
"Kepala Queen pusing Kak."
Entah sudah berapa kali Queen mengeluh sakit kepala. Hingga saat bus berhenti, Vian memilih turun untuk memberilikan Queen minyak kayu putih. Ternyata sering menaiki mobil tidak membuat Queen tetap baik-baik saja menaiki kendaraan bus. Beruntungnya Queen tidak sampai muntah.
"Sabar ya, sebentar lagi kita sampai kok."
Queen hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Ia menyandarkan kepalanya pada kaca bus. Melihat lalu lalang kendaraan yang seolah ingin lebih cepat melaju duluan, membuat Queen tersenyum samar. Biasanya hal-hal demikian selalu ia cela saat siapapun yang mengemudikan mobil untuknya karena terus melajukan mobil dengan sangat cepat. Sampai pada akhirnya, bus berhenti di depan jalan utama terminal Kota Semarang. Queen dan Vian langsung keluar dari Bus dan mengambil koper Queen yang ada di bagasi.
"Jadi selama ini Kakak tinggal di Semarang?" tanyanya sambil melihat kesana kemari.
"Iya. Betah-betahin ya di sini, karena suhunya enggak sama seperti di Malang," ucap Vian sambil merogoh ponselnya, Ia harus segera memesan taksi online agar mereka segera sampai di rumah kontrakan.
"Panas?"
"Yes," jawab Vian singkat. Ia menahan tawa saat meihat air muka Queen. Entah bagaimana keadaan Queen nanti. Karena adiknya itu sudah terbiasa dengan udara dingin.
"Lebih panas Semarang atau Surabaya?" tanyanya mulai ingin membandingkan.
__ADS_1
"Rasakan saja sendiri. Nanti juga Queen tahu lebih panas mana. Itu mobilnya sudah datang."
Kini keduanya sudah memasuki mobil. Keduanya harus cepat sampai di rumah kontrakan yang baru saja Vian tinggali. Karena awalnya Vian memilih tinggal di kost-an. Ruang kamar yang menurutnya jauh lebih murah. Untuk saat ini, karena Queen akan ikut dengannya, maka Vian memilih untuk tinggal di kontrakan hingga waktu yang tidak bisa di teantukan. Entah akan sampai kapan Queen ikut bersamanya. Bukannya Vian keberatan, hanya saja Vian takut membuat adiknya itu merasa tidak nyaman dengan tempat tinggal yang bisa Vian sediakan. Hampir 30 menit perjalanan, kini Queen sudah di ajak keluar oleh VIan saat mobil berhenyi di depan gang.
"Ayo," ajak Vian sambil menjinjing koper Queen. Jika koper tetap di geret makan roda koper akan mengeluarkan suara karena jalan yg tidak begitu rata. Vian tidak ingin jika hal ini mengganggu orang sekitar. Karena memang waktunya sudah tengah malam.
Sebenarnya perkiraan mereka sampai di Semarang itu sudah sejak tadi. Tapi karena bus mengalami kendala, membuat perjalanan mereka jadi terhambat.
"Nah ini rumah kontrakan Kakak," ucap Vian. Ia segera mengambil kunci untuk membuka pintu rumah tersebut.
"Ini gerobak apa Kak?" padahal sudah jelas kalau di kaca sudah terdapat tulisan gorengan dengan sangat jelas. Bisa-bisanya Queen masih bertanya.
"Gerobak gorengan?" tanya Queen sampai mengerutkan keningnya. "Punya siapa?" rasanya Queen sedang menyelidiki Vian. Kedua mata Queen sampai di buat terkejut karena saat baru saja memasuki rumah, ia sudah di perlihatlan dengan kasur singel yang ada di ruangan depan.
"Punya Kakak lah. Memangnya punya siapa lagi?"
"Kita tidur di sini Kak?" tunjuknya sampai tidak menyangka. Bukannya Queen tidak terima di ajak tinggal di tempat seperti ini. Hanya saja Queen terkejut dengan kehidupan Vian selama ini.
__ADS_1
Kedua mata Queen seketika mulai berkaca-kaca. Dirinya selama ini hidup di dalam rumah yang begitu nyaman. Bahkan rumah kontrakan ini dengan ruang tamu rumah orang tua mereka sudah jelas luasan ruang tamu rumah orang tua mereka. Bisa-bisanya Vian selama ini hidup seperti ini.
"Kakak yang tidur di situ. Queen tidur di kamar. Loh kenapa menangis?" Vian jadi terkejut karena melihat buliran bening yang jatuh dari kedua mata Queen.
"Jadi Kakak selama ini hidup seperti ini. Padahal kami hudup enak di sana. Kenapa Kakak enggak pulang saja. Mama dan Papa itu sangat rindu Kakak. Kenapa harus menyiksa diri seperti ini. Kakak bahkan jual gorengan. Memangnya Kakak tidak bisa mencari pekerjaan yang layak selama di sini? Kakak ini lulusan luar negeri loh."
"Kakak kan enggak bawa ijazah," Vian terseum pada Queen seolah menunjukkan kalau selama ini ia tetap baik-baik saja. Vian juga mengusap air mata adiknya yang mulai menangis lagi. "Sudah jangan cengeng lagi. Cepat mandi sana dan gantian. Queen bisa menggunakan kamar ini. Berani Kakak tinggal sendiri?"
"Kakak mau kemana?"
"Mau beli makan. Memangnya kamu enggak lapar?"
"Memangnya di dekat sini masih ada yang jual makanan, Kak?"
"Banyak. Kan kita tinggal di dekat kampus."
Queen hanya mengangguk pela. Tapi pikirannya jadi memperkirakan. Berapa biaya rumah kontrakan di lokasi seperti ini.
__ADS_1
"Oh iya Kak. Untuk urusan Mama dan Papa bagaimana?" mengingat kedua orang tuanya, membuat Queen bingung untuk membuat Reina dan Hendri tetap percaya kalau dirinya benar-benar pergu ke Australia.
"Kamu tenang saja. Jangan pikirkan hal itu, ok. Ini kamu berani tidak di rumah sendirian?" tanya Vian untuk memastikan sekali lagi.