HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
BASMAN


__ADS_3

BYUR


Bastian menghela napas lega sembari melempar ember kosong ke sembarang tempat. Nyaris saja, api setinggi pinggang Bastian itu melahap semua loker yang ada di stasiun kereta api. Semuanya berawal dari aksi saling lempar makian antara Bastian dan bawahan Sayfudin Qazzafi, ayah Ushi, yang perlahan berubah menjadi perkelahian. Satu lawan sembilan belas. Tidak mustahil. Ya, hanya jika yang menghadapi situasi tersebut adalah John Abraham dalam salah satu film actionnya yang berjudul Attack.


"Sialan." Bastian memandang sekelilingnya.


Terlihat sembilan belas orang pria bertuxedo hitam itu tergeletak di setiap sudut stasiun, bahkan ada beberapa dari mereka yang tergeletak di tengah-tengah rel. Entah hanya pingsan atau sudah bertemu Sang Khalik, yang jelas tak lagi terdengar suara mereka merintih. Bastian tidak menyangka semuanya akan berakhir menjadi sangat menyebalkan. Ternyata orang-orang berpostur seperti Yeti itu tidak tahu cara bertarung. Meski begitu Bastian mengagumi kesetiaan mereka sebagai penjaga loker.


"Apaan sih emang isinya ini loker sampe harus dibakar?" Bastian menaiki loker yang ambruk.


Benar, beberapa menit lalu sebagian kacung Sayfudin nekat membakar loker berjumlah lima puluh pintu itu saat Bastian sibuk meninju sebagian kacung Sayfudin yang lain. Beruntung Bastian bergerak cepat sehingga loker milik Ushi berhasil diselamatkan. Bastian semakin penasaran perihal isi loker bernomor nol tiga itu sampai-sampai harus dibayar dengan perkelahian berdarah dan bahkan kebakaran yang berpotensi besar melumpuhkan transportasi di Negeri Jiran itu esok hari.


"Isinya cek kosong pun rasanya gak sepadan." Bastian membuka loker Ushi.


KLEK


Alih-alih cek kosong sungguhan, isi loker yang sudah dijaga selama bertahun-tahun seperti menjaga kuburan Patih Djojodigdo itu nyatanya hanya berisi sampah percintaan. Ada puluhan surat berperekat hati yang diikat menjadi satu dengan tali berwarna senada. Juga seikat bunga mawar kering yang tak terhitung jumlahnya. Boneka beruang berukuran sedang yang memeluk bantal hati, kotak musik, snow globe, dan sebuah amplop misterius yang sepertinya belum atau sengaja tidak dibuka oleh Ushi.


SREK


"Siapa nih? Kaya gak asing." Bastian memandangi selembar foto bayi yang tertidur, sambil merogoh isi amplop yang lain. "Voice recorder?"


Sayang. Maaf. Aku salah. Semuanya– Keluarga kamu– Hidup bahagia sa–


"Sialan. Segala ngadat lagi." Bastian memukul voice recorder itu ke telapak tangannya berulang kali.


Aku terpaksa pergi. Ka– Keluarga kamu de– Ka– Pergi dari sana sa–


"Anjing." Bastian langsung beranjak ketika suara seorang pria yang sedari tadi didengarnya itu kian terputus dan mengecil. "Ngerjain gua aja."


"Pak Bastian?"


Spontan Bastian menoleh ke asal suara. "Jani? Kok?"


"Saya khawatir makanya saya nyusul ke sini."


"Aman kok aman. Tapi gak tau deh kalo dia sama temen-temennya." Bastian menyenggol seorang pria yang tergeletak tepat di samping kakinya.


"Biar saya yang urus mereka, Pak."


"Ya emang cuma kamu kan yang bisa ngurus. Ini kan wilayah kamu," balas Bastian.


"Dan udah jadi tugas saya juga." Jani menghampiri Bastian. "Jadi, apa isi lokernya, Pak?"

__ADS_1


Bastian menunjukkan voice recorder yang sedari tadi digenggamnya. "Ini. Sama foto bayi."


"Foto bayi? Jangan-jangan itu anaknya Ushi Widhiani sama Ahmad Burhanudin? Tapi bukannya pihak rumah sakit bilang anaknya Ushi Widhiani meninggal pas proses kelahiran ya?"


"Saya belum bisa jawab. Saya harus nyervis voice recorder ini du–"


DORR


BRUK


"Maaf, Pak Bastian," sela Jani sambil memasukkan kembali pistolnya ke dalam jaket. "Andai saya punya pilihan." Jani mengambil amplop dan voice recorder dari genggaman Bastian.


...•▪•▪•▪•▪•...


BUG


Zaim mengernyit, ketika sebuah bantal rumah sakit tiba-tiba terbang menampar wajahnya yang mengantuk. Jujur saja Zaim amat sangat jengkel, tetapi menunjukkan emosi itu pada pasien dengan gangguan jiwa bukanlah sikap yang baik, bukan? Hari ini Zaim mengunjungi Kasih yang belum juga diizinkan pulang oleh dokter pribadinya. Namun sungguh, Zaim sama sekali tak menyangka kedatangannya akan disambut dengan semeriah itu.


"Bisa ya kamu terang-terangan ngaku ke publik kalo kamu selingkuh sama anak SMA!"


Zaim tak menjawab, hanya menghela napas seraya memungut bantal di lantai.


"Aku istri kamu dan aku lagi hamil anak kamu, Za!" Kasih masih berseru.


"Udah-udah. Yang penting kan suami kamu udah dateng." Davina, ibu Kasih, memeluk Kasih.


Anto menghela napas. "Sibuk apa sih kamu, Za? Luangin waktulah buat Kasih. Perutnya kan makin gede."


"Papah masih tanya dia sibuk apa? Bukannya udah jelas? Dia sibuk selingkuh sama anak SMA itu!" Seruan Kasih kian menggelegar.


"Kan udah Mamah bilang itu cuma gosip. Iya kan, Za?"


Zaim tak menanggapi Davina, hanya duduk bergabung dengan Anto, dokter pribadi Kasih, serta sahabat Kasih, Emily. Berbeda dengan Kasih dan kedua orangtuanya yang sedari tadi terus memojokkan Zaim, dokter pria paruh baya beserta gadis blasteran Jawa Turki berusia dua puluhan itu malah menujukan pandangan kasihan pada Zaim. Wajar saja. Zaim harus berperan menjadi Zain untuk waktu yang tidak dapat ditentukan, dan memadu kasih dalam gerilya.


"Za, jawab Mamah dong," imbuh Davina.


"Iya."


"Bohong! Gak mungkin itu cuma gosip! Kamu bahkan sampe ngancem media kalo mereka sampe berani ganggu selingkuhan kamu itu! Iya kan?"


"Iya," balas Zaim pada Kasih.


"Keterlaluan kamu, Za!" Anto tiba-tiba beranjak. "Kamu tuh seharusnya kasih jawaban yang bisa nenangin istri kamu dan bukan sebaliknya! Kamu tuh bener-bener gak punya rasa kasian apa gimana sih hah?"

__ADS_1


"Tega banget kamu, Za." Davina mulai terisak. "Kalo kamu emang gak peduli lagi sama Kasih, seenggaknya peduli dong sama anaknya."


KLEK


"Ini stadion apa kamar pasien?" Hakam, kakek Zaim, tiba-tiba muncul. "Gimana kondisi kamu? Udah enakan?"


Kasih diam, hanya menghambur memeluk Hakam.


"Jangan mikir yang gak-gak. Kamu kan tau setianya Zain sama kamu gimana. Tanya Emily. Iya kan, Mil?"


Emily mengangguk-angguk menanggapi Hakam. "Setiap terbang ke mana pun Kak Zain selalu bawa foto Kasih. Katanya rasanya kaya Kasih pun ikut terbang keliling dunia sama Kak Zain."


"Tuh, denger. Udah dong nangisnya." Hakam mengusap air mata Kasih. "Yang brengsek kan Zaim bukan Zain."


"Kalo nuduh harus disertai bukti biar afdol, Kek."


"Ngediemin cewek yang lagi nangis bukannya brengsek?"


"Bukanlah selama bukan cewek kita. Bahaya dong kalo muka begini ngediemin semua cewek yang lagi nangis." Zaim menunjuk wajahnya.


Spontan Hakam terbahak. "Oke. Satu kosong. Ta–"


DDDRRRTTT


"Maaf, sebentar, Kek." Zaim merogoh ponselnya dari saku celana, melihat siapa yang meneleponnya. "Nanti aku tel–, apa?" Zaim diam sesaat, berpikir. "C."


"Bukan A?" 


"Gak ada tanah organosol di Jawa Tengah."


"Terus kata siapa ada tanah orgonosol di Sumatera Timur?" Suara Nia terdengar berbisik melalui panggilan telepon.


"Tanah organosol emang ada di sana sama di Kalimantan Selatan."


"Oke fix, jawabannya C. Dua lagi. Dengerin. Angin bertiup dari daerah bertekanan tinggi menuju daerah bertekanan rendah. Pendapat ini berasal dari ahli meterologi Belanda …."


"Buys Ballot."


"Bukannya Galileo?"


Zaim menunduk menyembunyikan wajahnya, menahan tawa. "Galileo bukan dari Belanda tapi dari Italia."


"Oh, baru tau. Oke terakhir. Dengerin. Serius ini susah. Jika diketahui jarak dari kota X ke kota Y di peta 10 sentimeter dengan skala 1:100.000, maka berapa jarak sebenarnya? 10 sentimeter, 100 sentimeter, 1000 sentimeter, 10 kilogram, apa 1 kilogram?"

__ADS_1


"Bentar." Zaim menoleh pada Hakam. "Jika diketahui jarak dari kota X ke kota Y di peta 10 sentimeter dengan skala 1:100.000, maka berapa jarak sebenarnya? 10 sentimeter, 100 sentimeter, 1000 sentimeter, 10 kilogram, 1 kilogram?"


"Sepuluh sentimeter," jawab Hakam kilat.


__ADS_2