HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
KENCAN GERILYA


__ADS_3

" … Oke deh kalo gitu. Iya, lu juga ati-ati ya. Bye hanibaniswiti." Vina mengakhiri panggilan teleponnya dengan Nia.


"Gimana? Di mana tuh biang rusuh?"


"Udah pulang," balas Vina pada Ikbal.


"Sama?"


"Ke to the po." Vina berlalu.


"Anjir. Jawab dulu yang bener. Balik sama siapa dia? Beneran udah aman apa belom? Woy." Ikbal mengekori Vina. "Lu mau ke mana anjir?"


"Pulanglah."


"Ya ayok bareng."


Nia melirik kursi penumpang depan mobil Ikbal, di mana pacar baru Ikbal, Bunga, tengah memerhatikan mereka. "Ogah amat gue jadi obat nyamuk."


Ikbal menunjuk jalanan yang padat. "Daripada lu buang-buang duit buat ngojek mending jadi obat nyamuk gua kan? Udah ayok bareng. Gak usah sok sultan. Muka sama dompet lu gak mendukung."


Vina tak merespon, namun kakinya refleks mengekori Ikbal menuju parkiran. Tak peduli mau segondok apapun, perkataan Ikbal memang benar. Itulah kenapa Vina berusaha setengah mati merayu senyum pencitraannya untuk ditujukan pada pacar baru Ikbal. Padahal suasana hati Vina saat ini benar-benar hancur total. Jelas saja. Memang ada yang masih akan merasa baik-baik saja saat tidak sengaja bertemu dengan mantan teman kencan online yang ternyata om-om?


Sampai detik ini Vina masih tidak menyangka akan melihat lagi wajah Pria Purnama yang penuh kecabulan itu. Terlebih bertemu di saat sang sahabat sedang menunggu Duplikat L.K. Kenapa Pria Purnama harus memilih kafe lambada dari sekian banyak kafe yang ada di Jakarta? Dan kenapa pula Pria Purnama harus mengatur janji pukul tujuh malam? Beruntung Zaim Alfarezi juga ada di sana, sehingga Nia bisa terhindar dari aksi kejar-kejaran season 2 dengan Pria Purnama dan para security.


"Serius, nyet. Si Nia balik sama siapa?"


"Zaim," jawab Vina malas.


Spontan Bunga menoleh ke kursi belakang. "Zaim? Baim kali, Dek. Waktu itu Nia pernah bilang kalo nama pacarnya Baim."


"Oh, jadi nama asli Duplikat L.K Baim."


"Duplikat L.K? Maksudnya Zaim Alfarezi?"


"Hah? Apaan sih, Kak? Gaje banget."


"Nama akunnya Zaim Alfarezi di Zet kan Duplikat L.K."


Vina tak menjawab, pun tak sadar jika saat ini mulutnya tengah menganga selebar satu suapan nasi berikut gulai nangka pedas dan tempe goreng tepung.

__ADS_1


"Kakak tau karna Kakaknya Kakak yang cerita. Dia kan sekertarisnya Zaim Alfarezi," tambah Bunga.


"Bentar-bentar. Gua mengendus bau-bau masalah." Ikbal ikut menoleh pada Vina. "Lu berdua bilang hari ini mau ketemuan sama pacar onlinenya Nia tapi yang dateng malah Zaim Alfarezi. Terus barusan lu juga bilang nama pacar onlinenya Nia Duplikat L.K." Ikbal diam sesaat, ragu. "Jangan bilang lu berdua baru tau kalo Duplikat L.K tuh Zaim Alfarezi?"


Vina hanya mengangguk-angguk menanggapi Ikbal.


"Bego," imbuh Ikbal sembari menghela napas.


"Jadi bener Nia pacaran sama Zaim Alfarezi? Wah, keren banget. Padahal dulu Kakak sengaja nginstall Zet buat ngechat Zaim Alfarezi tapi sama sekali gak direspon loh."


"Sadar bego. Gak bosen apa lu bego mulu?"


Vina masih enggan mengatakan sepatah kata, meski Ikbal sudah menggunakan kata-kata pamungkas yang biasanya selalu berhasil membuat Vina kesetanan. Otak Vina masih sibuk memproses apa yang baru saja disampaikan Bunga. Jadi Duplikat L.K adalah Zaim Alfarezi? Masuk akal memang jika mengingat seorang Polisi Reskrim yang kala itu dikirimnya ke sekolah hanya untuk meminta Nia membuka blokir. Dan jika diingat-ingat lagi, suara Duplikat L.K juga tidak asing.


"Loh, Dek? Kamu nangis?" Bunga memukul Ikbal. "Kamu sih. Kasar banget ngomongnya." Bunga melepas sabuk pengamannya, hendak berpindah tempat. "Kamu gak apa-apa kan?"


Vina mengangguk sambil mengusap air matanya cepat. "Ini air mata bahagia, Kak. Akhirnya sahabat aku dapet laler setelah keseringan dapet sampah."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Mau gak?"


"Jadi kamu pikir saya cuma bisa nguasain jalanan Jakarta di malem minggu aja?"


Nia kembali diam, entah sudah yang keberapa kali. Sepertinya jaring laba-laba yang bersarang di kepala Nia semakin tebal, atau Zaim yang memang gemar bermain kata-kata. Entahlah. Yang mana pun itu yang pasti Nia dan Zaim tengah berkencan, meski yang menganggapnya hanya satu pihak. Zaim kembali menyalakan lampu tembak, dan dua orang polisi yang sedari tadi mengawalnya itu pun buru-buru menepi di bahu jalan.


"Tunggu di sini sebentar."


Nia hanya mengangguk menanggapi Zaim. Tampak dua orang polisi berlari saling mendahului menghampiri Zaim. Tak terdengar apa yang mereka katakan, namun Nia bisa melihat dengan jelas apa yang ketiganya lakukan dari dalam mobil. Seorang polisi tiba-tiba mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya pada Zaim. Mereka lalu duduk menunggu di atas motornya. Sementara Zaim, sibuk berbicara dengan seseorang di telepon.


"Kenapa, Kak?" Nia langsung bertanya saat Zaim kembali.


"Saya abis reservasi."


Nia mengangguk-angguk. "Jadi hp Kakak beneran rusak ya sampe harus pinjem hp Pak Polisi?"


"Bukan rusak. Ada yang nyetting nomer hp saya. Jadi saya gak bisa nelfon atau ditelfon orang kalo orang yang nyetting gak ngeacc nomer itu. Nomer hp saya otomatis gak kedaftar biarpun aktif."


"Eh, nomer hp saya juga gitu loh, Kak. Berarti ada yang nyetting nomer hp saya juga dong ya?"

__ADS_1


Zaim berdeham, "Kita lanjut jalan."


Lalu lintas semakin kacau, tetapi sungguh itu sama sekali tidak berlaku untuk Zaim Alfarezi. Bahkan tanpa terasa kini mobil dengan harga fantastis itu sudah berhenti tepat di lobby utama sebuah mall. Namun aneh, mall itu sangat sepi meski waktu masih menunjukkan pukul sembilan. Tidak mungkin mall yang biasa menjadi lautan manusia itu tutup lebih awal atau dikhianati para pengunjung. itu adalah mall paling hits di Jakarta!


"Kenapa mallnya sepi banget ya?"


"Ini kan akhir bulan." Zaim mematikan mesin mobilnya.


Nia melepas sabuk pengamannya, ragu. "Kan ada yang gajiannya akhir bulan juga."


Zaim tertawa. "Kamu kalo gak mau besok viral mendingan pake lagi kacamata kamu."


"Oh iya bener-bener. Secara gitu kan jalan sama hidden crazy rich."


"Bukan jalan."


Nia hanya menoleh pada Zaim tanpa menghentikan gerak tangannya mengobok-obok isi tas.


"Tapi kencan," imbuh Zaim.


"Duh, bahaya juga ya pebinor zaman now."


Zaim kembali tertawa, diikuti Nia seraya keluar dari mobil dan masuk ke dalam mall. Demi apapun, mall itu benar-benar sepi. Hanya ada dua orang security yang menjaga lobby utama, seorang petugas valet parking yang baru saja menerima kunci mobil Zaim, dan seorang karyawan yang berdiri di tiap-tiap toko. Sisanya? hanya Nia dan Zaim. Tidak mungkin reservasi yang dimaksud Zaim satu jam yang lalu adalah reservasi mall, bukan?


"Kan, bener Zaim Alfarezi mau kencan. Kalo gak mah mana mungkin sampe nyewa mall segala." Seorang karyawan toko sepatu mulai menggosip.


"Tapi gila banget sih. Masa tiba-tiba nyuruh ngosongin mall dalam sejam. Terus pengunjung juga sampe diangkut pake bis lagi."


"Pada gondok pasti gue yakin. Tapi langsung pada kicep pas tau tiap-tiap pengunjung dikasih duit gope."


"Dia juga nanggung pendapatan minimum tiap-tiap toko per harinya. Gila-gila. Seribu satu tuh cowok kaya Zaim Alfarezi. Mana keliatan bucin banget lagi. Btw siapa ya pacarnya?"


"Artislah. Atau paling mentok model. Yang pasti sih gak mungkin rakyat jelata kaya kita. Bodynya oke. Kulitnya juga kaya perawatan. Bajunya doang sih yang kayanya kurang wah."


"Justru baju-baju yang kurang wah begitu yang harganya mehong. Baju rombeng yang waktu itu sempet viral aja harganya setengah juta. Terus bandonya Nagita Slavina yang polkadot kaya dasi turun-temurunnya mbah gue. Berapa coba harganya? Sejuta, sejuta."


"Bener juga. Udahlah, jangan ngomongin duit. Omongin aja itu pacarnya Zaim Alfarezi yang beruntung banget."


"Tapi kaya masih anak kecil gitu gak sih? Apa perasaan gue aja?"

__ADS_1


__ADS_2