
"Dih apa sih, Ninya. Lama banget ngerjainnya."
Vina tak henti menggerutu, sambil sesekali berjinjit mengintip Nia melalui jendela ruang kelas. Sejak melalui ujian sekolah bersama, baru kali ini Nia memelototi lembar soal ujian seserius itu. Bahkan meski hanya tersisa Nia seorang di ruang ujian, tak ada tanda-tanda Nia akan beranjak dari ruangan sedingin kutub utara tersebut. Aneh. Tapi ada satu yang paling aneh. Kertas coret-coretan Nia terlihat penuh dengan angka dan bukan gambar bunga meski itu ujian matematika!
"Belom balik lu?"
Spontan Vina menoleh ke asal suara. "Eh kebetulan banget. Lu tau gak kenapa Ninya jadi aneh gitu? Masa betah banget ngedekem di neraka hawiyah*?"
*Disebutkan dalam banyak riwayat bahwa dari ketujuh tingkatan neraka, neraka hawiyah merupakan tingkatan yang paling bawah. Disebutkan pula bahwa orang-orang munafiklah yang akan menjadi calon penghuni tempat penyiksaan ini.
"Lebay anjir," balas Ikbal. "Lagian bukannya lu ya yang lebih aneh? Sahabat serius jawab soal bukannya seneng malah panik."
"Paniklah. Dan lu tau gak?"
"Gak. Gak tau dan gua gak mau tau. Minggir cepet."
Vina malah memegangi tas selempang Ikbal. "Masa kertas coret-coretan Ninya isinya beneran angka. Aneh banget-banget kan? Gue yakin ada sesuatu. Iya kan? Iya dong?"
Ikbal enggan menjawab dan memilih berlalu. Jujur saja Ikbal pun terkejut mendengar apa yang baru saja dikatakan Vina. Meski hanya dugaan, Ikbal yakin Nia berniat melakukan sesuatu karena tidak terima dengan keputusan sepihak Ushi untuk pindah ke Amerika. Mungkin Nia tengah berusaha mendapatkan nilai ujian yang bagus agar bisa ditukar dengan hadiah sebuah permintaan. Permintaan untuk tidak pindah ke Amerika misalnya. Tetapi entahlah.
"Anjir gua jadi kesel kalo inget. Lagian kenapa Ibu tiba-tiba pengen pindah nyampe Amerika sih? Mana alesannya aneh banget lagi," gumam Ikbal.
*FLASHBACK ON*
"Loh kalian ngapain? Kok kalian bisa masuk ke kamar Ibu sih? Perasaan Ibu udah ngunci ka–"
"Kita mau pindah, Bu?" sela Ikbal. "Ke sini?" Ikbal menunjukkan selembar foto rumah berlantai dua pada Ushi.
"Mmm ya, mmm itu, mmm Ibu masih pikirin kok. So–"
"Kenapa, Bu?" Nia ikut menyela. "Kenapa kita harus pindah sampe ke Amerika?"
"Mmm kan Ibu bilang, mmm, Ibu masih pikirin," balas Ushi akhirnya, tanpa disela lagi oleh putra-putrinya. "Itu tuh desa. Namanya Droseros. Orang bilang Droseros tuh gak kalah dari Swiss."
"Alesannya, Bu. Kita nanya alesannya. Kenapa kita harus pindah nyampe ke sana?"
__ADS_1
"Ya, mmm, polusi. Maksudnya gak ada polusi di sana. Terus air minumnya langsung ngambil dari gunung gitu. Terus …"
*FLASHBACK OFF*
Ikbal masih bergumam, "Masa cuma gara-gara polusi sama aer minum? Ada apaan sih sebenernya?" Ikbal diam sesaat. "Kak Zaim tau gak ya? Coba gua tanya deh."
Ikbal merogoh ponselnya dan bergegas membuat panggilan telepon. Namun butuh waktu lama hingga panggilan itu dijawab oleh Zaim. Merasa Zaim tengah sibuk, Ikbal pun melupakan basa-basi meski sekadar melontarkan kata halo dan to the point menyampaikan tujuannya menelepon dalam sekali tarikan napas. Namun alih-alih mendapat respon dari Zaim, Ikbal malah mendapat respon dari seorang perempuan yang memiliki suara sehalus sutra.
"Mohon maaf, Pak Zaim. Bisa tolong dimatikan telfonnya?"
"Satu menit ya. Ini panggilan penting soalnya." Suara Zaim terdengar dari seberang telepon.
"Baik, silahkan. Tapi satu menit saja ya, Pak Zaim."
"Bal, sa–"
"Oh iya-iya, Kak," sela Ikbal pada Zaim. "Lagi di pesawat ya? Iya nanti aku telfon lagi aja kalo udah landing ya."
"Gak apa-apa. Masih ada waktu. Kamu ngomong apa tadi?"
DEG DEG DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
"Yang nelfon lu barusan cowok kan? Kok lu cengar-cengir gitu? Pedofil* lu udah sembuh? Ganti homo?"
*Pedofilia adalah bentuk kelainan seksual yang meliputi nafsu seksual terhadap anak-anak maupun remaja di bawah empat belas tahun. Kelainan ini termasuk sebagai masalah kesehatan yang berkaitan dengan mental atau kejiwaan. Sementara itu, pedofil merupakan sebutan untuk pelakunya.
Zaim tertawa sembari mengantongi ponselnya. "Si Ikbal."
"Kenapa tuh bocil?" tanya Bastian lagi.
"Dia nanya gua tau gak kalo Ushi ada rencana mau pindah ke luar negri pas dia sama Nia lulus SMA nanti."
"Wah beneran ada apa-apa ternyata. Bokapnya si Ushi ngomong yang gak-gak kali sama Ushi."
__ADS_1
"Mungkin. Atau, Kakek."
Bastian menoleh pada Zaim. "Maksud lu Kakek ngasih tau Ushi alesan dia gak ngerestuin hubungan lu sama Yesenia?"
Zaim hanya mengangguk menanggapi Bastian.
"Masa sih? Sejak kapan Kakek jadi suka ikut campur."
"Sejak sekaranglah kalo bener penyebab Ushi jadi gitu karna Kakek," sahut Zaim.
"Kalo bukan Kakek penyebab Ushi jadi gitu berarti si Safi kan? Mau gua selidikin?"
Zaim menggeleng. "Nanti dulu. Soalnya feeling gua lebih kuat ke Kakek. Mending lu selidikin Nisma."
"Oh oke. Nisma emang rada aneh pas waktu itu lu tanya-tanya." Bastian membenahi posisi duduknya.
Zaim hanya tersenyum merespon Bastian yang bersiap pergi ke alam mimpi. Sambil menikmati pemandangan di luar jendela pesawat, Zaim terus mengumbar senyum memesonanya. Emosi yang tidak sinkron dengan situasi, bukan? Sebab emosi yang seharusnya ditunjukkan Zaim di situasi sekarang adalah cemas. Bagaimana tidak? Kini bukan hanya sang Kakek saja yang tidak merestui hubungan Zaim dengan Nia melainkan juga Ushi. Tetapi kenapa Zaim malah tersenyum?
"Lu ngapain masih cengar-cengir gitu?" imbuh Bastian.
Zaim ikut membenahi posisi duduknya. "Gua cuma gak sabar nyicip Gua Bao*nya Monaco."
*Gua Bao mirip dengan sandwich, hanya saja isinya daging rebus yang sudah dibumbui. Daging yang biasanya digunakan untuk isian adalah daging babi. Namun ada juga isian daging sapi, ayam, telur atau ikan. Gua Bao disajikan dengan tambahan acar sawi, daun ketumbar, kacang tanah, dan mustard.
"Tapi kok gua yakin bukan karna itu lu cengar-cengir gak jelas ya."
"Siapa bilang gak jelas? Kita kan lagi dalem misi sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui*."
*Merupakan sebuah peribahasa yang memiliki arti satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil (keuntungan) sekaligus. Peribahasa sekali tepuk dua lalat juga memiliki arti yang sama.
Bastian diam, mencoba mencerna kata-kata Zaim yang hampir selalu membuatnya diberondong berjuta tanya. Ah, ternyata itu maksud perkataan Zaim. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali bertandang ke Taiwan, Bagas serta Monaco bisa dibereskan sekaligus. Berbeda dengan Bagas yang meringkuk ketakutan di bawah ranjang rumah bordil, Monaco justru sebaliknya. Tak sabar menyambut kedatangan Zaim di pintu keluar bandara.
"Langsung tembak bius terus bawa ke markas kalo si sombong Zaim Alfarezi itu nongol di bandara."
"Baik, Tuan," jawab Duyi, tangan kanan Monaco pada Monaco.
__ADS_1