Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 44 Tidak Sesuai Ekspektasi


__ADS_3

Sejak tadi Safir terus memejamkan kedua matanya. Safir bahkan tidak menggerakkan tubuhnya, karena merasakan pergerakan tangan Divya. Ia sungguh merasa bersalah dengan Divya. Sadar diri, kalau ia telah menyakiti Queen. Sadar diri, kalau tanpa di sadari Divya kalau Safir telah menyakiti perasaan Divya. Rasa yang Divya anggap kecewa biasa hanya karena malam pertama yang harus tertunda.


Di rasa Divya sudah terlelepa terbuai mimpi, Safir menoleh sebentar melihat Divya yang memang sudah lelap. Setelah itu ia bangun untuk membenarkan selimut agar menghangatkan tubuh Divya hingga sebatas Dada. Safir menatap Divya sebentar. Hatinya semakin merasa bersalah.


'Maafin aku, Di,' gumam hati Safir.


Lelaki yang baru tadi pagi, merasa telah mendapatkan jawaban dari ibadah yang sudah rutin ia lakukan, meyakin hati atas pilihan yang membuat Safir kalut seorang diri. Safir memilih menuju balkon kamar. Melihat keadaan di luar sana yang masih ramai kendaraan.


"Salahku sendiri, kalau semuanya jadi seperti ini. Aku harus bertanggung jawab atas Divya. Karena biar bagaimanapun, dia sudah menjadi istri ku. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, aku yakin aku mampu. Tapi, untuk yang satu itu bagaimana? Bagaimana aku bisa melupakan Queen dalam semalam. Sedangkan besok malam, pasti hal seperti tadi akan terjadi lagi."

__ADS_1


Sungguh pusing Safir memikirkan hidupnya sendiri. Raalita kehidupan yang ternyata tidak sesuai dengan ekspektasinya. Safir hanya terus menghela nafasnya dalam-dalam. Berharap angin malam bisa menenangkan pikiranya yang rumit oleh ulahnya sendiri.


"Ini konsekuensi hidup yang harus aku tanggung. Karena aku yang telah menyakiti perasaan Ayah dan Bunda dan juga keluarga Divya. Aku harus bisa terima ini semua. Toh selama ini yang mereka ketahui aku hanya mencintai Divya. Maka aku harus bisa bersikap kalau aku benar-benar mencintainya. Ya. Dia istriku dan aku wajib akan hal itu. Lambat laun, aku pasti mencintainya juga. Lalu Queen?" kedua tangan Safir mencengkar kuat pagar balkon. Baru saja di panas-panasi Aris, hatinya sudah tidak jelas rasanya. Lalu bagaimana kalau Queen menikah dengan lelaki lain di luar sana. "Aku yakin, kamu akan mendapatkan lelaki yang tepat dan sangat mencintai kamu, Queen. Waktu akan mengubah segalanya. Aku juga berharap, hati ini akan berubah. Semoga."


*


Queen terdiam. Mengingat kembali saat mereka akan mengabadikan momen mereka saat akan di foto. Kala mereka saling bertatap muka. Walau hanya sebentar, tapi Queen merasakan sesuatu yang aneh dari Safir.


"Kenapa tatapannya tadi seperti itu ya, ke aku?" gumamnya. Queen terus mempertajam ingatannya saat pancaran mata Safir seolah pekat dan terpaku padanya walau hanya sesaat. Hingga tidak lama kemudian, Queen menggelengkan kepaanya pelan. "Queeennn ..." Pekiknya sambil bangun. "Jangan ingat-ingat suami orang. Belum tentu juga suami orang mikirin perasaan kamu. Tapi ngapain juga dia mikirin aku?" gumamnya sadar diri.

__ADS_1


Karena kalut dengan pikirannya yang semakin pelik, Queen memilih menuju balkon kamar sambil membawa benda pipihnya. Queen memejamkan kedua matanya dan menghirup dalam-dalam udara malam hari ini. Berharap hati danĀ  pikirannya bisa tenang karena harus menerima keadaan.


"Entah bagaimana caraku ke depannya. Aku memang harus lupain semuanya," Queen mengangguk pelan sambil menatap bintang yang terus berkedip seolah mengajak Queen bicara. "Entahlah."


Queen mengaktifkan layar ponselnya. Ia membuka galeri untuk melihat banyaknya foto yang tersimpan di sana. Ia tersenyum karena banyak foto Safir yang sedang mengerjakan sesuatu dan Queen mengabadikan foto Safir secara diam-diam.


"Apa harus sekarang juga aku menghapus foto kamu?" tanyanya ragu. "Apa tidak boleh jika aku melakukan semuanya secara perlahan. Sampai pada akhirnnya hati ini merasa ikhlas. Toh, hanya aku sendiri yang tahu tentang foto ini. Tapi bukankah ini akan mempersulit diriku sendiri? Jawaban yang tepat tetap saja kalau lebih baik semua ini di hapus."


Queen tidak ingin terus larut dengan keheningan malam ini. Setelah merasa puas dan hatinya lebih tenang, Queen segera memasuki kamar untuk istirahat. Besok dirinya akan pergi ke tempat yang sangat ingin Queen kunjungi.

__ADS_1


__ADS_2