
BUG
"Ke mana sih nih orang? Gak jelas banget," papar Kasih seraya kembali memukul stir mobilnya.
BUG
Sudah empat hari Kasih tidak bisa menghubungi A110, partner balas dendamnya. Meski begitu Kasih tak berputus asa dan tetap mengirim pesan serta membuat panggilan telepon. Karena hanya A110 satu-satunya orang yang Kasih percayai tidak akan pernah berkhianat. Lalu Kasih juga ingin menanyakan banyak hal pada A110 mulai dari perkembangan misi balas dendamnya, kelanjutan cerita insiden penembakan yang dipelopori oleh A110, hingga alasan kenapa Nia masih terlihat baik-baik saja meski sudah dua kali dicekoki bayang-bayang masa lalunya!
"Apa aku samperin aja ke rumahnya?" Kasih mendecak, "Ya mana bisa coba? Jangankan rumahnya, nama aslinya aja aku gak tau." Kasih bersandar kasar pada punggung kursi. "Oh iya. Berkas yang waktu itu."
Kasih buru-buru beranjak, melepas seat beltnya, dan mengobrak-abrik laci pun saku-saku mobilnya demi mencari berkas itu. Berkas berisi informasi pribadi para kaki tangan Kasih yang lain, yang diberikan A110 sehari sebelum dirinya menghilang bak ditelan bumi! Kasih berpikir mungkin saja para kaki tangannya yang lain mengetahui sesuatu tentang A110. Atau syukur-syukur, memiliki hubungan yang lebih dari sekadar misi. Dan usaha pencarian Kasih pun berhasil. Berkas yang sedari tadi dicari Kasih, ternyata disimpannya di bawah karpet pijakan kaki kursi pengemudi.
"Ini dia," gumam Kasih. "Semoga aja di antara mereka ada yang deket sama A110. Jadi aku bisa nanya alamat rumahnya. Gak mungkin kan mereka gak tau." Kasih mengeluarkan ponselnya. "Bagus. Ada nomer telfonnya juga. Aku jadi gak repot."
Namun, tak ada jawaban. Semua nomor telepon kaki tangan Kasih yang tertera dalam berkas itu seolah kompak mengabaikan. Ada yang tidak beres. Kasih yakin betul akan itu berdasarkan pada keinginan melarikan diri yang muncul tiba-tiba. Tetapi alih-alih melarikan diri, Kasih malah tertantang mencari. Setidaknya Kasih memiliki alamat rumah para kaki tangannya, dan dirinya hanya perlu berkunjung untuk menanyakan keberadaan A110. Dan, berangkatlah Kasih, ke kediaman rumah kaki tangannya yang dipilih secara acak. Nuris Nafitsah Soekmono alias Nuna. Namun.
"Ngapain Bastian di sini?" tanya Kasih dalam hati, sembari buru-buru menyembunyikan diri. "Jangan-jangan A110 udah ketauan la–"
"Kasih?"
"Kamu? Berani-beraninya kamu muncul di depan aku."
Pria itu tersenyum tipis pada Kasih. "Ternyata kamu masih inget aku."
PLAK
"Aku peringatin sama kamu ya. Jangan pernah muncul di depan aku lagi. Apalagi sok-sok kenal sampe nyebut nama aku. Aku bakal penjarain kamu. Liat aja."
"Kamu udah ngelahirin? Cewek apa cowok? Siapa namanya? Aku titip salam ya bu–"
PLAK
"Buat apa kamu nanya-nanya hah?" sela Kasih pada pria berseragam cleaning service itu. "Emang orang miskin kaya kamu bisa apa? Mi–"
"Kasih? Bener Kasih kan? Kamu ngapain di sini? Terus siapa cowok itu?"
DEG
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
"Anjir jujur banget. Terus-terus, bikin pengakuan apalagi ayang Zaim?"
"Cuma itu sih. Tapi itu aja udah bikin Ibu banting gelas dua kali," jawab Nia pada Vina.
Vina kembali terbahak, terbahak sejadinya tanpa memedulikan sekitar. Jelas saja. Di sepanjang perjalanan pulang sekolah Nia tak henti menceritakan ulah Zaim yang dianggapnya ekstrem. Dengan wajah tak tahu malu pun tak takut ini itu, Zaim memaparkan apa saja yang sudah dilakukannya bersama Nia setelah hampir tiga tahun menjalin asmara. Zaim juga memberi tahu dengan begitu percaya diri perihal alasannya ingin buru-buru mempersunting Nia meski usianya belum genap menginjak dua puluh.
"Salut gue sama kejujuran ayang Zaim. Tante Ushi pasti kebakaran jenggot." Vina mengusap air mata gelinya. "Terus-terus, gimana rasanya digrepe-***** sama ayang Zaim?"
Spontan Nia memukul lengan Vina. "Dih."
Vina kembali terbahak. "Ya kan nanya, Nya. Secara gue kan belom pernah. Jadi buru ceritain."
"Gak."
Vina kembali terbahak. "Dih, Nya. Gak boleh pelit ilmu tau. Kita …"
Nia mengabaikan apapun yang Vina katakan, dan konsisten menutup mulut serta mempercepat langkah. Pada akhirnya Nia pun berhasil menghindari tanya bertubi Vina karena arah pulang yang berbeda. Selain itu kali ini Nia serta Vina juga memiliki urusan yang berlawanan. Vina harus segera pulang karena dituntut membantu sang ibu yang sedang kebanjiran pesanan putu ayu. Sementara Nia, harus pergi ke kantor Zaim karena ada janji makan siang dan pulang bersama.
" … Oh jadinya makan siang di kantor."
"Iya. Ini udah siap makan siangnya. Kamu di mana? Udah sampe kantor aku?" Suara Zaim terdengar melalui sambungan telepon.
"Iya udah. Tinggal naek ke atas. Tapi liftnya penuh nih dari tadi," sahut Nia.
"Eh jangan. Kan kata kamu makan siangnya udah siap. Aku lewat tangga aja deh."
"Jangan, Sayang. Nanti kamu capek. Aku jemput kamu aja. Nanti kita naik lift khusus CEO. Tapi karna lift itu baru bisa kebuka kalo pake sidik jari aku jadi aku harus turun."
"No-no. Kamu yang abis rapat pasti lebih capek. Kamu istirahat aja. Aku cepet kok. Sampe ketemu ya. I love you."
Nia buru-buru memutus telepon sebelum kalah cekcok dengan Zaim sang master cekcok. Zaim berada di lantai sebelas. Itu sangat jauh mengingat saat ini Nia ada lantai satu. Tetapi apa boleh buat. Hitung-hitung untuk membakar kalori es podeng dua porsi. Nia menikmati kegiatan yang menguras peluh itu, dan kian menikmati ketika dirinya tak sengaja menyaksikan sebuah pemandangan "luar biasa". Gila! Bagaimana bisa ada orang yang menjadikan tangga sebagai tempat untuk bercinta?
"Jadi besok gue bakal digituin juga ya," gumam Nia.
"Gaklah."
Spontan Nia menoleh ke asal suara, dan berusaha sekuat tenaga membekap mulutnya sendiri yang hampir saja berteriak karena terkejut setengah mati.
"Aku tipe yang bikin nyaman pasangan terutama pas begituan. Jadi aku gak bakal ngajakin kamu begituan di tempat kaya gini," imbuh Zaim.
__ADS_1
"D-dari kapan kamu di sini?"
Zaim menunjuk karyawannya yang tengah sibuk bercinta. "Dari mereka mulai pemanasan."
"Oh. Mmm, yaudah kita lewat lift yang kamu bilang tadi aja. Yang bukanya pake sidik jari kamu."
"Gak mau ngintip sampe mereka selesai?"
Nia melotot. "Kamu pikir aku apaan?"
"Tukang ngintip?"
Nia terlihat semakin melotot. Membuat Zaim memalingkan wajahnya, menahan tawa.
"Ngomong-ngomong, Sayang," tambah Zaim seraya menyeka pelipis Nia. "Kamu kringetan."
"Ya kan panas."
"Panas gara-gara ngintip?"
Nia memukul lengan Zaim. "Kenapa sih otak kamu ngejurusnya ke situ mulu? Jaim dikit apa."
"Iya kan aku emang Zaim."
"Bodo amat. Udah ah ayok aku laper."
"Oke-oke. Tapi tunggu bentar ya, Sayang. Aku ada urusan. Kasih aku waktu semenit."
Nia hanya mengangguk menanggapi Zaim. Andai Nia tahu satu menit itu untuk apa, dirinya pasti akan menahan Zaim dengan sekuat tenaga. Nia sama sekali tidak menyangka jika Zaim akan keluar dari persembunyian dan mengganggu pasangan setengah telanjang yang tengah berahi tersebut. Terlihat pasangan "luar biasa" itu kelabakan saat mendapati sosok Zaim yang muncul tiba-tiba. Di satu sisi mereka ingin segera membenahi pakaiannya tetapi di sisi lain, mereka ingin menghilang dari bumi!
"Karyawan lantai berapa?" tanya Zaim.
"M-maaf. I-itu. K-kami udah nikah kok, Pak. T-tapi ma–"
"Karyawan lantai berapa?"
"S-saya karyawan lantai dua, Pak Zaim. K-kalo suami saya karyawan lantai sepuluh."
Zaim mengangguk-angguk menanggapi si karyawan wanita. "Ke ruangan saya besok."
__ADS_1
"P-pak Zaim tunggu, Pak. T-tolong jangan pecat kami, Pak. Kami bakal nerima skors apapun ja–"
"Bawa buku nikah atau bawa surat resign," sela Zaim lagi pada karyawan pria itu. "Saya tunggu jam enam pagi."