
Hakam masih terbahak, meski kejadian yang membuatnya seperti itu sudah berlalu sejak setengah jam silam. Entah bagian mana yang lucu dari kejadian itu, Hendri bahkan hanya bisa menjawabnya dengan garukan kepala. Setengah jam yang lalu, di kediaman Zaim, pertengkaran membosankan kembali pecah. Bagaimana tidak membosankan? Lagi-lagi topik pertengkarannya adalah Kasih yang dibuat murka oleh ulah Zaim yang dianggapnya sebagai Zain.
Saat itu kemuakan Hakam sudah mencapai batas, dan dirinya berniat menyeret Kasih ke rumah sakit jiwa. Tetapi tak disangka, Nia tiba-tiba muncul seperti Detective Conan saat sedang menguak sebuah kasus. Benar, Nia muncul hanya dengan suaranya saja. Nia mewakili niat Hakam, secara teori. Dan hasil dari keberanian Nia tampaknya cukup besar. Kasih dan orangtuanya pergi begitu saja dari kediaman Zaim dengan mimik wajah nano-nano.
" … Karakternya cocok banget sama Zaim." Hakam mulai berhenti terbahak. "Terus gimana, Hen? Ada latar belakang Nia yang bermasalah gak?"
"Masih saya cari tau, Pak. Tapi ada beberapa yang udah bisa saya laporin." Hendri memainkan ponselnya. "Ahmad Burhanudin, almarhum bapaknya Nia gak meninggal karna pesugihan tapi murni karna sakit dalem."
"Jadi bener cuma gosip ya. Siapa yang nyebar gosipnya?"
"Pesaing almarhum, Pak. Dia jualan bakso juga. Sekarang jadi petani garam di daerah Jawa."
Hakam mengangguk-angguk menanggapi Hendri. "Faktor iri ternyata. Kalo ibunya Nia?"
"Saya baru sedikit dapet informasi soal beliau. Namanya Nila. Beliau kerja di Taiwan. Kata orang di sekitar bekas tinggal Nia, beliau ini suka kawin, matre, dan punya banyak utang." Hendri diam sesaat. "Kayanya beliau ini yang bakal jadi masalah, Pak."
"Kasih, Anto, Davina, Heri, sama semua orang yang terlibat sama masa lalunya Ushi Widhiani juga bakal jadi masalah."
"Terus gimana, Pak?" tanya Hendri ragu.
"Gimana apanya? Ya hadepin aja. Kita ada di pihak Zaim selama Nia bukan anaknya Ushi Widhiani."
Hendri diam, ragu untuk merespon. Masih ada satu informasi lagi. Meski belum sempurna untuk dilaporkan, Hendri yakin akan kebenarannya. Nia adalah anak di luar nikah Ushi Widhiani dan Ahmad Burhanudin. Orang bayaran Hendri yang sudah dua tahun menyamar menjadi salah satu pengawal keluarga Ushi bisa menjamin itu meski belum mendapatkan bukti fisik. Rumit. Bagaimana tidak? Hubungan Hakam dan Safi, ayah Ushi, benar-benar seperti kucing dan anjing!
"Hen?"
Hendri yang terlarut dalam lamunannya itu tampak terkejut. "Ya, Pak?"
"Kamu gak harus ada di pihak saya kok."
"Tapi saya gak mau jadi robotnya Zaim kaya Bastian, Pak."
Hakam kembali terbahak. "Kamu yang paling tau alesan saya ngomong kaya gitu tadi."
"Iya, Pak. Saya tau. Pak Safi ada hubungannya sama kecelakaan pesawat yang nimpa Zain dan siapa ayah dari anak yang dikandung Kasih."
...•▪•▪•▪•▪•...
__ADS_1
Vina melenggang melewati teman-teman sekelasnya yang tengah "berbisik" membicarakannya. Ternyata sukanya om-om, pantes yang sepantaran ditolakin semua. Tapi beneran gak diapa-apain sama omnya? Masa sih? Seenggaknya diituin dikitlah ya. Yaiyalah pasti biar sedikit juga kena. Iyuh, bekas om-om. Masih mending gue gak sih bekas kating? Vina mendengar "bisik-bisik" itu di sepanjang perjalanan menuju sekolah. Luar biasa! Senin yang indah!
Meski "bisik-bisik" itu mengekori Vina seperti bayang-bayang, dirinya enggan memedulikan. Namun tetap saja, Vina kepikiran. Tak seperti Vina yang biasanya menyerang tanpa pandang bulu ketika diganggu, Vina pascainsiden dikejar-kejar Pria Purnama season dua hanya melotot pada para pengganggunya. Sampai kabar tersebut sampai di telinga sahabat sehati sesanubari Vina, Nia. Nia benar-benar menghempaskan "bisik-bisik" itu dalam sekejap.
"Ngomong apa lu barusan? Ulang cepet. Gue rada budek soalnya semaleman abis telfonan sama Zaim Alfarezi." Nia mengetuk dahi salah seorang teman sekelas Vina dengan pensil.
"Enggak. Gue gak ngomong apa-apa kok."
"Masa? Tapi gue denger tuh lu ngomong apa-apa. Gimana dong?" Nia masih mengetuk dahi gadis berponi itu berulang kali. "Lu lupa gue siapa?"
"Hah? M-maksudnya?"
"Gue pacarnya Zaim Alfarezi. Mau gue kasih tau kuasanya Zaim Alfarezi segede apa? Segede datengin polisi ke sekolah, segede ngusir Kinan, Mbak kantin, dan guru-guru yang ngebully gue dari Lentera Dunia."
Wajah siswi yang disudutkan Nia di pojok ruang kelas Vina itu seketika berubah pucat.
"Lu mau didatengin polisi juga? Apa mau diusir aja dari sini kaya Kinan dan pengikutnya?"
"Sorry, Nya." Siswi itu mulai terisak.
Siswi itu melirik Vina yang berdiri tepat di belakang Nia. "Sorry, Vin."
"Diterima gak, Vin?"
"Yaudah udah. Gak penting juga." Vina meninggalkan kelasnya.
"Inget. Ini juga berlaku buat kalian semua. Gue gak peduli mau kalian mau guru-guru atau siapa pun itu, kalo ada yang berani gangguin Vina, bakal gue aduin ke cowok gue, Zaim Alfarezi. Inget."
Nia ikut meninggalkan kelas Vina, lalu buru-buru menyusul Vina yang kini tengah berjalan menuju gerbang sekolah. Suasana hati Vina belum tentu membaik meski digratisi seporsi bakso dan es jeruk. Tapi beruntunglah Vina memiliki sahabat yang tidak peka tapi pandai menghibur. Awalnya Nia ingin memberi tahu Vina jika Ikbal memiliki perasaan diam-diam pada Vina. Namun entah kenapa Nia merasa suasana hati Vina malah akan hancur berkeping-keping jika mendengar itu.
"Hanibaniswiti, gue udah 2 hari dong nginep di rumah ayang Zaim."
Spontan Vina menghentikan langkahnya. "What?"
Nia menyeringai. "Mau nginep juga gak? Di rumahnya ada kolam renang, bioskop, tempat nge–"
"Otw ayok cepet otw," sela Vina sambil menghentikan angkot dari kejauhan.
__ADS_1
"No no no hanibaniswiti. Kita gak perlu jadi bayem hari ini. Kita naik Goc*r."
"Ke Jaksel?"
"Aha," balas Nia sambil mengeluarkan sebuah black card dari saku roknya dengan mode slow motion.
"Omg-omg. Apa ini mimpi? Itu bener kartunya holkay yang itu? Boleh dedek endus? Dikit aja plis."
Nia terbahak, diikuti Vina tak lama setelahnya. Keduanya pun berangkat menuju kediaman Zaim, dengan Goc*r yang nyaman dan dingin, bukan dengan angkot yang ugal-ugalan yang panasnya sampai membanjiri ****** *****. Sama persis ketika Nia melihat kediaman Zaim pertama kali, Vina pun membuat ekspresi seperti orang yang kekurangan oksigen. Tak salah. Kediaman Zaim memang luar biasa di luar nalar, baik itu luasnya, perabotannya, dan terutama, fasilitasnya.
Selain kolam renang dan bioskop, ada pusat kebugaran juga, perpustakaan, lapangan golf, pacuan kuda, dan bahkan, sirkuit. Luar biasa, bukan? Vina tampak berlarian ke sana ke mari, girang. Kini Nia yakin suasana hati Vina sudah kembali sepenuhnya. Seolah tak memiliki rasa lelah, Vina tak henti berlarian menjepret ini itu. Hingga tak terasa hari sudah gelap. Vina pun harus kembali jika tidak ingin diruqyah oleh orangtuanya yang berubah menjadi sensitif sejak insiden tempo hari.
"Tapi, Nya, lu masih inget kan omongan kita waktu itu?"
Nia menoleh pada Vina. "Hm?"
"Gak ada yang gratis, Nya. Lu bilang di Malawi kentut aja bayar. Iya kan?"
Nia tersenyum. "Ya, mmm, gue siap bayar kok."
"Tapi lu bilang alesan Zaim suka sama lu masih abu-abu kan?"
"Dia bilang dia suka beneran kok sama gue. Dan mmm, gue mutusin buat percaya."
Vina mengangguk-angguk. "Terus lu sendiri gimana? Kemaren lu bilang lu masih ragu sama perasaan lu ke Zaim."
"Mmm, soal itu gue mau cari tau sambil jalan aja, Vin. Tapi kayanya gue juga suka sama dia deh. Ya, mmm walopun dia gak jago ciuman," gumam Nia.
"Hah? Apaan? Gak jago apaan?"
Nia menggeleng cepat. "Eh, tuh Goc*r lu udah dateng."
"Oh iya." Vina menggendong ranselnya. "Yaudah gue balik. Besok gue ke sini lagi serius. Besok gue bawa baju renang sama tongsis." Vina melambaikan tangannya. "Bye hanibaniswiti."
Nia membalas lambaian tangan Vina. "Bye ha–"
"Aku bukan gak jago, cuma meminimalisir kecelakaan fatal aja. Aku jago kok, Sayang. Ntar kamu rasain aja tiga taun lagi," bisik Zaim.
__ADS_1