
Semua orang sudah berkumpul di ruangan makan. Menikmati menu yang tersaji malam ini.
Karena Divya dan Safir datang secara tiba-tiba, maka Nissa tidak sempat untuk membuatkan menu yang sudah pasti akan Divya sukai. Semua cucu memang sangat menyukai masakan Nissa. Maka siapapun yang akan datang, biasanya Nissa akan sibuk di dapur demi orang terkasihnya.
Safir sejak tadi memilih berada didalam kamar karena tidak ingin membuat Queen merasa tidak nyaman saat bertemu tatap dengannya. Padahal sebenarnya Safir ingin sekali keluar dan bermain dengan ketiga keponakannya. Tapi sekali lagi, Safir benar-benar tidak ingin mengusik kenyamanan Queen di rumah ini.
Karena hampir semua keluarga berkumpul, membuat semua orang memilih ibadah di rumah bersama-sama. Di saat itulah Safir bertemu dengan Vian dan juga Zen. Hingga sampailah saat ini.
Safir dan Divya kira, Queen mengubah penampilannya saat keluar rumah saja. Siapa yang mengira kalau kini gadis tersebut tetap menggunakan pakaian serba tertutup.
Di ruang makan, biasanya Queen, Ruby, dan si kembar sibuk dengan keramaian kecil yang mereka buat. Mengisi acara di sela-sela makan yang tidak pernah tenang. Suasana menjadi lebih ramai sejak Queen ikut tinggal di sini. Tapi malam ini, yang sibuk sendiri tentunya Ruby dan Zen. Karena anak mereka ada saja tingkahnya.
"Shaka mau makan sama Tante," ucapnya dengan suara khas yang belum begitu jelas.
"Mau sama Tante Di?" tawar Divya menyodorkan diri.
"Tante Di sama Tante Queen sedang makan Shaka. Kan biasanya Shaka juga makan sendiri. Lihat itu, adik-adik sudah makan lahap sejak tadi. Sudah mau habis malahan. Shaka makan ya? Atau mau sama Mama?"
"Sama Papa ya?" kini Zen yang ikut berusaha merayu anaknya.
Shaka menggelengkan kepalanya cepat. Karena kemauannya malam ini cuma dengan satu tante tujuannya saja. Sejak tadi Shaka dan yang lainnya terus bermain dengan Divya. Padahal biasanya setelah Queen ada di rumah, maka mereka bertiga akan bermain bersama Queen.
"Mau sama Tante?" tawar Queen. Pada akhirnya, Queen berusaha mengambil alih, karena memang dianatar si kembar, Shaka yang paling dekat dengan Queen.
"Mauuu ..." jawab Shaka semangat seolah tanpa pikir-pikir lagi.
"Shaka, kan Tante juga masih makan, nak."
"Enggak apa-apa, Mai. Seharian ini juga aku kan kuliah. Mungkin Shaka rindu dengan aku."
"Tante Tante, Shanum mau kuah," pintanya dengan suaranya yang cempreng dan yang belum begitu jelas. Shanum seolah tidak mau ketinggalan untuk merepotkan Queen.
__ADS_1
"Boleh, sayang."
"Shaki mau tempe goreng," ikutnya yang tidak mau ketinggalan.
"Siap komandan."
Ruby hanya bisa menepuk jidatnya sendiri. Entah ada angin apa yang kini menerpa ketiga anaknya tersebut. Padaha si kembar tidak biasanya bertingkah seperti ini. Si kembar cenderung menurut dengan Ruby. Apalagi Ruby juga tidak bisa 24 jam dengan ketiga anaknya. Sedangkan kini, ketiganya seolah sengaja dengan kompak membuat Queen repot sendiri.
Queen dengan telaten mengurus sepupunya yang sedang cari perhatian tersebut. Membuat banyak orang terkesima dengan perlakuan Queen yang sangat sabar.
Setelah makan malam bersama, semua orang berpindah ke ruang keluarga. Queen dan Ruby beserta Zen asik duduk di atas karpet bulu sambil bermain dengan si kembar. Safir duduk berdampingan dengan Divya. Vian duduk di sofa singel. Serta Yusuf dan Nissa yang sejak dulu hingga setua ini tetap terus duduk berdampingan jika tidak ada pengganggu. Sepasang suami istri yang sudah senior itu memang selalu terlihat romantis.
"Sudah tidak pernah sakit lagi Safir, setelah pulang dari Paris?" tanya Yusuf untuk membuka perbincangan. Sejak tadi rasanya suasana terasa canggung sendiri. Yang ramai hanya tiga bocil dan juga tiga orang dewasa yang sepertinya lebih asik mainan sendiri.
"Alhamdulillah, Opa. Saya sudah lebih sehat."
"Owalah jaaannn, kok bisa-bisanya sedang honeymoon kamu sampai sakit. Sampai serius seperti itu lagi," ucap Yusuf yang jadi prihatin. Perawatan yang sampai memerlukan penanganan khusus sudah pasti sakitnya serius.
"Namanya juga musibah Ayy," ucap Nissa pelan. Melihat wajah Safir yang nampak berbeda membuat Nissa mengalihkan pembicaraan Yusuf.
Sedangkan Divya jadi terlihat panik. Takut juga kalau sampai Safir mengatakan semuanya secara gamblang. Tapi Divya yakin hal itu tidak akan terjadi. Itu urusan ranjang mereka. Akan sangat memalukan kalau sampai semua orang disini tahu kenapa dirinya nekat melakukan itu semua.
Yusuf hanya manggut-manggut saja. "Oh iya, kabarnya waktu itu Safir mau menambah usaha sapi perah. Bagaimana? Ayah kamu yang bilang waktu itu," ucap Yusuf. Mengingat betapa terdengar bangganya Arjuno pada Safir, tentu membuat Yusuf juga penasaran. Seperti dirinya juga yang sangat bangga dengan kedua anaknya.
"Owh itu. Sepertinya di tunda dulu Opa. Karena dananya juga masih kurang untuk membeli sapi perahnya."
"Loh, kalau kurangkan bisa pinjam Mas-mu itu to Fir. Sayang loh kalau ada peluang besar di tunda seperti ini. Tapi tanah yang di dekat peternakan itu sudah kamu beli?" tanya Yusuf yang semakin penasaran.
Safir jelas terkejut. Apakah sebanyak itu Arjuno membicarakan perihal dirinya pada Yusuf. Membuat Safir hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. "Belum juga Opa."
"Loh kenapa? Harga tanah juga belum masuk kantong Safir?"
__ADS_1
Safir tersenyum canggung dengan air muka yang nampak panik. "Iya, Opa."
"Looohhh, lak sayang sekali toh Fir. Tanah itu kan sangat setrategis. Setiap tahun juga harganya pasti naik. Kenapa enggak minta bantuan Mas mu. Jangan terbiasa memikirkan hal-hal penting sendirian. bicarakan dengan keluarga. Kan sama-sama pebisnisnya. Walau bidangnya berbeda. Siapa tahu bisa saling bantu," nasihat Yusuf yang menyayangkan keputusan Safir. Yusuf sendiri antusias karena memang sudah 2 kali melihat peternakan milik Safir itu. Lelaki yang dulu fokus dengan perusahaan, jadi sangat kagum dengan ide yang Safir buat. Memanfaatkan peluang di saat Arjuno memilii cabang restoran.
"Baik Opa."
"Kalau tanah itu belum ada yang membeli, coba bicarakan lagi dengan pemiliknya. Biar Mas Zen mu bantu. Bukan Opa mau ikut campur dengan bisnisnya Safir. Hanya saja sayang kalau ada peluang di abaikan begitu saja. Kalau keluarga bisa membantu kenapa enggak."
"Iya Opa," ucap Safir menurut. Padahal saat ini Safir sudah semakin panik sendiri karena yang tahu menahu secara persis tanah tersebut adalah Queen.
Sedangkan Queen, walau sejak tadi dirinya sibuk dengan Shaka, nyatanya telinga Queen tetap mendengar dengan jelas obrolan Yusuf dan juga Safir. Membuat Queen jadi merasa tidak tega juga. Tapi ya sudahlah, toh itu juga sudah bukan urusannya lagi.
Malam sudah semakin larut, semua orang sudah memasuki kamar mereka masing-masing. Setelah membersihkan diri, Safir memilih mendaratkan tubuhnya di atas ranjang lebih dulu. Sedangkan Divya sedang mengurus perawatan tubuh.
"Aku mau turun sebentar. Kamu ingin sesuatu tidak?" tawar Divya setelah meraih jaket karena sekarang Divya menggunakan baju tidur dengan tali spageti.
"Enggak ada," jawab Safir dan tetap memejamkan matanya. Menimpa wajahnya dengan telapak tangan karena Safir ingin sekali segera tertidur.
"Ok, aku turun sebentar ya?"
Baru saja Divya membuka pintu dan akan keluar dari kamar, tapi Divya kembali masuk dan langsung naik ke atas tempat tidur.
Grep!
"Kenapa Di?" Safir jelas saja terkejut. Karena Divya langsung membanting tubuh dan memeluknya secara tiba-tiba. "Kamu kenapa sih. Enggak jadi turun?"
"Enggak, aku mau peluk kamu saja," ucap Divya.
Safir jelas merasa aneh dengan Divya. Tapi ia tidak memikirkan perkiraan apapun. "Kalau enggak jadi turun kenapa pintunya enggak kamu tutup dulu?"
"Owh, belum tertutup ya?" tanya Divya sambil mengintip ke arah pintu.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih Di? Kok aneh banget," ucap Safir yang masih terkejut dengan perbuatan mendadak Divya. "Ya sudah, biar aku saja yang tutup," lanjutnya sambil melepas paksa dekapan Divya.