HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
AWAL PETAKA?


__ADS_3

"Lu yakin, Nya?"


Nia hanya mengangguk menanggapi sahabat sehati sesanubarinya.


"Oke kalo gitu ada tiga cara," imbuh Vina.


"Apaan?"


"Pasang Pongpong* diem-diem di kantornya Zaim."


*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.


Nia menggeleng ragu. "Kayanya bakal langsung ketauan deh, Vin. Soalnya …"


Bukan tidak mungkin ada cctv tersembunyi di kantor Zaim jika ada cctv tersembunyi yang juga dipasang di kediamannya. Tapi tunggu, memang apa yang sedang dibicarakan dua primadona Andalan Teladan itu? Apalagi? Tentu saja sebuah misi yang lagi-lagi diprakarsai oleh ide sesat Vina. Misi itu sudah diputuskan sejak Zaim menolak berbagi masalahnya dengan Nia. Nia pun berniat turut serta membantu secara diam-diam dengan didukung oleh Vina, terutama oleh ide-ide sesatnya.


" … Dia pernah bilang kalo ada cctv tersembunyi di rumahnya."


Vina mengangguk-angguk. "Gitu ya. Masuk akal sih. Yaudah kalo gitu pasang aja di mobilnya. Gak mungkin kan dia masang cctv di mobil?"


"Oke gue coba." Nia diam sesat. "Tapi, Vin, misal doang nih misal. misalnya gagal?"


"Selow. Masih ada cara kedua sama ketiga."


"Apa?"


"Jalanin dulu cara pertama. Soalnya cara kedua sama ketiga rada ekstrim," jawab Vina. "Btw lu yakin masalah yang disembunyiin Zaim dari lu bukan masalah kerjaan?"


"Yakin pake banget."


"Terus kira-kira masalah apa?"


Nia diam cukup lama. "Nyokap tiri gue mungkin. Atau Om Bagas yang tiba-tiba buron. Atau Kak Monica. Soalnya waktu itu dia pamit balik ke Taiwan kaya orang dikejar demit."


"Terus lu udah punya solusi misal bener itu semua masalah yang disembunyiin Zaim?"


Nia kembali diam, diam lebih lama dari sebelumnya. Membahas tentang solusi, tentu saja Nia memilikinya, meski untuk merealisasikannya masih setengah hati. Jika benar masalah yang disembunyikan Zaim adalah Nila, Nia siap terbang ke Taiwan. Pun jika Monica, Nia bersedia membuat Monica berdamai dengan Zaim. Tetapi jika Bagas? Jujur saja Nia belum mengantongi solusi apa-apa. Sebab demi apapun Nia tidak ingin terlibat dengan Bagas yang lebih rendah dari Heri si Pria Purnama.


"Udah. Tapi kalo masalah yang Zaim sembunyiin soal Om Bagas, jujur aja gue belom kepikiran solusinya."

__ADS_1


"Yaudah tinggal jangan dipikirinlah, Nya. Lu kan niatnya bantuin Zaim bukan bikin masalah makin runyam. Iya kan? Iya dong?"


Nia mengangguk. "Berarti kalo bener masalah yang disembunyiin Zaim tuh Om Bagas, gue cuma bisa bantu doa."


"Gue rasa itu bantuan paling gede, Nya. Udah ah jangan mikirin itu dulu. Sekarang pikirin gimana caranya lu masang Pongpong di mobilnya Zaim. Harus …"


"Tuh anak-anak SMA masa mau masang Pongpong di mobil." Seorang pria dengan setelan kantor menunjuk Nia dan Vina yang tengah mengantri di lift stasiun.


"Masa sih? Udah gila kali ya. Pongpong kan gak boleh dipasang deket-deket sama benda berdaya tinggi."


"Makanya."


"Makanya apaan anjir. Kenapa gak lu kasih tau dih," balas rekan si pria.


"Mereka ngomongnya sambil ketawa jadi gua pikir cuma becanda. Lagian kalo mereka beneran punya Pongpong masa gak tau hal sedasar itu. Mereka kan sekolah. Udahlah yuk cabut. Udah siang nih."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Ananda Batara Yudham! Brenti atau saya tembak! Heh bocah setan!"


Itu adalah seruan Bastian yang kesekian kali, pada si bocah setan alias Bayu. Bayu yang tempo hari kepergok membuntuti Nia hingga kediamannya, memang berakhir dibawa paksa oleh Bastian untuk menghadap Zaim. Namun di luar prediksi Bastian, ketika tengah dalam perjalanan menuju salah satu kantor pusat Zaim, Bayu melompat dari jendela mobil Bastian dan kabur entah ke mana.


Bastian menghentikan permainan kejar-kejaran sepekannya dengan menabrak taksi berkecapatan tinggi yang ditumpangi Bayu. Taksi tersebut pun berputar terlewat bersemangat seperti gasing baru dan menghantam bahu tol. Berbeda dengan si sopir taksi yang pingsan di tempat, Bayu masih bisa berlari meski dengan satu kaki. Sayangnya kali ini Bayu tertangkap, dan terborgol.


KLEK


BRUK


"Kasar amat," ujar Zaim sembari melepas kacamata bacanya. "Gua pikir lu mati karna gak bisa dihubungin seminggu."


Bastian menunjuk Bayu. "Gara-gara nih bocah setan nih hp gua masuk got."


"Emang siapa dia?"


"Kaki tangannya Bagas."


"Wah, seru." Zaim beranjak menghampiri Bayu. "Jadi mau kenalan dulu apa langsung aja?"


"S-saya diancem."

__ADS_1


"Sinetron banget sih lu!" Bastian memukul kepala Bayu. "Ngomong yang bener."


"Sumpah saya emang dijebak, Pak."


"Sama siapa?"


"Om Bagas. Bapaknya Ikbal," sahut Bayu pada Zaim. "Dia nyuruh saya bawa Nia ke Taiwan. Kalo gak dia bakal nyebarin foto-foto bugil saya. Padahal itu bukan saya. Saya gak pernah foto begitu sumpah. Itu pasti hasil editan temennya yang orang Jepang itu."


"Oke. Apalagi?" tanya Zaim lagi.


"I-itu, mmm, i-itu sa–"


"Sejak kapan kamu jadi cadel hah?" Bastian kembali memukul kepala Bayu. "Bukannya kemaren kamu ngata-ngatain saya lancar banget? Kamu ngatain saya polisi kampret kan? Ngaku kamu!"


"Jangan kasar gitu dong. Kan masih awal-awal. Lu keluar aja sana modusin si Nisma."


Bastian tak menjawab, hanya mendecak menanggapi Zaim.


"Itu apa? Omongin semuanya. Pelan-pelan aja gak apa-apa."


Bayu mengangguk ragu pada Zaim. "T-tapi kalo saya ngomong, saya dapet apa?"


"Ngelunjak nih bocah setan. Masih untung kamu tuh gak saya tembak beneran. Ka–"


"Masa depan saya udah ancur, Pak," sela Bayu pada Bastian dengan nada suara setengah berteriak. "Dan bakal makin ancur kalo saya gak dapet apa-apa! Seenggaknya saya dapet jaminan perlindungan dari Om Bagas!"


Zaim terdiam, terlebih lagi Bastian. Di sela kesibukannya memburu Bayu, Bastian banyak mendapat informasi pribadi bocah berusia delapan belas tahun itu. Bayu adalah yatim yang lahir dari keluarga miskin. Ibu Bayu bekerja sebagai buruh cuci, sementara kakak perempuannya menderita Skizofrenia* dan dirawat ala kadarnya di rumah. Jadi wajar jika Bayu mudah terporosok dalam kejahatan.


*Gangguan mental yang terjadi dalam jangka waktu panjang. Gangguan tersebut menyebabkan penderita mengalami halusinasi, delusi atau waham, kekacauan berpikir, dan perubahan perilaku.


"Oke. Saya janji bakal lindungin kamu," sahut Zaim akhirnya.


Bayu mengangguk sembari mengusap kasar air matanya. "Lindungin Ibu sama Kakak saya juga."


Zaim ikut mengangguk. "Oke saya janji."


"Hp saya ada aplikasi pelacaknya. Dan waktu Om Bagas nelfon saya, pelacaknya ngarah ke Fulung. Itu pantai di sekitar Taiwan."


DEG

__ADS_1


__ADS_2