
" … Gua udah dibolehin balik sama dokter. Tapi minggu depan gua baru balik Indo." Wajah Bastian terlihat jelas melalui sambungan video call.
"Alesannya?"
"Gua mau nyari Jani," jawab Bastian pada Zaim.
"Menurut lu itu yang paling penting sekarang?"
"Emang menurut lu gak?" Bastian berganti melempar tanya. "Dia hampir bunuh gua, Za. Dia ngekhianatin kita."
"Mungkin ada yang lu gak tau soal Jani. Dia tipikal yang suka ngasih surprise."
Bastian melepas kausnya, menunjuk bekas tembakan di jantungnya. "Ini surprise yang lu maksud? Hah? Fine, mungkin lu emang gak peduli sama nyawa gua. Tapi gua bakal tetep di sini sampe ketemu sama Jani. Gua mau minta penjelasannya atau seenggaknya nembak balik biar fair."
"Orang kepercayaan gua di sana cuma Jani."
"Gua gak bu–"
"Jadi gak ada yang bisa neglindungin lu lagi selama lu di sana," sela Zaim. "Makanya gua minta lu balik. Kita diskusi. Atur strategi baru buat nguak masa lalu Ushi. Soal Jani biarin aja. Kalo bener dia berkhianat, urusannya bukan sama lu lagi, Bas."
Bastian terlihat mulai tenang, terbukti dari posisi duduknya yang tidak lagi kaku, tidak lagi condong pada Zaim, dan tidak lagi melotot. Apa yang baru saja dikatakan Zaim seperti obat penenang untuk Bastian. Meski kejam tetapi Bastian ingin Jani yang saat ini berstatus sebagai robot Zaim berganti status menjadi pengkhianat. Sebab Bastian tak sabar membayangkan bagaimana akhir Jani jika terbukti benar-benar mengkhianati Zaim. Jangan berharap akan ada pertimbangan, belas kasih, apalagi kesempatan kedua pada seorang Zaim Alfarezi. Jangan.
"Jadi mending lu balik sekarang juga. Serius lu gak aman di sana," tambah Zaim.
Bastian diam, mengalihkan tatapannya pada pemandangan di luar jendela.
"Gua sibuk."
Spontan Bastian kembali menatap layar laptopnya. "Sibuk megang-megang bocil yang lagi tidur?"
Zaim hendak tertawa, namun buru-buru ditahannya. Takut jika Nia yang tengah terlelap itu sampai terbangun karena terkejut. Bastian bukan tidak menyadari di mana dan apa yang sedang dilakukan Zaim selama lima belas menit berbincang dengannya melalui video call. Bastian sengaja mengabaikannya karena sepanjang perbincangan itu emosi negatifnya terus mengambil alih. Zaim memang terlihat berada di sebuah kamar tidur, tetapi jelas itu bukan kamar tidur Zaim karena kemewahannya yang hanya dua puluh persen.
__ADS_1
Itu kamar tidur lain yang ada di kediaman Zaim, yang kemungkinan besar adalah kamar tidur tamu. Lalu meski secara sembunyi-sembunyi, gestur tubuh Zaim tampak tidak biasa. Beberapa kali Zaim terlihat menunduk, menatap lurus ke bawah, dan tersenyum penuh teka-teki. Bastian yakin ada orang lain bersama Zaim, dan orang lain itu tidak lain tidak bukan adalah Nia yang kerapkali dipanggil Bastian dengan sebutan bocil, anak bawang, anak bau kencur, anak belom mateng, anak kemaren sore. Bukan main memang, intuisi seorang penegak hukum!
Zaim adalah workaholic yang hanya berhasrat menumpuk pundi-pundi rupiah. Itu adalah kesan peetama Bastian saat bertemu pertama kali dengan Zaim, saat resmi menjadi robot Zaim, dan saat sebelum dirinya melakukan video call dengan Zaim lima belas menit yang lalu. Ternyata Zaim juga kucing garong seperti mereka. Masuk diam-diam ke kamar tidur seorang perempuan yang masih duduk di bangku sekolah menengah atas dan menyentuh anggota tubuhnya tanpa izin. Apakah ada sebutan yang lebih pas selain kucing garong? Ada. Ya. Penjahat kelamin!
"Nikah dulu kalo mau lu apa-apain."
"Lu bilang belom bisa kalo umurnya masih 17 taun." Zaim tak lagi menyembunyikan aktivitasnya menciumi punggung tangan Nia.
"Ya ntarlah pas dia 18 taun."
"Kemudaan," sahut Zaim. "Gua gak mau masa mudanya kacau kaya gua. Lagian gua bersedia nunggu kok. Biarin dia nikmatin masa mudanya dulu." Zaim tersenyum sembari mengusap lembut sebelah pipi Nia.
"Gua matiin."
"Iya. Tapi kalo gua gak liat muka lu di kantor gua besok pagi. Lu yang gua matiin."
"He'em." Bastian memutus sambungan video call tersebut.
Zaim kembali tersenyum sambil mengantongi ponselnya di saku celana, lalu perlahan beranjak dari ranjang Nia setelah membenahi selimutnya. Dengan penuh kehati-hatian Zaim melangkah meninggalkan kamar tidur Nia. Namun langkah Zaim langsung terhenti saat melihat cahaya dari layar ponsel Nia yang menyala menembus saku telinga ransel sekolahnya. Zaim pun tak ragu untuk memeriksa, sebab sms yang berisi tawaran berlangganan nada sambung pribadi gratis saja tidak dikirim di jam satu pagi seperti sekarang!
...•▪•▪•▪•▪•...
Suasana makan malam di kediaman Ushi terasa biasa saja, sama seperti malam-malam kemarin. Ayah Ushi, Safi, selalu menanyakan berbagai macam hal pada cucu tertuanya, Ikbal. Sementara ibu dan kakak perempuan Ushi, lebih banyak mendengarkan. Lalu Ushi sendiri? Berusaha setengah mati menahan beragam emosi. Ushi tak henti menjejali mulutnya dengan makanan agar tak kelepasan melontarkan makian pada sang ayah.
Hubungan Ushi dan Safi memang terlihat sangat harmonis dari luar, meski faktanya mereka selalu cekcok. Safi tulus menyayangi Ushi, Ushi tahu itu, Ushi bisa merasakannya. Tetapi entah kenapa Ushi tidak bisa membalas ketulusan itu. Ada yang mengganjal di hati Ushi, dan rasa mengganjal itu semakin kuat saat dirinya mengetahui ada yang disembunyikan Safi di masa lalu. Ingin rasanya Ushi menanyakan langsung pada Safi, namun nasihat dari Bastian seolah tak lelah meredam keinginannya yang sudah pasti hanya memperkeruh situasi itu.
"Minggu lalu kamu ke Malaysia kan? Kok gak mampir? Bapak sampe ngejar kamu ke bandara loh."
"Aku emang gak niat mampir karna mau langsung balik ke Jakarta," jawab Ushi pada Safi.
__ADS_1
Safi mengangguk-angguk. "Tapi ada perlu apa?"
"Aku ditelfon petugas kereta, mereka bilang loker di sana kebakar dan isi lokernya kecampur. Aku disuruh dateng buat klaim mana-mana aja yang barang aku dan yang bukan."
Safi mengangguk-angguk lagi. "Terus abis dari stasiun katanya kamu ke rumah sakit juga. Ngapain? Kamu sakit?"
"Enggak. Aku mau ketemu sama tersangka yang bakar loker di stasiun. Kata petugas kereta dia masih di rawat di rumah sakit."
"Besok lagi kasih tau Bapak. Kan bahaya ketemu sama tersangka sendirian begitu." Safi diam sesaat. "Terus ngobrol apa aja sama tersangka itu, Shi?"
"Gak penting. Dia cuma minta maaf. Terus yaudah aku pulang. Lagian gak ada barang yang penting juga di loker jadi yaudahlah."
"Yaudah tapi besok lagi kasih tau Bapak."
Ushi tak menjawab, hanya menenggak isi gelasnya hingga habis.
"Terus katanya pacarnya crazy rich Jaksel tinggal di sini. Bener itu?" imbuh Safi.
Spontan kunyahan lahap Ushi, Ikbal dan semua orang yang tengah menikmati menu opor ayam itu, melambat.
"Kayanya bener. Bapak udah liat kamarnya di lantai dua. Walopun berantakan tapi Bapak yakin itu kamar cewek."
"Iya. Dia bakal pindah kok kalo ibunya yang kerja di Taiwan udah pulang," jawab Ushi akhirnya.
"Oh, ibunya kerja di Taiwan juga? Sama kaya istrinya mantan pacar kamu yang matre itu dong."
Ushi menahan keterkejutannya, mengatur napas, dan meletakkan peralatan makannya sehalus mungkin. "Kayanya aku udah pernah bilang deh, Pak, kalo aku gak suka dimata-matain."
"Siapa yang mata-matain kamu?" Safi mengusap mulutnya. "Bapak gak mata-matain kamu, tapi dia yang kamu tampung diem-diem di sini."
Ushi diam. Tatapannya yang sedari tadi hanya tertuju pada dasar piring kini beralih pada Safi sepenuhnya. Keduanya pun saling menatap tajam, seolah tengah berusaha menelanjangi pikiran satu sama lain.
__ADS_1
"Kenapa kamu rahasian dari Bapak? Dari kita semua? Hm?" Safi bersandar sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Kamu pikir Bapak gak tau? Bahkan tanpa didongkrak sama pamornya Zaim Alfarezi sekali pun, gampang buat Bapak cari tau soal anak itu, Yesenia Eve."
DEG