
" … Awalnya karna aku sama Nia mikir kalo Pak Denar itu sus*. Terus yaudah kita selidikin," terang Nia.
*Sus dipakai sebagai akronim dari kata dalam bahasa Inggris “suspicious” atau “suspect” yang berarti mencurigakan atau tersangka. Kata itu adalah kata slang yang juga digunakan untuk mengatakan bahwa seseorang atau sesuatu tidak boleh dipercaya.
"Kalian buntutin dia?"
Vina mengangguk menanggapi Zaim. "Waktu itu kita liat ada cewek hijaban nganterin plastik makanan ke apartemen Pak Denar. Cewek itu juga tau password apartemen Pak Denar. Terus cewek itu juga yang Nia liat di stasiun."
Zaim menoleh pada Nia yang sedari tadi hanya diam menunduk sambil memainkan ujung taplak meja rumah makan.
"Heh, fitnah lebih kejam daripada php. Pak Denar kan sholeh banget. Mana mungkin Beliau sembarangan ngasih tau password apartemennya. Ke cewek pula."
"Awalnya kita juga mikir gitu. Tapi ternyata gak." Vina diam sesaat. "Kita masang Pongpong* di apartemen Pak Denar."
*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.
Spontan Ikbal berteriak, "Udah gila lu ya. Masa masang Pongpong tanpa izin. Bisa dipenjara lu gara-gara pelanggaran privasi anjir."
"Iya tau. Tapi gimana kalo udah kepo banget."
"Lanjutin ceritanya, Vin."
Vina kembali menangguk pada Zaim. "Pas masang Pongpong di kamar Pak Denar, aku liat ada foto cewek di meja di samping tempat tidur Pak Denar, Kak. Tapi itu bukan cewek yang nganterin makanan atau yang diliat Nia di stasiun."
"Maksud lu Pak Denar playboy gitu?" Ikbal menggeleng-geleng. "Itu lebih gak mungkin anjir."
"Iya. Awalnya juga kita mikir Pak Denar playboy. Atau mungkin Pak Denar emang lagi pdkt sama banyak cewek karna ngeburu nikah. Terus yaudah kita udahin ngawasin dia. Tapi ternyata dia malah gitu."
"Begituan sama cewek?"
"Iya, Kak," balas Vina pada Zaim. "Sama cewek yang di foto. Kita punya rekamannya pas Pak Denar lagi begituan ..."
Kali ini Ikbal tak bereaksi, sebab hatinya yang menolak percaya membuat otaknya kesulitan memilah kata-kata tampikan.
" … Minggu lalu kita ke apartemen Pak Denar buat nyopot Pongpong tapi yang bukain pintu malah Marina, cewek yang di foto," tambah Vina.
"Marina ngasih tau apa yang paling pengen aku tau."
Spontan Zaim, Vina serta Ikbal menoleh pada Nia secara bersamaan.
*FLASHBACK ON*
Marina mengangguk-angguk. "Saya pengen banget tuh ketemu sama anak itu. Pengen bilang makasih karna udah bikin Denar jadi milik saya. Sayangnya Denar selalu ngalang-ngalangin."
"Mmm, kalo boleh saya tau, mmm, gimana ceritanya bisa jadi sampe kaya gitu, Bu?"
__ADS_1
Marina kembali menoleh pada Nia. "Gak ada untungnya kamu tau ka–"
"Ada, Bu. Katanya Ibu mau ketemu sama Nia. Kalo kita tau ceritanya kan kita bisa ceritain balik ke Nia. Pasti ntar si Nia langsung nemuin Ibu."
Marina diam, menimang ucapan Vina. Meski membutuhkan waktu agak lama untuk menimang, tetapi pada akhirnya Marina setuju. Marina mengaku bertemu Denar pertama kali di kampus. Marina langsung jatuh hati pada Denar yang kala itu menjabat sebagai Ketua Bem fakultasnya. Marina yang semakin hari semakin jatuh hati pun akhirnya mengutarakan perasaannya. Namun Denar menolak dengan alasan tidak memiliki waktu untuk hubungan semacam pacaran.
" … Tapi tiba-tiba dia datengin saya dan ngajak pacaran. Aneh kan? Tapi lama-lama saya tau tujuan sebenernya dia ngajakin saya pacaran." Marina bergantian menatap Nia dan Vina. "Ternyata saya dieret. Untungnya ngeretnya buat nolong orang ..."
" … Dia bilang ada anak kecil di samping kontrakannya yang lagi kena musibah. Namanya Nia. Bapaknya Nia sakit, dan uangnya udah abis buat perawatan. Ada uang simpenan, tapi kata Bapaknya Nia itu buat Nia kuliah …"
Marina masih melanjutkan, "Saya bilang bakal bantu lunasin dengan syarat setelah urusan biaya perawatan Bapaknya Nia kelar, dia bisa kasih hatinya ke saya. Dia setuju. Itulah kenapa saya yang bukain pintu buat kalian …"
*FLASHBACK OFF*
"Jadi itu yang paling pengen kamu tau? Dari mana dulu Denar dapet uang buat bantu biaya perawatan alamarhum Bapak kamu?"
"Iya," jawab Nia pada Zaim. "Dan dia bilang dia rela ngelakuin yang lebih dari itu selama aku bahagia."
Hening sempat merajai, sesaat setelah Nia mengatakan itu.
Zaim berdeham, "Kemungkinan besar Denar tuh sukanya sama cewek hijaban yang bawain dia makanan, tapi dia terlanjur keiket kesepakatan sama cewek yang namanya Marina itu."
"Kalo gitu bantuin Kak Denar."
"Iya, Sayang. Aku pasti bakal bantu. Aku udah nawarin bantuan kok ke Denar. Soalnya aku udah ngerasa Denar punya masalah sejak aku ketemu sama Ibunya di Andalan Teladan."
"Berarti itu Ibunya cewek yang namanya Marina. Ibu itu keliatan suka sama Denar, soalnya waktu itu dia kaya dengerin banget omongan Denar." Zaim membenahi posisi duduknya. "Tapi yang paling penting sekarang bukan itu."
"Nyopot Pongpong kan, Kak?"
Zaim mengangguk pada Ikbal. "Karena kalian beneran bisa dipenjara karna pelanggaran privasi kalo sampe Denar tau dan gak terima. Tapi kalo Denar sih gak bakal gak terima. Marinanya ini yang agak bahaya."
"Aku gak bisa ke apartemen Kak Denar lagi. Aku juga gak akan biarin Vina ke sana sendirian."
"Aku tau, Sayang." Zaim tersenyum sambil membelai rambut Nia. "Sekarang ini jadi misi aku. Jadi aku yang bakal turun ke lapangan."
...•▪•▪•▪•▪•...
"Silahkan, Pak Zaim."
Zaim mengangguk pada Denar, lalu duduk di tempat yang dipilihkannya.
"Ada urusan apa, Pak?"
"Menurut Pak Denar?" Zaim balik bertanya. "Kira-kira saya ada urusan apa?"
__ADS_1
Denar diam cukup lama, berpikir. "Nia pasti udah cerita soal itu ya, Pak?"
"Kita gak kontek selama beberapa hari. Jadi saya gak ngerti maksud Pak Denar apa. Saya ke sini karna orang-orang saya nginfoin kalo akhir-akhir ini Nia sering ke sini."
"Oh, tolong jangan salah paham, Pak. Nia gak ke sini sendiri tapi sama temennya yang namanya Vina …"
Zaim hanya mendengarkan penjelasan serius Denar yang sia-sia itu, sebab semua yang dikatakan Zaim sejak memasuki apartemen Denar hanyalah tuntutan skenario. Tujuan kedatangan Zaim yang sebenarnya sudah pasti untuk mencopot Pongpong yang dipasang Vina di salah satu kaki ranjang Denar. Namun meski sudah satu jam berlalu sejak Zaim menyambangi apartemen Denar, tetap tidak ada celah untuk Zaim masuk ke kamar Denar dan mencopot Pongpong. Sepertinya memang hanya itu satu-satunya cara.
"Pak Denar suka bela diri?" tanya Zaim seraya beranjak tiba-tiba.
"Saya kurang suka latihan fisik."
"Tapi pernah belajar?" tanya Zaim lagi.
"Enggak, Pak. Kenapa? Pak Zaim mau nyoba usaha bela diri? Butuh sponsor dari Andalan Teladan, Pak?"
"Saya gak pernah butuh sponsor tuh. Sponsor yang malah butuh saya."
Denar tertawa. "Iya juga ya, Pak."
"Saya nanya gitu cuma buat mastiin seberapa banyak tenaga yang harus saya keluarin. Soalnya beda, tenaga yang harus dikeluarin buat mukul orang yang suka bela diri sama yang gak suka bela diri."
"Maaf? Maksudnya apa ya, Pak Zaim? Kok saya kurang pa–"
DUK
BRUK
Denar jatuh terduduk di sofa, ketika Zaim tiba-tiba memukul tengkuknya. Benar, satu-satunya cara yang dimaksud Zaim adalah kekerasan. Sebelum memasuki kamar tidur Denar, Zaim terlebih dahulu memastikan jika Denar benar-benar pingsan. Setelah yakin, barulah Zaim mencopot Pongpong di tempat yang diberitahukan Vina. Zaim menyelisik setiap sudut kamar tidur sederhana itu, dan memandang foto Denar dan Marina cukup lama. Setelahnya Zaim pun keluar, berniat untuk pulang. Namun.
KLEK
"Den, kok gak ngangkat telfon aku si–, loh? Kamu? Kamu bukannya Zaim Alfarezi?"
Zaim tersenyum pada Marina. "Halo."
"Ada urusan apa ya? Terus itu Denar kenapa ada tamu malah tidur gitu?" Marina berjalan setengah berlari menghampiri Denar, lalu menggoncangkan tubuh Denar berulang kali. "Kamu apain Denar, hah?"
"Saya bikin pingsan soalnya saya kasian dia sejam cuma ngomong gak faedah."
"Apa? Gila kamu ya? Te–"
Zaim melihat jam tangannya. "Tiga belas menitan lagi sadar kok dia."
"Bener-bener udah gila ya ka–"
__ADS_1
"Saya gak sabar nunggu Denar bilang 'cukup', ke saya." sela Zaim lagi. "Siap-siap ya kamu. Soalnya saya ngerasa bentar lagi Denar bakal bilang gitu." Zaim berlalu.