
TUUUTTT TUUUTTT
"Cepet, Pak, cepet."
"Itu gantungan kunci tasnya nyangkut, Pak."
"Lepas dulu itu tasnya. Gimana sih?"
"Kasih ruang. Awas-awas."
"Yang lain tolong mundur. Jangan malah ke pinggir."
"Petugas ambulans standby di depan ruang informasi."
Teriak para roker* terdengar tak kalah menggelegar dengan para security dan petugas kereta api. Wajar. Ada salah seorang roker yang jatuh ke lintasan rel setelah didorong oleh roker yang lain. Sialnya roker yang menjadi korban pendorongan itu adalah kekasih Zaim Alfarezi, hidden crazy rich Jaksel! Evakuasi Nia berjalan lancar meski dibalut sedikit drama. Sekian detik sebelum kereta tujuan Jakarta Kota melintas, Nia yang dibopong oleh dua orang security itu berhasil diselamatkan.
*Rombongan kereta.
Sirene ambulans menggelegar menggantikan teriak kompak para roker, security serta petugas kereta api. Ambulans tersebut pun langsung tancap gas ketika Nia sudah dipastikan berbaring dengan aman dan nyaman di tempat yang sudah disediakan. Video amatir yang mempertontonkan cekcok antara Nia dengan mahasiswi yang wajahnya diburamkan itu sontak viral di semua jejaring sosial. Zaim, Ushi, Vina, Ikbal dan Denar yang melihat video tersebut pun langsung bergegas menuju rumah sakit.
"Dok, gimana keadaan Nia, Dok?" Denar langsung menghampiri seorang Dokter pria yang baru saja keluar dari kamar rawat Nia.
"Pasien baik-baik aja. Tapi Anda ini siapanya pasien ya?"
"Saya keluarganya, Dok."
"Kalo gitu mari ke ruangan saya. Silahkan sebelah sini."
Denar mengangguk menuruti perkataan Dokter paruh baya yang kini memimpin perjalanan menuju ruangannya. Entah apa yang disampaikan si Dokter, yang pasti wajah Denar terlihat terlewat pucat pasi saat keluar dari ruangannya. Ketika Denar hendak kembali menuju kamar rawat Nia, tampak Zaim, Ushi, Vina serta Ikbal sudah berjubel di depan pintu kamar rawat tersebut. Melihat kemunculan Denar, Zaim dan yang lain pun langsung menghampirinya dengan langkah kompak.
"Susternya bilang Pak Denar nemuin Dokter. Apa kata Dokter?"
"Iya, Pak. Apa kata Dokter?" Ushi menimpali Zaim. "Nia gak kenapa-kenapa kan?"
Denar menghela napas. "Saya gak bisa bilang gak kenapa-kenapa tapi gak perlu khawatir juga kok, Bu Ushi, Pak Zaim."
"Jadi apa kata Dokter?" Suara Zaim mulai meninggi.
"Nia pingsan karna tempurung kepalanya rentan sama benturan. Jadi kebentur dikit aja bisa berpotensi bikin Nia sakit kepala akut, pingsan, atau paling fatal koma. Kemungkinan besar penyebabnya karna terlalu sering dipukul benda tumpul."
"Ini gara-gara si dajjal itu!" seru Ushi. "Dulu dia kan gak cuma ngasih Nia nasi basi tapi sering mukul juga. Dan pasti yang dipukul kepalanya. Gak bisa dibiarin. Dajjal banget itu perempuan sa–, kamu?" Ushi menunjuk Bunga dari kejauhan. "Kamu yang dorong anak saya kan?"
"Bu, Bu. Ibu, tunggu." Ikbal mengejar Ushi yang berjalan setengah berlari menghampiri Bunga.
"Dajjal juga ya kamu!" Ushi kembali berseru. "Bisa-bisanya kamu dorong anak saya ke rel!"
"Bu, jangan teriak-teriak. Ini rumah sakit," bisik Ikbal.
"S-saya minta maaf. S-saya salah, Bu. S-saya ga–"
PLAK
__ADS_1
"Maaf?" sela Ushi pada Bunga. "Kamu nyium kaki saya aja belom tentu saya maafin. Dasar kloningan dajjal!"
"Maaf, Bu. Saya tau adik saya salah. Tapi omongan Ibu udah keterlaluan ba–"
PLAK
"Heh," sela Ushi lagi, pada Nisma. "Dajjal aja kurang tau gak buat ngejulukin adek kamu. Denger ya. Kalo sampe anak saya kenapa-kenapa, saya bakal tuntut adek kamu yang kaya dajjal ini."
Nisma membenahi rambutnya. "Silahkan, Bu. Kami bisa tuntut balik. Karna Nia udah neror adik saya. Kami punya buktinya."
"Omg-omg tunggu. Soal teror-teroran urusannya bukan sama Nia ya tapi sama saya." Vina membuka ranselnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. "Kenalin, Bapak saya, Suseno Santoso, pengacara nomer satu di Kampung Bojong Kenyot."
"Jadi kamu yang neror adik saya?"
Vina mengangguk mantap. "Soalnya adeknya Kakak yang mulai duluan sih. Gimana dong?" Vina memasukkan kartu nama sang ayah ke saku kemeja Nisma. "Ditunggu tuntutannya ya."
...•▪•▪•▪•▪•...
Ikbal beranjak. "Kalo gitu aku pulang ya, Bu, Kak Zaim."
"Aku juga ya, Tante, Kak." Vina ikut beranjak.
Ushi pun Zaim hanya mengangguk menanggapi Ikbal dan Vina yang hendak meninggalkan kamar rawat Nia. Sesekali Ikbal dan Vina menoleh ke ranjang Nia, berharap Nia kembali sadar sebelum mereka benar-benar pergi. Namun tentu saja Nia masih tergolek dengan posisi yang sama dengan delapan jam lalu. Kini hanya tersisa Zaim dan Ushi di kamar rawat sederhana itu. Tak ada percakapan apapun di antara Zaim dan Ushi meski keduanya memandang ke arah yang sama, yakni selang infus di tangan kiri Nia.
"Kamu gak pulang, Za?" tanya Ushi akhirnya, sembari merapikan isi tasnya. "Saya mau pulang sebentar ambil baju ganti."
"Silahkan, Bu. Saya bisa jaga Nia 24 jam kok."
"Yaudah Ibu balik aja ke studio. Biar saya yang jaga Nia."
"Maaf ngerepotin ya, Za. Saya gak bisa cuti soalnya." Ushi beranjak. "Kalo gitu makasih, Za. Langsung telfon saya kalo ada apa-apa ya."
"Iya, Bu."
"Gak usah gak usah. Gak usah nganter saya."
Zaim tak menjawab, hanya mengurungkan niatnya untuk beranjak.
"Tolong jaga Nia aja," imbuh Ushi.
KLEK
KLEK
KLEK
KLEK
"Belom sadar juga?"
"Udah tadi pagi tapi sebentar. Soalnya dia bilang sakit kepalanya gak ketahan jadi sama Dokter langsung dibius," balas Zaim pada Bastian.
__ADS_1
"Si Jani ke mana? Bukannya lu ngasih dia misi ngawal Nia diem-diem?"
"Iya. Tapi misinya cuma ngawal Nia selama Monica ada di sini."
"Terus di mana Jani sekarang?"
Zaim menenggak habis air mineralnya. "Di Jepang. Dia dapet laporan dari orangnya kalo Bagas sama temennya ketangkep cctv di sauna."
"Masih bisa sauna dia setelah bikin mantan mertuanya jadi urutan terakhir? Gila sih." Bastian mengeluarkan amplop raksasa dari dalam jaket kulitnya. "Nih."
"Intinya apa?" Zaim membuka amplop tersebut.
"Intinya Ushi boongin lu. Soalnya …"
Sambil membaca hasil penyelidikan Bastian tentang apapun yang berkaitan dengan Ushi, Zaim membagi fokusnya mendengarkan penjelasan dari Bastian. Benar, Ushi memang telah membohongi Zaim. Ternyata kali terakhir Safi mengatur perjodohan untuk Ushi adalah satu setengah tahun yang lalu. Setelahnya Safi benar-benar hanya disibukkan oleh kampanye pemilihan Raja Malaysia. Jangankan ikut campur dalam hubungan asmara Ushi, sekadar menyeka peluh saja Safi tak sempat.
" … Lu bilang Ushi ke luar kota kan? Tapi gak ada rekam jejaknya. Udah gua cek. Terutama di bandara, terminal, sama stasiun di Semarang."
Zaim menyudahi kegiatan membacanya. "Emang cuma Semarang yang punya lumpia?"
"Enggak. Tapi cuma Semarang yang paling terkenal sama lumpianya."
Zaim tak memberi respon, hanya membenahi posisi duduknya.
" … Walopun gak ada rekam jejak cctv, tapi masih ada rekam jejak lain yang gak kalah canggih," tambah Bastian. "Mulut ibu-ibu."
"Apa kata mereka?"
"Akhir-akhir ini Ushi sering gak ada di rumah. Bukan karna nginep di studio buat ngegantiin bosnya yang lagi sakit gigi tapi ke luar kota. Soalnya ada satu ibu-ibu yang apal banget mobilnya Ushi dan ngeliat mobil itu ada di Semarang pas kebetulan si ibu ini juga ada di sana."
"Jadi fix si Ushi nyembunyiin sesuatu. Tapi apaan? Dan kenapa?"
"Apapun itu yang pasti Ushi punya dekengan orang kuat di Semarang, Za."
Zaim mengangguk-angguk. "Yaudah biarin aja."
"Hah? Serius? Gini doang?"
"Iya. Ganti misi. Kawal Nia diem-diem. Minggu ini gua sibuk karna ngurus bisnis baru sama nyari penggantinya Nisma."
"Oke. Yaudah lu balik aja. Biar gua yang jaga Nia," sahut Bastian seraya melepas jaketnya.
"Hari ini gua aja yang jaga. Tanggung schedule gua juga udah berantakan. Besok aja baru lu yang jaga."
Bastian mengangguk sambil beranjak dan mengenakan jaketnya kembali. Helaan napas Zaim terdengar begitu riuh, ketika hanya tersisa dirinya dan sang kekasih di ruangan yang tenang itu. Sambil menunggu Nia kembali siuman, Zaim pun mencoba membenahi schedulenya hari ini untuk besok. Zaim yang tak henti bergelut dengan tab dan ponselnya itu pun berakhir kelelahan dan tertidur di sofa. Paginya, saat Zaim dibangunkan oleh alarm otomatis tubuhnya, dirinya hampir terlonjak karena terkejut.
"Sayang?" ujar Zaim lembut, sembari menggoyangkan tubuh Nia tak kalah lembut.
Tak ada jawaban. Nia tampak sangat pulas hingga tak ada tanda-tanda pergerakan apapun. Sepertinya Nia tersadar saat Zaim baru saja tertidur. Zaim beranjak dengan penuh kehati-hatian, berharap sukses memindahkan Nia ke ranjang tanpa membuatnya terbangun. Namun tab Zaim yang tak sengaja tersentuh itu menyala, dan membuat Zaim mengesampingkan niatnya. Zaim tertawa melihat lampiran kandidat sekretaris barunya yang dicoret-coret Nia dengan beragam alasan konyol.
"Oke kalo menurut kamu mereka semua jelek. Kamu aja yang jadi sekertaris aku ya." Zaim tertawa sambil mengecup kening Nia. "Get well soon, Sayang."
__ADS_1