HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SKAKMAT


__ADS_3

Terlihat seorang bodyguard buru-buru membukakan pintu mobil untuk Tuannya, Monica. Monica yang baru saja tiba di tanah airnya itu langsung menuju rumah sakit. Rasa rindu, rasa sedih, serta rasa kecewa seolah melebur menjadi satu menyesaki suatu ruang di hati Monica. Berat rasanya menemui sang ibu sambung, Nila, dengan kegagalan. Ya, pada akhirnya Monica gagal memenuhi permintaan kedua orangtuanya untuk membawa serta Nia ke Taiwan.


Monica berpikir akan mudah memenuhi permintaan kedua orang tuanya. Namun kondisi Nia yang sebenarnya dengan kondisi Nia yang ada dalam prediksi Monica benar-benar berbeda sangat jauh! Nia tidak tinggal di panti asuhan melainkan di sebuah komplek elit. Nia juga tidak bersekolah dengan bantuan beasiswa penuh tetapi bersekolah di sekolah yang uang bangunannya mencapai angka puluhan juta dalam satu bulan.


Dan prediksi Monica yang paling jauh meleset adalah, ternyata Nia tidak hidup sebatang kara. Tidak hanya memiliki ibu kandung yang masih hidup, Nia bahkan memiliki seorang kekasih yang sangat-sangat tidak waras! Monica yang selama hidupnya tidak pernah sekali pun mendapat ancaman dari seseorang, akhirnya meraskan bagaimana rasanya diancam untuk yang pertama kali melalui seorang pria tidak waras bernama Zaim Alfarezi!


KLEK


"Mah. Pah."


"Monic." Nila tersenyum pada Monica yang baru saja memasuki kamar rawatnya.


"Pesawat kamu delay? Kamu bilang terbang sore kok baru nyampe jam segini?" Seorang pria yang sekilas terlihat seperti Jackie Chan itu, Monaco, menyudahi aktivitasnya mengisi buku teka-teki silang.


"Iya delay, Pah."


Nila memandang ke arah pintu kamarnya. "Jadi Nia beneran gak ikut ke sini ya?"


"Maafin aku ya, Mah. Aku udah berusaha."


"Gak apa-apa. Mamah juga minta maaf. Yang penting Nia idupnya enak. Mamah udah cukup kok sama itu."


Monica mengusap air mata Nila. "Iya, idup Nia enak kok di sana. Ibu kandungnya orang kaya. Dia juga sekolah di sekolah elit. Dia juga punya banyak temen. Dia udah bahagia di sana."


Nila mengangguk-angguk. "Yaudah. Mamah udah cukup sama itu. Makasih ya. Maaf sekali lagi udah ngrepotin kamu."


"Aku juga minta maaf karna gak bisa menuhin permintaan Mamah."


Nila mengangguk, tetapi perlahan mulai terisak. "Tapi percuma Mamah hidup kalo gak bisa ketemu Nia dan minta maaf langsung. Buat apa hidup kalo gak tenang? Mending Mamah mati aja ka–"


"Ngomong apa sih kamu, Nila!" seru Monaco. "Yang harusnya disalahin tuh anak itu. Sombong banget sih sia sampe gak bisa ngerti niat baik Mamahnya."


"Itu karna aku udah jahat banget sama dia."


"Semua orang itu pernah jahat! Emang dasarnya anak itu aja yang pendendam!" Monaco masih berseru. "Biar Papah yang bawa dia ke sini."


Monica refleks mengejar Monaco. "Pah, tunggu, Pah. Mending gak usah, Pah. Kasih Nia waktu. Apa yang diperbuat Mamah di masa lalu emang sejahat itu sampe bikin Nia trauma."


"Papah tau Mamah kamu salah. Papah udah tau ceritanya. Tapi kalo dia emang belom bisa ketemu sama Mamah mamu, seenggaknya hargain niat baiknya dong. Telfon kek, video call kek. Iya kan? Udah Papah bilang dasarnya anak itu emang pendendam. Udah kamu jagain Mamah kamu aja."


"Pah, tunggu."


"Monica Yin!" Monaco berseru lagi.

__ADS_1


"Please-please. Aku bukan mau ngehalangin Papah pergi. Aku cuma mau bilang Papah harus hati-hati sama Zaim Alfarezi. Dia pacarnya Nia. Dia yang ngusir aku dari Indonesia."


"Ngusir? Dia berani ngusir kamu? Si Zaim Alfarezi itu?"


"Wajar, Pah, dia ngusir aku ka–"


"Gak wajarlah," sela Monaco sambil menggulung lengan kemejanya. "Dia udah nginjek-nginjek harga diri Papah. Kenapa? Karna anak itu bawa harga diri orangtuanya. Jadi gak ada bedanya. Kalo dia ngusir kamu, berarti dia juga ngusir Papah."


"Pah. Pah, please, Pa–"


BRAK


Tangis Nila langsung pecah, bersamaan dengan suara bantingan pintu kamarnya yang memekakkan telinga. Gawat jika Monaco sampai menggulung lengan kemejanya dan memamerkan tato malaikat maut yang memenuhi kedua tangannya itu pada publik. Sejak melepas titel gangsternya, Monaco hampir selalu mengenakan kemeja lengan panjang setiap hari, tetapi hari ini Monaco malah sengaja menggulung kemejanya. Di mana itu berarti, status Monaco saat ini bukanlah pedangang Gua Bao* di sepinggir Pantai Fulung!


*Gua Bao mirip dengan sandwich, hanya saja isinya daging rebus yang sudah dibumbui. Daging yang biasanya digunakan untuk isian adalah daging babi. Namun ada juga isian daging sapi, ayam, telur atau ikan. Gua Bao disajikan dengan tambahan acar sawi, daun ketumbar, kacang tanah, dan mustard.


"Telfon, Duyi. Terus kumpulin seratus orang. Saya tunggu di bandara. Kita terbang ke Indonesia."


"Baik." Bodyguard pribadi Monica membungkuk sambil membukakan pintu mobil untuk Monaco.


...•▪•▪•▪•▪•...


KLEK


Nia mengabaikan ajakan Zaim, dan kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah malas. Sejak memamerkan tangis histerisnya pada Zaim dalam perjalanan ke Puncak tempo hari, Nia tahu Zaim sedang berusaha mati-matian untuk menghiburnya. Tetapi jujur saja perasaan Nia malah semakin memburuk. Kata-kata Denar pun mendadak terngiang-ngiang di telinga Nia. Waktu bisa mengubah apapun termasuk manusia. Ya, Nia setuju dengan itu. Namun kenapa sampai hari ini suasana hati Nia tak kunjung membaik?


"Gak mau nih?" tanya Zaim lagi. "Kalo gitu sepedaan aja yuk? Atau main golf? Atau main gokart*?"


*Gokart merupakan kendaran beroda empat layaknya mobil. Gokart biasanya digunakan sebagai sarana hiburan dan balap layaknya balap formula satu. Bentuknya lebih kecil dari kendaraan roda empat yang lain serta memiliki kapasitas mesin yang juga lebih kecil.


"Ini masih jam enem pagi," sahut Nia akhirnya.


"Justru itu, Sayang. Olahraha pagi tuh sehat. Bangunin Ibu kamu sama Ikbal sekalian gih."


"Ibu ke luar kota ketemu temennya. Ikbal nginep di rumah Esa."


"Yaudah kalo gitu kamu aja. Yuk."


Nia menggeleng-geleng. "Gak mau. Sumpah. Aku gak mau."


Zaim menyerah, sadar jika upayanya kali ini untuk menghibur sang kekasih pun gagal total! Zaim berpikir mungkin selama ini Nia selalu menolak ajakannya karena ajakan itu lebih kepada sesuatu yang disukai Zaim. Jadi wajar saja jika Nia menolak mentah-mentah ajakan Zaim untuk bersepeda, bermain golf pun bermain gokart. Tetapi Zaim yakin hasilnya akan berbeda jika dirinya yang dengan senang hati mengikuti apa yang ingin Nia sukai. Dan tepat sekali keyakinan itu.


"Kalo gitu, gimana kalo aku ngikutin semua kegiatan kamu seharian ini? Jadi apapun kegiatan kamu seharian ini bakal aku ikutin. Mau itu makeup, nguncir-nguncir rambut, pake baju pink, semua aku ikutin."

__ADS_1


Nia menoleh pada Zaim. "Serius?"


"Mmm, iya, Sayang. Tapi apa yang aku bilang tadi cuma contohloh."


"Tapi hari ini aku emang rencananya mau nyobain foundation yang baru aku beli, nyobain tutorial rambutnya Han So Hee, sama ngambil laundry sepatu pake baju ini," sela Nia sambil menunjuk piamanya yang kebetulan berwarna pink. "Oke aku mau." Nia beranjak. "Kalo gitu kegiatan pertama. Ke gang curut."


"Ke gang apa, Sayang?"


"Gang curut. Ngantri nasi uduk sama gorengannya Bu Jum. Ayok cepet."


Zaim tak menjawab, hanya mengekori Nia sambil bertanya dalam hati, Apakah ini yang dinamakan senjata makan tuan? Sial, ternyata benar-bebar sangat menakutkan! Setelah mengikuti kegiatan pertama Nia dalam menyambut minggu pagi, lanjutlah ke kegiatan kedua. Membuat asinan rambutan. Tidak masalah jika buah rambutan tersebut sudah tersedia. Masalahnya buah berambut itu harus dipanen terlebih dahulu. Dan yang paling menjadi masalah adalah, cara memanen buah tersebut!


"Serius kamu mau manjat?"


Nia mengangguk menanggapi Zaim. "Kamu gak bisa?"


"Bukan gak bisa tapi ini pertama kalinya buat aku, Sayang. Setau aku kita bisa manen buahnya pake tangga atau galah kan?"


"Iya. Tapi aku gak punya."


"Oke aku beli sebentar."


Nia menarik kaos Zaim. "Kegiatan aku hari ini gak ada beli tangga sama galah tuh."


Skakmat! Ternyata selain mendiang sang kakak, masih ada orang lain yang bisa membuat lidah seorang Zaim Alfarezi keriting! Dan kegiatan kedua hari itu pun selesai dengan fakta baru yakni Zaim yang memiliki tanda-tanda Akrofobia*. Selanjutnya, kegiatan ketiga. Membuat asinan rambutan. Tentu saja pada kegiatan Nia yang ketiga ini Zaim bisa mengikutinya tanpa terancam stres. Namun demi Tuhan, kegiatan Nia yang keempat kelima dan kesekian benar-benar seperti membuat kejantanan Zaim ditelanjangi.


*Fobia atau ketakutan yang berlebihan terhadap ketinggian. Rasa takut yang dialami penderita fobia ini dapat menimbulkan beberapa gejala seperti kecemasan, stres, atau panik.


"Sayang, kayanya maskernya udah kering deh."


"Belomlah," jawab Nia.


"Tapi ini muka aku kaya ada bunyi kretek-kreteknya gitu."


"Harga diri kamu kali yang bunyi kretek-kretek."


Dan lagi-lagi, skakmat! Meski begitu Zaim ikhlas melakukannya. Ya, asalkan bisa mengembalikan Nia yang ceria, lincah dan konyol, Zaim rela menghancurkan harga dirinya setiap hari. Dan selesailah sudah seluruh kegiatan Nia hari itu. Zaim senang karena raut wajah Nia tampak jauh lebih baik. Zaim pun pamit pulang, sambil memeluk setoples kecil asinan rambutan yang disebut Nia sebagai piala penghargaan. Zaim mengecup kening Nia berulang kali pun mengecup kedua punggung tangannya secara bergantian.


"Aku janji, aku bakal balikin masa depan Denar. Tapi maaf aku gak bisa mulai tanpa persetujuaan Denar. Takutnya kehidupan Denar yang sekarang emang kehidupan yang dia mau. Got it*?"


*Ngerti kan?


"Iya."

__ADS_1


Zaim tersenyum. "Good night, Sayang. I love you."


__ADS_2