
Merasakan degup jantung yang tidak beraturan, membuat Queen segera beranjak dari atas tubuh Safir. Perasaannya semakin kacau karena semakin dekat jarak mereka, semakin sulit rasanya bagi Queen untuk menahan diri. Apakah karena sekarang Safir sudah menjadi suaminya. Maka Queen seolah tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengambil alih perasaan Safir.
"A-aku keluar duluan," ucap Queen sampai tergagap.
"Haaahhh," helaan nafas Safir begitu panjang. Ia sampai mengusap wajahnya secara kasar. Menentramkan raga yang tiba-tiba inginkan hal lebih.
Jangan salahkan hati yang masih bimbang. Karena pada dasarnya Safir masih belum yakin dengan semua ini. Bahkan pikirannya seolah terbagi atas dua pilihan. Terkait hubungannya dengan Queen. Yang Safir pikirkan, dirinya tidak ingin mengecewakan perempuan lain lagi. Tapi, Safir juga tidak ingin kehilangan Queen. Apalagi sekarang mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.
Sejak tadi, masih banyak tamu yang berdatangan. Tentunya itu rekan bisnis keluarga besar dan yang paling banyak tetap dari rekan DS Group. Tidak hanya itu, karena hari ini Fahmi juga datang untuk berbela sungkawa. Mendengar Divya meninggal dunia, membuat Fahmi dan Amanda terkejut. Sungguh, usia memang tidak ada yang tahu.
"Terima kasih ya Kak, Sudah berkenan datang kesini," ucap Queen tulus.
"Aku dan Amanda terkejut mendengar semua ini. Kami ikut berbela sungkawa Namun, aku minta maaf karena Amanda tidak bisa ikut."
"Tidak apa-apa. Kak Amanda sedang hamil. Pasti lelahkan perjalanan dari Jakarta ke Malang. Oh iya, saat Kak Di sedang bicara sama Queen, Kak Di menitipkan salam untuk Kak Fahmi dan Kak Amanda," tutur Queen pelan.
Mengingat lagi pembicaraan di jam-jam terakhir kehidupan Divya, hanya membuat hati Queen menjadi sangat sedih.
"Kak Di minta maaf atas segala kesalahan yang sudah Kak Di buat. Apa pun kekhilafan Kak Di. Sengaja atau tidak sengaja, tolong di maafkan ya Kak."
Sungguh, Queen bingung kenapa saat Divya menyampaikan pesan untuk Fahmi dan Amanda, Divya sampai menangis. Seolah kesalahan Divya begitu banyak pada sepasang suami istri tersebut. Namun, Queen tidak ingin mengetahui apa yang mengganjal dihatinya. Cukup Fahmi dan Amanda memaafkan Divya, jelas itu sudah cukup.
"Aku maafkan. Semoga dialam sana, Divya juga memaafkan aku dan Amanda jikalau kami juga memiliki kekhilafan."
"Aamiin."
"Oh iya, Safir dan Queen. Selamat ya atas pernikahan kalian. Meskipun kalian harus menikah dengan cara seperti itu, tapi jodoh memang akan bertemu dengan jalannya masing-masing. Aku doakan, semoga kalian selalu bahagia."
__ADS_1
"Aamiin," ucap Safir dan Queen secara bersamaan.
"Oh ya, Queen. Setelah ini aku ingin ziarah ke makam Divya. Bolehkan?"
Biarpun ada kenangan buruk yang sudah terjadi diantara mereka. Namun, Fahmi tetap menganggap Divya sebagai sahabatnya semasa sekolah dulu. Mereka pernah menjalin hubungan yang sangat baik. Maka sekarang, Fahmi ingin mengirim doa untuk Divya dan langsung di lokasi pemakaman.
"Tentu saja boleh, Kak. Aku kasih alamatnya ya. Disana ada Bapak yang bertugas menjaga makam kok kak."
*
Duka biarkan berlalu. Tidak baik berlarut-larut menangisi yag sudah meninggal lebih dulu. Mau seperti apapun, semua manusia, kelak akan kembali pada sang pencita. Semua yang hidup jelas tinggal menunggu giliran saja.
Hari silih berganti. Membuat wajah sendu semua orang berangsur ceria kembali. Biar bagaimana pun, hidup terus berjalan. Yang masih hidup, harus melajutkan kehidupan dan tanggung jawab mereka masing-masing.
Zen, Ruby, dan si kembar 3 sudah kembali ke Jakarta sejak 3 hari meninggalnya Divya. Semalam, sudah diadakan acara doa bersama untuk malam ketujuh.
Sedangkan hari ini, Yusuf dan Nissa juga harus kembali ke Jakarta. Keduanya jelas tidak tega jika harus berlama-lama di Malang. Apalagi si kembar memang biasa dengan Nissa dan Yusuf.
Kini, Safir dan Queen duduk berdua di dalam kamar. Mereka harus bicara serius terkait kehidupan kedepannya.
"Bagaimana dengan kuliahmu?"
"Aku berhenti saja."
"Kalau Universitas di sana memang keinginan kamu dan impian kamu sendiri, aku tidak masalah kalau kamu mau kuliah di sana. Dan aku di sini mengurus pekerjaanku."
"Lalu?" tanya Queen serius.
__ADS_1
Jujur saja, Queen tidak setuju jika mereka melakukan hubungan jarak jauh. Berdekatan seperti ini saja Queen tidak tahu kapan bisa merebut hati Safir untuk dirinya sendiri. Lalu bagaimana kalau mereka akan jarak jauh. Jelas itu bukan pilihan yang tepat.
Selama 7 hari di sini, Safir dan Queen tetap tidur terpisah. Bukan maksud hati Queen inginkan yang aneh-aneh. Tapi ini semua sudah bisa jadi bukti kalau Safir sedang menjaga jarak.
"Jika aku senggang, aku akan mengujungi kamu di sana."
Safir pikir, jika mereka saling berjarak. Mungkin itu juga akan membuat Safir bisa menemukan jalan pikiran yang tepat. Dan meyakinkan hati untuk tidak salah mengambil keputusan.
"Aku berhenti kuliah saja," ucap Queen yakin.
"Apa tidak pindah kuliah saja?"
"Aku baru kuliah beberapa bulan. Aku berhenti saja. Tahun depan kalau kamu kuliah S2, aku juga akan kuliah."
Safir hanya mengangguk. Tapi hatinya terasa lega. Bahkan sangat lega karena Queen memilih menetap bersamanya. Perasaan yang aneh dan terus membuat pikiran Safir semakin bimbang.
"Malam ini kita pulang ke rumah Ayah dan Bunda. Kemungkinan kita akan bermalam di sana selama 7 hari. Aku akan mencari apartemen yang lokasinya setrategis dan nyaman untuk kita tinggal.
"Oke."
Hati Queen ingin bersorak bahagia. Kesempatan untuk mencari perhatian Safir jelas lebih leluasa, jika mereka hidup berdua di apartemen.
'Yes. Tidak ada salahnya kan kalau aku gencar mencari perhatian suami?'
Bersambung ...
Slow up ya🙏🏼 aku yang matre ini fokus di tetangga sebelah 😙
__ADS_1