
Safir keluar dari kamar dan langsung turun. Tujuan Safir saat ini ingin ke dapur untuk membuat susu almond hangat. Berharap setelah itu pikirannya bisa kembali tenang.
Padahal baru tadi sore Safir menyingkirkan benda yang berkaitan dengan Queen dari kamarnya. Berharap tidak ada sesuatu hal yang bisa membuatnya tidak sengaja melihat dan kembali ingat dengan yang sudah-sudah. Sadar diri kalau saat ini ia harus fokus dengan Divya saja. Tapi sekarang ia keluar kamar bukan hanya karena permasalahannya dengan Divya, tapi juga karena mereka berdua usai membahas Queen.
"Sedang apa?" tanya Zantisya yang baru saja datang.
"Eh, Bunda," Safir cukup terkejut karena kekalutan pikirannya. "Safir sedang buat susu. Bunda mau apa?"
"Ayah kamu tiba-tiba ingin di buatkan minuman lemon hangat," untuk sesaat, Zantisya mengedarkan pandanganya. "Sendirian?"
"Iya Bunda."
"Divya sudah tidur?"
"Belum, Bunda," setelah menyeduh susu, Safi langsung mendaratkan tubuhnya di kursi makan yang ada di sana.
Sambil melakukan pekerjaannya, Zantisya melirik Safir yang sedang menyesapi susu secara perlahan menggunakan sendok.
"Kenapa tidak mengajak Divya turun? Minta dia untuk membuatkan susu. Meski hanya minuman seperti itu, tapi kalau istri yang membuatkan itu rasanya enak, Fir."
__ADS_1
"Divya sudah mau tidur, Bunda. Kita terlalu lama melakukan penerbangan. Dia pasti lelah. Safir tidak ingin mengganggu waktu tidurnya."
Zantisya hanya tersenyum samar. "Divya bekerja, Safir juga kerja. Kalau seandainya kalian memilih berumah sendiri pasti urusan rumah semuanya akan di lakukan Art. Kesibukan seperti hanya akan menyita waktu kalian. Tinggal pintar-pintar kalian saja untuk saling mengerti dan memahami. Bunda jadi tidak bisa berkomentar banyak karena sudut pandang dan caranya juga berbeda. Divya wanita karir, sedangkan Bunda hanya wanita rumahan. Kodrat serta tanggung jawab wanita dan laki-laki itu memang berbeda. Tapi sebagai pasangat hidup harus peka dengan hal-hal kecil yang bisa menambah rasa cinta kalian sendiri."
Safir hanya diam dan mendengarkan dengan baik.
"Oh iya, coba Safir bicara baik-baik dengan Divya. Kaliankan sudah menikah, apa tidak punya panggilan sayang di antara kalian. Sekalipun Safir lebih muda, tapi Bunda rasa kurang pantas kalau Divya panggil Safir dengan menyebut nama langsung. Safir mulai duluan memanggil Divya dengan sebutan sayang. Biar nanti Divya mengikuti. Bunda ke kamar duluan ya," ucap Zantisya yang segera berlalu dari sana.
"Iya Bunda."
Safir hanya diam sejenak. Merekam dengan baik semua ucapan Zantisya. Benar yang di katakan Zantisya. Panggilan khusus untuk Divya mungkin saja akan membuat Safir lebih berani lagi untuk memberikan perlakuan manis pada Divya lagi.
*
Begitu Safir keluar dari kamar, tanpa bisa di cegah lagi, air mata Divya jatuh begitu saja. Sadar diri kalau kejadian di Paris itu adalah kesalahannya. Kalau saja waktu bisa di ulang, Divya pasti tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu.
Benar kata Safir, hubungan mereka memang sudah ada kemajuan. Dirinya saja yang tidak sabaran menunggu semuanya. Hingga kini dirinya dan Safir justru berjarak seperti ini.
"Bagaimana cara aku merebut hati kamu Fir? Lupakan semuanya dan Fokus sama aku."
__ADS_1
*
Esok paginya, karena Safir dan Divya belum memiliki rencana selanjutnya untuk melanjutkan bulan madu, pagi ini Safir memilih datang ke kantor. Setelah usai di resmikan, Safiir memang belum menggunakan ruang kerja impiannya tersebut.
Sedangkan sejak pagi-pagi sekali, Divya kembali ikut melakukan pekerjaan dapur, walau hanya sebatas membersihkan sayuran saja. Sebenarnya Zantisya sudah meminta Divya untuk kembali ke kamar saja. Tapi Divya tetap ingin membantu.
"Mau kemana?" tanya Divya yang baru saja memasuki kamar. Ia melihat Safir yang sudah rapih.
"Mau ke kantor sebentar. Kamu di rumah saja. Kan masih wakunya kita liburan. Aku hanya sebentar kok, karena ada urusan dengan Pak Yusman. Siang nanti aku pasti pulang," tutur Safir. Sengaja Safir mengutarakan semuanya. Keterbukaan antar pasangan adalah hal yang penting. Maka sekarang Safir berusaha menerapkan hal-hal yang menurutnya baik. Dan menurutnya bisa memperbaiki semuanya.
"Kalau kamu ke kantor, aku pulang ke rumah Mama dulu ya? Mau ambil baju."
"Bagaimana kalau kamu tetap di rumah, nanti sore aku ajak kamu belanja," usul Safir yang sepertinya tidak setuju kalau Divya pulang. Selain itu, Safir ingin memanfaatkan waktu agar bisa kencan tipis-tipis dengan Divya.
"Boleh. Tapi pagi ini aku tetap pulang ke rumah ya? Aku bingung mau ngapain di sini. Apalagi enggak ada kamu. Aku enggak mau sendirian."
"Sendirian?" Safir yang sejak tadi sedang berdiri di depan kaca, kini ia balik badan menatap Divya. "Di rumah ada Bunda, Di. Biasanya kalau semua orang sudah pergi dari rumah, Bunda akan membuat kue basah atau kue kering dan yang lainnya. Kamu bisa melakukan banyak hal dengan Bunda sambil ngobrol agar bisa lebih dekat. Belum pas 24 jam loh kamu di rumah ini, yang benar saja kamu mau pulang. Mau ngapain juga di rumah sana. Pasti hanya tiduran di kamar kan? Mama sama Papa juga pasti pergi ke kantor."
"Kamu kenapa jadi marah seperti ini sih Fir? Kalau kamu enggak izinin juga aku akan nurut kok."
__ADS_1