HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BONUS VINA


__ADS_3

Nia tampak begitu lahap menyeruput kuah seblak berwarna merah menyala itu, pun Vina. Seblak dan nasi uduk buatan Bu Jum benar-benar layak mendapat penghargaan Michelin Star! Tak peduli meski harga bahan utama masakannya yakni cabe tengah melambung tinggi, setiap masakan yang diolah Bu Jum selalu konsisten pada rasanya yang luar biasa kaya. Ternyata ada master chef tersembunyi yang tinggal di sekitar gang curut. Daebak!


"Lu lagi berantem ya sama ayang Zaim?"


Nia tersedak mendengar tanya Vina. "Plis ilangin itu embel-embel ayang."


"Jijay ya? Tapi kan lu yang ngajarin, Nya." Vina tertawa. "Tapi bener kan lagi berantem? Soalnya lu bilang hari ini terakhir lu di rumah dia, tapi kok lu malah ke rumah gue?"


"Ya kan, mmm, gue bisa ke sana kapan aja."


Vina mengangguk-angguk. "Iya juga."


Bohong. Vina hanya tak menyadari kebohongan sahabat sehati sesanubarinya itu. Nia memang bisa kapan saja keluar masuk kediaman Zaim persis seperti yang dikatakannya, tetapi alasan sesungguhnya Nia tak menggunakan kesempatan terakhirnya sebagai tamu di kediaman super mewah itu adalah karena takut. Benar, takut. Takut kalau-kalau aksi balas dendamnya pagi tadi berujung meningkatkan berahi Zaim yang sudah brutal!


"Gue udah puas nikmatin semua fasilitas di rumah dia." Nia tertawa.


"Bukannya lu belom photoshoot di rooftopnya ya?"


"Gerimis mulu juga. Yang ada bukan photoshoot malah masuk angin." Nia tertawa lagi.


Vina ikut tertawa. "Btw lu udah mastiin belom perasaan lu sama Zaim? Udah ngerasa deg-degan yang alami gitu belom? Atau jeles dan semacamnya gitu?"


Nia tak menjawab, sebab kembali merasa diekori rasa malu. Entah kenapa ketika nama Zaim disebut, Nia langsung teringat semua kontak fisiknya dengan Zaim, terutama kontak fisiknya pagi tadi. Gila. Itu leher atau batu? Bukankah leher tidak seharusnya sekeras itu? Sepertinya Zaim juga melatih otot lehernya dengan barbel. Pikiran Nia semakin kacau, dan harus sesegera mungkin diblokir jika tidak ingin disadari Vina. Nia pun langsung mengalihkan topik.


"Kan gue bilang gue mau mastiin itu sambil jalan," balas Nia. "Btw ternyata Lentera Dunia punya jadwal healing jamaah ya. Gue baca di mading tadi. Ngakak anjir judulnya healing jamaah."


"Oh iya gue juga baca. Gue keceplosan ngakak terus sama Pak Putro diplototin anjir."  Vina tertawa geli. "Lagian nyeleneh sendiri. Yang laen mah kan nyebutnya study tour."


"Yang laen juga study tournya cuma tingkat 2 kan. Kalo di Lentera Dunia mah semua tingkat distudy tourin."


Vina masih tertawa geli, sambil mencelupkan kerupuk ke dalam kuah seblak.


"Lu ikut?"


"Gak tau deh. Katanya bayarnya mahal," sahut Vina.


"Dih tenang aja hanibaniswiti. Kan ada ayang Zaim Alfarezi."


Vina dan Nia tak henti tertawa geli. Keduanya memang tak pernah kehabisan topik pembicaraan. Selalu ada saja topik. Seperti topik healing jamaah yang kini sudah berganti ke topik aplikasi lopemate. Aplikasi yang diberi nama konyol itu mendadak viral karena sukses membuat baper pun patah hati penggunanya. Lopemate mengklaim bisa melihat kecocokan pasangan. Hasilnya akan dihitung dalam bentuk persen, 100% untuk lope, dan 0% untuk mate.


"Gue sih gak percaya. Tapi biasalah, buat seru-seruan aja. Mau coba?"


Nia mengangguk antusias. "Gue sama Zaim coba."


"Mana foto lu yang close up madep depan. Sama fotonya Zaim juga."


"Mana ada gue foto close up yang madep depan." Nia tiba-tiba menghadap Vina. "Yaudah foto langsung aja."


Vina tertawa sambil mengikuti perintah Nia. "Oke, done. Foto Zaim? Oh, ambil di google aja banyak." Vina tampak fokus. "Done juga. Unggah, yes. Hitung kecocokan, yes." Vina menutup layar ponselnya. "Merem, Nya, biar surprise. Gue itung sampe tiga baru buka oke?"


Nia semakin antusias. "Oke-oke."


"Satu, dua, tiga." Vina membuka layar ponselnya. "Ciye 100% ciye."

__ADS_1


Nia tertawa, sekaligus tersipu-sipu. "Lagi-lagi. Si Ikbal coba sama Kak Bunga."


"Oh iya bener. Mari kita liat seberapa buayanya Ikbal Navarro." Kedua jempol Vina bergerak kian bersemangat. "Unggah, yes. Hitung kecocokan, yes. Kan kan si Ikbal mah buaya. Masa cuma 11% sama Kak Bunga. Coba sama Kinan."


Nia hanya mengangguk kegirangan.


"Anjir malah cuma 2%," imbuh Vina seraya terbahak hingga terbatuk.


"Coba lu sama Ikbal."


"Idih ngapain tiba-tiba gue. Gak banget gue sama dia iyuh."


"Ya nyoba doang. Kan lu bilang cuma buat seru-seruan."


Vina memonyongkan bibirnya, tetapi setuju mengikuti apa yang dikatakan Nia. "Idih fix bapuk nih aplikasi. Masa hasilnya 70%."


Nia berganti tertawa hingga terbatuk-batuk.


"Hus-hus. Anak perawan malem-malem gak boleh ketawa kenceng-kenceng." Ibu Vina yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah menepok jidat Nia dan Vina.


"Sakit Ya Allah." Vina memekik sambil mengusap-usap jidatnya. "Eh, Bu-bu, sini aku itungin kecocokan Ibu sama Bapak."


"Ngapain segala diitung-itung. Udah pasti 1000%lah. Orang Bapakmu itu kaya butiran debu kalo gak ada Ibu." Ibu Vina berlalu.


"Idih. Mau aja digombalin Bapak." Vina kembali menguatik-atik ponselnya. "Itung ah. Buat ngebuktiin seberapa faedahnya nih aplikasi. Soalnya bokap gue emang bucin banget sama nyokap."


"Iya coba buru. Sini gue yang nyoba. Lu gantian merem."


Nia tak menjawab, hanya menghadapkan ponsel Vina tepat di wajahnya.


"Anjir. Fix faedah nih aplikasi. 100% coy. Eh coba itung kecocokan pasangan yang udah pisah. Kalo hasilnya mate, gak bakal gue unistall nih aplikasi."


"Kan udah tadi Ikbal sama Kinan."


"Maksudnya pasangan yang udah nikah, Nya," sahut Vina. "Si Tante aja sama mantan suaminya coba."


"Oh iya bener. Tapi emang lu ada foto bokapnya Ikbal?" Nia membuka gallery Vina. "Ada juga bokap gue nih. Masih lu simpen aja ini foto." Nia tersenyum. "Eh anjir kepencet."


Nia tampak terkejut, begitu pula dengan Vina. Bagaimana tidak? Foto Ushi dan Burhan yang tidak sengaja terunggah itu menunjukkan hasil kecocokan 100%!


TIIINNN TIIINNN TIIINNN


"Woy, cewek jadi-jadian. Disuruh pulang Ibu. Buru. Pulang malem-malem mulu lu kaya jamet." Ikbal terus membunyikan klakson motornya.


...•▪•▪•▪•▪•...


Ushi memimpin perjalanan menuju basement, ragu, seolah masih ingin tinggal. Langkah Ushi kian bertambah ragu, ketika seorang pria yang berjaga di pos tiba-tiba keluar dari posnya dan berlari membukakan gerbang utama kediaman Zaim. Ada yang ingin disampaikan Ushi pada Zaim, tetapi Ushi tak juga menemukan kalimat pembuka yang tepat sampai detik ini. Tiap kata yang keluar dari mulut Ushi benar-benar hanya terima kasih dan maaf.


" … Pokoknya sekali lagi makasih ya, Za. Beneran deh saya gak enak sama kamu. Soalnya Nia tuh kebiasaan tidurnya jelek banget. Terus makannya ribet. Terus brisik kan kalo udah nonton drama. Apalagi kalo udah telfonan sama Vina. Kamu pasti keganggu."


"Justru sebaliknya saya seneng karna rumah saya jadi rame, Bu. Jadi berantakan juga," balas Zaim.


Ushi tertawa. "Oh iya hampir kelupaan. Kamu sama Nia lagi berantem apa gimana sih? Kok itu anak pulang sekolah gak langsung ke sini malah ke rumah Vina?"

__ADS_1


"Gak berantem sih, Bu. Tapi tadi pagi dia nyari masalah sama saya."


Spontan Ushi menghentikan langkahnya. "Ya ampun. Bener-bener ya si Nia. Nanti biar saya omelin. Tapi dia bikin masalah apa, Za?"


Zaim membuang wajahnya, menahan tawa. "Lupain aja, Bu. Kali ini saya suka kok sama masalah yang dia buat."


Ushi diam, semakin merasa tak enak hati pada Zaim yang sudah memberikan tempat tinggal sementara untuk Nia selama keluarga besarnya yang dari Malaysia datang berkunjung. Zaim pun merasa tak enak hati melihat mimik wajah Ushi yang terlihat sangat serius memikirkan masalah apa yang sudah diperbuat Nia padanya. Apa jadinya jika Ushi tahu itu benar-benar sebuah masalah yang malah membuat Zaim ingin minta tambah?


"Cuma perasaan saya aja atau emang Ibu belom pengen pulang?" tanya Zaim sembari tertawa.


"Eh? Keliatan banget emang ya?" Ushi ikut tertawa. "Sebenernya ada yang pengen saya omongin. Tapi takutnya besok kamu berangkat kerja pagi."


"Kalo gitu saya tinggal berangkat kerja siang kan, Bu." Zaim mempersilakan Ushi untuk kembali memasuki kediamannya. "Mari."


"Duh ya ampun. Bikin klepek-klepek banget sih kamu." Ushi tak henti tertawa dan kembali memimpin perjalanan.


Kini Ushi dan Zaim sudah duduk saling berhadapan, sambil menikmati secangkir teh hangat dan aneka kue kering. Setelah menghangatkan tenggorokannya dengan beberapa teguk teh melati, Ushi akhirnya menyampaikan yang sedari tadi dipendamnya. Yakni tentang benar tidaknya Nia yang adalah buah cinta Ushi dengan Burhan. Di satu sisi Ushi butuh jawaban sesegera mungkin, tetapi di lain sisi dirinya pun tak siap, jika jawaban itu pada akhirnya hanya berakhir tanpa bukti.


"Waktu itu saya ke Malaysia dadakan karna dapet kabar kalo loker saya di stasiun kebakar. Terus saya ketemu sama Pak Bastian."


Zaim meletakkan cangkir tehnya. "Iya, dia udah cerita, Bu."


"Katanya kamu nugasin Pak Bastian buat nguak masa lalu saya ya? Saya boleh tau alesannya, Za?"


"Sebelumnya saya minta maaf, Bu. Jujur awalnya saya cuma penasaran sama Nia. Tapi lama-lama jadi penasaran juga sama orang-orang terdekatnya, termasuk Ibu. Saya liat foto Ibu yang ternyata mirip banget sama Nia ..."


Ushi diam, serius mendengarkan penjelasan dari Zaim.


" … Terus menurut informasi, Ibu pernah punya anak di luar nikah. Di situ perasaan saya langsung gak enak. Saya ngerasa harus nyari tau lebih. Sekali lagi saya minta maaf atas kelancangan saya, Bu."


Ushi menggeleng menanggapi Zaim. "Saya gak masalah, Za. Justru saya berterima kasih sama kamu dan Pak Bastian. Soalnya saya juga pengen tau masa lalu saya yang sebenernya." Ushi diam sesaat, mengatur emosi. "Saya juga ngerasa Nia mirip banget sama saya. Apalagi pas pertama kali ketemu dia, kaya yang berasa langsung sayang. Tapi yang saya tau, anak saya sama Burhan itu cowok, Za."


"Boleh saya tanya sesuatu, Bu? Tapi ini cukup sensitif."


Ushi mengangguk pada Zaim.


"Ibu sampe hamil di luar nikah karena gak direstuin nikah sama almarhum Pak Burhan atau?"


Ushi mengangguk lagi. "Kamu kan tau latar belakang keluarga saya gimana. Ditambah waktu saya pacaran sama Burhan, Bapak saya nyalon lagi jadi raja. Saya udah minta restu berkali-kali, tapi Bapak saya ngungkit-ngungkit soal status sosial terus. Akhirnya saya kabur dari rumah dan tinggal sama Burhan."


"Saya udah duga awal konfliknya pasti gitu. Makanya saya langsung nyuruh Bastian nguak masa lalu Ibu. Karna Nia bisa dalem bahaya misal Bapaknya Ibu sampe tau kalo dia itu cucunya."


"Tapi belum ada bukti kan, Za. Terlepas dari semua yang saya rasain ke Nia selama ini dan keyakinan kamu sama Pak Bastian kalo Nia bener anak saya sama Burhan." Ushi diam cukup lama. "Terus waktu itu selain dokter dan Burhan, gak ada yang liat langsung anak saya."


"Ibu masih inget siapa dokter itu?" tanya Zaim.


"Masih." Mimik wajah Ushi mendadak berubah antusias. "Gimana kalo saya temuin aja dokter itu dan tanya langsung jenis kelamin anak saya?"


Zaim mengangguk mantap. "Saya bakal nemenin Ibu. Biar Bastian yang jaga Nia di sini."



...Elvina Priska...

__ADS_1


__ADS_2