Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 50 Jurang


__ADS_3

Satu setengah tahun yang lalu. Saat baru 6 bulan Queen mau bekerja dengan Safir, itu pun karena dirinya merasa bosan ambil job menjadi salah satu model dari produk Reina, kini Queen memilih bekerja dengan Safir. Queen memutuskan hal itu untuk mencari pengalaman baru dan karena memang usaha ternak kambing dan juga bebek adalah ide Queen. Queen merasa bangga karena Safir mendengarkan sarannya dan usaha tersebut sudah mulai berkembang.


Hari ini, Queen dan Safir janjian untuk bertemu di peternakan. Karena Queen datang lebih dulu, ia hanya terus melihat lahan sekitar yang baru saja di tanami jagung.


'Usaha sapi potong, sudah. Kambing juga sudah. Dan bebek juga sudah. Pas mungkin ya, kalau lahan ini di jadikan ternak sapi perah," gumam Queen.


"Hiks ... Hiks ... Hiks ..."


Queen jelas terkejut karena secara tiba-tiba ada seorang gadis lari begitu cepat sambil menangis sesenggukan. Queen ingin mengejar tapi dari arah lain ada seseorang yang berteriak seolah sedang memanggil gadis tersebut. Queen jadi kasihan pads seorang lelaki yang bertubuh gempal itu. Jelas lelaki tersebut terlihat kesulitan berlari.


"Nduk, lihat gadis yang lari ke arah sini tidak?"


"Lihat Pak, dia ke arah sana," ucap Queen sambil menunjuk arah jalan.


"Oh ya Allah. Terima kasih ya Nduk," ucapnya yang kini melanjutkan langkah larinya. "Raraaa ... Bapak cuma punya kamu nak. Jangan melakukan hal yang tidak-tidak."

__ADS_1


Mendengar ucapan lelaki bertubuh gempal tersebut membuat Queen jadi berpikir negatif. Karena Safir juga belum datang, maka tanpa pikir panjang lagi, Queen langsung lari mengikuti lelaki itu.


"Saya bantu cari Pak. Bapak ke arah sana, saya ke arah sana," ucap Queen setelah bertemu jalan yang bercabang.


Queen langsung menyusuri jalan saat setelah lelaki tersebut lari ke arah yang lain. "Apa yang di pikirkan gadis itu sih, sampai membuat Bapaknya ketakutan seperti itu?" gerutu Queen sambil terus lari. Hingga akhirnya, Queen menemukan jalanan buntu. Sedangkan Queen tidak menemukan gadis tadi.


Queen memutuskan untuk balik arah. Ia harus menyusul lelaki bertubuh gempal tadi. Berharap Queen bisa membantu lelaki tadi agar anaknya tidak sampai bertindak yang tidak-tidak.


"Jangan melakukan hal itu, Ra. Bapak sudah kehilangan Ibu mu. Bapak enggak mau kehilangan kamu juga," ucap lelaki tersebut saat anaknya menangais dan berdiri di tepi jurang.


"Apapun yang terjadi, Bapak tidak akan memarahi Rara. Yang penting jangan nekat, nak. Kasihani Bapak."


Queen yang hanya bisa sesaat mendengar perbincangan antara seoarng Bapak dan anaknya, membuat Queen menyimpulkan sesuatu.


"Jika kamu mau bunuh diri, coba saja?" ucap Queen menghentikan obrolan keduanya.

__ADS_1


Lelaki tersebut langsung menoleh ke arah Queen. Ia sungguh tidak menyangka dengan ucapan Queen. "Bicara apa kamu?" sentaknya mulai tersulut emosi. Sejak tadi dirinya resah karena anaknya yang mau bunuh diri. Tapi Queen justru menyuruh anaknya untuk segera terjun.


Queen segera mendekati lelaki tersebut. "Saya bantu Bapak untuk bicara dengan anak Bapak. Siapa tahu bicara antar sesama perempuan, membuat dia bisa mendengarkan ucapan saya."


Melihat Queen yang terlihat serius, membuat lelaki tersebut mundur. Ia mempersilahkan Queen untulk membantunya dan mengharapkan hasil yang baik dari bantuan Queen.


"Jangan mendekat," sentak Rara saat Queen melangkah maju.


"Ok," Queen terlihat santai dan menyilangkan tangannya di depan dada. "Kalau mau bunuh diri, ayo lakukan sekarang," ucapnya menantang. "Tapi apa kamu yakin dengan menjatuhkan tubuhmu di sana, maka kamu akan mati? Bukankah jurang ini tidak begitu dalam? Masih ada kemungkinan kalau kamu tidak akan mati."


Rara menoleh kebelakang. Memastikan sekali lagi seberapa dalam jurang di belakangnya itu.


"Bagaimana. Apa kamu yakin kalau kamu akan mati dengan terjun ke jurang itu?" Queen menahan senyumannya karena melihat Rara yang mulai ragu. "Hidup dan mati itu ada di tangan Tuhan. Bagaimana kalau ternyata kamu di takdirkan selamat dan Bapak kamu mengobatkanmu. Tapi sayangnya, kamu hidup kembali dan dalam keadaan cacat. Orang yang kekurangan saja ingin sempurna seperti kita. Masa kamu yang sudah sepurna begitu, mau membuat tubuh kamu cacat."


Rara menunduk. Ia menahan tangisan yang penuh rasa sesal. "Tapi aku sudah tidak sempurna lagi, Kak. Semuanya sudah hilang. Padahal dia sudah janji tidak akan meninggalkan aku. Nyatanya apa sekarang. Dia putusin aku tanpa aku tahu salahku di mana."

__ADS_1


__ADS_2