
Nia tak henti menyunggingkan senyum salah tingkahnya, karena membaca komentar-komentar dari followers juga netizen pada foto selfienya yang tak ada habisnya. Hari ini Nia iseng mengikuti challenge makeup arabian look komplit dengan gaya pashmina ala Lesti Kejora. Setelahnya Nia pun berfoto selfie, lalu mengunggahnya ke akun instagr*m miliknya yang diberi nickname I’M YES. Di luar dugaan, unggahan terbaru Nia mendapat respon yang luar biasa, bahkan dimention langsung oleh Lesti Kejora.
“Kakak tuh gak bosen cantik terus ya?” Nia membaca salah satu komentar dari followersnya sambil berguling-guling di kasur. “Spill lipstik ombrenya dong, Kak Yes. Boleh kali bikin video tutorialnya, Kak. Kenapa ya yang bening-bening gini pasti udah taken?” Nia terbahak.
TING
“Duplikat L.K mengomentari postingan Anda. What? Duplikat siapa?” Nia buru-buru mengklik notifikasi tersebut.
@DUPLIKAT L.K: Aku di sini nyari cuan, kamu di sana malah nyari perhatian.
Nia kembali terbahak, sambil mengetikkan balasan untuk Zaim. “Ngakak ya ampun.”
@I’M YES: Abis kamu lama.
@DUPLIKAT L.K: Otw, Sayang.
@I’M YES: Demi apa baru mau otw? Udah mau jam dua juga 🙄
@DUPLIKAT L.K: Mau ketemuan langsung di restoran aja?
@I’M YES: Enggak. Aku lagi pengen senderan.
@DUPLIKAT L.K: Di pundak aku?
@I’M YES: Idih 😱
@DUPLIKAT L.K: Haha.
@I’M YES: Yaudah ketemuan langsung di restoran aja deh.
@DUPLIKAT L.K: Mana bisa aku iyain kalo kamu bilang pengen senderan? Aku udah di depan rumah kamu.
Spontan Nia menoleh ke jendela, melompat dari tempat tidur, lalu menyingkap sedikit tirai kamarnya. Terlihat Zaim tengah bersandar di pintu mobil, sambil melambaikan tangannya pada Nia.
__ADS_1
@I’M YES: I’m coming. Give me hug*.”
*Aku datang. Beri aku pelukan.
@DUPLIKAT L.K: I’m sorry i refuse cause i wanna give you everything, Sayang*.”
*Maaf aku menolak karena aku ingin memberimu segalanya, Sayang.
Aksi saling balas komentar antara Zaim dan Nia dalam unggahan terbaru Nia di instagr*m itu langsung menjadi viral. Semua pengguna instagr*m pun berjamaah mengscreenshoot percakapan Zaim dan Nia yang dinilai mereka terlampau manis seperti permen gulali yang direndam dalam madu murni. Mereka tanpa ragu bergabung dalam percakapan itu, meski Zaim dan Nia terpantau sedang offline. Dan hanya dalam hitungan detik, foto selfie Nia yang sangat memesona itu sudah mendapat lebih dari satu juta komentar. Wow!
@Wadidaw_24: Yang jomblo pake insto dulu biar gak buta wkwk.
@Akusiapa: Dunia cuma milik Pak CEO dan calon nyonyanya ihiy 😍
@Lala_yeye: Mungkinkah keuwuwan mereka adalah trik untuk mengubur insiden kuah bakso?
@Booboob111: Zaim Alfarezi mode ngegombal meresahkan banget ya, Bun 🤣
@Setitikbelek: Aku di sini nyari cuan, kamu di sana malah nyari perhatian. Seketika jadi quote of the day 😂
...•▪•▪•▪•▪•...
Emily membenahi helmnya yang longgar, sambil menepuk keras punggung ojol berulang kali, memintanya agar bergegas menuju kantor polisi. Padahal saat ini waktu hampir menuju tengah malam, tetapi apa boleh buat. Emily yang dua puluh menit lalu sedang menikmati waktu bersantainya, tiba-tiba saja teringat dengan kunci password ponsel lamanya yang belum diubah.
“Kalo sampe ada yang tau kunci password itu, abislah gue,” batin Emily, seraya kembali memburu-burui ojolnya.
Sialnya ponsel Emily ada di kantor polisi. Ponsel tersebut disita sebagai barang bukti saat Emily terseret kasus prostitusi online satu tahun silam. Ada rahasia di dalam ponsel lama Emily. Ya, rahasia itu ada pada kunci passwordnya. Karir Emily benar-benar akan tamat jika ada orang lain yang mengetahui kunci password tersebut.
“Goblok banget sih.” Emily memukul helmnya. “Mana dengan pedenya gue kasih tau Bastian lagi. Duh, gimana kalo Bastian udah dapetin hp gue?” Emily kembali memukul helmnya.
Sudah dua hari berlalu sejak pertemuan terakhir Emily dan Bastian di bandara. Jika dihitung berdasarkan itu, pun jika dilihat dari karakter Bastian yang gemar bergerak cepat, seharusnya saat ini ponsel Emily sudah berada di tangan Bastian. Meski begitu Emily tetap berharap, demi karir yang sudah dicapainya dengan tangis darah.
“Pak, tolong ngebut lagi, Pak.” Emily tak bosan menepuk punggung ojolnya.
__ADS_1
Dan akhirnya, tibalah Emily di tempat tujuannya. Emily langsung berlari tunggang langgang setelah menyerahkan helm dan memberikan selembar uang lima puluh ribu pada ojolnya. Entah sudah berapa kali Emily menabrak orang-orang. Sungguh, Emily tak sempat menundukkan kepala dan hanya fokus mempercepat langkahnya.
“Pak, saya Emily Poetri, yang satu taun lalu jadi saksi kasus prostitusi online. Waktu itu hp saya kan disita buat barang bukti. Nah itu kira-kira saya boleh pinjem sebentar gak, Pak?”
“Tidak bisa, Mbak. Cuma petugas kepolisian yang menangani kasus itu dan orang-orang tertentu aja yang boleh menyentuh barang bukti.” Seorang petugas polisi berwajah angker itu menanggapi Emily sambil melotot.
“Cuma sebentar aja kok, Pak. Lima menit aja. Atau tiga menit. Satu menit deh kalo gak bisa juga.”
“Gak bisa, Mbak.” Petugas polisi itu masih melotot.
“Jadi gini, Pak. Kontak keluarga temen saya yang meninggal hari ini cuma ada di hp itu. Jadi saya mohon, Pak. Sebentar aja. tiga puluh detik. Atau lima belas detik. Tolong, Pak. Tolong banget.”
Petugas polisi bertubuh subur itu akhirnya beranjak dari kursi, mengiyakan permintaan Emily, dan berlalu memasuki ruangan di belakangnya. Tak berselang lama, petugas polisi itu pun kembali dengan membawa ponsel Emily yang dibungkus plastik transparan. Sang petugas polisi menarik stop kontak dan kemudian memberikan barang bukti itu pada Emily.
“Saya kasih waktu lima belas detik, Mbak.”
Emily hanya mengangguk berulang kali menanggapi petugas polisi bernama Susanto itu. Setelah ponselnya berhasil diaktifkan, Emily pun langsung mengklik ikon setting dan mengganti kunci password lamanya dengan kunci password yang baru. Berhasil. Emily menghela napas lega, seraya kembali memasukkan ponselnya ke dalam plastik.
“Makasih banyak ya, Pak. Kalo gitu saya permisi. Selamat bertugas, Pak.” Emily berlalu usai menundukkan kepalanya.
Emily tersenyum sepanjang perjalanannya menuju pintu keluar kantor polisi tersebut, tanpa pernah sedikit pun menduga jika Bastian juga ada di tempat yang sama dengannya. Terlihat Bastian keluar dari ruang penyimpanan barang bukti, dan langsung meminta Susanto untuk mengaktifkan kembali ponsel Emily.
“ ... Hidden screen capture*nya beneran masih aktif, Sus?”
*Tangkapan layar tersembunyi.
“Masih, Pak.” Susanto menyerahkan ponsel Emily pada Bastian. “Silahkan, Pak Bastian.”
Bastian menerima ponsel berwarna rose gold edisi tahun 2020 itu, dan langsung mengklik ikon gallery. Bastian tampak sangat terkejut, begitu pula dengan Susanto yang sedari tadi berdiri tegap di samping Bastian. Teka-teki apalagi ini? Kenapa Emily menggunakan nama lengkap Zain sebagai kunci passwordnya?
“Zain Elfatih bukannya kakaknya Za--”
Bastian tiba-tiba menoleh pada Susanto. “Anggep kamu gak pernah tau soal ini.”
__ADS_1
“Siap, Pak.”