
Terlihat di ruang tamu yang didesain ala kerajaan timur tengah itu, Nia, Zaim, Ushi, Vina serta Ikbal tengah menyambut dua orang tamu yang datang jauh-jauh dari Utara Jakarta. Mereka adalah Adelweiss dan sang kakak, Galang. Sosok Adelweiss langsung mencuri perhatian semua orang, tanpa terkecuali, Zaim. Bagaimana tidak? Bukankah saat ini Blackpink, girlband paling populer di Korea sedang melakukan tour keliling Eropa? Lantas mengapa salah satu anggotanya yakni Jisoo malah ada di sini?
"Ini bukan saya. Saya gak pake medsos. Jangankan medsos, wa aja saya gak pake."
"Adik saya gak lulus SD. Gak pernah dapet kursus bahasa inggris juga. Jadi chatnya gak mungkin pake bahasa inggris kaya gini," timpal Galang pada Adelweiss.
"Saya juga cuma kerja sama keluarga saya. Kalopun tangan saya cedera, saya lebih milih gak ngambil job daripada ngelibatin orang luar."
Galang mengembalikan ponsel Nia pada Zaim. "Karna keluarga aja punya potensi berkhianat apalagi orang luar kan."
"Terus misal situasi saya sama persis sama yang dibilang penipu itu, seenggaknya saya bakal bayar seratus juta per satu jam. Bukan lima belas juta per satu hari."
Galang berdeham, "Intinya yang ngirim DM ini penipu, Za."
"Berarti fix penipunya si Bunga, Kak Zaim. Soalnya dia tuh emang punya hobi ngusilin orang lewat medsos."
Ushi mengangguk-angguk menimpali Ikbal. "Ibu juga yakin kalo itu si bunga kloningan dajjal itu. Dia jelas punya dendam khusus sama Nia kalo dikaitin sama insiden di rel kereta waktu itu. Sama insiden yang pas Ibu nampar dia di rumah sakit. Duh, gimana ya baiknya?"
"Kan udah saya bilang, Bu. Ibu gak perlu pikirin itu. Kebetulan orang saya lagi ngawasin kakaknya Bunga karna gerak-geriknya aneh. Jadi kalo bener penipu itu Bunga, orang saya pasti bakal sekalian ngurus dia," balas Zaim.
"Makasih banyak ya, Za."
Zaim tersenyum pada Ushi. "Sama-sama, Bu, selama masih jadi tanggung jawab saya."
Ushi tersenyum paksa merespon apa yang baru saja dikatakan Zaim. Bincang tentang Adelweiss palsu pun berlanjut hingga tak terasa hari sudah petang. Adelweiss asli serta Galang pamit undur diri lebih dulu, disusul Nia, Ushi dan yang lain tak lama setelahnya. Namun Zaim menahan Nia, memintanya pulang belakangan karena oleh-olehnya yang dibawa langsung dari Korea sedang dalam perjalanan. Nia kegirangan, dan tiba-tiba teringat rencananya untuk menikmati oleh-oleh itu bersama Zaim sambil menonton film.
"Bu, aku nginep ya. Ini kan malming, uas juga udah kelar. Terus aku tuh rencananya mau nonton film sama Zaim sambil makan Daechang* sama Gopchang*."
*Makanan berlemak yang terbuat dari usus sapi yang dipanggang atau digoreng dengan lumuran saus barbeque. Perbedaan gopchang dan daechang adalah, gopchang biasanya dibuat dari usus kecil sapi sedangkan daechang terbuat dari bagian usus besar.
Ushi tak segera memberi Nia jawaban, sebab perasaannya yang bertambah campur aduk. Antara tak enak hati, dan takut setengah mati!
"Duh, Tante. Mikirnya lama banget sih. Udah yuk ah kita juga malmingan aja." Vina tiba-tiba menggandeng Ushi meninggalkan ruang tamu Zaim. "Selamat malmingan ya uwuw couple."
"Kita balik dulu ya, Kak Zaim." Ikbal ikut berlalu.
"Ati-ati, Bal. Kalo kelamaan kejebak macet telfon aja ya."
Ikbal hanya mengangguk pada Zaim, dan hilang dari ruang tamu terlewat megah itu menyusul Ushi dan Vina. Namun ternyata di sepanjang perjalanan pulang, pembahasan tentang Adelweiss masih belum bersambung. Tetapi bukan membahas Adelweiss palsu yang kemungkinan besar adalah Bunga melainkan Adelweiss asli yang bagai pinang dibelah dua dengan Jisoo Blackpink! Bahkan Ikbal yang semula diam seribu bahasa sampai mengesampingkan game favoritnya dan ikut buka suara.
" … Oh jadi lu diem-diem ngefans Jisoo Blackpink? Pantesan tadi lu ngeliatin Kak Adelweiss sampe melongo kaya kambing conge." Vina terbahak.
"Mana ada anjir gua begitu."
Vina masih terbahak. "Ya mana sempet lu sadar. Bikin malu Tante aja lu."
__ADS_1
"Itu bukan muka aslinya Adelweiss."
Spontan Ikbal menoleh pada Ushi. "Hah? Bukan muka asli gimana, Bu, maksudnya?"
"Ya bukan muka dia yang asli. Muka dia yang asli mah yang tau cuma keluarganya."
Vina membekap mulutnya sendiri. "Omg, jadi itu makeup, Tante? Gila ya kekuatan makeup kalo di tangan yang pro."
"Skill makeupnya Adelweiss emang bagus banget. Kalah sama mereka-mereka yang ngambil kursus makeup puluhan juta. Pokoknya Adelweiss tuh bisa niruin muka siapa aja dengan cuma modal makeup," sahut Ushi.
"Jadi penasaran sama muka aslinya Kak Adelweiss. Kira-kira cantik juga gak ya?"
"Sekali pun jelek juga masih jelekan lu. Gak usah khawatir. Predikat manusia jelek bakal jadi milik lu selamanya." Ikbal tertawa geli.
"Tuh anak Tante lagi ngomongin diri sendiri tuh, Tan." Vina ikut tertawa geli. "Tapi syukur deh masalah Adelweiss palsu ini diberesin duluan. Syukur juga Nia cerita sama aku."
"Kamu juga harusnya cerita sama Tante dong, Vin. Karna Nia tuh belom biasa terbuka sama Tante."
"Iya, Tante, iya. Tapi kan aku gak bisa ceritain semuanya. Harus aku pilih-pilih. Kaya rencana kita yang mau ke Se–." Vina refleks memukul mulutnya. "Duh."
"Kok duh sih? Bukannya dilanjutin. Se apa? Kalian rencana mau ke mana? Cepet kasih tau Tante."
"Fix ini mulut kudu dileletin cabe gendot biar gak keseringan nyeplos fix," batin Vina.
"Awas dong, Za. Lagi masak nih."
"Yaudah masak. Orang aku gak ngapa-ngapain," jawab Zaim sambil mengeratkan pelukannya pada Nia.
"Kalo kamu gak ngapa-ngapain mah udah kelar dari tadi masaknya."
"Justru kalo aku ngapa-ngapain masaknya gak bakal kelar sampe besok pagi."
"Dih." Nia memukul tangan Zaim yang melingkar di pinggangnya. "Mending bantuin masak biar kita bisa cepet nonton sambil makan."
"Gak mau. Aku maunya bantu ngasih semangat lewat sentuhan."
Nia berganti memukul kepala Zaim yang sedari tadi mengecup lehernya. "Geli tau gak."
"Mau aku ganti sensasinya jadi enak?"
"Sumpah ya. Kamu tuh harus cepet-cepet nikah biar otaknya gak sengeres itu."
"Justru kalo aku nikah otak aku malah …"
Obrolan di atas umur itu berlanjut semakin ugal-ugalan, mengalahkan hujan di luar sana. Karena hujan yang turun mendadak, rencana Nia untuk memesan pizza sebagai tambahan camilan menonton film pun gagal. Itulah kenapa saat ini Nia heboh membuat camilan pengganti di dapur, ditemani Zaim yang terus menempel seperti bayi kura-kura. Lalu di mana para pelayan Zaim? Entahlah. Siang tadi mereka masih sibuk dengan tugasnya masing-masing. Namun saat Ushi, Adelweiss dan yang lain pulang, mereka hilang secara misterius!
__ADS_1
"Jadi inget dulu kita juga sering nonton film bareng walopun beda tempat."
"Tapi aku berasa kaya lagi beneran nonton film sama kamu. Soalnya kamu brisik," balas Zaim seraya menerima suapan omelet dari Nia.
Nia tertawa. "Ya mana ada orang nonton film sediem kamu. Nonton film komedi gak ketawa, film horor lagi, malah nguap terus."
Zaim hanya ikut tertawa.
"Oya, tadi kamu bilang mau ada yang diomongin sama aku. Apa?"
"Tapi jangan marah ya, Sayang. Apalagi dianggep serius," sahut Zaim akhirnya.
"Apaan emang?"
"Misal akhirnya kita putus nih, kamu bakal gimana?"
Nia diam sesaat, berpikir sambil menjumput remahan meses di piring. "Putusnya karna apa dulu."
"Misal karna orangtua kita gak ngasih restu?"
Nia kembali diam. "Kayanya aku udah pernah jawab soal ini deh. Kan kita bisa backstreet sampe kakek nenek."
Zaim tertawa lagi, lebih geli.
"Tapi emang Kakek kamu seenggak suka itu ya sama aku?" tanya Nia.
"Justru Kakek aku tuh suka sama kamu. Kakek cuma punya masalah pribadi aja kok sama Kakek kamu."
Spontan Nia mendongak menatap Zaim. "Emang aku punya Kakek ya? Sapose?"
Zaim tak henti tertawa. "Kakeknya Ikbal kan Kakek kamu juga, Sayang."
"Iyuh. No no no. Aku gak mau ya nganggep orang sekeji itu jadi Kakek aku. No pokoknya no." Nia tiba-tiba beranjak. "Aku juga mau ngomong sama kamu. Tapi kamu jangan marah dan jangan dianggep serius juga."
"I promise, Sayang." Zaim mengulurkan tangannya, meminta Nia kembali ke pelukannya. "Apa yang mau kamu omongin?"
"Jadi sejak aku tau kalo ibu kandung aku masih hidup, tiap hari aku tuh searching soal latar belakang keluarga aku. Terutama soal Sayfudin Qazzafi …"
Ya, Nia yang sebelumnya membenci membaca, menjadi ketagihan pada bacaan terutama bacaan yang mengulas tentang sang kakek, Sayfudin Qazzafi, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Safi. Nia membaca semua bacaan tentang Safi sejak Safi menjadi Raja Malaysia untuk pertama kali, hingga kemarin, Safi yang kabarnya berada di urutan terakhir pada pemilihan Raja Malaysia periode berikutnya. Lalu bukan tanpa alasan Nia menyebut Safi keji. Nia merasa telah sangat mengenal Safi meski hanya melalui bacaan.
" … Kayanya kecelakaan pesawat yang heboh banget waktu itu tuh dalangnya si Safi deh, Za. Maksud aku pesawat yang dipilotin almarhum Kakak kamu."
...BONUS JISOO BLACKPINK...
__ADS_1