HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
SUMBU


__ADS_3

" … Harusnya gue juga dapet undangan dong? Iya dong? Kan gue sahabat sehati sesanubarinya Ninya."


"Ya mana Pak Denar peduli soal yang receh-receh gitu anjir," balas Ikbal pada Vina.


"Emang ya, cuma yang bukan manusia yang nganggep persahabatan itu receh."


Spontan Ikbal menghentikan kedua jempolnya yang tengah sibuk bermain game. "Padahal gua niatnya gak jadi dateng ke nikahannya Pak Denar. Jadi lu aja sama Ibu yang dateng. Tapi gimana ya? Karna barusan gua dianggep bukan manusia ya bu–"


"Manusialah," sela Vina. "Mana ada buaya yang wujudnya secakep ini sih omg-omg."


"Peres*."


*Peres diucapkan ketika seseorang mengatakan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya adalah kebohongan atau kepalsuan. Singkatnya peres adalah orang yang suka melakukan kepalsuan, kebohongan dan perilaku yang tidak tulus.


"Sumpah lu cakep, Bal, sumpah."


"Terus kenapa lu gak suka sama gua?"


Vina melongo, otaknya kewalahan memproses apa yang baru saja dikatakan Ikbal. Jika dilihat-lihat, semakin bertambah dewasa rupa Ikbal memang mengalami perubahan yang drastis. Bisa dikatakan, cukup tampan. Tubuh Ikbal semakin tinggi dan ya, kekar. Lalu bekas-bekas jerawat di wajah Ikbal juga mendadak menghilang secara misterius. Dan sejak tidak lagi mengambil ekstrakurikuler voli, warna kulit Ikbal yang dulunya seperti biji kopi, kini berubah menjadi seputih susu.


"Suasana mencurigakan macam apa ini adik-adik?"


Vina serta Ikbal yang sedari tadi saling menatap dalam itu pun seketikaterkejut, dan refleks menoleh ke asal suara.


"Jadi jawabannya yes apa no nih, Vin?" tanya Nia lagi.


"Apaan sih lu. Cepetan naek. Gua laper."


Nia tertawa. "Lu balik duluan aja deh."


"Dih anjir. Kenapa baru bilang?" Ikbal menyalakan mesin motornya. "Ngebuang waktu gua yang berharga aja." Ikbal menancap gas ugal-ugalan.


"Hidih padahal waktu berharganya dibuang di warnet. Dasar. Durhaka tuh dia sama lu, Nya. Kutuk aja kutuk." Vina menoleh pada Nia. "Lu ngapain cengar-cengir anjir."


"Seneng aja gue akhirnya Elvina Priska dapet pernyataan cinta setelah sekian lamanya."

__ADS_1


"Aduh plis deh, Nya. Banyak yang nembak gue ya. Gue cuma gak bilang aja sama lu," jawab Vina. "Btw serius nih gue gak diundang ke nikahannya Pak Denar? Ih kok bisa sih? Mana Beliau gak masuk lagi hari ini. Kalo masuk beneran langsung gue protes."


"Yaudah pake undangan gue aja sih."


"Masa satu undangan buat tiga orang sih, Nya?"


"Gue belom ngasih tau Ibu soal undangan nikahan itu. Jadi gak tau Ibu mau ikut apa gak. Kalo si Ikbal mah kan emang gak ikut. Dia bilang males mending ke warnet," sahut Nia.


"Anjir. Sia-sia dong tadi gue ngrengek sampe bibir gue kesemutan."


Nia hanya tertawa menanggapi Vina.


"Btw lu kenapa gak balik bareng Ikbal?" imbuh Vina.


"Gue lagi galau. Jadi kan …"


Berbeda dengan Vina yang sangat antusias dengan pesta pernikahan Denar, Nia malah sebaliknya, galau! Wajar. Nia belum bicara lagi dengan Denar sejak pertengkarannya di lift tempo hari. Dan jika Nia datang ke pesta pernikahan itu, identitasnya sebagai Nia yang asli pasti akan langsung ketahuan oleh Marina. Ya, meski tidak akan jadi masalah karena Marina pun sangat ingin bertemu Nia untuk mengucapkan terima kasih karena telah membawa Denar ke pelukannya.


" … Waktu itu kan Marina gak tau kalo gue Nia yang asli."


Vina memukul dahinya keras. "Anjir gue lupa. Iya juga ya. Terus gimana? Jadinya lu beneran gak dateng nih ke nikahannya Pak Denar?"


"Tapi sayang banget kalo dateng, Nya. Secara ini kan pengalaman pertama kondangan kita. Pengalaman pertama kita pake dress sama heels juga. Iyak kan? Masa mau dilewatin gitu aja?" Vina diam sesaat. "Terus menurut gue nih. Pak Denar pasti ngarep banget lu dateng."


"Taulah. Terserah Ibu aja deh."


"Lah kan Tante belom tau."


"Ya makanya ini nanti gue mau kasih tau Ibu. Udah ah yuk ngebakso dulu. Lambung gue udah salto nih."


"Kok perasaan gue tiba-tiba jadi gak enak gini ya," batin Vina sambil memandangi Nia yang tengah menerobos antrian warung bakso. "Semoga gak ada apa-apa deh."


...•▪•▪•▪•▪•...


" … Jadi baiknya dateng apa gak, Bu?"

__ADS_1


Saking terkejutnya, Ushi tak segera menjawab tanya Nia. Ushi yang baru pulang kerja tiba-tiba dihampiri Nia. Nia menyodorkan sebuah undangan pernikahan mewah dan berkata jika itu adalah pernikahan penyelamatnya, Denar Djajadi. Ushi yang tak paham dengan julukan penyelamat yang disematkan Nia pada pria yang sempat viral dengan Nia beberapa waktu lalu pun meminta dijelaskan lebih rinci.


Tanpa menaruh prasangka ini itu, Nia pun menuruti pinta Ushi. Ushi yang sudah mengantongi benang merah dari penjelasan Nia, diam-diam mulai menyusun rencana cadangan. Ushi berniat untuk menemui Denar. Bahkan demi menyelamatkan Nia dari trauma yang lain, Ushi berniat untuk menjodohkan Nia dengan Denar. Ushi yakin, pria bernama Denar itu tidak akan bisa menolak apapun yang berkaitan dengan Nia.


Namun untuk berjaga-jaga pada ekspektasi yang kerapkali tidak sesuai dengan realita, Ushi juga sudah berniat untuk memberitahu Denar jika Al Hakam, kakek Zaim, tidak merestui hubungan Nia serta Zaim. Dan jika hubungan Nia serta Zaim terus dipaksakan, pihak yang akan terluka hanyalah Nia. Bahkan luka yang Nia dapat tidak hanya luka hati melainkan juga luka psikologis. Wow, sungguh rencana cadangan yang luar biasa!


" … Ibu!" seru Nia pada Ushi.


"Duh ngagetin aja sih."


"Lagian Ibu ditanyain dari tadi cuma bengong aja."


"Ibu tuh lagi nahan-nahan gak nyubitin kamu tau gak."


"Ih, kenapa? Emang aku salah apa?"


"Pake pura-pura gak tau lagi salahnya apa. Kok bisa kamu baru ngasih tau kalo Kepsek Andalan Teladan tuh orang yang dulu nolongin kamu dari si dajjal itu? Kok bisa baru ngasih tau Ibu sekarang hah?"


"Iya, mmm, itu, mmm soalnya ga–"


"Sssttt," potong Ushi. "Cepet kasih tau Ibu di mana rumahnya Kepsek Andalan Teladan itu." Ushi beranjak. "Ibu harus cepet-cepet bilang makasih sama dia."


Nia ikut beranjak. "Orangnya gak mungkin ada di rumahlah, Bu. Pasti sibuk ngurus nikahannya."


"Duh, kamu tuh ya. Bisa mirip banget gitu sih sama Ikbal? Gak suka baca gak suka nonton berita." Ushi menunjuk undangan pernikahan Denar di meja. "Marina Esterlita Permadi tuh anaknya yang punya Mall Grand Indonesia. Mana mungkin orang tajir melintir gitu mau sibuk ngurusin nikahan."


Nia hanya mengangguk-angguk sambil memandangi undangan pernikahan Denar yang terlihat berkilauan di bawah sinar lampu gantung.


"Udah cepet kasih tau Ibu alamat rumahnya Kepsek Andalan Teladan itu," tambah Ushi.


"Tapi masa Ibu mau ke sana sekarang? Udah malem, Bu."


"Yaiyalah masa abis idul adha? Cepet kasih Ibu alamatnya. Terus kamu tidur. Awas aja besok bolos sekolah dengan alesan kesiangan."


"Iya-iya." Nia merogoh ponselnya. "Aku kasih nomornya juga ya, Bu. Ibu telfon dulu aja. Takutnya orangnya udah tidur atau lagi gak di rumah atau …"

__ADS_1


KLEK


"Aku harus cepet-cepet ketemu Denar. Jangan sampai Denar jadi nikah," gumam Ushi sembari membenahi riasan serta rambutnya.


__ADS_2