
Begitu keluar dari ruang rawat Reina, Safir segera menuju parkiran rumah sakit. Tujuan Safir tentunya untuk pulang ke rumah. Belum sampai mobil yang sejak tadi di kemudikan Safir memasuki halaman rumah, Safir memilih menepikan mobilnya di tepian jalan, di gang rumah orang tuanya. Safir hanya bisa mendaratkan kepalanya pada kemudi. Memikirkan semuanya yang sudah terjadi.
Safir menghelakan nafasnya yang terasa lega. Rasanya sekarang Safir sudah tidak perlu lagi berjuang demi sesuatu hal dan untuk menjaga perasaan orang lain. Mungkin terdengar egois, tapi memang ini yang tengah dirasakan Safir.
Safir memang ikhlas untuk memperjuangkan kebahagiaan rumah tangganya. Safir pikir, tidak masalah kalau dirinya berjuang sendiri dan memperbaiki diri. Menahan rasa diri untuk suatu hubungan yang sah.
Safir yakin, secara perlahan Divya akan berubah. Tapi siapa yang menduga, kata talak yang tidak Safir pikirkan, tadi harus ia lontarkan karena merasa diremehkan dan tidak dihargai oleh Divya.
Safir hanya bisa memejamkan kedua matanya. Biar bagaimanapun, dirinya juga jadi merasa bersalah dengan hal ini. Biar bagaimanapun, dirinya memang sudah gagal menjadi seorang suami dan juga kepala rumah tangga.
"Aku harus apa sekarang?" gumam Safir. Ia memijat kepalanya yang terasa pusing. Dadanya terasa sesak karena Safir banyak menahan rasa bersalah pada siapapun. Terutama pada kedua orang tuanya. Tidak ingin terlalu lama diam seperti ini, Safir akhirmya kembali melajukan mobil agar segera memasuki rumah.
Begitu memasukkan mobil kedalam garasi, dengan langkah yang terasa yakin Safir memasuki rumah dan ingin segera menemui kedua orang tuanya.
"Ayah, Bunda," panggil Safir saat melihat kedua orang tuanya yang sepertinya akan memasuki kamar. Jam memang sudah waktunya untuk istirahat.
"Iya," Zantisya dan Arjuno langsung balik badan.
Keduanya menerima dengan baik kedatangan anaknya yang kini langsung bersalaman.
"Di, mana?" tanya Zantisya karena tidak melihat keberadaan Divya.
__ADS_1
"Tidak ikut, Bunda."
"Loh, kenapa? Kamu juga kenapa pulang kesini? Bukannya kalian masih makan malam bersama dengan Bu Reina dan Pak Hendri?" lanjut tanya Zantisya karena memang tadi dirinya saling berbalas pesan dengan Reina.
"Iya, Bunda."
"Ada apa Fir?" kini yang mengajukan pertanyaan adalah Arjuno. Lelaki tersebut sepertinya melihat sesuatu yang janggal dari wajah Safir. Sepertinya Safir memiliki sesuatu hal yang ingin sekali Safir sampaikan.
"Safir ingin bicara dengan Bunda dan Ayah. Boleh kan?" tanyanya karena takut kalau waktunya justru akan membuat waktu istirahat kedua orang tuanya terganggu.
Kini Zantisya dan Arjuno kembali memasuki ruang keluarga untuk saling bicara dengan Safir.
Baru saja Zantisya dan Arjuno duduk berdampingan, kini Safir langsung duduk bersimpuh di hadapan mereka. Mendaratkan kepalanya diantara lutur Mereka berdua. Belum lagi suara Safir yang menangis, membuat uluh hati Zantisya terasa sakit. Rasanya tangisan Safir kali ini begitu menyimpan luka dan bebannya sendiri.
"Safir mau minta maaf sama Bunda dan Ayah. Sejak awal memutuskan sebuah hubungan, Safir sudah melukai hati Bunda dan Ayah. Padahal Safir punya orang tua, tapi Safir egois karena melakukan itu semua dan tidak menghargai keberadaan Bunda dan Ayah."
Pasangan suami istri tersebut tentu terkejut. Masalah sudah berlalu, untuk apa Safir membahas ini lagi. Dan sebelumnya juga Safir sudah mendapatkan maaf dari mereka. Zantisya dan Arjuno seolah ikhlas menerima semuanya. Mereka berdua berusaha berpikir positif kalau hubungan Safir dan Divya akan bahagia.
"Sudah beberapa bulan yang lalu, dan itu sudah selesai kita bahas masalah ini, Fir," tangan Zantisya mengusap puncak kepala Safir agar segera tenang. Meski hati Zantisya penuh rasa tanya, kenapa Safir sampai menangis seperti ini. "Kami sudah tidak apa-apa, Nak. Yang terpenting sekarang Safir dan Divya bisa hidup dengan baik dan bahagia. Itu yang terpenting."
Safir sadar, apa yang ia dapatkan sekarang bukan karena dirinya telah mendustai jawaban yang telah Tuhan berikan padanya. Safir seperti merasa mendapatkan balasan yang harus ia terima karena sudah melukai hati kedua orang tuanya. Apa yang bisa Safir lakukan sekarang selain permintaan maaf.
__ADS_1
"Mama Reina masuk rumah sakit, Bun."
"Loh, kenapa Fir? Tadi Bunda saling chat dengan Bu Reina, beliau sepertinya baik-baik saja."
Baik Zantiysa maupun Arjuno terkejut mendengar kabar besan mereka itu.
"Mama pingsan setelah mendengar pertengakaran Safir dan Divya."
"Kalian bertengkar kenapa?" Zantisya memang tahu kalau rumah tangga anaknya itu tidak terlihat harmonis. Safir yang mereka ketahui sangat mencintai Divya jelas membuat mereka terkejut kalau Safir dan Divya bertengkar.
"Dan Safir juga sudah menjatuhkan talak 3 pada Divya, Bunda, Ayah," lanjut Safir dengan suaranya yang pelan.
"Astaghfirullah hal adzim, Fiiirrr ... Kalian ada masalah apa. Kenapa bisa kamu mengeluarkan kata keramat seperti itu? Semua masalah ada solusinya. Jika sedang emosi karena suatu hal, sebaiknya diam dan pergi lebih dulu. Daripada kata seperti itu Safir lontarkan. Kalian ini sudah menikah membuat kami semua terkejut, sekarang memutuskan untuk berpisah juga membuat kami semakin terkejut. Mau kalian itu sebenarnya apa, Fir?" tuntut Zantisya yang sudah tidak habis pikir dengan anak lelakinya tersebut.
"Dek," Arjuno berusaha menenangkan luapan amarah yang Zantisya tunjukkan. Arjuno yakin, ada sesuatu hal yang membuat Safir melepaskan kata keramat tersebut. "Kita dengarkan dulu penjelasan Safir," sarannya sambil menepuk punggung Zantisya pelan. "Bilang sama kami. Ada apa Nak?"
Safir menunduk. Ia merasa bingung mau menjelaskan bagaimana dengan kedua orang tuanya. "Safir belum bisa menjelaskan secara gamblang pada Bunda dan Ayah. Tapi yang pasti, diantara kami banyak menyimpan rahasia. Memanfaatkan untuk tujuan tertentu yang tidak baik. Safir sudah berusaha memperbaiki meskipun perjuangan Safir belum seberapa untuk mengajak Divya bahagia bersama. Tapi semuanya tidak akan menemukan hasil akhir kalau yang berjuang hanya satu orang saja. Dan yang lebih menyakitkan ..." Safir menghentikan ucapannya. Ia memejamkan matanya di saat hatinya benar-benar terasa sakit karena segala ucapan yang Divya lontarkan, seolah membengung di telinga Safir. Lelaki muda tersebut hanya bisa menghela nafasnya pelan untuk kembali merasakan ketenangan. "Setelah ini, Safir tidak akan pernah mau menikah lagi," ucapnya yakin dan rasanya Safir tidak mampu untuk mengungkap semuanya. "Safir belum bisa menjelaskan semuanya. Maafkan Safir, Bunda, Ayah. Maaf, Safir ingin istirahat sekarang."
Setelah mencium tangan Zantisya dan Arjuno, Safir langsung meninggalkan ruang keluarga lebih dulu. Mengingat segala ucapan Divya saja sangat menyakitkan. Safir jelas tidak ingin jika dirinya harsu mengulang semuanya dari mulutnya sendiri.
"Ya Allah, Maaasss. Anak kita itu sebenarnya ada masalah apa lagi?" tanya Zantisya yang tidak puas dengan penjelasan yang Safir berikan.
__ADS_1