Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 82 Masih Canggung


__ADS_3

Setelah hampir setengah jam berbicara dengan dokter, kini Reina dan Hendri sudah keluar dari ruangan tersebut. Keduanya masih terkejut atas segala penjelasan yang mereka terima. Sungguh, keduanya tidak menyangka dengan apa yang baru saja mereka dengar.


"Ya Allah, Mas. Malu banget aku mau ketemu sama besan kita," ucap Reina sambil mengusap wajahnya.


"Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terlanjur terjadi. Pantas saja tadi Bu Tisya meminta kita menemui dokter saja. Safir juga sepertinya enggan mengatakan semuanya," Hendri sendiri tidak habis pikir dengan tindakan anak sulungnya tersebut.


Setelah merasa cukup mereka menghilangkan keterkejutan hati mereka, kini Reina dan Hendri segera menuju ke ruang rawat Safir lagi. Baru saja sampai sana, siapa yang menduga kalau mereka justru bertemu dengan Divya yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.


"Mama, Papa," gumam Divya yang nampak terkejut. Divya semakin takut saat melihat reaksi wajah Reina yang nampak tidak bersahaba. "Maafin Divya Ma, pa," ucapnya lebih dulu saat kedua orang tuanya sudah mendekat.


"Kalau mau minta maaf, bukan dengan kami Di. Tapi dengan Safir dan juga mertua."


"Divya sudah minta maaf dengan mertua Di, Ma. Tapi respon Bunda seperti itu. Bunda masih marah dengan Di. Sejak tadi Divya juga ingin dekati Safir. Tapi Di tidak berani karena Bunda selalu ada di dekat Safir."


"Astaghfirullah Divyaaa ..." Reina sampai tidak habis pikir dengan jalan pikiran Divya sejak tadi. "Wajar kalau Bunda marah. Karena tindakanmu itu teralu berani. Untung saja suami kamu sadar dan sekarang mulai sehat lagi. Kalau sampai ada apa-apa, mertua kamu pasti akan menuntut kamu Di. Ya Allah ..." Reina rasanya geram sendiri dengan anaknya tersebut.

__ADS_1


"Sudah sayang. Sebaiknya kita masuk dan kita bicarakan ini secara kekeluargaan."


"Sebentar Mas, biar aku bicara dulu sama anak Mas ini. Biar paham kalau melakukan sesuatu hal itu harus di pikirkan baik-baik dulu," tolak Reina. "Sebenarnya kalian ada masalah apa sih Di? Sampai kamu nekat memberikan obat seperti itu sama Safir. Kalau Divya memang merasa kurang dengan Safir, bicarakan baik-baik. Jangan seperti ini."


"Bukan seperti itu Ma."


"Lalu seperti apa?" Sentak Reina yang mulai emosi. "Apapun masalah hubungan kalian, sebaiknya memang di bicarakan baik-baik. Atau konsultasi ke dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat. Bukannya bertindak asal-asalan begini."


"Pelankan suaramu, sayang. Ini di rumah sakit," ucap Hendri memperingati sang istri.


Divya menunduk. Kedua air matanya nampak berkaca-kaca. Sedangkan tangannya mencengkram kuat baju yang Divya kenakan. "Lalu yang pantas untuk Di yang seperti apa Ma? Dari sekian lelaki yang mendekati Di, hanya Safir yang mau serius. Sedangkan yang lainnya?"


"Lalu sekarang Mama tanya baik-baik sama kamu, dan tanyakan juga ke hati Divya. Sebenarnya perasaan apa yang ada di dalam hati Divya itu. Cinta ataukah hanya sebatas obsesi karena janji yang sudah Safir ucapkan? Atau sebatas Divya merasa sudah cukup umur agar segera menikah?" untuk kedua kalinya, Reina kembali mengajukan pertanyaan seperti ini. Sampai kini Reina mencoba untuk meredakan emosinya saat tangan Hendri menyentuh pundaknya. "Sudahlah. Jangan membahas hal seperti ini. Kalian sudah menikah dengan keinginan dan pilihan kallian sendiri. Jadi sekarang pertanggung jawabkan saja apa yang telah kalian dapatkan sekarang."


Setelah memberikan omelan pada Divya, kini mereka bertiga kembali memasuki ruangan perawatan. Baik Reina maupun Hendri, rasanya mereka sudah tidak memiliki muka lagi untuk saling berhadapan dengan Arjuno dan Zantisya. Tapi mau bagaimana lagi, semuanya harus di selesaikan dengan baik agar tidak ada perseteruan dingin yang ada di dua keluarga tersebut.

__ADS_1


"Kami sudah mengetahui semuanya Pak Arjuno dan Bu Tisya. Sungguh, kami tidak tahu masalah utama apa yang terjadi di antara anak-anak kita. Tapi yang pasti, kami minta maaf atas tindakan yang sudah di lakukan Divya pada Safir," ucap Hendri. Hendri mati-matian menahan rasa malunya.


"Sudahlah, semuanya juga sudah terlanjut terjadi. Yang terpenting sekarang Safir sudah kembali sehat. Untuk Safir dan Divya, jika ada sesuatu hal yang terjadi di antara kalian, baiknya di bicarakan baik-baik atau pergi ke dokter untuk konsultasi, agar kalian juga mendapatkan solusi yang tepat. Ingat, tidak semua hal yang baik untuk orang lain itu juga bisa baik untuk diri kita sendiri. Mengerti?" ucap Arjuno berusaha menengahi masalah yang sedang terjadi.


"Mengerti Ayah," ucap Safir dan Divya secara bersamaan.


Sekalipun sudah saling terbuka dan saling menerima untuk berdamai dengan keadaan. Rasanya masih ada kecanggungan di antara mereka. Seolah masih ada pembatas yang membuat dua keluarga tersebut merasa tidak nyaman untuk berlama-lama di sana. Hingga akhirnya, jam jenguk pasien sudah habis. Sudah saatnya para pengunjung segera meninggalkan rumah sakit.


Kini dua pasangan suami istri paruh baya tersebut segera meninggalkan rumah sakit. Mereka akan menuju hotel di mana kedua anak mereka itu bermalam selama di Paris.


Awalnya, Zantisya menawarkan diri untuk menemani Divya menjaga Safir. Jujur saja, hati Zantisya masih khawatir kalau mungkin saja Divya bertindak konyol dan membahayakan Safir. Rasanya Zantisya hilang kepercayaan terhadap menantunya itu. Namun, Zantisya  memilih pergi ke hotel bersama sang suami karena Safir sendiri meminta agar Divya saja yang menjaganya.


Semua orang tua juga tahu, mereka berdua pasti membutuhkan ruangan privasi untuk berbicara.


"Fir."

__ADS_1


__ADS_2