
BRAK!
Vian kembali melajukan mobilnya karena mobil yang baru saja Vian tabrak masih berusaha untuk melaju kencang lagi.
BRAK!
BRAK!
Suara benturan besi seolah saling bersahutan. Setelah Vian menumbur mobil Dafa untuk yang ketiga kalinya, kini giliran mobil anak buah Vian yang melaju kencang dan menabrak bagian depan mobil Dafa.
Vian mengabaikan rasa tubuhnya yang mulai terasa sakit karena melakukan aksi seperti tadi. Tapi itu semua Vian abaikan karena emosianya yang sudah tidak bisa Vian redam lagi.
Brak!
Vian keluar dari mobilnya dengan membanting pintu mobil. Ia melangkah lebar mendekati mobil Dafa.
Dak!
"Keluar," sentak Vian sambil menendang kuat pintu mobil Dafa.
Didalam mobil, Dafa jelas merasa takut. Kalau saja Vian seorang diri, sudah pasti Dafa akan menghadapi Vian tanpa pikir panjang lagi. Tapi sekarang ini, Vian bersama dengan anak buah. Bagaimana mungkin dirinya di kepung seperti ini.
Selain itu Dafa merasa bingung, dari mana Vian mengetahui kalau dirinya terlibat dalam kecelakaan yang menimpa Divya. Padhal selama ikut tinggal di villa, Dafa memperhatika dimana letak cctv. Agar kemungkinan buruk yang tidak membuat Divya menerimanya, membuat Dafa bisa beraksi dan melarikan diri dengan sangat mudah. Bahkan untuk meninggalkan jejak, Dafa juga tidak lupa membawa cincin yang niatnya akan ia berikan pada Divya.
Brak!
Brak!
Brak!
Vian langsung merampas pemukul yang dibawa anak buahnya. Ia memukuli kaca mobil Dafa dengan sangat kuat. Emosi Vian semakin memuncak karena Dafa tidak segera menghadapinya.
"Keluar Bang***sat," sentak Vian dengan sangat kuat.
Tidak ada pilih lain selain untuk menemui Vian. Dafa segera keluar untuk saling bertatap muka.
"Dasar bren***sek."
__ADS_1
Vian melempar alat pemukul secara asal. Dirinya langsung menarik baju Dafa dan mendaratan pukulan secara langsung. Saat ini, pantang bagi Vian menghadapi Dafa yang tidak memiliki senjata lalu dirinya menggunakan senjata. Selain itu, Vian akan merasa lebih baik jika tangannya langsung yang menghajar Dafa.
Bug!
Bug!
Bug!
Emosi Vian sudah meledak-ledak. Ia memukuli Dafa tiada ampun. Apalagi saat dirinya mendengar semua keterangan dari dokter terkait keadaan Divya.
"Tahan dulu Vian. Ayo kita bicara baik-baik," ucap Dafa cepat karena dirinya tidak diberikan kesempatann untuk memberikan pukulan juga.
"Apa yang mau dibicarakan baik-baik hah!" sentak Vian kemudian ia menghempas tubuh Dafa yang sudah babak belur.
Brug!
"Agh," ringis Dafa karena tubuhnya mendarat pada mobil dengan cukup kuat.
"Apa kamu pikr dengan bicara bai-baik bisa membuat keadaan Kakakku pulih kembali. Tidak, bo*doh.!"
"Aku bisa jelaskan semuanya. Aku datang kesana karena ingin melamar Kakakmu. Tapi ..."
Luapan emosi Vian kembali berkobar. Vian seolah sudah tidak butuh lagi dengan semua ucapan Dafa. Entaha bagaimana keadaan saat kejadian. Tapi yang pasti, apa yang menimpa Divya, penyebabanya adalah Dafa.
"Kalau kamu cinta dengan Kakaku, seharusnya kamu sabar menunggunya. Apa lagi sekarang Kakakku sudah menjadi janda. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu mengusiknya disaat Kakakku sedang melakukan pengobatan. Dia baru saja mau sembuh. Dia baru saja mau bicara lagi dengan Queen. Tapi kamu sudah merusak semuanya. Semua usahaku untuk Kakaku kamu hancurkan begitu saja. Apa hakmu melakukan ini semua? Memangnya siapa kamu? Sampai terjadi hal buruk dengan Kakakku, aku pastikan hidupmu tidak akan pernah tenang sekalipun didalam penjara."
Dor
Satu tembakan telah diluncurkan oleh polisi. Untuk melerai Vian yang memukuli Dafa tiada henti. Bahkan tindakan Vian berhenti saat polisi yang memisahkan keduanya.
"Jangan main hakim sendiri seperti ini, Mas Vian."
"Saya tahu main hakim sendiri itu tidak baik, Pak. Tapi kalau Bapak ada di posisi saya, apa Bapak akan dia. saja setelah mendapatkan orang yang telah membuat orang yang Bapak sayangi celaka?" ucap Vian membalik perkataan polisi.
"Kami paham. Ini pasti sangat melukai keluarga Mas Vian. Sekarang, biarkan kami yang bertugas selanjutnya."
"Lepas Pak. Saya tidak bersalah, Divya jatuh karena kemauannya sendiri. Saya tidak melakukan apapun padanya," ungkap Dafa untuk membela diri, saat kedua tangannya di borgol.
__ADS_1
"Berikan keteranga anda setelah kita samai di kantor polisi," ucap salah satu polisi sambil membawa paksa Dafa untuk masuk kedalam mobil.
"Mas, ayo saya antar keruah sakit,. Mobil Mas Vian biar yang lain yang mengurus," ucap salah satu anak buah Viaan sambil membawa Vian masuk kedalam mobil.
*
"Anak kami Queen, belum datang kesini, Sus. Katakan padanya bahwa Mama dan Papanya yang sedang menunggu diluar. Atau biarkan saja saya yang masuk. Apa boleh Sus?"
"Untuk menjenguk pasien diperbolehkan besok pagi ya, Bu. Karena kami takut mengganggu pasien lainnya yang sedang istirahat. Mohon pengertiannya."
Ada rasa lega setelah mengetahui Divya yang sudah sadarkan diri. Tapi hati Reina belum sepenuhnya lega jika dirinya belum melihat keadaan Divya secara langsung.
"Sabar," ucap Hendri sambil merangkul Reina yang kembali menangis tertahan. Hendri paham betul, namanya juga seoarng ibu. Siapapun pasti akan sangat terluka jika melihat keadaan anak yang telah dilahirkannya seperti keadaan Divya sekarang ini.
"Aku takut sekali, Mas."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kita harus terus berpikir positif. Insya Allah, Divya pasti akan segera sembuh. Ini sudah menunjukkan perkembangan yang baik, kalau Di sudah sadarkan diri."
Reina menarik nafasnya dalam-dalam. Ia mengusap air matanya sendiri. "Setelah subuh nanti, kita harus memberikan kabar pada Ayah dan Nda serta keluarga lainnya. Agar Queen juga segera datang kesini. Tapi Mas, aku takut kalau Ayah akan jatuh sakit jika tahu kabar ini."
"Bismillah, semoga apa yang kamu takutkan tidak terjadi. Biar bagaimanapun, kita tidak bisa diam terus dan menyembunykan keadaan Divya."
Tidak lama kemudian, dengan langkah yang sudah sempoyongan, Vian kembali memasuki rumah sakit. Beruntung kartu jaga pasien ada pada dirinya. Membuatnya dengan mudah masuk begitu saja.
Langah kaki Vian sudah lemah. Rasanya sangat lelah. Tapi kini dirinya harus segera menemui kedua orang tuanya.
"Ma, Pa."
"Vian."
"Pelakunya sudah ditangkap polisi. Vian yakin, orang yang akan melakukan hal buruk pada Kak Di akan mendapatkan hukuman yang setimpal."
"Alhamdulillah kalau sudah tertangkap," ucap Hendri. Rasanya Hendri ingin membahas lebih lajuh tentang ini, tapi pikiranya kini lebih di dominasi denga Divya. "Kakakmu juga sudah sadarkan diri."
"Benarkah?" tanya Vian. Walau wajahnya terlihat sendu tapi Vian tetap sedikit lebih senang.
Hendri mengangguk pelan. "Tapi saat sadarkan diri, yang Di ingin temui adalah Queen."
__ADS_1
"Sebenarnya semalam Kak Di sudah mau berbicara lagi dengan Queen, Pa. Kak Di sudah hampir sehat. Tapi sekarang ..." Vian menghela nafasnya pelan. Menghetikan mulutnya agar tidak bicara terlalu jauh. "Kita harus beritahu Oma dan Opa agar segera datang kesini bersama dengan Queen."