HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
AKHIR MONICA YIN?


__ADS_3

"Anak sekolah zaman sekarang pulangnya jam berapa sih?"


"Jam setengah dua, Mbak."


Spontan Jani menoleh ke asal suara, lalu mengucap terima kasih pada seorang driver ojol yang berbaik hati menjawab tanya bosannya.


"Tapi yang saya tau beda-beda sih, Mbak, jam pulang tiap-tiap sekolah."


Jani kembali menoleh pada si driver ojol baik hati. "Saya cukup tau jam pulang anak SMA Andalan Teladan kok."


Si driver ojol baik hati hanya tersenyum menanggapi Jani, dan langsung tancap gas saat seorang penumpang menghampirinya. Wajar driver ojol tersebut berani menegur Jani karena menganggap Jani rekan seprofesinya. Bagaimana bisa? Karena saat ini Jani tengah mengenakan atribut driver ojol lengkap dengan sepeda motor berstiker resmi. Jani sedang dalam misi melindungi Nia secara diam-diam, itulah alasan Jani bercosplay seniat itu.


Dan akhirnya, waktu pun menunjukkan pukul tiga belas tiga puluh. Persis seperti yang dikatakan si driver ojol baik hati, lonceng pulang sekolah menengah atas yang terkenal dengan kantinnya yang seperti pasar tumpah itu pun berdering. Tak berselang lama, terlihat Nia muncul dari balik gerbang Andalan Teladan. Nia tampak berbincang seru dengan teman-teman wanitanya di pinggir jalan, dan dijemput oleh driver ojol sekian belas menit kemudian.


Jani pun membuntuti Nia hingga ke kediamannya. Setelahnya Jani kembali mengawasi Nia di sebuah rumah yang menghadap tepat ke rumah Nia. Rumah itu dibeli Zaim tahun lalu untuk keperluan kelancaran misi. Bastian adalah orang pertama yang menempatinya ketika mendapat misi yang sama seperti Jani. Enam hari sudah Jani menjalankan misi tetapi belum ada tanda-tanda kemunculan Monica, kakak sambung Nia. Namun hari ini.


Jani menurunkan standard motornya. "Siapa tuh? Jangan-jangan Monica yang anaknya tukang Gua Bao* itu?"


*Gua Bao mirip dengan sandwich, hanya saja isinya daging rebus yang sudah dibumbui. Daging yang biasanya digunakan untuk isian adalah daging babi. Namun ada juga isian daging sapi, ayam, telur atau ikan. Gua Bao disajikan dengan tambahan acar sawi, daun ketumbar, kacang tanah, dan mustard. 


Terlihat dari tempat Jani memantau saat ini, seorang wanita bersetelan semi formal turun dari taksi dan langsung menghampiri Nia yang seperti biasa tengah mengobrol dengan teman-temannya sambil menunggu ojolnya datang. Jani tak bisa melihat jelas bagaimana rupa wanita itu, tetapi Jani langsung menaikkan standard motornya kembali dan bergegas menghampiri Nia saat wanita misterius itu memaksa Nia untuk masuk ke dalam taksi.


" … Udah saya bilang gak mau." Nia menepis tangan Monica.


"Plis, Nia. Sebentar aja. Ada yang mau saya omongin sama kamu sebentar aja."


"Yaudah ngomong di sini aja."


"Gak bisa. Kalo ada yang denger bisa panjang urusannya. Sebentar aja. Saya janji gak ba–"


"Dia gak mau, Mbak," sela Bastian seraya menahan tangan Monica yang hendak kembali menarik Nia. "Gak boleh dipaksa dong kalo gak mau."


"Siapa kamu? Jangan kurang ajar ya. Cepet lepasin saya."


Bastian langsung melepaskan tangan Monica. "Mbaknya ada urusan apa emang sama Yesenia?"


"Loh, Pak Bastian?"


Spontan Bastian menoleh. "Eh, Jan? Ngapain kamu di sini?"

__ADS_1


"Bapak sendiri ngapain di sini?"


"Saya lagi nyari orang ya–"


"Stop. Kalian kalo gak ada urusan sama Nia mending jangan pada ganggu dan lanjutin aja obrolan kalian di kafe." Monica berganti menyela Bastian.


"Mbaknya juga kan katanya mau ada yang diobrolin sama Yesenia. Terus kenapa gak ngikut ke kafe aja sekalian?"


Monica tak menjawab, sibuk menahan emosinya yang sudah sampai di ubun-ubun. Merasa waktu yang diberikan Zaim untuknya meninggalkan Indonesia semakin menipis, Monica pun mengekor saat Bastian memimpin perjalanan menuju salah satu kafe di sekitar Andalan Teladan. Saat tiba di kafe, tanpa ragu Bastian dan Jani menarik kursi tepat di samping meja Monica dan Nia. Tentu saja Monica sangat amat terganggu, tetapi apa boleh buat.


"Maaf ya, tadi saya udah maksa-maksa kamu. Soalnya saya ada penerbangan jam lima sore ini," ujar Monica pada Nia.


"Oh, Kakak udah mau balik ke Taiwan?"


Monica mengangguk. "Saya harus pulang karna udah gak ada yang bisa saya lakuin lagi di sini."


Nia diam, bukan karena merasa bersalah. Justru sebaliknya, merasa tenang. Sebab bagi Nia, beradu tatap lagi dengan orang yang sudah menganiayanya sejak kecil setelah sekian lama hanya akan membuat traumanya kambuh!


"Saya minta maaf ya, kalo saya ada salah sama kamu. Jujur aja sebelum ke sekolah kamu saya udah coba ke rumah kamu tapi saya diusir sama Ibu kamu. Jadi, tolong sampein juga maaf saya ke Ibu kamu ya."


"Iya."


"Saya harap, pelan-pelan kamu bisa buka pintu maaf kamu buat Mamah."


Monica tersenyum. "Makasih, Nia. Jangan ragu hubungin saya ya, kalo kamu udah siap buat nemuin Mamah ke Taiwan …"


Bastian dan Jani yang merasa tidak ada tanda-tanda kejahatan yang akan dilakukan oleh Monica, seketika berhenti menguping. Keduanya pun perlahan mulai mengobrol dengan topik yang berbeda.


" … Jadi sebelum kecelakaan pesawat, Zain sempet ngasih hp ke Kasih."


"Iya. Saya yakin ada petunjuk penting di hp itu," sahut Bastian pada Jani. "Setelah saya selidikin, ternyata hp itu masih aktif. Ada pelacak lokasi di hp itu dan ngarahnya ke Andalan Teladan."


Jani mengangguk-angguk. "Tapi hp itu mau dibuat apaan, Pak? Kan Emily udah ngakuin kesalahannya dan dapet hukuman yang setimpal."


"Zaim bilang hp itu mungkin bisa bantu penyembuhan Kasih."


"Bener juga. Terus gimana pe–"


"Sinyal hp itu ada di sektiar sini," sela Bastian yang tiba-tiba beranjak. "Enggak. Lebih tepatnya ada di kafe ini."

__ADS_1


Bastian menyelisik seisi kafe, dibantu Jani. Sinyal pelacak lokasi di ponsel tersebut pun semakin kuat, ketika Bastian mendekati pintu masuk kafe.


"Yoshi? Sialan!" Bastian berlari mengejar Yoshi yang baru saja keluar dari parkiran kafe bersama seorang gadis SMA berseragam Andalan Teladan.


...•▪•▪•▪•▪•...


KLEK


"Kak Bunga?"


Bunga, kekasih Ikbal melambaikan tangannya pada Nia seraya tersenyum paksa. "Ikbalnya ada?"


"Belom pulang, Kak." Nia membuka gerbang rumahnya lebar. "Tunggu di dalem aja yuk, Kak."


Bunga mengucap terima kasih pada Nia, dan berlalu memasuki kediaman mewah yang diapit pohon rambutan rapiah yang tengah berbuah itu. Sambil menyedot jus semangka tanpa biji, Bunga pun berkeluh kesah pada Nia perihal hubungannya dengan Ikbal yang tengah berada di ujung tanduk. Saat kencan malam minggu lalu, ternyata Bunga dan Ikbal bertengkar perihal sepele. Pertengkaran itu pun berujung pada perpisahan secara sepihak.


" … Kakak tiba-tiba diblock. Kakak udah coba ke sekolah kalian beberapa kali tapi dia sengaja ngehindar. Terus yaudah Kakak gak punya pilihan selain ke sini dadakan gini. Maaf ya," terang Bunga pada Nia.


"Gak apa-apa, Kak. Aku bisa ngerti kok kalo ada di posisi Kak Bunga."


"Makasih." Bunga mengusap air matanya. "Tapi kira-kira Ikbal kapan pulangnya?"


"Aduh. Kurang tau, Kak. Aku gak bisa nelfonin juga lagi. Soalnya hp aku disita Ibu. Oh iya lupa. Zaim kan bisa nelfonin. Dia udah otw ke sini ka–"


"Demi apa?" Bunga tiba-tiba saja beranjak.


"Aduh kaget."


Bunga tersenyum paksa sambil kembali duduk di sofa. "Maaf-maaf. Kamu kan tau sendiri Kakak ngefans banget sama Zaim Alfarezi." Bunga berdeham, "Yaudah, nunggu Zaim Alfarezi aja nelfonnya."


Nia ikut tersenyum paksa. "Aneh banget. Kok bisa ya, tadi nangis sesenggukan tapi sekarang mendadak girang gitu," batin Nia.


Tak berselang lama, Zaim pun tiba. Bunga tampak salah tingkah, apalagi ketika Zaim bersedia menjabat tangannya. Namun alih-alih diteror cemburu, Nia malah ingin tahu bagaimana rasanya memiliki seorang idola. Nia pun langsung meminta Zaim menelepon Ikbal untuk memberitahu kedatangan Bunga. Ikbal berkata sudah dalam perjalanan pulang. Setelahnya Nia serta Zaim yang memang ada rencana untuk makan malam di luar pun pamit.


" … Anggep aja rumah sendiri, Kak. Bentar lagi Ikbal juga pulang kan. Kalo gitu kita jalan ya."


"Iya. Makasih sekali lagi ya, Nia, Kak Zaim. Ati-ati di jalan." Bunga tersenyum sambil membalas lambaian tangan Nia, lalu kembali masuk ke dalam rumah saat Nia dan Zaim hilang dari balik gerbang.


KLEK

__ADS_1


Bunga bergeming di depan pintu sembari menyelisik setiap sudut rumah Nia. Entah apa yang sedang dicari-cari Bunga, tetapi lambat laun wajah polosnya berubah menjadi menyeramkan. Bunga tiba-tiba saja menyeringai saat mendapati kamar tidur Nia yang ada di lantai dua itu tidak tertutup rapat. Bunga pun melangkah menuju kamar tidur Nia, berniat melakukan sesuatu yang hanya dirinya, Tuhan, dan author "HATIKU TELAH DIJLBE-JLEBIN KAMU" yang tahu.


"Kayanya bakal ada yang bisa dishare di grup penggemarnya Zaim Alfarezi nih." Bunga kembali menyeringai.


__ADS_2