
"Nyicip coba. Beneran seenak itu apa lidah lu juga ikutan bucin?"
Zaim tak menanggapi Bastian, pun tak keberatan meski Bastian menyendok tumis ati ampelanya.
"Oh, ternyata lidah lu baik-baik aja," imbuh Bastian. "Enak juga masakannya."
"Iya tapi jangan ngelunjak dong."
Mendengar itu, Bastian refleks menahan tangannya yang hendak kembali menyendok tumis ati ampela di piring Zaim, dan berakhir menyendok isi piringnya sendiri. Setelah puas beristirahat dari dunia nyata dan dunia maya usai mengunjungi Monaco dan berburu Daechang* serta Gopchang* di Pasar Korea, Bastian langsung menjenguk Al Hakam yang sampai hari ini belum sadarkan diri. Lalu setelahnya barulah Bastian mengunjungi Zaim di kantornya dengan alasan makan siang.
*Makanan berlemak yang terbuat dari usus sapi yang dipanggang atau digoreng dengan lumuran saus barbeque. Perbedaan gopchang dan daechang adalah, gopchang biasanya dibuat dari usus kecil sapi sedangkan daechang terbuat dari bagian usus besar.
"Tapi masa itu bocil bisa masak makanan seenak ini?"
"Dia otw sembilan belas taun."
"Ya tetep aja itungannya masih bocil." Bastian menenggak habis es tehnya. "Jadi udah dua hari ini dia nganterin makan siang buat lu?"
Zaim mengangguk pada Bastian tanpa menghentikan kunyahan lahapnya. "Dia sengaja dateng pas gua rapat. Terus Nisma bilang dia gak langsung pulang tapi nyiapin makan siang dulu buat gua."
"Oh."
"Udah meronta-ronta belom?"
"Hah? Apanya?"
"Jiwa jomblo lu."
"Sialan," gumam Bastian. "Ngomong-ngomong soal Nisma."
"Oh Iya. Gimana? Bener gak gerak-geriknya yang aneh waktu itu ada kaitannya sama adeknya?"
"Ntar aja gua laporan soal itu. Yang penting lu cukup tau tinggal eksekusi aja."
"Oke selama penundaan laporan lu gak ngebahayain Nia."
"Sekali pun ngebahayain kan ada Pak Sobari yang ngelindungin dia dari jauh." Bastian mengusap mulutnya dengan tisu. "Sekarang yang lebih penting tuh nangkep orang gila yang masang Pongpong di mobil lu."
__ADS_1
*Perekam video mini yang diklaim bisa merekam apapun karena memiliki fitur tembus pandang. Pongpong juga bisa menjangkau seluruh ruangan meskipun hanya dipasang satu buah saja. Pongpong terhubung dengan aplikasi bernama serupa. Melalui aplikasi ini, pengguna Pongpong bisa memantau semua yang berhasil terekam. Kemudian hasil dari rekaman tersebut akan otomatis terunduh ke gallery dengan kualitas 1080p.
Zaim tak merespon, sibuk menikmati makan siang buatan sang kekasih yang lezat bukan main.
"Masa iya pesaing lu? Lu kan gak pernah selek sama mereka. Yang ada mereka malah pada tutup usaha terus daftar jadi karyawan lu kan? Atau jangan-jangan, Atlas*?"
*Julukan untuk kediaman/keluarga besar Joffrey Scott Atlash, hidden crazy rich Jakarta Barat.
"Lu lagi ngehina Joff? Mana mungkin dia pake cara sereceh itu buat nyingkirin saingannya," balas Zaim akhirnya.
"Iya juga sih. Si Joff juga kurang pas disebut gila. Orang dia psikopat." Bastian diam sesaat. "Kalo gitu, Safi?"
"Mungkin."
Bastian tiba-tiba beranjak. "Udah gua duga. Gua pikir dia tobat karna selama ini anteng-anteng aja. Tapi ntar dulu. Pongpong kan cuma diproduksi seratus unit di Indonesia dan itu pun udah sold out."
Zaim membuka botol air mineralnya. "Dia kan bisa bayar satu dari seratus orang itu buat beli Pongpong."
"Bener juga. Mau gua selidikin?"
"Gak usah."
"Bukan Safi."
"Lah lu bilang barusan si Safi."
Zaim beranjak. "Mobil gua yang dipasang Pongpong tuh udah ada setengah taun gak gua pake. Paling dipanasin doang sama Pak Ucil, atau dilap-lap sama Bi Nur."
"Maksud lu pelakunya orang dalem?"
"Iya. Bisa Pak Ucil, Bi Nur, Hendri, Jani, Pak Sobari." Zaim menoleh pada Bastian. "Atau lu."
Bastian menunjuk dirinya sendiri, lalu menggeleng-geleng. "Gua polisi terwaras di Indonesia. Gua tau mana lawan mana kawan. Gua bisa ngusik semua orang kecuali lu sama Atlas."
"Emang gua bilang lu?"
"Terus kenapa lu nengok gua?"
__ADS_1
Zaim tertawa sembari membuat panggilan dengan Nisma. "Pokoknya gak usah selidikin."
Bastian menghampiri Zaim. "Gak bisa gitu dong, Za. Soalnya lu barusan nuduh gua te–"
"Udah diprint kan, Nis, materi rapat tambahan dari saya? Langsung bagiin aja ya. Sama minta tolong panggilin perwakilan tim kreatif ya. Terus …"
Bastian mengeratkan giginya, untuk pertama kali, pada Zaim. Bagaimana tidak? Ini kali pertama Bastian mendapat tuduhan miring dari orang yang sudah diberinya kesetiaan penuh. Tidak bisa dibiarkan. Bastian harus menyelidiki siapa orang gila yang sudah memasang Pongpong di sedan seharga delapan triliun itu meski tanpa mengantongi lampu hijau dari Zaim. Bastian bersumpah demi apapun akan menemukan orang gila itu, walaupun dengan risiko terbesar yakni mengusik Joffrey Scott Altash!
"Gak peduli mau itu si Joff atau siapa pun, bakal langsung gua tembak," batin Bastian.
...•▪•▪•▪•▪•...
Ruangan yang disesaki aroma khas obat-obatan itu terasa begitu damai, untuk mereka yang sudah sepenuhnya terbuai lamunan, seperti Zaim. Terlihat Zaim duduk di samping ranjang sang kakek, memandang wajah keriputnya yang terhalang beragam alat bantu. Esok adalah harinya, di mana Al Hakam akan menunjukkan perubahan kondisi. Entah itu kondisi yang diaminkan Zaim setiap hari, atau sebaliknya, diaminkan oleh saingan Muezza*.
*Perusahaan milik Al Hakam yang menawarkan jasa katering diet.
"Kakek tau gak, ada berapa banyak pengganggu di hubungan aku sama Nia? Gak keitung. Tapi kecuali Kakek, semuanya bisa aku atasin. Aku bingung gimana harus ngatasin Kakek," ujar Zaim akhirnya.
Ya. Memang siapa yang tidak akan kebingungan jika ada di posisi yang sama dengan Zaim? Jika itu pengganggu yang lain, Zaim hanya perlu menjebloskan mereka ke dalam jeruji besi atau dengan kuasanya membuat pasal baru untuk menjatuhi hukuman sesuka hati. Tetapi tentu akan lain ceritanya jika pengganggu itu adalah Al Hakam. Tidak mungkin Zaim mengatasi Al Hakam dengan cara yang sama dengan pengganggu yang lain, bukan?
"Aku pikir Ushi bakal jadi pengganggu yang paling bikin stres, ternyata gak. Ushi udah balik ngasih restunya buat aku sama Nia." Zaim beranjak, lalu berjalan meninggalkan kamar rawat Hakam. "Kek, aku punya kartu as. Tapi aku janji gak bakalan aku pake."
Benar. Zaim memiliki kartu as. Kartu as yang memberinya kesempatan untuk mengatasi Al Hakam dengan cara yang elegan, yakni dengan mempreteli semua alat bantu yang menyokong hidup sang kakek sebelum esok datang. Tetapi untuk apa? Untuk apa sukses mengatasi pengganggu terbesar namun diganjar penyesalan seumur hidup? Rasanya menjalin kasih diam-diam hingga renta dengan Nia jauh lebih menyenangkan.
"Mau ditolak kaya gimanapun, ada darah Safi yang ngalir di badan Nia. Tapi aku kecewa banget kalo dengan alesan itu Kakek juga nganggep Nia sebagai dalang kematian Zain. Dan aku bakal lebih kecewa kalo besok Kakek gak bangun. Kakek harus bangun. Kakek harus balik gangguin hubungan aku sama Nia," imbuh Zaim.
KLEK
Angin tengah malam yang menyelinap di sela-sela jendela, seketika terpatri saat mendengar suara pintu yang baru saja dibanting oleh Zaim. Terlihat salah satu monitor pemantau kehidupan itu berkedip memamerkan sinar merah, tanda jika pasien berada di ambang maut. Suara segerombolan langkah kaki pun mulai terdengar mendekati kamar rawat Hakam, bersamaan dengan monitor pemantau yang lain yang akhirnya menyerukan bunyi darurat.
KLEK
"Siapin Defibrillator*."
*Perangkat yang memberikan kejutan listrik ke jantung untuk mengatasi irama jantung abnormal yang berpotensi fatal (aritmia). Alat ini juga umum digunakan pada pengidap henti jantung atau ventrikel agar detak jantung kembali ke ritme normal.
"Baik, Dok." Dua orang perawat wanita berlari saling mendahului menghampiri ranjang Hakam.
__ADS_1
"Kita juga harus siapin mental kan, Dokter Deri?"
Deri, dokter paruh baya itu mengangguk menanggapi rekan seprofesinya. "Benar. Untuk kemungkinan paling buruk."