HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
ROBOT BARU


__ADS_3

" … Kamu tuh masih sekolah! Kalo sampe hamil duluan kan gak lucu! Begituan tuh enaknya cuma semenit tapi nyeselnya seumur hidup tau gak!"


"Iya, Bu. Maaf," sahut Nia.


Ushi menghela napas kasar. "Mulai hari ini kamu gak boleh nginep-nginep di rumah siapa pun. Gak boleh kencan berdua aja sama Zaim, dan gak boleh keluar dari kamar walopun cuma ngambil susu di kulkas. Titik."


Nia tak menjawab, hanya menuruti perintah mutlak Ushi dengan wajah ditekuk. Kini hanya tinggal Ushi dan Ikbal di ruang makan itu. Zaim? Sudah diusir sejak setengah jam yang lalu. Zaim diusir setelah dengan percaya diri membeberkan apa saja yang sudah dilakukannya selama hampir tiga tahun memacari Nia. Beruntungnya Zaim mendapat telepon darurat dari Bastian, sehingga Zaim menganggap pengusiran itu sebagai sebuah kehormatan dan bukan sebaliknya.


"Anak zaman sekarang emang gak bisa ditinggal merem sebentar," imbuh Ushi seraya kembali menghela napas kasar. "Sekarang kamu, Bal. To the point aja ceritanya."


"Hah? Oh. Iya, Bu. Ya, sama aja sama Kak Zaim sama Nia sih, Bu."


"Sama di bagian mananya?"


"Ya sama, Bu. Sama persis." Ikbal tertawa paksa.


"Kamu budek ya? Ibu kan udah bilang, to the point."


"Ya itu kan udah to the point, Bu. Ka–"


"Kamu mau Ibu pondokin?"


"Ibu dih," teriak Ikbal. "Bikin kaget aja. Sa–"


"Gak usah kaget," sela Ushi lagi. "Orang Ibu serius. Ibu minta to the point yang jujur ya bukan yang drama."


"Iya-iya. Tapi janji jangan marah."


"Yaudah iya. Buru."


Ikbal mengatur napasnya berulang kali sebelum akhirnya menjawab, "Itu yang kaya bayi, Bu. Tau kan? Tapi sumpah cuma sekali. Gara-garanya Esa sama Falah ngecengin aku, Bu. Ngatain aku cupu. Yaudahlah aku nyoba. Sama Kinan."


Ushi diam, tetapi demi apapun, sorot matanya seperti pembunuh berantai yang akhirnya menemukan mangsa selanjutnya. Tamat sudah riwayat Ikbal. Tampaknya Ikballah yang akan dijatuhi hukuman paling berat. Bukan hukuman penyitaan ponsel atau kurungan kamar melainkan dikirim ke pondok pesantren di pedalamam Jawa atau Sumatera! Dan meski tiga, lima, sepuluh hingga lima belas menit telah berlalu, entah kenapa Ushi masih setia memprovokasi atmosfer tegang.


"Ikbal Navarro."


"I-iya, Bu," sahut Ikbal terbata.


"Kinan itu yang dulu ngebully Nia di Lentera Dunia?"


Ikbal hanya mengangguk menganggapi Ushi.

__ADS_1


Ushi tak henti menghela napas kasar. "Rumahnya di mana?"


"Dih, Bu. Ibu mau ngapain nanya-nanya rumahnya? Orang kita udah putus."


"Justru itu Ibu nanya rumahnya. Biar kalian nyambung lagi."


"Hah? Apaan sih, Bu. Ogah amat aku balikan sama dia. Enggak-enggak."


Ushi tiba-tiba beranjak, dan menghantam wajah Ikbal dengan lap. "Kamu tuh udah ngapa-ngapain anak orang ya. Enak banget kamu lari dari tanggumg jawab. Ibu gak mau tau. Anter Ibu ke rumahnya atau Ibu anter kamu ke ponpes."


Tubuh Ikbal ambruk setelah mendengar putusan hukumannya. Dan di tengah kesedihan Ikbal meratapi putusan hukumannya yang sudah tidak bisa digoyang, bel kediaman bernomor delapan itu berbunyi. Dengan sisa-sisa tenaganya Ikbal pun beranjak. Itu pasti Edo. Karena Ushi berkata Edo yang sejak minggu lalu ada di luar negeri, langsung buru-buru kembali ke tanah air setelah mendengar berita penembakan yang terjadi di sekitar kediaman Ushi. Namun.


KLEK


"Loh?"


"Kamu pasti Ikbal ya? Saya Kasih. Udah tau pastilah ya. Dulu kan saya suka bikin heboh media." Kasih tertawa. "Nianya ada? Saya mau jenguk Nia boleh?"


"Oh, boleh-boleh. Si–"


"Kenapa?"


"Kenapa mau jenguk Nia?" imbuh Edo.


"Ya? Ya karna saya khawatir. Tapi Anda ini si-"


"Itu dia. Kenapa khawatirnya sama Nia bukan sama penghuni rumah nomor enam? Kan penembakan itu kejadiannya pas di depan rumah nomor enam. Kenapa Anda khawatir seolah-olah tau kalo target si penembak ini Nia?"


Kasih diam. Tetapi bukan diam karena merasa telak melainkan puas karena prediksinya akan pertanyaan sejenis pertanyaan Edo itu tepat!


Kasih melepas kaca mata hitamnya. "Saya liat berita di tv kalo insiden penembakan ini terjadi di sekitar rumah pacarnya hidden crazy rich Jaksel. Gak ada yang gak tau dong siapa pacarnya hidden crazy rich Jaksel? Saya pikir Nia mungkin shock karna insiden penembakan itu cuma berjarak dua rumah dari rumahnya. Itulah kenapa saya berniat jenguk. Ada masalah?"


Edo tersenyum. "Gak ada sih. Tapi gimana ya? Saya terlanjur nething sama Anda, Bu Kasih."


...•▪•▪•▪•▪•...


"Intinya pacarnya brandalan itu gak kenapa-kenapa kan setelah insiden penembakan itu?"


"Betul, Pak," balas Hendri pada Hakam.


"Syukur kalo gitu. Yaudah sana kamu balik kerja."

__ADS_1


Hendri melonggarkan ikatan dasinya. "Masih ada yang mau aku sampein."


Hakam tertawa. "Oh sekarang udah ganti mode kakek sama cucu. Ya–"


"Kenapa Kakek tiba-tiba peduli sama Yesenia Eve?"


"Maksud kamu apa?"


Hendri menghela napas. "Kakek diem-diem jenguk Yesenia Eve pas dia dirawat di rumah sakit setelah jatoh ke rel. Kakek juga tiba-tiba ngirim Nisma sama adeknya ke luar negri. Kakek bahkan bayar orang buat ngawasin Heri, Bagas, Ken Izanagi sama Emily di penjara. Dan sekarang Kakek bayar orang lagi buat nemuin pelaku insiden penembakan itu. Itu semua apa namanya kalo gak peduli? Tunggu. Jangan bilang Kakek ngelakuin itu semua karna udah ngerestuin hubungan mereka?"


"Emang salah ya kalo Kakek peduli sama cucu sendiri?" Hakam menoleh pada Hendri. "Emang kamu gak peduli? Gak kasian? Dia ngehandle sepuluh perusahaan raksasa loh. Tapi masa dia masih harus ngehandle orang-orang julit juga. Kan kasian sa–"


"Aku harap Kakek gak lupa siapa orang yang hampir bikin Kakek celaka dan siapa orang yang udah bikin kita semua kehilangan Zain," potong Hendri lagi.


Mendengar itu, lidah Hakam seketika kelu. Tidak mungkin Hakam lupa pada orang yang sudah membuatnya terbaring di ranjang dengan kesakitan selama hampir tiga bulan. Pun tidak mungkin Hakam lupa pada orang yang sudah membuatnya kehilangan cucunya yang paling bisa diatur. Namun Hakam sendiri juga tak tahu tujuan sebenarnya dirinya melakukan itu semua. Apakah benar karena kasihan pada Zaim yang tidak terkalahkan itu? Sekadar iseng? Atau memang karena peduli? Atau, karena tanpa sadar telah merestui?


"Sini."


Hendri hanya beranjak malas mendekati meja kerja Hakam.


"Kamu daripada gondok gitu kan mending cepetan kasih suara."


"Suara apa?" sahut Hendri akhirnya.


"Ituloh soal Kakek yang mau ganti usaha. Kakek bosen tiap hari liat mobil ketring wara-wiri. Kakek pengen usaha sambil jalan-jalan kaya brandalan itu. Dia kan tiap bulan sidak* tuh ke kota-kota. Itu kan secara gak langsung jalan-jalan kan."


*Inspeksi mendadak (sidak) bertujuan untuk memberi secara konkret reward (penghargaan) maupun punishment (sanksi) sesuai tingkat disiplin pegawai yang bersangkutan.


Hendri tak merespon Hakam. Hanya menggeleng-geleng sembari melangkah meninggalkan ruang kerja Hakam.


"Kakek serius loh. Gimana kalo kita ngakuisisi Ziboba*? Atau Zetindo**? Atau Zistay***? Ga–


*Nama tempat minuman milik Zaim yang menjual aneka es boba.


**Nama supermarket milik Zaim yang memiliki cabang di Thailand, Singapura, Filipina dan Myanmar. Zetindo terkenal sangat lengkap, bersih, juga estetik.


***Nama hotel bintang delapan milik Zaim yang hanya ada di Indonesia. Hotel yang dikenai tarif fantastis per malam ini mengusung konsep kerajaan mulai dari interior, menu makanan, fasilitas, hingga seragam para pegawai.


BRAK


"Katanya peduli. Katanya kasian. Lah terus ngapain mau ngakuisisi salah satu usahanya si Zaim? Ngajak perang aja," batin Hendri.

__ADS_1


__ADS_2