
Pada akhirnya Nia, Vina, Ikbal serta Edo, mengekori Ushi menuruni jalan setapak Desa Bukit Pelangi. Itu keputusan yang berat mengingat kembalinya Ushi ke Jakarta bisa membuat masalah semakin runyam. Tetapi apa boleh buat. Nia dan yang lain benar-benar sudah kehabisan tenaga, pun ide untuk menahan Ushi kembali ke ibukota.
" … Bener banget, Pak. Masa dia tiba-tiba ngaku jadi Bapaknya anak saya. Udah gila kali ya."
Driver G*car mengangguk antusias menanggapi Ushi. "Saya juga kaget, Bu. Saya sampe keselek pas nonton beritanya."
"Semua orang juga pasti bakal keselek kalo nonton beritanya, Pak. Pokoknya saya gak terima. Mana ada anak saya punya bapak gangster. Orang bapaknya kang bakso."
"Tuntut aja, Bu, tuntut," balas si Driver G*car.
"Ya udah jelaslah. Gak mungkin dong …"
Obrolan seru Ushi dan Driver G*car paruh baya itu semakin memanas. Sementara itu Nia, Vina, Ikbal dan Edo, hanya terus berusaha menonaktifkan pendengarannya meski selalu gagal. Jadi apa yang tengah diobrolkan Ushi dan si Driver G*car adalah kehebohan yang dibuat Monaco dan orang-orangnya beberapa waktu lalu.
Monaco langsung menggelar konferensi pers setelah berhasil menguasai jalanan Jakarta yang sesak. Dalam konferensi pers itu Monaco didampingi tangan kanannya, Duyi, serta temannya, Bowen, yang merupakan polisi paling berpengaruh di Taiwan. Monaco menyampaikan jika dirinya ingin membantu menangkap pelaku penyebar foto-foto pribadi Nia.
" … Nah itu, Bu. Di saluran itu biasanya nyiarin gosip juga," ujar Driver G*car.
"Oh iya bener ini." Ushi menambah volume radio sambil menoleh ke kursi penumpang di belakang. "Nih dengerin. Kalian pasti belom denger versi fullnya kan. Dengerin biar kalian gondok juga."
...Saya dateng jauh-jauh dari Taiwan buat anak saya, Yesenia. Walopun bukan ayah kandung, saya merasa berhak. Makanya saya sengaja minta bantuan Pak Bowen. Pak Bowen janji bakal mengerahkan semua sumber daya yang Beliau punya buat mempercepat penangkapan pelaku. Ini foto pelakunya. Namanya Putri Bunga, perempuan, dua puluh dua taun. Ciri-cirinya persis kaya di foto. Dan terakhir, buat siapa pun yang berpartisipasi dalam penangkapan Putri Bunga akan saya beri hadiah uang tunai seratus juta rupiah....
"Ini orang jelas punya niat terselubung."
Si Driver G*car tak henti mengangguk antusias menanggapi Ushi. "Bener, Bu, bener. Ada udang dibalik batu."
"Pak Driver, plis deh stop jadi kompor."
"Tau. Ibu saya mah gak usah dikomporin juga udah meleduk-leduk, Pak," timpal Ikbal pada Vina.
"Mending kamu tenangin diri aja daripada terus nyari-nyari info terbaru kasus ini, Shi."
Spontan Ushi memeloti Edo. "Tenang? Emang ada seorang ibu yang bakal tenang ngeliat anaknya diakuin sama gangster?"
"Tapi bener apa ka–"
"Sssttt," potong Ushi pada Nia. "Kamu keturunannya Burhan yang wataknya kelewat baik itu diem ya. Masalah ini gak bisa diatasin sama orang baik kaya kalian."
...•▪•▪•▪•▪•...
Terlihat Nia sedang menyiapkan seragam sekolahnya. Benar, libur panjang telah usai, dan perjalanan menuju ujian nasional akan dimulai esok. Sembari mencari printilan atribut seragamnya, Nia menghela napas kasar. Bagaimana tidak? Libur yang panjang itu benar-benar berlalu begitu saja tanpa kenangan indah, apalagi romantis!
Meski begitu masih terselip sedikit kebahagiaan dibalik libur panjang yang mengerikan tersebut. Ya, lima bulan lagi Nia akan menginjak usia sembilan belas tahun, dan tahun depan, dirinya secara perdana akan menyandang gelar kepala dua. Di mana gelar perdananya itu juga akan sekaligus membawanya dan Zaim ke pelaminan.
"Nikah ya. Gue gak pernah kepikiran buat nikah muda tapi kalo nikahnya sama Zaim sih ayo-ayo aja." Nia tertawa pelan. "Kayanya mulai besok gue harus rajin skincarean bi–"
Ucapan Nia terjeda, oleh sebab suara misterius dari luar jendela kamarnya. Itu bukan suara angin ribut atau ranting pohon kering melainkan, suara ketukan. Benar, ketukan. Dengan langkah takut, Nia pun menghampiri jendela kamarnya. Dan betapa terkejutnya Nia saat melihat sosok pria super seksi yang berdiri di luar sana sambil melambaikan tangan.
"Kamu ngapain di situ?"
__ADS_1
"Buka dulu dong, Sayang. Keburu security komplek kamu neriakin aku maling."
Nia hanya tertawa menanggapi Zaim.
"I miss you," imbuh Zaim seraya menghambur memeluk Nia.
"I miss you too."
Zaim tersenyum. "Maaf ya, liburan kita jadi kacau. Aku janji bakal atur waktu buat liburan kita yang baru."
"Gak sekacau itu kok. Lagian harusnya aku yang minta maaf."
"Kalo kamu lagi bahas masalah foto-foto pribadi kamu yang kesebar di medsos, gak ada yang harus minta maaf sih. Bunga pun gak harus minta maaf."
Nia tak menjawab, sibuk mencerna perkataan Zaim yang penuh teka-teki.
"Orang sakit jiwa mana bisa bedain yang salah sama yang bener kan?"
Nia kembali tertawa. "Ngomong-ngomong ternyata kamu gak se–, mmm gak jadi deh gak jadi."
"Apa, Sayang? Lanjutin dong."
"Ya masa gue lanjut bilang dia di video call keliatan kurus tapi aslinya segede kang pukul? Mana kayanya makin keras lagi duh," batin Nia. "Gak kok ga–, eh, kenapa?"
Zaim tak menjawab, hanya melepaskan pelukannya dari Nia, berbalik menatap sebuah ruangan lain di kamar Nia, lalu dengan langkah terburu membuka ruangan lain yang ternyata gudang tersebut. Dan sesaat setelah pintu gudang itu terbuka, Nia refleks berteriak. Wajar saja. Karena ternyata ada orang lain selain mereka di sana.
Benar, orang lain itu adalah Bunga. Sepertinya Bunga bersembunyi di dalam kamar Nia sejak hari pertamanya membuat keributan. Terbukti dari banyaknya sampah makanan serta minuman, dan terutama kondisi Bunga yang memprihatinkan. Hanya dalam lima hari buron, Bunga tampak telah kehilangan separuh berat badannya.
TOK TOK TOK
TOK TOK TOK
"Dobrak aja kali ya, Om?"
"Yaudah kalian minggir dulu," timpal Edo pada Ikbal.
KLEK
"Nia." Ushi berlari memeluk Nia. "Loh, kok kamu ada di sini, Za? Loh terus itu siapa?" Ushi kembali berlari menerobos kamar Nia. "Ya ampun. Kloningan dajjal?"
"Iya, Bu."
"Kok bisa, Za?" tanya Edo.
"Saya juga gak tau, Pak. Saya cuma ngerasa ada orang lain aja di kamarnya Nia. Dan ternyata bener."
"Terus kok kamu bisa ada di sini malem-malem begini? Perasaan saya gak denger ada suara gerbang kebuka. Saya kan belom tidur."
"Aduh plis banget, Bu, itu pertanyaan gak penting," sahut Ikbal pada Ushi. "Ibu kalo lagi drakoran mana sempet dengerin suara gerbang kebuka coba." Ikbal mendekati Bunga. "Tapi ini dia pingsan, Kak?"
__ADS_1
Zaim hanya mengangguk merespon Ikbal.
Ushi ikut mendekati Bunga. "Oh bagus kalo gitu. Cepet serahin aja dia ke siapa tuh? Moroko apa Maruko."
Edo menghela napas. "Monaco, Shi."
"Ya itulah pokoknya." Ushi menoleh pada Zaim. "Sana cepet serahin, Za. Keburu dia sadar."
"Gimana, Sayang? Kamu maunya gitu juga gak?"
Ushi mendecak menanggapi Zaim, "Jangan tanya dia, Za. Dia mah wataknya kaya Burhan. Kelewat baik. Udah cepet serahin aja si kloningan dajjal ini ke Mo–"
"Ibu lupa soal karma?" sela Nia. "Ibu mau ngeliat aku gantian ada di posisi Kak Bunga terus aku diserahin sama gangster itu?"
"Gak usah bawa-bawa karma du–"
"Kata Bapak," sela Nia lagi. "Kita hidup berdampingan sama karma baik dan buruk. Dua karma itu gak akan jauh-jauh dari kita walopun kita udah berusaha jadi orang baik atau sebaliknya. Kenapa? Karna orang jahat bisa tiba-tiba dapet hidayah, dan orang baik, bisa berubah jadi jahat. Ja–"
"Udah-udah. Ngomongin karma mulu sampe bikin Ibu gak bisa tidur. Kalo gitu terserah deh itu kloningan dajjal mau diserahin ke Markoco apa ke mana." Ushi meninggalkan kamar Nia dengan langkah murka.
"Fix ngambek, dan fx bakal mogok masak seminggu." Ikbal menjambak rambut Nia. "Ayok rayu." Ikbal berlalu.
"Iya-iya. Gak usah pake ngejambak dong." Nia menoleh pada Zaim. "Demi karma baik, tolong bawa Kak Bunga ke rumah sakit ya, Sayang."
Zaim hanya tersenyum pada Nia yang berlari mengekori Ikbal.
"Beneran mau kamu bawa ke rumah sakit, Za?"
"Yang bersangkutan mintanya gitu ya mau gak mau, Pak," balas Zaim sembari berjalan menuju gudang kamar Nia.
"Tapi resikonya udah kamu pikirin?"
Zaim tak menjawab, apalagi menghentikan langkah enggannya. Berbicara perihal risiko memang yang paling menjengkelkan. Pasalnya berita tentang Bunga yang telah berhasil ditangkap pasti akan langsung menyebar saat Zaim tiba di rumah sakit. Dan kemungkinan besar Monaco serta orang-orangnya akan langsung berbondong mendatanginya.
Kemudian Bunga akan dihukum secara manusiawi atau, dihukum dengan trik konspirasi ala gangster. Dan mustahil melindungi Bunga meski yang menjadi tamengnya adalah Zaim Alfarezi. Karena keributan yang dibuat Bunga berkaitan dengan hubungan antar negara. Lalu lawan Zaim, bukan hanya Presidennya sendiri tetapi juga Presiden Taiwan!
"Lawannya Monaco kan juga bukan cuma saya aja, Pak."
"Ya kamulah. Kan kamu yang mau bawa Bunga ke rumah sakit," jawab Edo.
"Bukan saya aja kok, Pak." Zaim menunjuk mobil limosin yang baru saja menginjak rem. "Tuh. Dia juga mau bawa Bunga ke rumah sakit."
Edo menoleh ke arah Zaim menunjuk. "Itu bukannya yang punya Atlas*? Joff kan? Joffrey Scott Atlash?"
*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.
Zaim mengangguk.
"Karna keseringan sama kamu saya jadi lupa kalo Indonesia gak cuma punyanya Zaim Alfarezi aja tapi juga Atlas. Kalo lawannya Atlas sih, Markoco bakal pulang kampung gigit jari lagi nih." Edo tertawa geli. "Ka–"
__ADS_1
Ucapan Edo terjeda. Karena kemunculan sosok pria tampan beraura negatif itu, Joff. Penguasa Atlas tersebut tak kalah dengan Zaim Alfarezi dari segi apapun. Namun tampaknya Zaim masih bernurani. Berbeda dengan pria bersetelan ala kerajaan yang dingin, serius, dan kaku seperti pedang Komandan Perang yang hanya berhasrat dengan darah segar itu!
"Jadi, medan perangnya di mana, Za?" tanya Joff seraya memamerkan seringainya.