Duka Pernikahan

Duka Pernikahan
BAB 73 Rumah Sakit


__ADS_3

"Ayo kita ke rumah sakit," ajak Divya. Kedua matanya sudah nampak berkaca-kaca karena ketakutan melihat keadaan Safir. Mendengar suara rintihan Safir membuat pikiran Divya menjadi tidak-tidak.


Divya sudah berusaha untuk mengajak Safir bangun, tapi Safir hanya kuat duduk sebentar saja. Safir tidak kuat berdiri tegak karena rasa pusing yang mendera sehingga penglihatannya jadi kabur. Segera Divya menghubungi pihak hotel agar membantunya menghubungi ambulan, setelah itu Divya segera menggunakan baju yang lengkap dan melihat isi tasnya. Apakah identitas mereka sudah ada di dalam tasnya.


"Kamu kenapa Fir," Divya hanya bisa menangis saat para petugas dari rumah sakit membawa tubuh Safir. Kakinya sudah terasa lemas tapi Divya harus mengikuti Safir yang akan di bawa ke rumah sakit. "Apa ini gara-gara obat itu? Apa sampai seperti ini efeknya?"


Ambulan sudah menuju rumah sakit. Sepanjang jalan Divya sudah menangis. Ia bingung dengan semua ini. Ia takut kalau sesuatu hal akan terjadi. Divya bahkan terus menggenggam tangan Safir. Seolah ia sangat takut kehilangan Safir.


Hingga sampai akhirnya, mobil sudah sampai di depan unit gawat darurat. Safir segera di bawa keluar dari dalam ambulan, agar cepat menerima pertolongan yang tepat. Sedangkan Divya segera memberikan identitas mereka pada petugas kesehatan yang lainnya.


Divya tidak mengerti apa saja yang kini sedang di lakukan oleh dokter yang bertugas. Karena tidak lama dari Safir menerima penanganan, Divya di ajak bicara dokter dan ia setuju kalau Safir langsung di masukkan ke dalam ruangan khusus.


Tindakan yang saat ini di terima oleh Safir bukan tanpa alasan. Ini di karena degup jantung Safir yang begitu cepat, rasa pusing yang mendera hingga suhu tubuh Safir meningkat. Belum lagi Safir yang nampak kesulitan bernafas. Semua itu membuat Safir harus mendapatkan penanganan khusus dan lebih terpantau.

__ADS_1


"Sejak kapan hal ini terjadi pada pasien?" tanya Dokter yang tadi telah memberikan penanganan pada Safir. Karena prioritasnya adalah melakukan tindakan pada pasien terlebih dahulu, membuat Dokter dan para petugas kesehatan lainnya belum menanyakan penyebab lebih lanjut, kenapa hal ini bisa terjadi.


"Saya memberinya obat kuat, Dok," rasanya sangat memalukan. Tapi rasa bersalah dan juga khawatirnya Divya lebih mendominasi saat ini. Ia sudah di landa ketakutan.


"Obat apa yang di gunakan?"


Divya memberitahukan nama obat yang telah ia beli. Siapa yang menduga kalau obat tersebut tidak cocok untuk Safir. Maka dari itu, bukan bereaksi seperti yang Divya inginkan. Tapi justru yang terjadi pada Safir adalah efek sampingnya.


Dokter juga merasa aneh, karena dosis obat yang di gunakan Safir sesuai dengan yang standar kesehatan. Tapi kenapa bisa efeknya langsung seperti ini. Namun, tidak bisa di pungkiri kalau respon tubuh pada obat setiap orangnya pasti berbeda-beda. Dan bisa jadi, kandungan obat tersebut tidak cocok untuk Safir.


"Aku minta maaf, Fir."


*

__ADS_1


Semalam Queen dan Vian di bawa Hendri dan keluarga lainnya, agar mereka bisa tidur di hotel tempat mereka menginap saat ini. Bahkan semalam, Reina harus menghubungi rekan kerjanya untuk mengantarkan gaun dan setelah jas yang bisa di gunakan Queen dan Vian. Sampai pada akhirya, pagi ini semua orang sudah bersiap. Mereka akan ikut menyaksikan prosesi ijab kabul. Sebagai tamu khusus, tentunya Hendri dan semua orang harus tepat waktu.


"Cantiknya anak Mama," puji Reina saat melihat Queen yang kini sudah menggunakan baju terusan serba panjang, Sedangkan rambut panjang gadis tersebut di tata bak seorang peri.


"Anak siapa dulu?" ucap Queen yang mulai bangga. Siapapun pasti bangga karena mendapatkan pujian dari orang tua.


"Anak Mama yang satunya juga tampan, tapi setelah kita pulang ke rumah, Vian harus rutin olah raga. Biar badannya berotot seperti dulu. Bisa-bisanya anak Mama sampai kurus seperti ini," ucap Reina sambil menepuk lengan Vian.


"Baru juga di puji, langsung di jorokin sampai dasar jurang," ucap Vian.


"Sudah ayo, acara akan segera di mulai," ajak Yusuf setelah melihat jam tangannya.


Baru saja semua orang masuk ke dalam lift dan hendak menuju ballroom, tempat acara. Kini Reina harus menerima panggilan suara, karena ponselnya berdering.

__ADS_1


"Nomor siapa ini?" ucap Reina saat melihat layar ponselnya. Sadar kalau itu nomor dari luar negeri, Reina langsung menerima panggilan suara tersebut. Karena pikiran Reina langsung terarah pada Divya dan Safir. "Halo."


__ADS_2