HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
KISSMARK


__ADS_3

Pagi itu media sosial di jagat tanah air kembali dibuat gempar. Bukan, sungguh bukan karena foto ciuman Nia dan Zaim di atas meja belajar yang akhirnya tersebar. Foto ciuman brutal Nia dan Zaim masih tersimpan di gallery ponsel Ikbal yang diamankan dengan kunci pola yang super duper rumit. Tokoh utama pria dalam kegemparan itu memang masih diduduki oleh Zaim, tetapi tokoh utama wanitanya bukan lagi Nia melainkan Kasih. Benar, Kasih. Kasih yang itu.


Video berdurasi dua puluh enam detik yang viral pagi tadi mempertontonkan Zaim dan Kasih yang berpelukan di bandara. Entah siapa perekamnya, pun pengeditnya. Video tersebut diedit dengan begitu ciamik sampai tak kalah jika disandingkan dengan drama korea. Bagaimana tidak? Video itu dipangkas dengan rapi, disisipi backsound lagu sedih milik salah satu band kenamaan, diberi efek slow motion, dan dibubuhi judul yang begitu pas, KASIH YANG TAK SAMPAI!


"Nya, lu gak apa-apa?"


Nia menoleh pada Vina. "Emang gue keliatan kenapa-kenapa?"


Vina mengangguk-angguk. "Soalnya gue kaya ngeliat lu mendadak punya tanduk, buntut, sama taring gitu, Nya."


"Gue mau balik."


"Eh?" Vina mengejar Nia. "Katanya mau beli hp baru?"


"Besok aja."


"Terus berenangnya?"


"Besok aja," sahut Nia.


"Terus-terus ke K-m*rtnya?"


Nia menghentikan langkahnya, sambil menekan setiap kata yang sudah dua kali diulangnya. "Besok aja." Nia berlalu.


"Hmm jadi gitu kalo orang gak peka lagi dibakar api cemburu."


Vina cekikikan memandangi Nia yang kini tengah berjalan dengan penuh hentakan, seperti pasukan Paskibraka yang hanya memiliki satu hari tersisa untuk latihan. Nia memang sedang dibakar api cemburu, untuk yang pertama kali. Entah kenapa seusai menonton video sang kekasih dan sang "orang ketiga", Nia merasa tubuhnya tiba-tiba saja seperti direndam di dalam air rebusan jahe. Ingin rasanya Nia menemui Zaim sesegera mungkin, namun Nia menahannya.


"Toh ntar dia juga ke kamar gue," gerutu Nia.


Ya, Zaim memang selalu menyempatkan diri untuk menemui Nia sepulang kerja. Jika suasana hatinya sedang bagus, Nia akan mengizinkan Zaim untuk masuk. Tetapi jika suasana hati Nia seburuk seperti sekarang, sudah pasti Zaim hanya akan berakhir menggelesot di depan pintu. Zaim tahu alasan Nia menolaknya malam ini, dan tanpa ragu langsung menjelaskan. Namun tak terdengar Nia menyahut, pun tak pula terdengar Nia mengunyah snack poki-poki favoritnya.


" … Kasih itu aku anggep sama kaya Zain, Sayang." Zaim beranjak seraya menghela napas. "Oke, kita obrolin ini lagi kalo mood kamu udah mendingan. Good night."


Nia menoleh sesaat ke arah pintu, lalu kembali melanjutkan kegiatannya memberi komentar jahat pada video Zaim dan Kasih. Namun ketika Nia tengah asyik, terdengar pintu kamarnya dibuka dari luar. Tak lama Zaim pun muncul, mengunci pintu kamar itu dari dalam, dan kemudian menghampiri Nia yang tengah berbaring di ranjang. Sudah tentu Nia terkejut dan berniat melempari wajah Zaim dengan bantal. Tetapi demi Tuhan, wajah tampan Zaim sudah berbuat curang!


"Ternyata kamu lagi sibuk."


"He'em." Nia tak menghentikan kedua jempolnya mengetik kata-kata kotor.


"Bilang dong, Sayang. Aku kan jadi gak enak udah ganggu."


"Ternyata Zaim Alfarezi gak punya muka."

__ADS_1


Zaim menahan tawanya, sembari duduk di pinggiran ranjang. "Aku udah jelasin juga."


"He'em."


"What should i do?*"


*Apa yang harus aku lakukan.


"Tidur."


"Yuk."


Spontan Nia menoleh pada Zaim, memasang wajah angker. "Jangan macem-macem."


"Kalo aku gak mau?" Zaim mendekat pada Nia.


"Yaudah terserah."


"Are you serious? Aku lagi kurang tidur loh."


"He'em."


"Jangan tarik omongan kamu ya." Zaim berbaring di samping Nia, memandangnya sambil tersenyum. "Kalo aku bilang aku gak suka kamu deket-deket Ikbal, kamu keberatan?"


"Dan Kasih kakak ipar aku," balas Zaim.


"Tapi gak pelukan seintens itu juga."


"Intens? Aku cuma pernah intens sama kamu loh." Zaim kembali mendekat pada Nia. "Kayanya kamu gak paham arti intens itu apa. Mau aku bikin paham?"


"Kamu pikir intens cuma ciuman doang?"


"Enggak kalo ciumannya cuma di pipi atau di punggung tangan. Sebagian orang biasa ngelakuin itu sebagai salam. Termasuk pelukan."


Nia menoleh lagi pada Zaim. "Kita orang timur."


"Aku kan blasteran orang barat."


"Bodo amat." Nia memunggungi Zaim.


Zaim kembali menahan tawa. "Okay i'm sorry. Gak akan aku ulangin." Zaim memeluk Nia.


"Lepas gak?"

__ADS_1


"Ya coba kamu lepas sendiri."


Nia meronta, menggeliat seperti ulat, bahkan sengaja mengadu kepalanya dengan kepala Zaim. Tetapi tentu saja itu hanya membuang tenaga. Meski begitu Nia tetap berusaha, hingga usahanya terhenti dengan sendirinya. Gila! Apa yang  sedang Zaim lakukan pada leher Nia yang suci? Jangan katakan. Kissmark? Kissmark yang itu? Yang menyisakan tanda merah merona seperti saat anggota tubuh kita tak sengaja menyentuh ulat bulu api?


"Ini baru intens. Clear?"


CUP 


...•▪•▪•▪•▪•...


Ushi berlarian menyusuri koridor rumah sakit, mencari-cari kamar bernomor enam belas. Dan akhirnya, ketemu. Namun Ushi tak segera memasuki kamar tersebut, sebab ada bisik-bisik yang mengganggunya. Terdengar dua orang suster yang baru saja keluar dari kamar nomor enam belas melewati Ushi sambil menggunjingkan kisah yang menyayat hati. Pasien di kamar nomor enam belas, Burhan, tidak dijenguk siapa pun meski sudah dirawat sejak dua pekan silam. Hanya putri Burhan yang masih kecil yang selalu setia mendampinginya.


" … Istrinya sempet ke sini sekali. Itu pun gak buat jenguk tapi minta duit."


"Ya ampun. Terus-terus?"


"Terus aku denger istrinya marah-marah sambil maki-maki. Istrinya tuh kaya minta duit buat bayar utang gituloh. Tapi Pak Burhannya bilang gak bisa karna udah ditabungin buat kuliah anaknya. Terus anaknya nangis kan tuh. Eh, malah ditampar sama istrinya. Ya itu terus dari situlah kondisi Pak Burhan makin drop."


"Gila-gila. Tega banget nampar darah daging sendiri. Duh, kasian banget itu anaknya Pak Burhan. Gimana ya nasibnya kalo Pak Burhan meninggal?"


"Taulah. Paling ditaro panti. Soalnya abis dari sini katanya istrinya Pak Burhan naik taksi ke bandara."


"Ya Allah. Duh, udah jangan cerita lagi. Bisa nangis aku."


KLEK


Jantung Ushi kian tak karuan berdebar, ketika tak sengaja mendengar percakapan para suster, terlebih ketika melihat kondisi Burhan dan putrinya. Ushi jatuh terduduk, dan menangis meraung-raung di belakang pintu. Karena sakit hati di masa lalu pun prasangka buruknya pada Burhan, Ushi mengabaikan pesan Burhan yang dua pekan lalu mengabarkan jika dirinya tengah dirawat di rumah sakit. Ushi berpikir Burhan pasti memintanya untuk melunasi biaya rumah sakit. Tetapi faktanya Burhan ingin mengucapkan salam perpisahan terakhir pada Ushi.


" … Mau kan, Shi?"


Ushi masih diam sesenggukan, pun masih enggan beradu tatap dengan sang mantan kekasih.


"Ibunya Nia ke Taiwan. Mau kerja buat bayar utang katanya." Burhan menyentuh bantalnya. "Di bawah sini ada buku rekening sama atm. Yang BCA buat lunasin utang ibunya Nia. Yang BRI buat kuliah Nia. Bisa aku percayain ke kamu kan?" imbuh Burhan.


Ushi hanya merespon Burhan dengan tangisan.


"Aku gak punya orang lain yang bisa aku percaya buat jagain Nia selain kamu, Shi." Burhan tersenyum memandang Nia. "Liat dong, masih kecil aja udah cantik gini. Apalagi nanti gedenya. Tolong ya, Shi. Tolong jaga Nia buat aku."


HOSH HOSH HOSH


Ushi terbangun dari tidur lelapnya, dan langsung duduk mematung. Mimpi itu lagi. Ya, lagi. Sebab bukan satu dua kali Ushi didatangi mimpi itu. Namun itu adalah mimpi terjelas dan terutuh sejak Ushi mulai memimpikannya. Itu bukan mimpi yang buruk tapi entah kenapa terasa sangat buruk. Ushi turun dari ranjangnya, lalu berjalan menuju meja rias. Ushi membuka tas kerjanya, mencari-cari dompet. Di dalam dompet itu Ushi masih menyimpan dua buah buku rekening dan dua buah atm. Dua? Ya, dua. Karena Ushi tidak mengabulkan semua pinta terakhir Burhan.


"Enak aja. Siapa yang ngutang siapa yang lunasin! Dari dulu kamu tuh emang terlalu baik, Han." Ushi kembali ke ranjangnya. "Cuma sama aku doang kamu jahat. Kamu gak pernah minta maaf sama aku, gak pernah jelasin alesan kamu ninggalin aku, dan apa yang kamu taro di loker aku. Bahkan di sisa terakhir hidup kamu."

__ADS_1


__ADS_2