HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
GONJANG-GANJING


__ADS_3

BRAK


"Kalian pada cari mati ternyata."


Nia, Hendri, Nila, beserta semua orang yang ada di restoran siap saji itu kompak menoleh ke arah pintu yang baru saja dibanting. Terlihat Al Hakam berdiri di tengah pintu tersebut dengan raut wajah murka. Murka pria paruh baya bergaya ala-ala mafia itu sungguh tak main-main. Tidak hanya berteriak dengan lengkingan yang membuat gendang telinga menjerit minta tolong, Al Hakam juga melayangkan ancaman yang seketika membuat jantung bermaraton!


" … Kalian pikir si Brandal itu sama kaya Kakanya! Bakal ngurung diri di kamar misal ceweknya diganggu hah! Si Brandal itu pasti bakal bikin perhitungan! Mau ceweknya gak kenapa-kenapa sekali pun, dia pasti bakal bikin perhitungan sama kalian semua!"


Tak ada yang berani menanggapi murka Al Hakam yang meletup-letup. Wajar saja. Sebab mereka tahu itu bukan sekadar ancaman. Zaim memang berbeda dengan mendiang sang kakak, Zain, dalam segala hal. Jika Zain ibarat anak yang dilimpahi cinta kasih, Zaim adalah anak yang disuapi tangis darah. Jika Zain ibarat musim semi yang hangat, Zaim adalah musim kemarau yang tiada akhir. Dan jika Zain ibarat surga firdaus, Zaim adalah neraka jahanamnya!


PLAK PLAK PLAK


"Kamu pasti biang keladinya kan?"


"Iya tapi saya punya alesan, Pak. Saya kedesak. Saya takut terjadi apa-apa sama Bapak dan cuma Pak Monaco bantuan terakhir saya," jawab Hendri pada Hakam.


"Terus syarat dari bantuan itu ini? Nemuin Yesenia sama orang yang berpotensi bikin dia pingsan bahkan ngancem nyawanya iya? Gila kamu ya!"


"Maaf, Pak. Tapi buat saya gak ada yang lebih penting dari keselamatan Bapak."


"Terus keselamatan kamu sendiri gak penting gitu?"


"Iya, Pak."


PLAK PLAK PLAK


Hakam kembali melayangkan pukulan di kepala Hendri. Meski begitu Hendri tak menghindar apalagi membalas. Justru sebaliknya, Hendri setia menujukan pandangan ke lantai restoran yang terlewat mengilat. Namun pukulan bertubi itu langsung terhenti saat Dokter Leo, dokter favorit keluarga Al Hakam, buka mulut. Dokter Leo menyarankan Al Hakam untuk memukul Hendri di bagian yang lain mengingat Hendri yang kerapkali mengeluhkan migrain.


"Mana bisa migren yang bisa sembuh setelah dibuat tidur Anda samain sama trauma yang bisa bikin orang kehilangan nyawa? Anda juga udah gila ya sampe mau diajak ke sini!"


Dokter Leo membenahi kacamatanya yang merosot. "Saya di sini karna saya bisa langsung ngasih pertolongan secepet mungkin misal Yesenia kenapa-kenapa, Pak Hakam. Dan terutama karna saya gak mau kalo Zaim sampe bikin perhitungan sama saya."


Hakam menggeleng-geleng. "Wajar kalian gak takut nyari mati. Ternyata kalian semua udah gila." Hakam menoleh pada Monaco. "Terutama kamu. Bukannya kamu gak boleh nginjekin kaki di Indonesia lagi ya? Tapi berani banget kamu balik ke sini. Bawa rombongan lagi."


Monaco berdeham, "Sekertaris Anda nyanggupin permintaan saya jadi saya juga kedesak."

__ADS_1


"Gak ta–"


"Kalo ada di posisi saya Anda juga bakal ngelakuin hal yang sama," sela Monaco. "Bayangin orang yang Anda cinta, yang lagi sakit, yang sedih setiap hari, punya satu permintaan. Anda pasti bakal ngelakuin apapun buat ngabulin itu kan? Pun saya kalo ada di posisi Anda sekarang. Karna gak mau kehilangan orang yang saya cinta, saya juga bakal ngadepin Sayfudin Qazzafi walopun sendiri."


"Tetep aja kamu sama gilanya sama mereka." Hakam berganti menoleh pada Nia. "Kamu lagi. Kamu tuh paham gak sih sama yang namanya trauma? Tau gak apa dampaknya kalo trauma kamu kambuh? Kamu mau nikah kan sama si Brandal itu? Orang mau nikah mana boleh sakit hah!"


"Cucu Bapak juga kalo mau nikah mana boleh ngilang," balas Nia.


Atmosfer di restoran siap saji sepi pembeli itu kembali tegang. Tetapi alih-alih mengganti topik pereda ketegangan, Nia malah memuntahkan semua unek-uneknya. Nia berpikir Zaim pergi menyusul Al hakam untuk meminta restu terakhir kali. Sebab sungguh, Nia tidak ingin ada orang yang menitikan air mata kesedihan di hari pernikahannya. Nia juga berpikir alasan menghilangnya Zaim adalah karena kalah dari Al Hakam, dan berakhir menyerah dengan hubungannya.


" … Tapi ternyata gak ya."


"Baru mau. Si Brandal itu udah ngehubungin saya. Dia bilang mau ada yang diomongin. Mungkin kaya kata kamu barusan. Dia mau minta restu buat yang terakhir kalinya." Hakam berdeham, "Terus dia belom pernah kalah dari saya. Jadi kamu gak usah khawatir." Hakam berlalu.


"Makasih tapi saya udah buat keputusan, Pak."


Spontan Hakam menghentikan langkahnya.


"Satu minggu," imbuh Nia. "Saya bakal tunggu Zaim sampe satu minggu. Kalo selama itu Zaim tetep gak ada kabar, Saya mau udahin aja hubungan ini."


"Kekanakan banget kamu. Kalo ternyata Zaim kecelakaan atau bahkan meninggal gimana? Musuhnya dia kan banyak."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Dari mana lu? Lu sama Vina kan bolos. Tapi kok bolosnya misah? Si Vina bolos ke warnet. Terus lu ke mana? Kalian abis gelut? Siapa yang menang? Jawab cepet."


"Ke to the po," sahut Nia pada Ikbal.


"Anjir ngeselin. Jawab cepetan. Kalian beneran abis gelut kan? Apaan gara-garanya?"


Nia tak menanggapi Ikbal yang terus mengekor seperti bayi itik buruk rupa sejak kepulangannya dari reuni bersama Nila.


"Jangan bilang Vina udah tau kalo gua Danny Phantom?"


Nia hanya mengangguk-angguk merespon Ikbal.

__ADS_1


"Anjir beneran. Pantes dia jarang aktif di Zet*. Pasti lu yang ngasih tau. Ngaku lu."


*Aplikasi kencan milik Zaim yang sudah diunduh oleh lebih dari seratus juta pengguna.


Nia mengangguk-angguk lagi. "Tapi Vina sengaja pura-pura bego padahal dia udah tau dari zaman baheula kalo lu suka sama dia. Lu tau kenapa?"


"Gak usah bikin gua makin deg-degan anjir. Cepetan lanjutin kenapa."


"Karna Vina juga ngeliat pas lu ciuman sama Kinan di parkiran sekolah. Gue juga kaget pas tau."


"Anjir pantes aja. Terus ngomong apalagi dia? Jangan bilang dia gak mau sama gua cuma gara-gara itu."


"Ya gak maulah. Kecuali Vina gak liat. Semua cewek juga bakal langsung ilfil kali."


"Terus gimana anjir. Bantuin gua dong. Bilang sama Vina waktu itu gua gak ciuman sama Kinan tapi ngapain gitu. Ntar gua beliin susu coklat sekardus terus langsung gua tata di kulkas. Gak bakal gua colong suer. Plis selametin hubungan gua."


Nia menghela napas. "Mana sempet gue nyelametin hubungan lu. Hubungan gue sendiri aja gonjang-ganjing."


Ikbal yang mendengar apa yang baru saja dikatakan Nia seketika tersadar betapa dirinya sangat egois. Benar, hubungan Nia dan Zaim saja sedang bermasalah. Lantas bagaimana bisa Ikbal merengek meminta Nia untuk menyelamatkan hubungannya dengan Vina yang tak kalah bermasalah. Sambil sesekali melirik Nia yang tengah mengupas kulit buah anggur, Ikbal mencoba menghibur Nia dengan saran yang diconteknya dari sinetron-sinetron.


" … Gitu sih katanya. Orang kalo mau nikah emang banyak cobaannya. Kadang tiba-tiba ragu, mantan-mantan pada nongol, dan masalah yang ada aja pokoknya."


Nia hanya memasang telinga, sembari melahap anggur hijau yang kemarin dibelinya di stasiun kereta api.


"Mending lu dengerin kata hati lu," tambah Ikbal. "Tapi kalo kata gua sih Kak Zaim bukan tipe yang bosenan. Kalo pun bosen pasti bosennya elegan. Bilang dan gak tiba-tiba ngilang kaya gini."


Nia masih diam.


"Ngomong dong anjir. Ngomong apa kek. Jadi kaya orang go–"


TING TONG


Nia langsung beranjak dari kursi makan, pun Ikbal, sesaat setelah mendengar bel kediaman mereka berbunyi. Karena mereka tahu siapa tamu yang datang setelah sekian detik menebak-nebak. Sudah tentu bukan Ushi. Ushi baru akan pulang kerja pada pukul sepuluh malam dan lagipula untuk apa pemilik rumah memencet bel? Edo? Tidak. Sama seperti Zaim, Edo pun hilang bak ditelan bumi sejak ditantang menikah oleh Ushi.


Bagaimana dengan Vina? Itu lebih mustahil. Sebab jika tamu itu Vina, gendang telinga Nia, Ikbal serta penghuni Komplek Medina pasti sudah rusak. Karena Vina adalah tamu yang akan memencet bel tanpa jeda sembari berteriak memanggil nama tuan rumah berkali-kali! Bastian dan Sobari pun bukan. Sejak mengantongi nomor telepon rumah Nia, mereka akan bertamu jika sudah mengabari. Jadi sudah pasti tamu itu adalah Zaim!

__ADS_1


KLEK


"Loh? Nenek? Kok gak ngabarin kalo mau ke sini?" Ikbal celingukan. "Terus Nenek sama siapa ke sininya?"


__ADS_2