
Bastian membenahi masker wajahnya, sembari memerhatikan sekitar dengan saksama. Setelah tiba di Malaysia, Bastian tidak lantas mengunjungi Menara Kembar atau menikmati seporsi nasi lemak. Pria berpotongan bro flow itu hanya menyimpan kopernya di hotel dan langsung bergegas menuju stasiun kereta api. Namun sial, situasi di tempat yang dituju Bastian sangat amat tidak bagus. Ada dua pria itu lagi, si kacamata hitam dan rekannya, si kantung mata tebal.
*FLASHBACK ON*
"Kenapa awak mengekori kami?"
"Maaf sebelumnya tapi saya gak ngekorin kalian. Tujuan saya memang ke arah sini," balas Bastian pada pria berkacamata hitam.
"Awak tak naik kapal terbang, tak pula mengambil sesiapa pun di lapangan terbang. Jadi apa awak sebut jika bukan mengekor?" Teman si pria berkacamata hitam menimpali.
"Anda berdua salah paham. Saya ke bandara memang bukan buat naik pesawat atau jemput orang." Bastian menunjukkan lencananya. "Saya sedang bertugas mengintai tersangka curanmor."
Dua pria itu kompak melihat ke arah satu sama lain, pun kompak melepas cengkeramannya dari bahu Bastian.
"Anda berdua juga sedang bertugas apa gimana? Terus kalo saya boleh tau, Anda berdua ini siapa ya?" imbuh Bastian.
"Bukan siapa-siapa. Awak pertimbangkan tak pernah jumpa kami." Pria berkantung mata tebal itu memberi kode pada pria berkacamata hitam untuk pergi.
Namun si pria berkacamata hitam malah berkecak pinggang, seolah sengaja memamerkan holster hitamnya pada Bastian. "Pertimbangkan betul-betul apa yang kawan kami cakap. Awak dan kami tak pernah jumpa."
*FLASHBAK OFF*
"Gua jadi makin yakin ada sesuatu di lokernya Ushi Widhiani." Bastian menyeringai. "Kalo gak, ngapain mereka di sini?"
Bastian memerhatikan gerak-gerik si kacamata hitam yang berdiri di sekitar loket pembelian tiket, kemudian beralih memerhatikan si kantung mata tebal yang duduk di kursi tunggu tepat di samping loker. Pun, memerhatikan rekan-rekan keduanya yang tersebar di setiap sudut stasiun. Bastian kembali menyeringai, merasa sedang memegang kunci peti harta karun. Ya, meski untuk memiliki harta karun tersebut harus lebih dulu berhadapan dengan para perompak keji.
"Selamat petang."
"Petang, Tuan. Bagaimana saya boleh membantu?" Seorang petugas wanita bagian informasi tersenyum ramah menanggapi Bastian.
Bastian berdeham, "Saya mau menitipkan barang, tapi kira-kira aman gak ya? Soalnya agak lama juga mau saya titipin."
"Tidak perlu risau tentang keselamatan peti simpanan di stesen kami, Tuan. Peti simpanan di sini hanya boleh dibuka dengan cap tangan atau kunci pemilik."
Bastian mengangguk-angguk. "Terus ada batas waktu?"
"Tak ada, Tuan. Tuan boleh meninggalkan item untuk sebarang tempoh masa. Tetapi masih akan dikenakan bayaran bulanan."
Bastian mengangguk-angguk lagi. "Jadi makin yakin gua," batin Bastian. "Kalo gitu besok saya dateng lagi buat nitipin ba–"
"Awak lagi rupanya."
DEG
__ADS_1
"Tak mungkinlah suspek rompakan akan lari ke sini."
Bastian berbalik, perlahan, dan langsung mendapati si kacamata hitam dan si kantung mata tebal berdiri tepat di hadapannya, kompak berkecak pinggang memamerkan pistol yang terselip di ikat pinggang masing-masing.
"Sejak awal kita jumpa, kami sudah rasa awak berbohong," tambah si kaca mata hitam sembari merangkul Bastian.
"Anda berdua ini emang suka buru-buru ngambil kesimpulan ya–"
"Tak mengapa," sela si kantung mata tebal pada Bastian. "Simpan saja pembohongan awak. Ikut kami." Si kantung mata tebal ikut merangkul Bastian.
"Pak Bastian Bramantyo? Ngapain di sini? Saya nyari-nyari loh dari tadi."
DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
Suara langkah berlari beriring napas ngos-ngosan itu sukses membuat cici-cici uzur pemburu matahari pagi menghentikan langkahnya, lalu menepi, dan menoleh ke asal suara. Meski tahu betul siapa yang akan muncul dari belokan perempatan di sana, mereka bersikeras menepi. Sebab sungguh, mereka khawatir gadis yang gemar bermaraton pagi itu, Vina, akan membuat mereka tersungkur karena terlalu bersemangat.
Vina pun tiba di kediaman Nia, setelah melewati sekumpulan cici-cici uzur secepat sekelebat arwah gentayangan. Sungguh, Vina tak bisa menunggu sampai jam istirahat sekolah untuk memberi tahu Nia perihal identitas asli Duplikat L.K. Itulah kenapa Vina sudah menggendong tas sekolahnya di pagi buta. Tetapi ternyata Nia sudah berangkat ke sekolah, pun Ikbal. Sebab hanya terisisa Ushi di ruang makan kediaman mewah tersebut.
" … Coba cari di warung nasi uduknya Bu Jum."
Vina mengangguk menanggapi Ushi. "Bener-bener, Tan. Si Nia mah kalo berangkat pagi pasti karna mau beli nasi uduk atau bikin contekan kuis kimia. Yaudah kalo gitu, Tan." Vina belari keluar.
Tak ada waktu untuk menjawab tanya Ushi, karena ketidaksabaran Vina yang sudah berada di ujung tanduk. Setelah kembali bermaraton memasuki gang curut, Vina akhirnya menemukan Nia. Ternyata benar, Nia ada di sana, sedang berebut oncom goreng dengan ibu-ibu berdaster. Vina pun langsung menarik Nia dari kerumunan, mendudukkannya di salah satu kursi plastik, dan menumpahkan ketidaksabarannya yang sudah ditahan sejak malam minggu lalu.
" …. Kakaknya pacar barunya si Pithecanthropus Erectus tuh sekertarisnya Zaim Alfarezi, jadi kebenerannya dijamin seribu persen. Duplikat L.K is Zaim Alfarezi, Nya."
Nia tidak merespon, tidak pula sedang mencerna perkataan sang sahabat.
"Nya? Jantung lu aman? Apa udah ngegelinding sampe usus?" imbuh Vina.
"Lu masih make Zet?"
"Masihlah. Gue mah gak akan brenti berburu pria-pria tampan di dunia maya."
"Mana pinjem."
Vina refleks memberikan ponselnya. "Kenapa sih? Ke to the po."
"Ternyata akun yang diapus tuh bisa dipulihin. Chat yang dulu2 juga."
"Emang? Baru tau gue. Terus?"
__ADS_1
"Gue pernah nanya-nanya nama asli dia, umurnya, kerjaannya. Tapi gue lupa. Gue cuma inget dia punya usaha," jawab Nia.
"Dia pasti bilang namanya Zaim, bukan Baim. Umurnya dua tujuh, dan dia hidden crazy rich di Jaksel."
Nia tak merespon, mulai fokus memulihkan akun Zetnya yang tempo hari dihapus Ushi. Setelah bergelut dengan syarat, izin, dan ini itu dalam bahasa inggris, akun dengan nama samaran Kaoru Kamiya itu pun berhasil dipulihkan. Kemudian Nia buru-buru mengklik ikon room chat, dan tak butuh waktu lama untuk room chat yang semula kosong itu kembali dihiasi stiker, potret cuaca, makanan dan voice notes.
"Buset, banyak banget itu chat. Chatan tiap hari lu? Aktif juga ya jempolnya Zaim Alfarezi," ujar Vina.
Nia masih enggan merespon. Perasaannya campur aduk. Wajar saja. Jika apa yang kini tengah dicarinya benar-benar bisa membuktikan identitas asli Duplikat L.K yang adalah Zaim Alfarezi, maka Nia harus segera balik kanan. Bukan keputusan bijak melanjutkan hubungan yang berat sebelah selain dalam dunia film dan novel. Lalu perihal debaran yang kerapkali dirasakan Nia saat bersama Zaim Alfarezi, lupakan saja!
*FLASHBACK ON*
KAO : Berapa umur kamu?
LK : 27.
KAO : Nama asli?
LK : Zaim.
KAO : Karyawan?
LK : Bukan. Aku yang punya usaha.
KAO : Tinggal di mana?
LK : Jaksel.
*FLASHBACK OFF*
"Tuh kan bener. Namanya Zaim, umurnya dua tujuh, dan punya usaha ka–"
"Gue harus mundur kan?" sela Nia pada Vina.
"What? Why?"
"Kan lu yang bilang, ini real life."
Spontan Vina menepuk jidatnya. "Waktu itu gue bilang gitu tuh karna gue takut kalo dia om-om kaya Pria Purnama, Nya."
"Terus soal status Duplikat L.K yang bukan orang biasa dan gue yang sebaliknya?"
Vina diam, sadar telah termakan ucapannya sendiri, dan lagi, sadar jika sahabat sehati sesanubarinya itu sedang dalam mode serius.
__ADS_1
"Gue tau lu suka gak konsisten kalo ngomong tapi gue gak, Vin," imbuh Nia. "Lu tau kan masa lalu alamarhum bokap gue? Terus nyokap gue yang terkenal doyan kawin itu, dan gue yang bisa jadi gelandangan kapan aja? Masa yang kaya gitu jadi pacarnya Zaim Alfarezi? Suka, suka. Tapi tau diri juga."