HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
APES


__ADS_3

" … Yuk cuss, Nya. Hari terakhir kita bolos nih. Kita kan gak bisa ngeles masih demam." Vina menyentuh dahi Nia tiba-tiba. "Soalnya nih-nih. Udah gak panas lagi. Jadi yuk cuss jajan ke stasiun."


"Gak ada duit gue. Kan udah tiga hari kita bolos sekolah. Jadi gak ada pemasukan. Minta Zaim gak mungkin kan."


"Ya gak mungkin bangetlah. Yang ada stasiun dikosongin sama ayang lu yang super seksi itu." Vina tertawa. "Yaudah pake duit gue."


Nia hanya mendongak pada sahabat sehati sesanubarinya itu sambil mengajukan tanya menusuk melalui tatapan, kalo gue yang rajin menabung dan tidak sombong ini aja gak punya duit gimana lu yang nabungnya pas lebaran doang, Vin?


"Anjir mata lu minta gue cipratin kuah seblak ya? Gue punya tabungan ya walopun seupil."


"Dari?" sahut Nia akhirnya.


"Dari ngumpul-ngumpulinlah. Gue simpen di bawah ganjelan kipas angin. Kalo gitu gue ambil dulu." Vina berlari keluar dari kamar Nia. "Ketemu di pangkalan angkot Gang Curut ya hanibaniswiti."


Nia mengangguk sembari membalas lambaian tangan Vina, lalu mulai bersiap. Ide bagus memang menghabiskan hari terakhir bolos sekolah di stasiun kereta api sebelum tambahan jam belajar, les serta kuis dadakan datang menerjang. Terlebih di jam-jam sebegini. Tidak kepagian pun kesiangan. Semua jajanan di stasiun pasti masih komplit. Lalu yang paling bagus adalah, tempat yang biasa digunakan untuk menikmati aneka jajanan stasiun pasti akan serasa milik sendiri.


"Kebiasan banget si Vina. Bilang tinggal deket tapi udah setengah jam gak nongol." Nia mendongak menatap langit. "Mana udah gerimis lagi nih. Kan ma–"


Ucapan Nia dijeda oleh seorang anak kecil perempuan yang tiba-tiba menarik ujung jaketnya. Spontan Nia pun berjongkok, menyejajarkan pandangannya dengan anak berusia kisaran lima tahun tersebut. Nia bertanya apa yang diinginkan anak itu, dan dengan segera anak itu memegang perutnya. Merasa tidak mendapat jawaban yang spesifik, Nia pun kembali bertanya pada anak berkuncir dua tersebut. Apakah yang diinginkannya makanan? Toilet? Atau obat sakit perut?


"Makan, Kak. Nuna laper."


"Aduh. Kakak lagi gak pegang duit sama sekali. Emang Mamah kamu di mana?" tanya Nia.


Anak yang memperkenalkan diri sebagai Nuna itu menggeleng. "Nuna gak mau sama Mamah. Kalo sama Mamah, Nuna dikasihnya nasi basi."


DEG


" … Nuna juga dipukulin." Nuna menggulung kaos lengan panjangnya yang seketika menampakkan luka lebam. "Sebenernya Nuna bisa makan enak sama gak dipukulin tapi di rumah Om."


DEG DEG


"Tapi Nuna juga gak mau sama Om. Om suka cium-cium Nuna. Cium ini," imbuh Nuna sambil menyentuh bibir mungilnya.


DEG DEG DEG


Jantung Nia terus berdebar menerjang kenormalan, dan sesuatu yang sesak nyaris memenuhi kerongkongannya andai saja Nuna tidak kembali menarik ujung jaketnya. Nia yang bingung harus berbuat apa karena tak mengantongi uang satu rupiah pun akhirnya nekat meminjam uang pada salah satu sopir angkot. Setelah menurunkan masker wajahnya dan menyeret nama besar sang kekasih, si sopir angkot pun bersedia meminjamkan sejumlah uang yang diminta Nia.


"Buat kamu beli makan ya."


Nuna hanya mengangguk pada Nia yang saat ini tengah memasukkan uang tersebut di saku roknya.


"Terus kamu bawa ini juga ya. Soalnya gerimis," tambah Nia sembari menggenggamkan payung itu pada Nuna.


"Makasih ya, Kakak."


Nia refleks memeluk Nuna, dan baru melepaskan pelukannya saat suara gerimis yang semula ramah berubah menjadi sangat berisik. Nuna pun hilang dari balik keramaian. Menghilang ke dalam sebuah toko permen, atau toko es warna-warni mungkin. Padahal sebenarnya Nuna menghilang ke dalam sebuah mobil limosin. Ya, mobil limosin milik A110, partner balas dendam Kasih. Di dalam mobil itu juga ada seorang ibu muda berpakaian muslim yang tak lain adalah ibunda Nuna.


"Anak pinter. Bagus-bagus. Ini hadiah yang saya janjiin." A110 menyodorkan amplop tebal pada ibunda Nuna. "Nanti saya calling lagi kalo kalian masih dibutuhin."


"Siap, Bu, siap. Makasih ya, Bu."

__ADS_1


"Saya yang harusnya bilang makasih. Ekting anak kamu bagus banget. Soalnya respon target saya sesuai sama harepan saya."


Ibunda Nuna tersenyum. "Sama-sama, Bu. Kalo gitu kami permisi ya."


"Tunggu."


Ibunda Nuna hanya mengurungkan niatnya menggendong Nuna.


"Inget kan perjanjian setelah misi selesai? Tutup mulut selamanya. Kalo gak, kalian bakal mati tragis sebagai konsekuensi karna udah ngekhianatin orang-orang Atlas*."


*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.


"Iya, Bu. Saya inget. Saya janji," sahut ibunda Nuna akhirnya, seraya keluar dari mobil limosin tersebut.


A110 masih menatap Nuna dan ibunya dari balik kaca limosinnya. Mereka tampak girang. Tentu saja. Mengantongi uang seratus juta hanya dalam sehari. Siapa yang tak akan girang? A110 pun berlalu memercayai janji ibu dan anak tersebut. Namun andai saja A110 bergeming sedikit lebih lama, ketiganya pasti akan kembali beradu tatap. Terlihat ibunda Nuna menoleh ragu ke belakang, tepatnya ke tempat di mana limosin A110 terparkir. Beruntungnya, tempat itu sudah digantikan oleh bajaj.


" … Kakak yang tadi beneran ngomong gitu, Sayang?"


Nuna mengangguk pada sang ibu. "Kakak tadi kasian sama Nuna soalnya Nuna masih kecil tapi udah disuruh nipu. Kakak tadi juga ngelapin ini. Yang Ibu kasih biru-biru." Nuna menggulung kaos lengan panjangnya. "Dilap pake tisu yang ada gambar dedek bayi, Bu. Jadinya ilang deh."


"Kalo dia tau luka lebam ini cuma makeup, kemungkinan dia juga udah tau kalo lagi dikerjain," batin ibunda Nuna. "Nuna, Sayang, jangan ngomong sama siapa-siapa soal ini ya. Terutama sama ibu yang di mobil tadi. Ya?"


"Kenapa?"


"Nanti kita bisa ma–, bukan. Nanti Nuna bisa dipisahin sama Ibu."


Spontan Nuna menghambur memeluk sang ibu. "Nuna gak mau."


"Iya, Ibu."


"Gawat. Bu A110 gak boleh sampe tau kalo misi barusan gagal," batin ibunda Nuna seraya berlalu dengan langkah setengah berlari.


...•▪•▪•▪•▪•...


Air muka Ushi masih tampak tak baik meski sudah mengatur napas berulang kali, pun meski sudah mendengar suara malas putra-putrinya melalui panggilan telepon. Bagaimana tidak? Saat ini Ushi sedang menanti Zaim di ruangannya. Ruangan mewah yang disesaki banyak piagam penghargaan itu terasa kian sesak karena kekhawatiran Ushi. Ushi khawatir perihal kebenaran tindakannya saat ini untuk meminta maaf pada Zaim.


"Apa minta maafnya lewat telfon aja ya?" tanya Ushi dalam hati. "Tapi kata Edo …"


*FLASHBACK ON*


" … Kamu malu-maluin banget sih, Shi. Yang kamu suudzonin tuh Zaim Alfarezi loh bukan tetangga kamu yang suka pulang pagi itu. Terus …"


Ushi tak menjawab, hanya memelototi wajah Edo melalui sambungan video call.


" … Mana mungkin seorang Zaim Alfarezi ngelakuin tindak asusila di rumah camernya," imbuh Edo. "Kamu tuh kebawa mimpi. Terus dasarnya kamu emang udah gak srek sama Zaim. Aku saranin kamu minta maaf deh, Shi. Pikirin Nia yang suka banget sama Zaim kalo kamu gengsi …"


*FLASHBACK OFF*


Ushi menghela napas. "Si Edo mah hobinya emang nakut-nakutin orang."


KLEK

__ADS_1


"Bu."


Spontan Ushi beranjak dari sofa, lalu memamerkan senyum canggung pada Zaim yang baru saja memasuki ruangan sembari melonggakarkan ikatan dasinya.


"Maaf ya, Bu. Rapat hari ini penting banget jadi gak bisa saya percepat."


"Gak apa-apa, Za. Saya ngerti kok. Harusnya saya yang minta maaf karna tiba-tiba ngajak kamu ketemuan," balas Ushi. "Oh iya ini saya masakin semur ayam."


Zaim membuka tutup rantang. "Favorit saya nih, Bu."


"Yaudah makan. Udah jam makan siang juga kan."


"Ibu mau sekalian makan siang?"


Ushi menggeleng-geleng. "Gak usah, Za. Saya udah ada janji makan siang sama Madam. Kamu aja."


"Kalo tambahan jus jeruk, Bu?"


Ushi kembali menggeleng. "Gak-gak, Za. Serius saya ke sini bukan mau makan sama minum. Ada yang mau saya sampein sama kamu."


"Silahkan, Bu."


Ushi terdiam cukup lama sebelum akhirnya menggerakkan mulutnya yang menolak diperintah. Rangkaian kata maaf itu pun akhirnya tersampaikan dengan baik meski diawali omong kosong sepanjang kereta api. Dan seketika air muka Ushi kembali normal, saat Zaim memberi respon sesuai harapannya. Zaim tidak marah, apalagi menyimpan dendam kesumat meski suudzon Ushi sudah melampaui batas.


" … Ibu kan punya anak gadis. Jadi wajar kalo Ibu suudzon. Ibu-ibu yang lain juga pasti gitu. Tapi jujur saya kecewa sih, Bu. Saya gak nyangka Ibu juga nilai saya brengsek cuma dari ini." Zaim menunjuk wajahnya sendiri. " … Harusnya sih emang brengsek, Bu. Karna kan saya punya kuasa gede. Dompet saya juga tebelnya gak main-main. Tapi masalahnya saya gak brengsek."


Ushi berdeham, "Maafin saya ya, Za. Saya baru sadar kalo kamu emang gak kaya gitu."


"Iya karna saya paham hukum begituan sebelum nikah, Bu."


"Makanya. Dosanya kan gede banget. Pokoknya jangan sampe Nia kaya saya dulu. Hamil di luar nikah. Duh, jangan sampe."


"Gak cuma dosa, Bu. Anak yang lahir di luar nikah kan juga punya akibat hukum."


"Akibat hukum apa maksudnya, Za?" tanya Ushi ragu.


"Ya akibat hukum. Anak yang lahir di luar nikah gak punya hubungan keturunan sama bapaknya. Bapaknya juga gak wajib ngasih nafkah ke si anak. Gak ada saling waris-mewarisi. Dan bapaknya gak bisa jadi wali nikah buat si anak, terutama kalo si anak ini perempuan."


Ushi kehilangan kata-kata. Sebab jujur saja, dirinya baru pertama kali mendengar semua kengerian itu. Ternyata nikmat yang hanya sesaat bisa menyuramkan masa depan anak cucu!


" … Intinya saya tau bates kalo soal cewek," tambah Zaim. "Jadi Ibu gak perlu khawatir."


"Iya, Za. Sekali lagi saya minta maaf banget ya sama kamu."


Zaim tersenyum. "Saya juga minta maaf ya, Bu. Kemaren saya gak ada maksud ngancem Ibu. Ibu kan suka lepas kontrol kalo lagi emosi. Tapi selepas-lepasnya, tolong jangan sebut-sebut Atlas. Karna kalo Atlas sampe kesinggung, saya beneran gak bakal bisa handle."


"Iya, Za. Saya janji gak bakal sebut-sebut Atlas lagi, dan juga gak bakal suudzonin kamu lagi."


Zaim kembali tersenyum. "Mungkin Ibu emang pengen tau banget saya sama Nia pacarannya udah sejauh apa. Makanya Ibu suka suudzon. Kalo gitu biar saya kasih tau aja sa–"


KLEK

__ADS_1


"Za, kenapa meja sekertaris kamu ko-, eh, lagi ada tamu ya. Maaf-maaf. Loh tapi kok kamu udah makan siang? Emang Kakek gak ngasih tau kalo kita mau makan siang bareng?"


__ADS_2