
Terlihat sedan mewah milik Zaim keluar dari area pemakaman, dan melaju dengan kecepatan tinggi memasuki tol arah Jakarta. Di sepanjang perjalanan menuju tujuan selanjutnya, Zaim tak henti terbahak. Entah terbahak karena malu setelah ditangkap basah tengah tertawa sendiri atau terbahak karena Nia terus melontarkan beragam tanya yang menyangsingkan kewarasannya, Zaim benar-benar tak memiliki respon selain terbahak.
" … Serius aku nanya. Tadi pas di makam kamu ketawa sama siapa dih."
Zaim mengusap air mata gelinya. "Aku emang suka gitu."
"Omg-omg. Jadi kamu emang suka ngomong sendiri gitu?" Nia menggeleng-geleng. "Gak bisa. Gak peduli kamu ganteng, punya roti sobek pulen, dan bisa beli undang-undang, aku gak bisa lanjutin hubungan sama orang yang rada-rada."
Tawa Zaim kembali pecah. "Kayanya setiap ziarah, kangen aku sama Zain makin nambah. Aku suka ngayal lagi ngobrol sama dia. Kan cuma Zain sama kamu yang bisa bikin aku nyaman ngobrol, yang bisa bikin aku ketawa."
Nia tak segera merespon, ada sedikit perasaan bersalah yang menggelitik hatinya. "Mmm, ya, mmm, aku juga suka gitu sih kalo lagi ziarah ke makam Ayah. Tapi gak seheboh kaya kamu tadi."
Zaim hanya tertawa menanggapi Nia, sambil membenahi posisi duduknya, bersiap menyalip mobil-mobil lambat yang melaju di jalur cepat.
"Btw, beneran gak apa-apa nih kamu ikut ziarah ke makam Ayah?"
"Emang kenapa?" Zaim balik melempar tanya pada Nia.
"Jauh loh makamnya. Di rumah aku yang dulu. Kamu kan besok ada rapat pagi-pagi."
"Gak nginep di makam kan?"
"Hah?"
Lagi-lagi Zaim tertawa, dan kian seru tertawa saat melihat Nia memasang wajah nano-nano. Ya, tujuan selanjutnya Nia dan Zaim adalah makam ayah Nia, Burhan. Burhan dimakamkan di tanah kelahirannya di barat Jakarta. Saat moncong mobil mewah Zaim memasuki gapura bertuliskan SELAMAT DATANG DI RT 007, satu per satu warganya mulai berhamburan. Zaim tak peduli, hanya mengurangi kecepatan kemudinya.
"Mau ketemu Ayah?"
"Such an owner, Sayang*," balas Zaim pada Nia.
*Sebuah kehormatan, Sayang.
Zaim tampak mengobrol dengan Burhan setelah sesi pembacaan doa, dan meminta Nia mengambil alih. Zaim lalu berjalan cukup jauh dari makam, tak nyaman mendengar tangis tertahan Nia, pun tak nyaman melihat warga Rt 007 yang berdesakan mengintip. Seorang pria paruh baya yang tak lain adalah Ketua Rt 007, langsung berjalan setengah berlari menghampiri Zaim ketika tahu Zaim tengah berjalan menujunya.
"Mas Zaim."
Zaim hanya menjabat uluran tangan Ketua Rt 007.
"Saya Salih, Mas. Ketua Rt di sini," imbuh Salih. "Mohon dimaklumi, warga saya emang suka kepo. Tapi kalo saya mah gak. Saya beneran ada keperluan sama Dek Nia."
__ADS_1
"Sampein ke saya aja."
"Gak bisa, Mas. Harus disampein ke Dek Nianya langsung. Soalnya saya udah janji."
"Saya kan pacarnya. Calon suaminya malah. Jadi sama aja mau Bapak sampein sama dia atau saya."
"Oh baik-baik, Mas. Jadi gini, minggu lalu Bu Nila telfon saya. Nanyain nomer hpnya Dek Nia yang baru. Soalnya Bu Nila bilang udah nelfon Dek Nia berkali-kali tapi katanya nomernya gak kedaftar. Terus Bu Nila juga udah ngirim email tapi gak dibales."
Zaim menghela napas kasar. "Terus Bapak jawab apa?"
"Ya saya jawab gak tau karna saya kan gak punya nomor hpnya Dek Nia."
Zaim menoleh pada Nia yang terlihat tengah berjalan ke arahnya, lalu berganti menoleh pada Pak Rt. "Bapak mau uang?"
"Ya? Ya mau dong Mas. Di zaman serba susah begini mana ada yang gak mau uang."
"Tapi ada syaratnya." Zaim mendekati Pak Rt, berbisik, "Kalo ibunya Nia nelfon lagi dan nanya soal Nia, bilang aja gak tau. Warga Bapak juga boleh berpartisipasi kalo nyanggupin syarat dari saya."
Pak Rt mengangguk berulang kali dengan wajah antusias. "Siap, Mas, siap. Bakal saya sampein ke warga saya sekarang juga."
...•▪•▪•▪•▪•...
BUG
"Ampun, Pak. Sa–"
BUG
"Bukan ampun dong jawabannya. Tapi identitas cowok di foto ini." Bastian menempelkan selembar foto berlumuran darah tepat di wajah korban tinjunya.
"Sumpah saya gak ta–"
BUG
"Cowok di foto ini pake jaket kamu. Gak mungkin dong kamu gak tau." Bastian mengeluarkan pistol dari dalam kaosnya. "Saya bisa bikin kamu jadi tersangka curanmor yang buron. Kebetulan gak ada yang tau mukanya. Kalo diliat-liat perawakan kamu mirip juga sa--"
"Yoshi, Pak. Yoshi. Cowok di foto itu namanya Yoshi." Pria berusia kisaran awal dua puluhan itu bersujud pada Bastian.
"Dari tadi kek." Bastian berjongkok di depan si pria babak belur. "Sekarang ceritain apapun tentang Yoshi."
__ADS_1
"Dia temen sejurusan saya, Pak. Kerja sampingannya jual diri di m*chat … Kasih pelanggan tetapnya dia."
"Di mana Yoshi sekarang?"
Pria babak belur itu menggeleng. "Dia tiba-tiba cuti kuliah, Pak."
"Pernah kontekan?"
"Sering, Pak. Selain sejurusan kita juga satu departemen di BEM." Pria babak belur itu diam sesaat. "Terkahir kontek dia bilang mau cuti karna diajakin Kasih ke Eropa. Tapi emang Kasih-kasih ini bener Kasih mantunya Pak Al Hakam yang punya ketring diet nomer sa–"
"Cuma saya yang boleh nanya," sela Bastian untuk yang kesejuta kalinya. "Ceritain lagi semua yang kamu tau. Mau itu tentang Kasih atau Yoshi. Ceritain kalo kamu mau bebas."
Si pria babak belur hanya mengangguk berulang kali menanggapi Bastian. Menurut pengakuan pria yang mengambil jurusan sastra inggris itu, Yoshi kerapkali mengunggah kebersamaannya dengan Kasih di instagr*m, meski wajah Kasih hampir selalu disembunyikan dengan emoji bunga sakura. Dari hari ke hari unggahan Yoshi semakin vulgar. Bahkan pernah pada suatu hari Yoshi mengunggah hasil test pack yang menunjukkan garis dua berwarna merah dengan latar belakang punggung wanita telanjang.
"Kapan Yoshi posting itu?"
"Udah lama banget, Pak. Kayanya waktu masa-masa ospek. Sekitar setengah taun yang lalu? Saya lupa, Pak," jawab si pria babak belur.
"Kasih saya instagr*mnya Yoshi sekarang."
"Udah diapus, Pak. Udah lama."
"Sialan!" seru Bastian dalam hati. "Terus apalagi yang kamu tau?"
"Emily."
"Siapa kamu bilang?"
"Emily, Pak. Yoshi sama Kasih selalu jelek-jelekin cewek yang namanya Emily. Kata mereka … "
Jantung Bastian terdengar heboh melebihi tambur perang Kumari Kandam saat bersiap bertarung melawan Sanjeev Rajak, dan kian terdengar heboh ketika anak bau kencur yang ditinjunya itu mengatakan jika wanita bernama Emily yang dimaksud Yoshi dan Kasih adalah seorang pramugari maskapai terkemuka. Emily disebut-sebut sebagai perusak rumah tangga orang bahkan iblis berkedok manusia yang tega membunuh bayi tak berdosa hanya demi memiliki cinta seorang pria beristri.
" … Emily yang bikin Kasih selingkuh dan keguguran de–"
Bastian tiba-tiba saja beranjak. "Tunggu-tunggu. Keguguran maksudnya? Pas sebelom sama Yoshi Kasih pernah hamil?"
"Gak tau deh kalo soal itu, Pak. Yang saya tau, sekarang Kasih pasti lagi hamil anaknya Yoshi.
DEG
__ADS_1