HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
"AKU JUGA SAKIT!"


__ADS_3

" … Gue panik, Nya. Lu tiba-tiba nelfon nyeritain nyokap tiri lu sambil nangis-nangis … Gue pikir waktu itu cuma ada Ikbal. Tapi gak taunya ada Zaim juga. Maaf ya, Nya. Kan udah gue traktir empat kali."


"Iya-iya. Gue maafin."


"Terbaik emang kakak satu ini." Vina menghambur memeluk Nia.


"Tapi gak gue maafin kalo Zaim sampe turun tangan. Untungnya dia anteng …"


Vina enggan merespon apa yang baru saja dikatakan Nia. Vina tak percaya jika seorang Zaim Alfarezi hanya akan duduk manis meski sudah mengetahui fakta bahwa Nia pernah menjadi korban penganiayan Nila. Sedangkan saat dulu Nia memblokir akun Zetnya saja Zaim langsung mengambil tindakan dengan mengirim Bastian ke sekolah. Jadi tidak mungkin Zaim acuh pada masalah seserius itu sementara dirinya sering kebakaran jenggot pada masalah-masalah yang sepele.


Meski yakin betul perihal itu, Vina tak berniat memberitahu sahabat sehati sesanubarinya. Bisa gawat jika Nia terpengaruh ketidakpercayaan Vina, dan semakin bertambah gawat jika Nia serta Zaim sampai bertengkar atau bahkan putus. Vina pun mantap menyimpan rasa tidak percanya itu untuk dirinya sendiri, dan berharap tindakan Zaim hanya sebatas memulangkan paksa Monica ke negaranya, serta memberi ultimatum pada Nila untuk tidak muncul di depan Nia meski tanpa kesengajaan.


" … Sepik-sepik namu aja karna kebetulan lewat di sekitar apartemennya. Gimana?"


"Hah? Apaan"


"Jangan bilang lu gak dengerin gue yang udah ngomong panjang kali lebar."


Vina terbahak. "Mata gue mendadak berat anjir. Biasalah, Nya, penyakit abis makan enak. Gimana-gimana tadi?"


"Iya kita sepik aja namu karna kebetulan lewat."


"Terus kalo ditanya Pak Denar kita tau dia tinggal di apartemen dari mana gimana?"


"Bilang aja kita gak sengaja liat dia masuk apartemennya pas lagi maen," jawab Nia seraya beranjak. "Kalo alesannya dipikirin banget tuh malah ketauan boongnya anjir."


"Iya juga sih." Vina ikut beranjak. "Yaudah yuk let's go aja. Biarin ngalir alami ajalah nipunya."


Nia hanya mengangguk menanggapi Vina. Dan berangkatlah keduanya untuk bertamu ke apartemen Denar dengan berbekal bakat acting yang mengalir alami. Namun tentu saja tujuan sebenarnya bukan untuk bertamu melainkan untuk memasang Pongpong*. Apapun hasilnya, cukup tidak ketahuan saja. Tetapi jika pada akhirnya takdir menuntun Nia dan Vina pada kegagalan dan ketahuan, apa boleh buat. Tinggal serahkan saja masalah itu pada Zaim Alfarezi. Beres!


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja.


"Oya, gue belom bilang ya kalo sekarang tujuan gue mata-matain Kak Denar bukan buat nyari tau dia sus* atau siapa cewek hijaban yang dia anterin ke stasiun?"


*Sus dipakai sebagai akronim dari kata dalam bahasa Inggris “suspicious” atau “suspect” yang berarti mencurigakan atau tersangka. Kata itu adalah kata slang yang juga digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang atau sesuatu tidak boleh dipercaya.


"Terus buat apaan?" Vina balik bertanya pada Nia.


"Buat nyari tau dulu Kak Denar tuh dapet duit buat bantuin biaya perawatan Bapak dari mana."


"Hah? Apaan nih gue gak paham."


Nia menyandarkan kepalanya pada jendela kereta sebelum menjawab, "Jadi dulu Kak Denar tuh diem-diem bantu bayar biaya perawatan Bapak. Gue baru tau pas Ibu akhirnya dateng jenguk Bapak di rumah sakit."


"Omg. Apakah sebenernya Pak Denar tuh malaikat yang lagi cosplay jadi Kepsek Andalan Teladan? Apa nanti kita sekalian meriksa Pak Denar punya sayap atau gak?"


Nia terbahak, tetapi refleks membekap mulutnya sendiri, pun Vina. Dan akhirnya, Nia dan Vina pun tiba di apartemen Denar yang berlokasi di sekitar SMA Andalan Teladan. Meski sempat khawatir, Nia dan Vina akhirnya menekan bel apartemen Denar. Tak butuh waktu lama untuk Denar membukakan pintu, pun untuk Nia dan Vina duduk di satu-satunya sofa yang ada di sana. Di luar dugaan Denar tak menanyakan tujuan kedatangan Nia dan Vina, atau dari mana mereka tahu jika dirinya tinggal di apartemen tersebut.


"Minumnya ini gak apa-apa kan?" Denar meletakkan dua buah kaleng soda di meja.


"Gak apa-apa, Pak, gak apa-apa. Kita anak junkfood* kok." Vina menyenggol Nia. "Iya kan, Nya? Iya aja udah, Nya."

__ADS_1


*Makanan atau minuman dengan kandungan kalori, lemak, gula, serta garam yang tinggi.


Denar tertawa, lepas. Berbeda dengan Vina dan Nia yang tertawa secara paksa.


"Naik apa ke sini?"


"Kereta, Ka–, eh, Pak maksudnya," jawab Nia.


"Panggil senyaman kamu aja kalo kita gak lagi pake seragam, Dek."


Nia mengangguk seraya kembali menyuguhkan senyum paksa.


Vina berdeham, "Bapak gak punya jemuran, Pak? Itu kayanya mendung."


"Enggak. Saya gak sempet nyuci. Jadi saya pake jasa laundry."


"Gitu ya." Vina memberi kode pada Nia untuk berganti memecah kecanggungan.


"Kalo makan udah, Kak. Makan."


"Udah tadi. Kalian belom makan ya? Mau dipesenin?"


"Mau!" Nia dan Vina kompak berseru.


Denar tertawa lagi. "Mau makan apa? Ada kantin enak di bawah. Sop iganya enak. Mau? Kalo mau saya pesenin."


"Iya, Kak, pesen aja."


KLEK


Nia dan Vina beranjak kompak, saat pintu menuju balkon apartemen itu tertutup rapat. Nia pun segera mengeluarkan Pongpong dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Vina yang langsung berlari mencari tempat untuk memasang Pongpong. Sementara Vina sibuk bermaraton dengan waktu, Nia tetap duduk di ruang tamu. Bersiap membual saat Denar menutup panggilan. Syukurlah Denar masih bertelepon meski Vina sudah kembali. Pongpong berhasil dipasang, dan Vina berhasil mendapatkan sesuatu.


"Nya, liat." Vina menunjukkan sesuatu di ponselnya. "Ini cewek yang lu liat di stasiun?"


"Bukan. Cewek yang gue liat kan pake hijab. Tapi lu dapet ini dari mana?"


"Dari kamar Pak Denar. Dia majang foto ini di samping tempat tidurnya."


Nia memperbesar foto perempuan di samping Denar sambil bergumam, "Tapi kok Kak Denar kaya murung gitu ya di foto ini?"


KLEK


"Sop iganya nunggu ya, Dek, Vin. Soalnya antri. Paling lama …"


...•▪•▪•▪•▪•...


Nia melirik Zaim yang tengah fokus menyetir, lalu perlahan berganti melirik Ushi yang duduk di kursi penumpang di belakang. Sepertinya tidak ada masalah berarti, sebab Zaim tampak merespon semua yang dikatakan Ushi dengan tulus. Nia pun menghela napas lega, sembari kembali melihat-lihat pemandangan di luar sana. Semuanya bermula ketika Ushi yang sedang mengambil cuti kerja, mendadak ingin ikut serta pergi menonton film bersama Nia dan Zaim ke salah satu pusat perbelanjaan.


Tentu saja permintaan mendadak itu cukup mengejutkan. Namun Ushi mengatakan jika dirinya tidak ikut serta hanya untuk benar-benar menonton film. Sejujurnya Ushi kesal dengan pemberitaan Nia dan Denar yang tak kunjung hilang sejak pekan lalu. Rasanya Ushi ingin sekali menghentikan pemberitaan itu karena takut lambat laun Nia akan terpengaruh oleh komentar para warganet yang mayoritas membenci hubungan Nia dan Zaim. Ushi pun berniat mengubur berita itu dengan berita yang baru.


Caranya dengan bergabung dalam kencan Nia dan Zaim. Itu pasti akan menjadi topik yang menarik dan secara tidak langsung membentuk citra baik Nia dan Zaim. Kencan yang dikawal orangtua! Nia dan Zaim berpacaran secara sehat! Hubungan Nia dan Zaim yang semakin serius karena sudah mengantongi restu dari Ushi! Jadi dengan kata lain, keikutsertaan Ushi akan membawa banyak keuntungan. Saat tiba di tujuan, ketiganya terlihat berbahagia menghabiskan waktu bersama mulai dari makan malam, berbelanja, dan menonton film yang sedang hits.

__ADS_1


"Selamat malam, Pak Zaim." Seorang pria berlari tergopoh menghampiri Zaim yang baru saja keluar dari toilet bioskop.


"Oh, selamat malam."


"Duh, Pak Zaim. Kaget saya. Kirain ada sidak lagi." Pria itu, Manajer Cinemaz*, tertawa.


*Nama bioskop milik Zaim yang tersebar di lima puluh titik di Pulau Jawa.


"Gak perlu kaget kalo gak ada yang disembunyiin dong, Pak."


Manajer Cinemaz berdeham, "Ngomong-ngomong mau nonton film apa, Pak? Segera saya siapkan."


"Gak perlu. Prioritasin kenyamanan pengunjung Cinemaz aja."


"Tapi bisa gak kebagian tiket loh, Pak. Kalopun dapet pasti duduk paling depan. Soalnya ini kan malem minggu ..."


Zaim mengabaikan apa yang dikatakan bawahannya itu, sebab perhatian Zaim yang tiba-tiba teralihkan oleh pemandangan di luar Cinemaz. Tidak salah lagi. Itu Denar. Denar dengan seorang wanita misterius yang mengenakan penutup wajah berwarna putih. Zaim pun refleks mencari keberadaan Nia, dan mendapati Nia yang juga sedang melihat ke arah yang sama.


" … Nia." Ushi menepuk pundak Nia. "Mikirin apa sih? Ibu ngomong daritadi juga."


Spontan Nia menggeleng-geleng. "Oh, gak, Bu. Kenapa? Gak dapet tiket ya?"


"Dapet dong." Ushi menjembreng empat buat tiket reguler dengan senyum puas. "Sebenernya gak dapet. Tapi Ibu bilang aja sama Mbaknya kalo ibu camernya Zaim Alfarezi. Eh, langsung dapet. Dikasih kursi best view pula."


Nia tertawa. "Tapi kok tiketnya empat, Bu?"


"Oh, iya. Si Ikbal katanya mau nyusul."


"Loh bukannya dia lagi kencan sama Kak Bunga?"


"Udah pulang katanya. Putus kali mereka. Bagus deh kalo beneran putus. Ibu juga agak gak srek sama si Bunga itu." Ushi menggandeng Nia.  "Yaudah yuk pesen cemilan buat nonton." Ushi menoleh ke sana ke mari. "Tapi si Zaim mana?"


Nia ikut menoleh mencari keberadaan Zaim, namun tanpa sengaja kembali menangkap sosok Denar dan wanita itu. "Tadi sih aku liat dia lagi ngobrol di sa–"


"Di sana mana?" Zaim tiba-tiba muncul dan menggandeng Nia. "Iya tadi saya ngobrol-ngobrol sama Manajer Cinemaz. Oya, tiketnya dapet gak, Bu?"


"Dapetlah. Tinggal bilang aja passwordnya, camer Zaim Alfarezi. Jangankan tiket bioskop, beli berlian aja bakal digratisin kalo tau passwordnya." Ushi tertawa. "Oya, kamu mau cemilan apa, Za? Popcorn?"


"Boleh, Bu."


"Yang rasa apa?" tanya Ushi lagi.


"Caramel boleh."


"Oke. Mbak, saya mau pesen ya. Popcorn caramelnya tiga yang large. Terus …"


Zaim tiba-tiba mengeratkan gandengan tangannya pada Nia. Sengaja agar membuat Nia yang sedari tadi sibuk melihat ke luar Cinemaz itu menoleh padanya.


"Sakit dih."


Zaim mendekat pada Nia, berbisik, "Aku juga sakit kalo kamu mikirin cowok lain pas lagi sama aku."

__ADS_1


DEG DEG DEG


__ADS_2