
"Masa hp gue rusak sih?"
Nia menjungkirbalikkan ponselnya, memandanginya lekat, bahkan memasang dan melepas casing ponselnya berulang kali sambil menanyakan tanya yang sama dalam hati. Bagaimana tidak? Nia memang bukan selebgram, tetapi tidak kalah dengan mereka. Setiap foto, video, atau apapun yang Nia unggah di akun instagr*mnya selalu mendapat like dan komentar dari ribuan orang. Terlebih foto selfie Nia yang tak pernah gagal, bahkan sering diberi like dan dikomentari pemilik akun bercentang biru dari berbagai kalangan.
Tapi apa-apaan? Foto selfie yang Nia unggah sebagai story sebelum berangkat ke sekolah, tidak mendapat satu pun like atau komentar meski sudah dilihat oleh lebih dari delapan ratus orang? Tidak masuk akal, bukan? Jadi wajar jika saat ini Nia kebingungan. Solusi restart dan upgrade pun tidak mempan. Nia sudah melakukannya lebih dari sepuluh kali, tetapi hasilnya sama, instagr*mnya tetap sepi! Nia berpikir mungkin karena dirinya jarang online di instagr*m, atau sangat sedikit memposting aktivitasnya. Tapi apakah itu berpengaruh?
"Oke fix, beli hp baru."
Nia cekikikan, tak menaruh curiga sama sekali jika biang keladi dari kebingungannya sepanjang pagi adalah kekasihnya sendiri. Untuk apa memusingkan hal sesepele itu? Jika memang ponsel Nia rusak, cukup tunjukkan black card dan dalam sekejap dirinya bisa menggenggam ponsel yang baru. Nia kembali cekikikan, pun kembali membuat gambar-gambar aneh di kaca jendela Goc*r. Padahal yang sebenarnya terjadi, foto selfie yang Nia unggah memang mendapat like dan komentar dari ribuan orang hingga membuat Zaim terserang migren dadakan!
"Sialan banyak banget," gumam Zaim.
Tentu saja. Memang siapa yang tidak akan memberi like dan akan tahan untuk tidak berkomentar di foto selfie secantik itu? Zaim kesal melihat stiker hati yang terus beterbangan di pojok kiri bawah. Itu benar-benar mengganggu karena terus menyembur seperti letusan gunung berapi. Zaim membatasi akses para followers Nia untuk bisa memberi like dan komentar pada apapun yang Nia posting di akun instagr*mnya. Mereka berpikir like pun komentar mereka sampai pada Nia, tetapi faktanya, itu tidak akan pernah sampai untuk selamanya!
"Sialan." Zaim masih bergumam.
"Ya? Pak Zaim?"
Spontan Zaim menoleh ke asal suara, pun ke arah lain. Itu ruang rapat. Rapat penting. Sepuluh orang manajer yang Zaim percaya untuk mengelola sepuluh tempat wisatanya sedang melaporkan pendapatan bulanan, dan apa yang malah Zaim lakukan? Zaim mengantongi ponselnya, lalu menunduk, tertawa pelan. Sepertinya menyenangkan memimpin rapat dengan menahan rasa cemburu. Orang-orang yang menghadiri rapat itu berpikir Zaim akan meminta pengulangan, namun di luar dugaan Zaim tidak butuh itu dan bahkan sudah memiliki solusi berbalut kata-kata menohok.
Zaim berdeham, "Kamu bilang apa barusan? Kita harus naikin harga tiket karna fasilitas di tempat wisata kita terlalu mewah?"
"Benar, Pak. Ja–"
"Terus kalo malah jadi sepi, kamu siap transfer saya 2,3 milyar tiap taun?"
Manajer tempat wisata cabang Jakarta Barat itu terkejut sejadinya. "I-itu cuma saran sih, Pak. Menurut saya gak sepadan aja harga tiket dan fasilitas yang kita sediain buat pengunjung."
"Berapa banyak tempat wisata yang punya konsep yang sama sama kita?" tanya Zaim lagi.
"Y-ya?"
"Lima puluh. Tapi kenapa tempat wisata kita tetep rame meskipun weekday? Karna murah tapi mewah." Zaim memutar kursinya. "Berapa total pengunjung di tempat wisata yang punya konsep yang sama sama kita di hari senin?"
Manajer cabang Jakarta Utara menjawab ragu, "Seratus tujuh puluh, Pak."
"Kalo di tempat wisata kita?"
__ADS_1
Tak ada yang bersuara, meski tiga puluh detik sudah berlalu.
"Enam ratus sembilan puluh sembilan," imbuh Zaim. "Dan kamu mau naikin harga tiket dengan konsekuensi nurunin jumlah pengunjung? Saya acc kalo kamu siap transfer saya 2,3 milyar setiap taun. Duduk."
"Baik. Terima kasih, Pak Zaim." Manajer cabang Jakarta Barat itu membungkuk berulang kali pada Zaim sebelum kembali ke kursinya.
"Silahkan laporan selanjutnya."
Manajer cabang Jakarta Utara beranjak ragu menuruti perintah Zaim.
...•▪•▪•▪•▪•...
KLEK
Terlihat Bastian sudah berada di ruangan Zaim saat Zaim kembali dari rapat. Ada sekretaris Zaim juga di sana, Nisma, yang sedang mempersiapkan makan siang Zaim. Zaim dan Bastian pun menyantap makan siang bersama tanpa berbincang sepatah kata. Suasana hati keduanya sedang tidak karuan, itulah mengapa hanya ada suara kerupuk dan timun sepanjang makan siang singkat itu. Hingga telepon dari Hendri datang.
"Hm?" Zaim meletakkan ponselnya di meja setelah diloud speaker.
"Kasih sama Bu Davina mau terbang ke Minnesota jam dua siang ini."
Suara dehaman Hendri terdengar sangat amat keras. "Mereka bilang mau netep sementara di sana."
"Gak selamanya aja biar gak bikin gua pusing."
Hendri kembali berdeham, "Mereka bakal balik kalo Kasih udah sembuh."
"Emang bisa se–"
"Terus kalo Kasih lahiran gimana? Kita ke sana gitu?" sela Bastian pada Zaim.
"Belom ada pembahasan soal itu, Bas."
"Yaudah gua otw bandara bentar lagi," balas Bastian.
"Gua titip salam aja. Masih ada rapat."
"Pak Hakam juga ada rapat, Za. Tapi ditunda. Kata Bapak kalo tempat wisata lu gak mau diakuisisi sama beliau, otw sekarang." Hendri memutus telepon.
__ADS_1
Zaim tampak kesal, tetapi demi apapun Al Hakam tidak pernah mengancam. Enak saja mengakuisisi tempat wisatanya yang tengah naik daun! Akhirnya Zaim pun mengekori Bastian ke bandara. Zaim dan Bastian langsung disambut pemandangan haru saat tiba di sana. Ya, Kasih tengah menangis pilu, begitu pun kedua orangtuanya. Kasih berpamitan pada satu per satu orang yang mengantarnya, dimulai dari sang ayah, Anto.
"Maaf ya, Sih. Papah gak bisa nemenin kamu. Papah harus tetep di sini. Kerja biar bisa menuhin semua yang kamu butuhin di sana sampe kamu sembuh."
Kasih hanya mengangguk menanggapi Anto. Lalu berganti menghampiri Hakam.
"Kakek bakal ke sana tiap minggu." Hakam mengikatkan jari kelingkingnya di jari kelingking Kasih.
"Aku tunggu," balas Kasih sambil berganti menghampiri Hendri.
"Cepet sembuh dan cepet bahagia lagi ya, Sih."
Kasih hanya tersenyum pada Hendri, kemudian menuju Bastian.
"Aku gak tau mau ngomong apa. Ini dadakan banget." Bastian menghela napas seraya mengusap kepala Kasih. "Kamu pasti sembuh."
"Makasih, Bas."
Kasih melirik Zaim, melangkah ragu menuju pria bersetelan serba hitam yang sedari tadi enggan bertatap mata dengannya.
"Aku pamit ya."
Zaim diam.
"Maaf kalo selama ini aku udah nyusahin kamu. Kamu boleh benci aku kok, Za. Aku pantes dapetin itu." Kasih diam sesaat, tangis pilunya kembali lolos meski sudah ditahan mati-matian. "Aku pamit ya. Jaga kesehatan ya, Za."
Zaim masih diam, namun perlahan, tatapannya mulai tertuju pada Kasih, pada punggungnya yang ringkih. Setelah menghela napas panjang, Zaim pun menyerukan nama Kasih. Kasih langsung menoleh, dan tanpa ragu menghambur memeluk Zaim.
"If one day you feel alone, believe that Zain will always be your side. Also us through our pray*." Zaim melepas pelukannya, lalu menatap Kasih. "Jadi kamu harus sembuh, dan jadiin Zain seorang ayah."
*Jika suatu saat kamu merasa sendiri, percayalah bahwa Zain akan selalu ada di sisimu. Juga kami melalui doa kami.
"He will. He will become dad. I promise."
*Dia akan menjadi ayah. Aku janji.
Zaim tersenyum sembari membalas pelukan Kasih.
__ADS_1