Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 96 Perubahan Queen


__ADS_3

Sesuai dengan janji yang sudah Ruby buat semalam, karena hari ini Ruby tidak ada jadwal kuliah, siang ini Ruby mengajak Queen untuk menuju ke toko kue miliknya. Toko kue yang Zen berikan pada Ruby. Karena selama hamil dan saat cuti kuliah, Ruby mengisi hari-harinya dengan membuat kue. Mengasah kemampuan terpendam yang Ruby miliki.


"Sudah siap?" tanya Ruby setelah ia mengetuk pintu kamar Queen dan kini Ruby masuk ke dalam kamar Queen. Saat ini Ruby melihat Queen yang sedang berdiri di depan kaca dan memperhatikan penampilan Queen sendiri.


"Sudah," jawab Queen singkat. Ia hanya tersenyum melihat pantulan tubuh yang berbalut dres yang panjangnya hingga di bawah lutut. Sedangkan lengan tangan dres tersebut panjangnya seperempat tangan Queen.


"Ayo berangkat kalau memang sudah siap," ajak Ruby sambil keluar dari kamar Queen lebih dulu.


Queen juga ikut keluar dari kamarnya. Sepanjang jalan menuju lift, Queen terus memperhatikan penampilan Ruby. Perempuan yang memiliki tubuh mungil dan sudah memiliki 3 orang anak tersebut kini menggunakan dress berwarna moca dan jilbab yang berwarna senada. Sungguh indah Queen melihat penampilan Ruby. Baju yang terlihat longgar dan juga jilbab yang panjang sampai sebatas pinggang serta bagian depan yang selalu menutupi dada.


"Mai."


Padahal baru saja Ruby akan membuka pintu lift, tapi kini dirinya berhenti dan balik badan melihat Queen. "Iya."


Untuk sesaat, Queen terdiam karena merasa ragu dengan apa yang ingin ia ucapkan. "Selama kita sekolah dulu, apa kamu tidak merasa risih berteman dengan aku?"


"Kenapa aku harus merasa begitu?" Ruby jadi bingung dengan ajuan pertanyaan Queen barusan.


"Kamu selalu berpenampilan anggun, cantik, dan terlihat sopan. Sedangkan aku?" tanyanya karena kini hati Queen merasa gundah.


Ruby tersenyum, menampilkan wajahnya yang selalu terlihat manis. "Diluar kata kewajiban, aku yang seperti ini juga karena orang tuaku yang sudah membiasakan aku sejak kecil, Queen. Kita dekat bukan karena alasan tertentu. Kita dekat karena kita bisa saling merasa nyaman. Makanya walau kita berselisih paham, kita tidak pernah sampai marah-marahan. Orang tuaku selalu mengajari aku untuk tidak boleh menilai negatif orang lain. Karena kita tidak pernah tahu, kebaikan apa yang sudah orang lain buat. Maka aku tidak pernah pilih-pilih teman perempuan. Kalau teman lelaki, kamu tahu sendirilah, Ayah dan Safir sangat posesif sama aku. Apa ada sesuatu yang tidak berkenan?" tanya Ruby karena Queen terlihat belum tuntas mengatakan semuanya.


"Emmm, apa kamu punya baju yang sekiranya pas sama aku?" tanyanya pelan tapi penuh rasa yakin.


"Maksud kamu?" Ruby paham arah jalan pertanyaan Queen. Hanya saja Ruby perlu memastikan sekali lagi.

__ADS_1


"Aku merasa kurang nyaman dengan diri aku sendiri, Mai. Kalau kamu punya baju yang Pas buat aku, tolong pinjami ya? Nanti setelah pulang dari toko roti, temani aku belanja sebentar."


Wajar jika Queen bertanya demikian. Karena antara Queen dan Ruby, postur tubuh mereka sedikit lebih besar dan lebih tinggi Queen. Karena Ruby sejak dulu hingga saat ini masih tetap sama, kecil dan mungil seolah tidak mengalami pertumbuhan lagi.


"Kamu sudah yakin? Karena kalau kamu sudah menutup semuanya, jangan pernah sampai membukanya lagi di depan orang lain. Kecuali yang berhak atas diri kamu."


"Aku yakin."


Ruby sangat terharu dengan niat baik Queen. Baru semalam dirinya bergerak mengganti ponsel Queen. Dan sekarang Queen ingin melakukan perubahan lain, dan itu sudah pasti lebih baik lagi.


"Baju aku longgar semua dan yang pasti bisa kamu pakai, Queen. Aku ada baju baru yang belum aku potong, ayo ke kamar, kamu pilih saja mana yang ingin kamu pakai," ajak Ruby yang justru lebih semangat.


"Eh, memangnya enggak apa-apa aku masuk ke kamar kamu?" tanya Queen.


Kini Ruby menunjukkan deretan baju yang masih baru. Seperti yang Ruby katakan, baju dress tersebut memang masih terlihat kepajangan di gunakan Ruby jika belum di potong. Awalnya Queen hanya memilih satu baju saja yang akan ia gunakan hari ini, tapi Ruby memberikan semua baju barunya untuk Queen. Kecuali baju baru yang di belikan Zen.


Tidak hanya baju dress, Ruby juga meminta Queen untuk mengambil jilbab baru yang mungkin saja cocok di gunakan untuk beberapa dres yang akan di gunakan Queen.


"Maaf ya Mai, aku jadi meramok baju kamu."


"Isss, merampok apanya? Aku justru suka dengan ini. Sudah sana masuk kamar dan segera ganti baju."


Queen segera memasuki kamarnya lagi. Ia memilih menggunakan baju dres berwarna pink. Warna merah muda yang terlihat begitu kalem dan menjadi warna kesukaan Queen. Tidak lama kemudian, Queen meminta Ruby untuk membantunya menggunakan jilbab. Merasa kalau Queen akan ribet sendiri karena belum terbiasa, Ruby memilih memasuki kamarnya lagi untuk mengambilkan jilbab instan yang mudah untuk di gunakan Queen.


"Ya Allah, cantik sekali ratuku ini," puji Ruby yang kini terkesima dengan Queen.

__ADS_1


"Doakan aku ya, Mai."


Ruby mengangguk pelan. "Tentu. Aku akan selalu mendoaka kebaikan kamu dan aku harap kamu akan bahagia dan jauh lebih bahagia lagi."


"Aamiin," ucap Queen penuh dengan harapan baru.


Begitu keduanya sampai lantai bawah, Yusuf dan Nissa juga di buat terkesima dengan penampilan Queen. Sungguh sangat anggun dan semakin terlihat catik. Sepasang suami istri tersebut sangat bersyukur, karena selama disini, Queen banyak mengalami perubahan.


Tidak cukup pujian dari Yusuf dan Nissa. Queen juga mendaatkan pujian dari tiga bocah balita di sana.


"Tante Cantik," puji Shaka dengan suara khas anak kecil.


Wajah Queen seketika merona. Katanya kalau anak kecil yang memuji itu adalah kata-kata yang sangat jujur. "Terima kasih anak ganteng," ucap Queen kemudian mendaratkan kecupan di pipi Shaka.


"Shaka, Shaki, Shanum, Mama sama Tante Queen mau ke toko dulu ya. Anak-anak Mama yang baik di rumah sama Oma dan Opa. Ok," ucap Ruby. Setiap kali mau bepergian, baik Ruby maupaun Zen selalu berpamitan.


Memang anak kecil itu sangat menggemaskan. Jika Zen dan Ruby yang mau bepergian, berpamitan di depan mata pun tidak akan di tangisi oleh ketiga bocah kecil tersebut. Coba saja kalau yang pergi Yusuf dan Nissa. Jangan harap Yusuf dan Nissa pergi dengan tenang karena Zen ataupun Ruby harus mengelabuhi ketiganya terlebih dahulu.


"Mereka benar-benar bisa di ajak kerja sama ya Mai?" ucap Queen saat mereka sudah memasuki mobil. Sedangkan kini keduanya masih melihat ketiga anak Ruby yang melambaikan tangan.


"Jelas. Orang sudah terbiasa dengan Opa dan Omanya. Kata Nda, tiga bocil itu sama saja seperti kamu, Kak Di, dan Kak Vian, saat akan di tinggal kerja Kak Re dan Mas Hen."


"Owh, tenyata masih ada penerus kami bertiga ya?"


Siang ini, akan menjadi hari pertama kerja sama antara Queen dan Ruby di mulai. Seperti rencana yang pernah Ruby tawarkan, keduanya akan fokus dengan jualan kue dengan kemampuan dekorasi mereka masing-masing. Sebenarnya ini bukan lahan untuk menereka mencari uang. Karena ini hanya kan menjadi salah satu waktu khusus mereka untuk menyalurkan bakat yang mereka punya.

__ADS_1


__ADS_2