
"Loh, Safir mana?" tanya Reina saat melihat anaknya yang kembali memasuki ruang makan seorang diri. Belum lagi air muka Divya yang nampak kusut.
"Masih mandi dan juga belum solat, Ma," jawabnya sambil mendaratkan lagi tubuhnya di kursi makan.
"Kenapa tidak di tungguin, Di," kini Reina mulai ingin menasehati naknya. Siapa yang menduga jika Divya justru kembali lebih awal tanpa mengurus suaminya terlebih dahulu.
Melihat Art yang memberi tahu kalau Safir ada di rumah, membuat Divya tidak menanggapi ucapan Reina. "Mbak. Tadi saat Safir pulang, apa Mbak memberi tahu dia semua kamar di atas? Safir nyasar ke kamar Queen loh," ucapnya untuk memastikan ucapan Safir.
"Benar, Non. Tadi saya memberi tahu satu persatu kamar yang ada di atas," ucapnya sambil menunduk. Art tersebut sampai tidak berani menatap wajah Divya yang nampak sedang marah.
"Lain kali. Kalau Safir tanya apapun, cukup jawab apa yang ia tanyakan saja. Jangan hal yang tidak perlu di jawab, Mbak ucapkan juga," ucap Divya memberikan peringatan.
__ADS_1
"Baik, Non. Saya minta maaf."
"Ya sudah," ucap Divya yang kini memberikan kode agar Art tersebut segera beranjak.
"Kalau tadi Divya tidak asal pergi ke rumah Opa Adam juga hal seperti ini tidak akan terjadi, Di," kini Hendri yang mulai mengutarkaan ucapan. "Papa tadikan sudah bilang, Safir baru akan ikut tinggal di rumah kita ini, jadi apa salahnya kalau Divya tadi tidak meninggalkan rumah. Siapa yang tahukan Safir akan pulang lebih awal?" pada dasarnya, Hendri tadi nampak tidak setuju saat anaknya ikut pergi bersama Nissa dan Yusuf.
"Di kan rindu dengan Shanum, Pa. Semua keluarga juga akan pulang ke Jakarta beberapa hari lagi."
"Divya tahu Pa. Tapi tadi Divya lupa kirim pesan ke Safir kalau Divya mau pergi ke rumah Opa Adam," ucapnya dengan suara yang pelan. Sadar diri kalau dirinya salah.
"Jangan pernah lupakan kewajiban yang sudah seharusnya di lakukan. Kamu memberikan kejutan ke kami dengan mempersiapkan semuanya sendiri. Papa rasa seharusnya kamu tahu bagaimana tanggung jawab kamu sebagai istri, sebelum yakin untuk menikah," selama satu bulan ini, Hendri menahan diri untuk tidak memberikan komentar apapun. Membiarkan Reina yang memberikan nasihat pada anaknya tersebut. Tapi siapa yang menduga hal ini bisa terjadi. Mungkin ini hanya sebuah masalah sepele. Tapi hal sepele akan menjadi masalah besar kalau semuanya di biarkan dan menjadi kebiasaan.
__ADS_1
"Mas," Reina menggenggam tangan Hendri yang ada di bawah meja. Ia tidak ingin kalau suaminya ini jadi tersulut emosi. "Di, lain kali jangan seperti ini lagi."
"Iya, Ma."
"Dan satu hal lagi, kalau menyebut Safir di depan orang lain jangan langsung nama seperti tadi. Biar sopan. Panggil dengan sebutan suami aku atau di awali kata Mas. Atau apalah yang menurut Divya bisa jadi panggilan yang pantas untuk Safir."
*
Begitu Divya pergi, Safir bergegas memasuki kamar mandi. Secepat kilat ia membersihkan diri. Begitu keluar dari sana, secara asal Safir meraih sarung dan kaos yang ia bawa. Setelah usai melaksanakan kewajibannya, Safir bergegas turun, Ia sampai melangkah lebar karena tidak enak hati karena telah membuat mertuanya menunggu.
"Maaf Pa, Ma. Safir baru datang."
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Kalau begitu ayo kita makan sekarang," ajak Hendri.