
ZRRRTTT
Monitor raksasa yang sejak delapan jam lalu menyuguhkan rekaman interogasi kejam itu akhirnya beristirahat. Terlihat penonton di kursi paling depan, Hakam serta Hendri kompak menujukan tatapan tak percaya. Sementara penonton di kursi paling belakang, Bastian, malah menguap. Itu adalah rekaman yang tersimpan di ponsel Zain, yang diberikan pada Kasih sesaat sebelum Kasih kehilangan kewarasannya.
"Wajarlah kalo itu anak jadi gila. Ternyata Zain udah tau sepak terjangnya Emily."
"Tapi Zain telat," timpal Hendri pada Hakam.
"Soalnya Kasih udah keburu mainan M*chat." Bastian beranjak. "Tapi ada fakta lain yang gak ada di rekaman barusan."
Hakam dan Hendri kembali kompak menoleh pada Bastian yang kini sedang berjalan menghampiri mereka. Sambil membuka tirai ruang kerja Hakam, Bastian menjelaskan lebih rinci maksud dari ucapannya. Fakta pertama, saat kecelakaan mobil Kasih tengah mengandung anak Zain. Fakta kedua, pascakecelakaan tersebut Kasih masih waras karena dirinya tidak lagi menemui Emily.
" … Fakta terakhir, Zaim tau siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih sekarang," imbuh Bastian.
Keheningan seketika merajai ruangan CEO Muezza* itu, sesaat setelah suara bariton Bastian tak lagi menggema. Selain memuji kemampuan robot-robot Zaim yang luar biasa gesit, Hakam tahu betul alasan Bastian menggantung ucapannya. Benar, Zaim menawarkan barter*. Jika Hakam ingin tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih, Hakam harus memberikan restunya pada Zaim.
*Perusahaan katering diet milik Al Hakam.
*Sistem perdagangan yang di dalamnya terdapat kegiatan tukar-menukar barang tanpa melibatkan uang sebagai alat transaksi.
Hakam beranjak seraya menghela napas kasar. "Makasih, Bas. Tapi saya cukup tau aja. Sampein makasih saya juga buat brandalan itu. Kamu boleh pergi."
"Tapi, Pak." Hendri ikut beranjak. "Bapak gak bisa ngelewatin kesempatan ini gitu aja. Bapak udah ngeluarin terlalu banyak uang buat nyari tau siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih."
"Dan saya gak keberatan ngeluarin semua uang saya buat itu." Hakam menoleh pada Bastian. "Sampein pesen saya juga buat brandalan itu."
Bastian tak menjawab, hanya mengeluarkan ponselnya dan menekan tombol perekam suara.
Hakam mengatur napas sebelum mendekatkan mulutnya pada layar ponsel Bastian. "Kecuali Safi jadi manusia, sampe kapan pun Kakek gak akan ngerestuin hubungan kamu sama Yesenia."
...•▪•▪•▪•▪•...
KLEK
"Eh, Za." Ushi membuka lebar gerbang rumahnya. "Masuk-masuk. Udah pada rusuh tuh mereka karna gak sabar nungguin kamu."
Zaim hanya tersenyum menanggapi Ushi, dan mengekor masuk ke dalam rumah.
KLEK
__ADS_1
"Let's go." Vina langsung beranjak terlewat bersemangat saat mendapati kedatangan Zaim.
"Ih ntar dulu. Baru juga nyampe. Duduk dulu, Za. Ibu bikinin minum dulu."
"Tau nih. Lu pikir gak encok apa nyetir dari Jaksel ke Jakbar," timpal Ikbal pada Ushi. "Makanya sekali-kali jadi sopir. Nebeng mulu sih kerjaan lu."
Zaim tertawa. "Nianya mana?"
"Lagi ganti baju. Tadi bajunya ketumpahan susu coklat. Mau teh, kopi apa jus, Za?"
Zaim menoleh pada Ushi. "Jus boleh, Bu. Tapi Ibu kok kayanya belom siap-siap? Apa emang sengaja mau pake piama?"
"Tante gak ikut, Kak," sahut Vina. "Gak ikut kondangan juga katanya."
"Iya soalnya Madam lagi sakit gigi. Jadi terpaksa deh Ibu yang gantiin ngehandle studio sampe Madam sembuh. Super sibuk deh pokoknya. Jadi kalian aja ya yang belanja sama jalan ke kondangan."
"Kirain Ibu mau ke luar kota lagi."
"Iya bener." Vina menimpali Ikbal. "Aku pikir Tante mau ke luar kota lagi. Soalnya Ibu mau nitip lumpia frozen buat pengajian minggu depan."
Ushi tak menjawab, sibuk memasukkan potongan mangga arum manis ke dalam blender, pun sibuk mengatur ekspresi wajahnya yang mulai panik. Meski hanya butuh waktu sebentar untuk Ushi mempersiapkan topeng, sayangnya Zaim sudah terlanjur menaruh curiga. Zaim sengaja tak menunjukkan kecurigaannya, dan lebih memilih mengikuti sandiwara Ushi. Kini semakin jelas sudah, jika Ushi berubah. Berubah bukan karena alasan perjodohan tetapi sesuatu yang lain yang masih menjadi misteri.
Di sepanjang perjalanan Zaim mencoba tetap membaur dengan obrolan seru Nia, Vina serta Ikbal meski firasatnya buruk. Ya, firasat Zaim mendadak memburuk setelah meyakini jika perubahan Ushi padanya bukan karena masalah perjodohan. Lantas karena apa? Apapun itu, Zaim harus segera mencari tahu agar bisa mempersiapkan antisipasi. Zaim berharap apa yang disembunyikan Ushi bisa diatasinya dengan uang. Tak masalah seberapa banyak, asalkan Ushi bisa kembali memperlakukan Zaim seperti semula.
"Za?"
Spontan Zaim menoleh pada Nia.
"Itu tiket parkirnya mau dianggurin sampe idul adha apa gimana?" tanya Nia lagi.
Zaim terbahak, diikuti Nia, Vina serta Ikbal setelahnya. Sepertinya Zaim memang harus berhenti memikirkan alasan perubahan Ushi. Entah masih tersisa waktu atau tidak untuk memikirkannya, yang paling penting sekarang adalah shopping! Namun ketika Zaim baru akan menjalankan niatnya tersebut, panggilan telepon dari Bastian datang. Zaim pun pamit pada Nia yang sedang sibuk memilih gaun pesta, dan bergegas mencari tempat yang aman untuk menelepon balik Bastian.
"Halo, Bas."
"Gua udah ngirim rekaman suara. Itu pesennya Kakek." Suara bariton Bastian menggema memenuhi telinga Zaim.
"To the point aja soalnya gua lagi gak bisa buka-buka hp."
Bastian menghela napas. "Kakek gak akan ngasih lu restu sampe Safi jadi manusia."
__ADS_1
"Setan mana bisa jadi manusia."
"Makanya," jawab Bastian. "Terus rencana lu selanjutnya? Kawin lari?"
"Itu mah rencana lu sama Hendri." Zaim diam cukup lama sebelum melanjutkan, "Kakek itu orangtua gua satu-satunya. Jadi gua gak akan nikah tanpa restu dari Kakek. Buat sekarang gua cuma bisa sabar, sama ngacak-ngacak urutan nikah dikit-dikitlah."
"Jangan gila."
Zaim hanya tertawa menanggapi Bastian.
"Gua serius," tambah Bastian. "Itu anak masih sekolah. Gak lucu kalo sampe hamil."
"Makanya. Mana bisa gua nungguin restunya Kakek sambil rapat doang. Pengaman yang lu bilang waktu itu masih produksi gak?"
"Anjing gak faedah gua dengerin."
Zaim tertawa lagi, kian geli. "Katanya akhir-akhir ini Ushi suka ke luar kota."
"Coba lebih spesifik."
"Kota yang ada lumpianya."
"Semarang?"
"Mungkin," balas Zaim.
"Oke gua langsung kirim orang ke Bandara Jenderal Ahmad Yani, stasiun sama terminal di sana buat mantau pergerakan Ushi."
"Sama selidikin juga Safi ngatur perjodohan gak buat Ushi. Soalnya alesan perubahan sikapnya ke gua katanya karna dijodohin lagi sama Safi."
"Oke. Ada lagi?"
"Itu tadi pengaman ma–"
Zaim tak henti tertawa, sembari kembali mengantongi ponselnya. Bastian adalah orang yang sangat menjunjung tinggi unggah-ungguh*. Jadi ketika Bastian melupakan apa yang dijunjungnya, itu berarti situasi atau lawan bicaranya sudah benar-benar keterlaluan! Zaim menoleh ke salah satu toko pakaian di mana sang kekasih berada, sambil menghapus air mata gelinya. Zaim memandang Nia yang terlihat sibuk menjajal ini itu, dan langsung menghampiri saat Nia menangkap matanya.
*Etika atau tata krama (dalam bahasa Jawa).
"Kayanya di kehidupan lalu gua bajingan. Buktinya di kehidupan sekarang hubungan asmara gua diuji banget," gumam Zaim.
__ADS_1
...BASTIAN BRAMANTYO...