HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
PETAKA TIKUS MAINAN


__ADS_3

KLEK


Pintu kamar tidur tanpa penerangan itu terbuka, dan langkah hati-hati seorang wanita yang membawa nampan berisi segelas susu serta roti lapis telur itu akhirnya berhenti di samping ranjang. Wanita bergaun ibu hamil tersebut membuka tirai kamar sedikit demi sedikit, setelah meletakkan nampan di atas meja di samping ranjang. Wanita itu tersenyum, bersamaan dengan sinar sang mentari yang menembus mengusik tidur damai sosok itu, Zaim.


"Good morning." Wanita itu mengecup kening Zaim.


Spontan Zaim membuka matanya, pun spontan menghela napas. "Aku baru balik, dan baru banget tidur."


"I know. Tapi tetep aja gak bisa aku biarin." Wanita itu, Kasih, menyodorkan segelas susu pada Zaim. "Kamu cuma pulang beberapa bulan sekali. Tapi sekalinya pulang cuma tidur seharian. Ntar giliran melek cuma nonton siaran ulang tinju. Terus waktu buat aku dan buat calon anak kita kapan coba?"


Zaim enggan merespon, hanya menyeruput susu hangat itu sedikit sekali, dan berniat kembali menarik selimut.


"Aku gak mau tau. Mulai hari ini setiap kamu pulang tugas, aku mau pake semua waktu kamu buat aku dan calon anak kita." Kasih berganti menyodorkan piring roti lapis.


"Taro situ aja. Nanti aja aku makannya. Sekarang aku bener-bener pengen tidur."


"Segigit juga gak apa-apa kok. Hargain aku dong. Aku sengaja bangun pagi cuma buat bikinin kamu sarapan loh. Hm?"


"Oke," balas Zaim sambil membuka mulutnya, terpaksa menerima suapan roti lapis dari Kasih.


"Makasih, Sayang." Kasih mengecup sebelah pipi Zaim. "Sekarang baru deh kamu boleh tidur. Tapi nanti kalo kamu udah bangun temenin aku kontrol ya?"


"Oke." Zaim menarik selimut.


"Oya tunggu-tunggu, aku mau tanya mumpung inget. Aku denger dari Emily kamu udah gak ambil rute penerbangan Eropa lagi. Is everything good?"


"Aku jawab nanti ya. Sekarang aku tidur dulu. Sebentar aja."


Kasih tersenyum. "Noted. Sleep well, hubby."


Kasih beranjak dari ranjang setelah membereskan sisa sarapan Zaim, lalu bergegas meninggalkan kamar bergaya industrial itu setelah menutup tirai. Namun, langkah hati-hati wanita berambut sepinggang itu seketika terhenti saat tak sengaja melihat ponsel Zaim yang menyala. Awalnya Kasih tak mengindahkan, namun ponsel Zaim terus menyala, menandakan jika ada panggilan atau pesan singkat dari seseorang yang mungkin saja darurat.

__ADS_1


Kasih berpikir mungkin juga itu pesan atau panggilan dari Emily, pramugari yang sudah dianggap suaminya seperti adik kandung. Dan wanita berdarah Jawa Belanda itu pun refleks meraih ponsel Zaim, mengusap layarnya, dan mendapati lima buah pesan singkat dari pengirim yang diberi nama Maeve. Itu bukan pesan biasa, meski si pengirim hanya menyematkan lima buah stiker hati. Terlebih lagi, Kasih yakin Maeve bukan rekan kerja sang suami.


"Gak mungkin," gumam Kasih.


Jari-jemari Kasih bergerak lancang menuruti rasa penasarannya yang semakin menggebu. Layar ponsel tanpa kunci tersebut pun kembali diusap, dan segera, Kasih membuka pesan yang baru saja masuk. Kasih terperanjat, bahkan hampir saja kehilangan keseimbangan pijakannya andai saja tangannya tak sigap mencari penahan. Ternyata benar, Maeve bukan rekan kerja Zaim, dan yang lebih benarnya lagi, itu adalah nama seorang wanita.


Kasih masih bergumam, "Gak akan aku biarin."


...•▪•▪•▪•▪•...


Kepulan asap rokok elektrik yang menari-nari di belakang laboratorium biologi itu tampak semakin tebal, seolah sengaja menantang murka satpam sekolah yang terkenal suka main hakim sendiri dan atau guru-guru yang sering mengambil jalan pintas ke kantin nasi pecel. Terlihat tiga orang anak lelaki termasuk Ikbal, tengah berlomba menebarkan wewangian manis ke setiap penjuru sekolah sambil membahas topik terviral selama beberapa hari terakhir.


"Bener gak, Bal?" Esa, teman Ikbal, sudah keempat kalinya mengajukan tanya yang sama.


Ikbal masih enggan bersuara, namun isapannya tak sesemangat sebelumnya.


"Benerlah. Buktinya bapaknya si Nia koid. Kan abis ketauan dagangannya make pesugihan bapaknya Nia sakit. Nah terus kan dia gak bisa nyari tumbal tuh, akhirnya dia deh yang jadi tumbal. Gitu sih kata orang-orang," timpal teman Ikbal yang lain, Falah.


"Kasian juga ya si Nia. Sejak sesekolahan tau dia anaknya tukang bakso yang viral gegara ngambil pesugihan, dia jadi dijauhin. Beli minum aja ampe gak bisa dia. Mbak kantin ikutan jauhin da–"


"Siapa yang cepu?" sela Ikbal pada Falah.


Spontan kedua teman Ikbal sedari di kandungan itu membuang pandangannya, dan berlomba berdeham meski tidak ada guru wanita berbok*ng aduhai yang sedang melintas di depan mereka.


Ikbal beranjak. "Kerjaan Kinan nih pasti. Itu cewek gak bisa kalem dikit kaya mukanya apa ya?"


"Eh, Bal? Mau ke mana lu?"


"Ke mana lagi anjir. Nyamperin Kinanlah. Terus diputusin. Terus besoknya nyambung lagi." Falah terkekeh.


"Masih mending putus nyambung daripada lu yang cuma jagain jodoh orang." Esa ikut terkekeh, sembari beranjak mengekori Ikbal. "Bal, ikut, Bal."

__ADS_1


"Si monyet." Falah ikut mengejar Ikbal.


Langkah Ikbal terasa sangat berat, seperti dipenuhi amarah. Bukan, bukan amarah yang berkaitan dengan perasaan cinta atau sejenisnya tetapi lebih kepada perasaan tidak terima. Ya, seperti itu. Perasaan yang kini Ikbal rasakan persis seperti saat tetangga sekitar mencurigai sang ibu sebagai simpanan anggota dewan. Namun langkah yang kian berat itu terhenti, sebab suasana di depan toilet perempuan yang tampak tidak biasa. Ikbal dan kawan-kawannya pun balik kanan.


"Ada apaan?"


"Cewek lu, Bal, lagi ngisengin Nia pake tikus mainan," jawab salah seorang murid lelaki.


Spontan Ikbal menggedor pintu toilet yang dikunci dari dalam itu. "Woy! Kinan! Buka apa gua putusin lu! Udah gila lu ya?"


Tak ada jawaban, pun bunyi kunci toilet yang dibuka. Tetapi suara tangis mulai terdengar samar dari dalam toilet. Dan semua orang termasuk Ikbal, yakin jika pemilik tangis itu adalah Nia.


"Anjir. Kinan, buka! Lu udah kelewatan anjir! Buka apa gua dobrak?"


Namun tetap saja. Tak ada jawaban tak peduli sekeras apapun Ikbal berusaha menggertak. Malah suara tangis yang semula terdengar samar itu kini mulai terdengar jelas.


"Sialan." Ikbal memasang kuda-kuda, mantap mendobrak pintu toilet tersebut.


BRAK


Pintu toilet itu pun terbuka, setelah didobrak Ikbal berulang kali. Tetapi demi apapun, pemandangan yang kini tersaji di depan mata semua orang sungguh sangat jauh dari bayangan. Terlihat Kinan meringkuk di pojokan dengan tubuh yang bergetar hebat. Sementara Nia, berdiri tepat di depan Kinan sambil menodongkan sikat wc berhias sesuatu berwarna cokelat pekat yang langsung menguarkan aroma tak sedap ketika samar-samar tertiup angin.


"Tuh, pangeran lu udah dateng." Nia menurunkan sikat wc. "Sono. Apa mau gue leletin ini lagi?" tanya Nia seraya kembali mengangkat gagang sikat wc.


Kinan beranjak ragu, tetapi segera menjauh dari Nia dan berniat menghampiri sang kekasih. Namun tentu saja Ikbal berikut semua penonton langsung menghambur ke segala arah demi menghindari Kinan yang seragamnya dipenuhi ta*. Benar, ta*. Lebih tepatnya ta* manusia yang masih menjadi misteri perihal kepemilikannya.


"Bubu, kenapa kamu lari?"


"Yaiyalah bego. Badan lu ta*i semua. Sono-sono. Sono gak?" Ikbal melempari Kinan dengan segala rupa.


"Kamu jahat, Bubu. Kata kamu susah seneng bakal kita laluin sama-sama."

__ADS_1


"Ya gak bawa-bawa ta*i juga anjir!" seru Ikbal. "Sono gua bilang! Sono gak?"


__ADS_2