
Queen lari meninggalkan Ruby dan Safir secara pelan dan juga cepat. Tapi tidak bisa dipungkiri kalau kedua kaki Queen sampai terasa bergetar. Sedangkan pikiran Queen juga masih bingung dengan keadaan. Tapi Queen tetap menurut untuk segera sampai kamarnya. Queen menuju lantai 3 tetap dengan melalui tangga, seperti permintaan Ruby.
Begitu memasuki kamar, Queen merasa lega dengan nafas yang terengah-engah. Tapi Queen masih memikirkan semuanya. Termasuk tindakannya sendiri. Sekarang Queen baru sadar kalau apa yang baru saja terjadi ini sepertinya sudah salah.
Bukan salah saat dirinya tidak sengaja bertemu dengan Safir di ruang makan, atau Safir yang meminta makanannya. Tapi kenapa dirinya harus lari disaat Safir mengatakan kalau ada Divya. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu disembunyikan sekalipun tadi mereka bertemu tatap dengan Divya. Lagi pula selama ini yang tahu tentang perasaan Queen pada Safir hanya Vian dan sekarang bertambah Ruby. Lalu apa masalahnya.
"Kenapa aku jadi seperti orang yang baru saja selingkuh dengan suami orang?" gumam Queen yang mulai menyalahkan dirinya sendiri. "Kenapa Safir mengajakku bersembunyi kalau tadi memang ada Kak Di?" pikiran Queen semakin kalut dan juga menerka keadaan. "Lalu kenapa Maira juga sepertinya kompak dengan Safir? Ada apa sebenarnya?" pikiran Queen semakin berkelana untuk menemukan jawaban yang tepat, tapi Queen masih saja belum bisa memaklumi tindakan Safir barusan. "Memangnya apa yang salah kalau tadi kami bertemu dengan Kak Di? Toh tidak ada hal negatif yang kami lakukan selain makan? Apa mungkin ..." ucapan Queen terhenti karena pikirannya jadi mengira-ngira.
Merasa tidak bisa menemukan jawaban yang tepat dari kebingungan Queen sendiri, Queen memilih untuk merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Berusaha memejamkan kedua matanya agar segera terlelap dan besok pagi pikiranya tenang dan bisa menemukan jawaban yang tepat.
Klek!
Mendengar suara pintu kamarnya yang dibuka, rasanya Queen ingin menoleh untuk melihat siapa yang datang. Tapi Queen justru memilih memejamkan kedua matanya. Jujur, Queen jadi ketakutan sendiri.
Begitu membuka pintu kamar Queen, Divya segera masuk dan mendekati Queen yang tidur didalam ruang kamar dengan pencahayaan lampu yang temaram.
"Queen," panggilnya pelan.
'Kak Di,' entah kebetulan seperti apa yang kini sedang terjadi. Queen jadi bingung kenapa sekarang Divya justru datang ke kamarnya. Disaat degup jantung Queen belum bisa bekerja normal.
"Queen," panggil Divya lagi. Divya menunduk untuk mendengarkan deru nafas Queen. Kalau tadi memang ada Queen, sudah pasti saat ini nafas Queen masih terengah-engah. "Baguslah, kalau dugaanku salah," gumam Divya pelan setelah yakin kalau Queen memang sejak tadi tidur nyenyak. Karena deru nafas Queen terdengar teratur.
__ADS_1
Deg!
Queen jelas terkejut dengan ucapan Divya barusan, apakah mungkin tadi Divya menduga kalau Safir bersama dirinya sehingga Divya datang melihatnya. Hati Queen semakin bertanya-tanya karena tidak bisa memahami keadaan.
Queen langsung membuka kedua matanya dan menoleh saat merasa kalau Divya sudah meninggalkan kamarnya. "Apa maksud Kak Di tadi?"
*
Ruby masih belum percaya dengan kejadian barusan. Kenapa bisa ditengah malam seperti ini Safir dan Queen berduaan. Membuat Ruby menatap Safir dengan rasa kecewa dan butuh penjelasan.
"Jangan bilang kamu mengatakan perasaan kamu dengan Queen?" tuntut Ruby mengutarakan dugaan pikirannya sendiri.
"Enggak, Kak. Aku enggak bilang apapun soal itu dengan Queen," ucap Safir yakin.
"Aku enggak bisa tidur, Kak. Jadi aku ke ruang makan membuat susu hangat. Siapa yang tahu kalau Queen juga datang kesana. Jadi ..."
"Jadi apa?" tuntut Ruby yang sudah bisa menebak kronologi kejadian. "Kamu memilih diam disana dan menemani Queen makan, begitu?" tanya Ruby yang membuat tatapan Safir menjadi sayu.
"Aku hanya enggak tega kalau dia makan sendiri disana, Kak," ucap Safir pelan, dan mulai mendustai hati didepan Ruby.
"Safiiirrr ..." Pekik Ruby tertahan. Bahkan kini Ruby memukul lengan tangan Safir hingga beberapa kali.
__ADS_1
Bug
Bug
Bug
"Kamu yang enggak tega atau kamu yang memang rindu dan ingin berduaan dengan Queen?" tuntut Ruby meluapkan penilainnya. Membuat Safir tidak bisa menjawab pertanyaan Ruby. Perempuan beranak 3 itu hanya bisa menghela nafasnya pelan. Ia berusaha menenangkan diri untuk tetap mengstabilkan suaranya. "Seharusnya kamu tadi mengabaikan Queen. Biarkan saja dia makan sendiri. Bukankah aku sudah bilang, jangan pernah tunjukkan perasaan kamu pada Queen. Kamu sudah dengan jalan pilihan kamu sendiri. Tolong sadar, Fir. Jangan buat Queen bimbang dan jadi memikirkan kamu terus menerus."
"Maaf, Kak."
"Kamu itu sudah berani bermain api, Fir. Padamkan sekarang juga dan hindari Queen. Apapun yang terjadi, jika memang Queen tidak sedang dalam keadaan darurat, jangan dekati dia. Kakak bicara seperti ini juga untuk kebaikan rumah tangga kamu dan juga Queen. Tolong, mengerti. Kamu sudah menyakiti Queen tanpa kamu sadari, awalnya. Sekarang jangan sakiti Kak Di juga," pesan Ruby. Nada suara Ruby bahkan sudah terdengar lembut. Berharap ini adalah pesan terakhir kalinya untuk Safir memahami maksudnya.
Perasaan memang sulit di kendalikan. Apalagi ini soal cinta, yang sudah menyadarkan hati. Rasa yang telat untuk mengerti semuanya. Hal itu hanya bisa membuat Safir mengangguk patuh, tanpa bisa menyangkal ucapan Ruby.
"Setelah urusan pekerjaan kak Di selesai. Segera ajak Kak Di pulang ke Malang. Katakan padanya kalau pekerjaan kamu juga tidak bisa ditinggal terlalu lama. Maaf, bukan Kakak mengusir. Tapi kamu memang harus menjaga jarak dengan Queen dan harus fokus dengan Kak Di," ucap Ruby dan langsung pergi menuju dapur untuk melakukan tujuannya turun.
Safir hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia duduk dianak tangga sambil menunduk dalam. Hanya helaan nafas panjang yang bisa Safir lakukan untuk melegakan hatinya yang masih kacau. Bahkan kini Safir mengusap wajahnya secara kasar.
"Fir."
"Ya."
__ADS_1
Divya yang sudah mengambil ponselnya itupun tersenyum manis. "Ayo temani aku makan."