Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 159 Permintaan Divya Pada Safir


__ADS_3

Setelah menghela nafasnya dalam dan merasa yakin, Safir segera masuk kedalam ruang perawatan untuk menemui Divya. Entah apa yang ingin Divya bicarakan berdua denganya seperti ini.


"Assalamualaikum ..."


Saat Safir masuk dan mendekat, Divya langsung menoleh. Ia berusaha untuk menarik nafasnya dalam karena ingin mencium aroma wangi yang dimiliki Safir. Sungguh, Divya sangat rindu dengan wangi khas yang sudah biasa digunakan oleh Safir.


"Waaalaikum salam," ucap Divya kemudian tersenyum manis pada Safir.


Safir melangkah pelan. Merasa ragu, tapi kini dirinya segera mendaratkan tubuhnya pada kursi yang ada di dekat bangsal Divya. Sungguh Safir masih belum tahu jelas apa yang terjadi dengan Divya. Jika dilihat seperti ini, nyatanya Divya memang tidak terlihat mengalami banyak luka. Tapi alat yang ada di leher Divya dan alat kesehatan lainnya, kemungkinan Divya mengalami kecelakaan yang cukup serius. Dan mungkin lukanya di area yang tidak mudah di lihat.


"Hai, bagaimana keadaan kamu?"


"Seperti yang kamu lihat. Aku merasa lebih baik setelah kamu dan Queen juga datang kesini."


Safir meremas lututnya sendiri. Entah apa tujuan Divya saat ini, sampai berucap demikian. Bukankah yang terpenting saat ini adalah orang tia Divya.


"Terima kasih ya, karena kamu sudah bersedia datang kesini. Aku tahu kalau kamu masih marah sama aku. Benci sama aku karena semua yang sudah terjadi. Dan mungikin sebenarnya kamu juga enggak mau ketemu sama aku lagi. Maka aku sangat berterima kasih karena kamu mau menyempatkan waktu untuk bertemu denganku. Aku janji, ini yang terakhir kalinya."


Deg!


Dalam keadaan seperti ini, Safir jelas tidak ingin mengungkit masa lalu. Ia akan abaikan semua masalah pribadi diantara mereka. Hanya saja, ucapan Divya barusan telah mengusik Safir.


"Kamu bicara apa sih? Jangan berpikir yang tidak-tidak. Yakinlah, bahwa kamu akan sembuh, Di."


Safir pikir, meskipun mereka sudah bercerai tapi kemungkinan untuk kembali bertemu sudah pasti ada. Mengingat saudara kembarnya adalah menantu Oma dan Opanya Divya.


"Agh," rintih Divya merasakan sakit.


"Kamu kenapa? Apanya yang sakit?" Safir jelas khawatir. "Aku panggilkan dokter ya?"

__ADS_1


"Enggak perlu. Sejak tadi aku memang seperti ini. Aku minta kamu datang kesini, karena aku mau minta maaf sama kamu. Setelah 2 bulan menyendiri dengan Vian, pikiranku jadi terbuka. Aku sadar kalau ucapanku dihari itu sangat kelewat batas. Aku pasti sudah meghina kamu sampai aku tidak bisa nengendalikan ucapanku. Aku sungguh minta maaf," ucap Divya tulus.


jika mau menuruti ego dan perasaan hati, Safir jelas masih sakit hati dengan kejadian hari itu. Ucapan Divya memang menusuk sampai Safir tidak akan mungkin bisa lupakan semuanya. Tapi sekarang, hati Safir seolah dibuat luluh. Apalagi dirinya melihat tatapan Divya yang nampak begitu tulus.


"Aku juga minta maaf. Karena semuanya bisa terjadi juga karena aku sendiri."


"Kamu enggak salah. Aku yang salah. Karena sejak awal, aku punya peluang untuk buat kamu sadar kalau sebenarnya orang yang kamu sukai itu adalah Queen. Tapi aku justru memanfaatkan kamu demi tujuanku sendiri."


"Sudahlah Di, kita tidak perlu membahas apa yang ada di masa lalu. Yang terpenting sekarang kita sudah saling memaafkan. Saling intropeksi diri dan akan lebih baik kita terus memperbaiki diri agar tidak membuat kesalahan yang sama lagi."


"Yah, kamu benar, Fir. Aku juga tidak ingin membuat kesalahan yang sama. Karena setelah ini, aku akan mempertanggung jawabkan semua perbuatanku selama ini."


"Kamu bicara apa sebenarnya, Di?" Safir sungguh tidak paham. Kenapa ucapan Divya selalu membuatnya berpikir yang tidak-tidak.


"Aku senang karena kamu sudah memaafkan aku. Maaf kalau sekarang aku bersikap egois lagi sama kamu, Fir. Tapi aku mohon agar kamu mengabulkan satu permintaanku ini."


"Kamu ingin apa?"


"Apa kamu bisa janji dulu untuk mengabulkan permintaanku ini? Ini adalah permintaanku yang terakhir, maka aku sangat berharap kamu berkenan menerima permohonanku."


"Akan aku lakukan jika memang aku bisa memberikanya padamu."


"Aku sudah tidak kuat lagi, Fir. Seluruh tubuh aku rasanya sudah sangat sakit," keluh Divya kemudian ia memejamkan kedua matanya. Membuat lelahan air mata jatuh begitu saja. Setelah itu Divya tersenyum dan kembali menatap Safir. "Aku mau lihat kamu menikah dengan Queen."


Jedeeerrr


Rasanya seluruh tubuh Safir bagai disambar arus listrik. Ia sangat terkejut karena mendengar permintaan Divya yang sudah pasti sulit untuk Safir kabulkan. Bagaimana mungkin Diva meminta sesuatu yang sejak tadi tidak terpikirkan oleh Safir.


"Permintaan macam apa ini, Di?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyatukan kalian berdua. Sejak awal, bukankah kalian memang seharusnya bersama?"


Safir menghela nafasnya secara kasar. Ia masih belum bisa menduga dengan permintaan Divya.


"Kalau ini maumu, aku jelas tidak bisa, Di. Sejak kita bercerai, aku sudah berjanji tidak ingin menikah lagi. Kalaupun harus menikah, mungkin itu bukan dengan Queen. Dia lebih pantas mendapatkan lelaki yang lebih baik dari aku."


"Fir."


"Jangan meminta apa yang tidak bisa aku lakukan. Baru saja kita bercerai. Jangan membuatku terjun dalam hubungan pernikahan lagi, Di. Kamu tahu problem terbesarku dalam hubungan kita. Aku sudah melukaimu dan mengecewakanmu sebagai seorang suami. Jangan biarkan aku juga melakukan hal yang sama pada adikmu sendiri."


"Semua masalah pasti ada solusinya. Aku yakin kamu akan menemukan solusi yang tepat saat bersama dengan Queen."


"Di, tolong jangan paksa aku."


"Hanya ini Fir yang aku minta dari kamu, untuk terakhir kalinya. Aku tadi sudah janjikan kalau ini terakhir kalinya? Aku ingin tidur tenang. Melihat adikku hidup bahagia bersama dengan lelaki yang dia cintai. Dan itu adalah perempuan yang sebenarnya kamu cintai. Ini adalah bentuk kecil usahaku untuk meminta maaf."


"Kita sudah saling memaafkan, Di. Sudah, Jangan minta hal lain lagi. Aku benar-benar belum siap jika harus menjalin hubungan pernikahan. Secepat ini dan dengan adik kamu. Adik kamu, Di. Queen itu adik kamu," ucap Safir agar Divya sadar kalau ini bukanlah pilihan yang tepat. Sampai saat ini, Safir hanya yakin kalau Queen memang lebih pantas mendapatkan lelaki yang jauh lebih baik dari dirinya.


"Queen sangat cinta kamu, Fir. Selama ini yang dia cintai hanya kamu. Setelah mengetahui semuanya dari Vian, tentang apa yang sudah terjadi pada Queen. Aku sangat menyesal dan aku sangat merasa bersalah. Aku sudah membuat adikku sendiri terluka. Selama ini aku tidak pernah meminta tolong padamu kan? Jadi untuk pertama dan terakhir kalianya, tolong bantu aku Fir. Tolong bahagian adik aku. Aku sudah menyakitinya selama ini. Aku mohon," pinta Divya pelan dengan suaranya yang sangat bergetar.


Safir mengepalkan kedua tangannya. Ia menarik nafasnya dalam-dalam karena takut salah mengambil keputusan. Tapi melihat Divya, membuat Safir juga iba. Untuk sesaat, Safir pikir akan lebih baik menuruti saja apa maunya Divya. Urusan kedepannya, akan ia bicarakan baik-baik dengan Queen.


"Kalaupun aku mau, apakah Queen juga akan mau?"


"Dia sudah setuju dengan permintaanku."


"Jangan bilang?"


"Tidak," ucap Divya cepat. "Aku tidak memberitahunya kalau kamu mencintai dia. Aku akan biarkan kamu sendiri yang mengungkapkan perasaanmu padanya. Karena untuk urusan itu, aku tidak akan ikut campur. Bahkan dengan rasa egoisku, karena aku tidak ingin terlihat buruk dimata adikku, aku juga tidak mengatakan padanya kalau selama ini aku mengetahui tentang perasananya padamu. Untuk perasaan kalian, akan lebih baik jika itu menjadi urusan kalian. Yang aku inginkan saat ini adalah bisa melihat kalian menikah. Jadi kamu maukan mengabulkan permintaan aku ini, Fir?"

__ADS_1


__ADS_2