
"Kenapa muka kamu gitu?"
"Muka kamu sendiri kenapa gitu?" Zaim balik melempar tanya.
Nia menghela napas. "Kan aku dulu yang nanya."
"You look too tired, Sayang*."
*Kamu terlihat terlalu lelah, Sayang.
"Karna abis ini aku harus les lagi. Nanti malem juga harus les lagi. Bahkan weekend yang biasanya bisa aku pake rebahan di kasur harus aku pake rebahan di kolam renang." Nia menekuk kakinya, menyandarkan ponselnya di sana.
"Les apa aja emang?" Zaim terlihat melonggarkan ikatan dasinya.
"Bahasa inggris, bahasa mandarin, stir, sama berenang."
"Trust me that'll help you in the future*."
*Percayalah itu akan membantumu di masa depan.
Nia tak menjawab. Namun ekspresi wajahnya yang tampak melalui panggilan video call itu seolah mengatakan dengan jelas, ngomong doang sih gampang!
"Aku rasa kamu masih perlu ngambil satu les lagi," imbuh Zaim.
"Enggak akan." Nia menekan setiap kata yang baru saja dilontarkannya.
Zaim tertawa. "Tapi serius ini les yang menurut aku paling penting di antara yang lain. Khususnya buat perempuan."
"Apaan emang?"
"Bela diri," jawab Zaim.
"Oh. Iya, Tan–, eh, Ibu juga rencananya mau lesin aku bela diri di tempatnya Ikbal. Tapi belom nemu waktunya. Jadwal aku udah padet pake banget."
"Daripada les di tempat resmi mending les sama aku aja ..."
Lagi-lagi Nia tak menjawab, pun tak menunjukkan ekspresi wajah yang bisa dijadikan petunjuk untuk jawaban dalam diamnya. Pikiran Nia tengah melanglang buana, ke tempat-tempat yang salah. Zaim menjadi guru les? Les bela diri? Bukankah itu terlalu berisiko? Bayangkan Zaim mengenakan seragam bela diri yang terbuka, dengan keringat bercucuran, dan napas terengah. Lalu bayangkan juga tempat les itu kedap suara, hanya bisa dimasuki Zaim dan sang murid, dan dengan kondisi Zaim yang kurang tidur.
__ADS_1
" … Kalo les sama aku waktunya fleksibel, dijamin mahir, dan gratis," tambah Zaim.
"Emang kamu bisa bela diri?"
"Bisa dong. Mau bela diri apa? Taekwondo? Karate? Silat? Aku bisa semua. Gak percaya kan? Yaudah cek aja profil aku di google."
Ya, Nia memang menatap Zaim tak percaya. Zaim tahu itu, oleh karenanya hanya merespon Nia dengan tawa. Meski begitu Nia ingin membuktikan kebenaran ucapan Zaim yang kemungkinan besar hanya tepe alias tebar pesona. Diketikkannya kata kunci Profil Zaim Alfarezi pada kolom pencarian, dan seketika muncul lebih dari lima ratus hasil. Nia mengklik hasil teratas, dan langsung melotot saat mengetahui ternyata bukan Ikbal Navarrolah pendekar yang sesungguhnya melainkan Zaim.
Berbeda dengan Ikbal yang hanya mengantongi sabuk hitam di satu jenis ilmu bela diri. Zaim adalah pemegang sabuk hitam dalam tujuh jenis ilmu bela diri. Taekwondo, karate, silat, jiu jitsu, krav maga, muay thai dan kungfu. Pantas saja otot-otot yang menghiasi tubuh Zaim terlihat berbeda. Itu adalah otot pendekar sakti mandraguna, bukan otot dari hasil mengangkat barbel secara membabi buta atau hasil mengonsumsi vitamin-vitamin pembentuk otot yang tak jelas asal usulnya.
"Jadi kamu atlet yang ikut ajang mengharumkan nama bangsa secara gerilya?"
Zaim tertawa lagi. "Soalnya waktu itu aku gak suka diekspos."
"Pasti karna gak good looking dan belom kenal skincare."
Zaim tak henti tertawa. "Jadi gimana? Mau les sama aku aja?"
"Mmm, aku bilang Tan–, eh, Ibu dulu."
"Biar aku aja yang bilang." Zaim terlihat menoleh, lalu mengangguk entah pada siapa. "Aku lanjut rapat ya. Soal les bela diri nanti aku yang urus."
"Udah bangun?"
Nia tak menjawab Ushi, malah menunjuk Zaim yang duduk di hadapan Ushi. "Kamu ngapain di sini?"
"Sekarang Zaim guru kamu. Gurunya Ikbal juga. Sekarang kamu sama Ikbal les bahasa inggris, bahasa mandarin, stir, berenang sama bela diri sama Zaim ya."
"Mau tambah les lain juga boleh," timpal Zaim pada Ushi. "Ngomong aja. Mau aku ajarin apa?" Zaim mengedipkan sebelah matanya pada Nia.
...•▪•▪•▪•▪•...
Hendri meletakkan berkas di meja, seraya menghela napas kasar. Seorang pria tegap yang duduk di depan Hendri terlihat memiliki banyak sekali pertanyaan, tetapi tak juga menemukan waktu yang tepat untuk melemparkannya. Pria tegap itu, Riko, mata-mata yang ditugaskan Hendri di kediaman Safi, akhirnya memberikan laporan yang sudah sejak lama dinanti-nanti Hendri.
Tetapi isi laporan itu tidak sesuai dengan harapan Hendri. Riko yang mendapat tambahan tugas untuk mencari latar belakang Nia, akhirnya datang membawa hasil yang sangat meyakinkan, yakni rekaman percakapan antara Nia dan Suleikah, yang mana bisa membuktikan jika Nia adalah benar cucu Safi dan Suleikah. Hendri tak henti menghela napas kasar, bingung harus bagaimana.
Riko berdeham, "Mau saya aja yang laporin ini ke Pak Hakam, Pak?"
__ADS_1
"Iya sana. Tapi abis itu kamu jadi almarhum."
Riko berdeham lagi. "Tapi kita tetep harus lapor ke Pak Hakam sekali pun tanpa persetujuan Zaim Alfarezi kan, Pak?"
"Iya makanya sana. Tapi kamu aja yang jadi almarhum. Saya mah masih pengen idup."
"Terus gimana, Pak?"
Hendri menoleh pada Riko. "Ini saya lagi mikir. Kamu bantuin jangan malah nanya-nanya mulu kaya anak playgroup."
"Buat bisa bantu kan saya harus tau dulu konfliknya apa, Pak. Boleh saya tau alesan saya ditugasin buat nyari orang yang namanya Umar Zakawat?"
"Sebenernya gak boleh. Tapi yaudahlah saya juga udah buntu banget." Hendri membenahi posisi duduknya. "Kematian Zain ada hubungannya sama salah satu orangnya Safi."
"Umar Zakawat?"
Hendri hanya mengangguk menanggapi Riko, lalu perlahan melanjutkan ceritanya. Awalnya Hakam dan Safi tidak saling mengenal, hingga kecelakaan sebuah pesawat satu tahun silam membuat mereka terpaksa berkenalan meski melalui informan bayaran. Saat itu Safi hendak kembali mencalonkan diri sebagai raja, tetapi untuk kali pertama dirinya mendapat saingan yang kuat. Safi pun langsung menyusun strategi untuk menyingkirkan saingannya tersebut. Mulai dari strategi biasa, hingga busuk.
" … Waktu saingannya ada bisnis perjalanan ke Paris, Safi ngirim Umar Zakawat buat masang bom di pesawat itu."
"Pesawat itu, maksudnya yang dipilotin Zain?" tanya Riko ragu.
"Iya. Tapi untungnya ada anggota Densus 88 di pesawat itu. Jadi bomnya bisa dijinakin. Tapi gak tau kenapa pesawat itu tetep jatoh juga."
"Tunggu-tunggu, Pak. Tapi yang saya denger gak ada yang selamet dari kecelekaan pesawat itu. Kok Umar Zakawat bisa selamet?"
"Saya juga penasaran. Apalagi Pak Hakam. Makanya saya nugasin kamu buat jadi mata-mata. Umar Zakawat itu saksi kunci. Kamu harus nemuin dia." Hendri tak henti menghela napas. "Walopun Safi tetep bakal hidup mewah di dalem penjara, seenggaknya Pak Hakam tau penyebab kecelakaan pesawat itu."
"Saya paham, Pak. Saya bakal cari tau lebih banyak biar tugas ini bisa selesai secepetnya."
Hendri memandang langit-langit. "Jangan sampai bocor. Soalnya yang tau soal ini cuma Pak Hakam, saya, dan kamu."
"Zaim?"
"Kalo Zaim tau soal ini, Safi udah jadi almarhum dari kapan tau." Hendri melirik Riko. "Pernah liat Zaim ngamuk?"
Riko hanya menggeleng enggan.
__ADS_1
"Tutup mulut kamu kalo gak mau liat Zaim ngamuk," imbuh Hendri.