersebut segera mengambilkan apa yang Safir minta dan memberikan pada Safir.


"Jadi kembalinya 14.000 ya Mas."


"Iya. Tapi kembalinya buat Ibu saja. Terima kasih ya Bu," ucap Safir kemudian tersenyum ramah.


"Serius, Mas?" tanyanya yang sepertinya tidak percaya.


Melihat hal demikian saja hati Safir terasa senang dengan sendirinya. Padahal bagi Safir uang segitu tidaklah seberapa. Nyatanya terlihat sekali kalau uang 14.000 jadi sangat berharga untuk orang lain.


"Iya, Ibu. Kalau begitu saya permisi, ya Bu. Sudah lapar sekali rasanya. Mari ..." ucap Safir kemudian segera meninggalkan tempat tersebut.


(note : harga tersebut hanya saat aku dulu jalan di monas 4 tahunan yang lalu. Hanya pengalaman saja ya๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ๐Ÿ™๐Ÿผ)


Safir sampai hotel sekitar jam 8 kurang. Ketika masuk melalui loby hotel, tidak bisa di pungkuri kalau petugas resepsionis sampai mencuri pandang pada Safir. Wajah yang selalu mendukung memang dengan mundah menjadi perhatian orang lain.


"Iya, Mas. Saya dari tadi WA Mas Safir tapi enggak di balas-balas, saya pikir Mas masih tidur, ternyata Mas sedang olahraga to?" tanyanya dengan air muka yang malu karena sudah salah sangka.


"Saya mana biasa tidur lagi setelah solat subuh, Pak. Saya sudah belikan nasi pecel, ini. Ayo sarapan di kamar saja Pak," ajak Safir sambil menunjukkan kantong plastik kecil yang ia jinjing.


Kini keduanya sedang sarapan bersama di kamar Yusman. Lelaki paruh baya tersebut sangat bersyukur, karena bekerja dengan Safir juga dia diperlakukan dengan baik.


Padahal dulu saat Arjuno memintanya untuk berpindah tugas menggantikan Queen, Yusman sempat berpikir kalau Safir adalah pribadi yang acuh dan tidak ramah seperti kebanyakan orang yang menilai Safir seperti itu. Wajar sajakan, karena sekalipun wajah yang rupawan, tapi Safir bersikap dingin dan jarang sekali tersenyum. Sangat berbanding terbalik dengan kepribadian Ruby dan Arfan yang sangat ceria.


Setelah selesai makan, mereka segera bersiap untuk menemui klien, seperti janji yang memang sudah disepakati sejak beberapa hari yang lalu.


*


"Tanteee ..." panggil Shaka saat baru saja melihat Queen.

__ADS_1


"Iya, anak ganteng."


"Mau kemana?" tanya Ruby karena penampilan Queen yang sudah cantik tapi tidak seperti akan berangkat kuliah. Karena sekarang Queen hanya membawa tas slempang berukuran sedang saja.


"Mau ke toko. Kan kemarin kamu yang sudah kesana. Sekarang giliran aku," jawab Queen sambil menggendong Shaka yang sudah mengulurkan tangan.


"Memang ada orderan?" karena Ruby sedang fokus dengan tugas akhir dan menyerahkan semuanya pada Queen, jadi Ruby pikir kalau saat ini Queen datang ke toko karena ada pemesanan saja.


"Mama anak 3 ini sepertinya mulai pikun. Yang diingat cuma skripsi terus ya begini. Tumben banget kamu tidak melihat laporan pemesanan. Biasanya paling ingat kalau ada ini itu."


"Hem, sombong ya yang sudah skripsian. Lihat saja saat kamu nanti ngurus tesis bakal aku recokin," ancam Ruby yang sudah membuat rencana.


"Setelah itu aku juga akan ngerecokin kamu saat S2 nanti."


"Ho ho ho, sorry ya Tante, kalau nanti aku tidak akan mau ambil S2. Pusing aku kuliah," ucap Ruby yang jadi mengeluh sendiri.


"Ck, tidak patut untuk ditiru. Shaka nanti harus seperti Papa dan Tante ya, kuliah sampai S2 bila perlu S3 juga. Ok!"


"Ok!" ucap Shaka mengikuti Queen.


"Ini adik-adik Shaka pada kemana?"


"Tuh, sama Opanya berjemur," tunjuk Ruby.


"Ya sudah deh, aku mau berangkat sekarang. Daaahhh ... sayang," ucap Queen sambil menurunkan Shaka lalu mencium pipi berisi balita tersebut.


Kini Queen sudah berada di dalam mobil. Yang sudah pasti dikemudikan oleh sopir. Queen hanya terus termenung sepanjang jalan. Kalau di pikir ulang, hanya dirinya saja yang tidak bisa mengendarai mobil sendiri diantara kedua saudara kandungnya yang lain.


"Padahal Kak Di dibolehkan belajar mobil, Kenapa aku tidak?" gumamnya karena kini jadi iri sendiri. "Aaahhh, ini pasti karena aku kebanyakan tingkah, jadi Mama takut aku khilaf. Yeah, anggap saja seperti itu," gumamnya karena bingung menerka Reina dan Hendri yang memang tidak memperbolehkan dirinya belajar mengemudi.


Mobil berhenti bertepatan lampu merah. Karena sejak tadi Queen melihat keluarย  kaca mobil, membuat Queen segera merogoh tasnya saat melihat pedagang yang berjualan air minum. Sedangkan pedagang lelaki tersebut terlihat memiliki kekurangan.


"Pak, air minumnya," ucap Queen dan bersamaan dengan suara lelaki dari mobil sebelahnya. Membuat Queen dan lelaki tersebut jadi saling tatap.

__ADS_1


Deg!


__ADS_2