Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 105 Penjelasan Zen Untuk Divya


__ADS_3

"Queeennn ..."


Baru saja Vian dan Zen sampai rumah, Vian langsung lari lebih dulu sambil membawa sesuatu. Selama berada di sini dan sebelum Vian pulang ke Malang, Zen sengaja mengajak Vian pergi ke kantor untuk mengajari Vian bekerja secara langsung mengurus beberapa pekerjaan penting dikantor. Biar bagaimanapun bekerja langsung ke lapangan akan berbeda sensasinya. Bahkan realitanya tidak sama dengan teori yang di dapat. Jadi Zen ingin, saat Vian ikut mengurus perusahaan di Malang, Vian sudah lugas mengerjakan semuanya dengan cepat dan tepat.


Tadi saat Vian dan Zen sedang menuju pulang, Queen mengirim pesan pada Vian untuk membelikan Queen es doger. Karena ini menu dari luar, Vian hanya membelikan 2 saja.


Awalnya Vian hanya ingin membelikan satu untuk Queen saja. Tapi ternyata, Zen juga mau membelikan untuk Ruby sekalian.


"Ya Allah, kelakuan cucu-cucu Oma ini memang random semua. Pulang kerja bukannya salam malah lari seperti anak kecil begini," Nissa sampai menggelengkan kepalanya karena merasa heran sendiri. Sikap tengik anak dan cucunya memang turunan dari Yusuf plek ketiplek.


"Vian tadi sudah salam Oma. Mana Queen? Dia tadi minta es doger," ucapnya sambil menjinjing satu cup gelas pada Nissa seolah memamerkan apa yang ia bawa.


"Sembunyikan. Awas saja kalau sampai tiga krucil itu melihat," ucap Nissa yang langsung memberikan peringatan. Sejak dulu, Nissa memang sangat posesif dengan ketiga cucunya dari Reina. Dan sekarang berpindah ke anak-anak Zen. Apalagi ini menu dari luar, yang Nissa sendiri tidak tahu kebersihannya bagaimana. Terlebih lagi ketiga si kembar juga masih kecil. Nissa tidak memperbolehkan asal makanan masuk ke tubuh si kembar.


"Siap Oma."


"Oh iya, Kakak kamu ada di sini."

__ADS_1


"Hah!" Vian sampai tercengang karena takut salah mendengar.


"Kak Di baru satu jam yang lalu datang ke sini. Bersama dengan Safir."


"Lalu Queen bagaimana, Oma?" seketika Vian jadi mengkhawatirkan adiknya tersebut. Mengingat bagaimana Queen yang sakit hati sendirian hingga bisa sampai menjadi sekarang ini, tentunya Vian tidak rela jika Queen kembali bertemu dengan Safir di saat perasaan Queen baru membaik atas segala kesibukan yang menyita waktu Queen. Perasaan Queen yang Vian tahu kalau belum sepenuhnya baik-baik saja.


"Sudah terlanjur bertemu. Tadi Tante kamu sudah berniat mencegah Queen pulang, tapi karena Queen sudah lebih dulu sampai rumah, ya kita mau bagaimana lagi. Jangan terlalu mencolok mengkhawatirkan adikmu ya? Dia sudah bisa menghadapi Safir dan Divya dengan baik. Jadi kita percaya dulu kalau Queen memang bisa."


"Baik Oma."


"Loh Vian," panggil Divya yang tiba-tiba saja datang dari balik pintu. Divya tadi hanya sebentar istirahat di kamar, karena setelah itu, Divya memilih kembali turun untuk bermain dengan trio S.


"Kamu bagaimana kabarnya? Sudah sejak kapan kamu pulang ke Jakarta, Vian? Kenapa tidak memberikan kabar ke kami hah?" tanya Divya beruntun.


"Kabar Vian baik, Kak. Vian sudah 2 bulanan pulang ke Jakarta. Sebenarnya beberapa hari lagi Vian sudah berniat pulang setelah Mama dan Papa pulang ke rumah. Eh, kita justru bertemu lebih dulu di sini," jelas Vian dan berkata jujur apa adanya. "Oh iya, Kakak bagaimana kabarnya? Maaf karena Vian tidak bisa datang di acara pernikahan Kakak dengan Safir."


Kening Divya nampak mengerut seolah terkejut dengan ucapa Vian. "Jadi Mama dan Papa sudah tahu kalau kamu ada di sini?" tanya Divya memastikan.

__ADS_1


"Iya. Kami bertemu di Semarang. Saat Oma, Opa, Mama, dan Papa ada acara undangan di sana."


"Owh, jadi hanya Kakak sendiri yang selama dua bulan ini belum tahu kalau Vian sudah kembali?" tanya Divya dengan suaranya yang terdengar kecewa. Tapi kini Divya tersenyum samar untuk menyembunyikan perasaannya yang terluka.


Vian jadi merasa bersalah karena hal ini. Entah kenapa Divya terlihat marah padanya. "Kak, maksud aku ..."


"Kakak tahu, pasti kamu ingin membuat kejutan untuk Kakak kan? Itu pasti esnya Queen. Cepat sana, di antar ke kamarnya," perintah Divya yang merasa kalau dirinya baik-baik saja. "Ooommm ..." Divya segera menghamiri Zen yang baru saja memasuki rumah, setelah Vian berlalu.


"Loh, Di. Kamu datang ke Jakarta," Zen hanya sedikit terkejut, reaksinya bahkan tidak terlihat karena yang mendominasi wajah Zen adalah rasa senang karena Zen sangat menyayangi ketiga keponakannya tanpa terkecuali.


"Iya, Om. Di ada urusan pekerjaan dengan klien disini, jadi Di memutuskan datang sekaligus membuat kejutan. Eh sampai sini jadi Divya yang terkejut karena ternyata Queen kuliah di sini, begitu juga dengan Vian. Kenapa tidak ada yang memberikan kabar ke Divya?" tanyanya langsung.


Zen adalah Om satu-satnya yang anak Reina dan Hendri punya. Jadi wajar jika semua anak Reina sangat dekat dengan Zen.


"Bukan enggak ada yang mau kasih kabar, tapi memang Vian juga inginnya segera pulang ke Malang untuk menemui kamu," ucap Zen sambil mengacak-acak rambut Divya.


"Tapikan tetap saja Om. Kalau ..."

__ADS_1


"Di. Vian sudah pulang dan menyadari kesalahannya dan sekaran dia sudah berubah itu sudah kemajuan yang sangat bagus. Dia di sini sedang banyak belajar mengurus pekerjaan kantor. Beberapa hari lagi Vian juga ingin pulang karena dia sudah ingin bertemu dengan kamu. Dia berniat membantu pekerjaan kamu dan juga Papa kalian. Siapa yang tahu kamu nanti hamil atau lain sebagainya kan kalau ada Vian, bisa ada yang menghandle pekerjaan kamu sementara, Di. Jangan marah karena kami tidak memberitahu kamu. Vian juga ingin buat kejuatan untuk kamu," jelas Zen yang berusaha memberikan pengertian.


"Iya, Om."


__ADS_2