HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU

HATIKU TELAH DIJLEB-JLEBIN KAMU
END SEASON 2


__ADS_3

"Gila-gila. Cuma keluar dari mobil terus jalan bareng masuk ke lobby rumah sakit aja udah kaya scene di film action," puji Ikbal tanpa mengalihkan pandangannya dari layar televisi.


"Cowok gue tuh."


"Ngerusak suasana aja sih lu anjir," sahut Ikbal pada Nia.


"Dih kan emang cowok gue. Ngerusak suasananya di bagian mana coba? Lu aja yang sensian kaya cewek lagi dapet."


"Kalian ini emang gak pernah akur ya." Edo meletakkan minuman di meja. "Pantes Ibu kalian kerjaannya ngomel tiap hari."


Ikbal buru-buru menyambar minuman viral buatan Edo dan menenggaknya. "Ini beneran cuma y*kult campur m*gu-m*gu doang, Om? Kok bisa enak banget?"


"Kan bikinnya pake hati." Edo tertawa. "Cepet abisin minumnya terus pada tidur. Besok kan hari pertama kalian masuk sekolah. Kalo Ibu kalian tau kalian belom tidur bisa-bisa dia mogok masaknya gak cuma seminggu tapi selamanya loh." Edo tertawa lagi.


Nia dan Ikbal hanya ikut tertawa menanggapi Edo. Setelah berusaha mati-matian merayu Ushi yang ngambek karena keinginannya untuk menyerahkan Bunga pada Monaco ditentang oleh semua pihak, Ikbal dan Nia akhirnya menyerah. Merasa kehabisan tenaga merayu sang ibu, Ikbal dan Nia pun memutuskan merampok isi kulkas sembari menonton acara televisi.


Tak berselang lama, Edo yang mengantar kepergian Zaim pun muncul. Edo menawarkan minuman viral dengan syarat Nia dan Ikbal harus tidur setelahnya. Tentu saja Nia serta Ikbal setuju. Mereka menanti minuman yang kerapkali wara-wiri di beranda inst*gram itu sambil menonton acara televisi yang tak henti menyorot secara bergantian wujud rupawan Zaim dan Joff.


"Cowok yang di sebelahnya Kak Zaim siapa sih, Om?"


"Joff. Joffrey Scott. Yang punya Atlas."


"Apaan tuh Atlas? Peta?" tanya Ikbal lagi.


Spontan Edo tertawa. "Bukan. Bukan Atlas yang itu, Bal. Atlas tuh julukan buat rumahnya Joff atau keluarga besarnya. Atlas nguasain bagian barat Jakarta."


"Hidden crazy rich juga berarti ya. Tapi wilayah Barat. Kalo Zaim kan wilayah Selatan."


Edo mengangguk pada Nia. "Kurang lebih gitu. Tapi bisnis mereka beda. Kalo Zaim kan bisnisnya postif. Nah kalo Joff ini sebaliknya. Dia bisnis narkoba sama senjata api. Tapi gak kesentuh karna pelanggannya orang-orang gede."


Ikbal ikut mengangguk-angguk. "Pantes. Kayanya kuasanya Joff lebih gede dari Kak Zaim ya, Om. Soalnya aku perhatiin dari tadi bener-bener gak ada yang berani deketin lobby rumah sakit selain tenaga medis sama keluarga pasien. Terus media juga kayanya ati-ati banget."


Benar. Terlihat dari berita yang saat ini tengah ditayangkan salah satu stasiun televisi, langkah Monaco dan orang-orangnya seperti dipaksa mundur oleh ancaman tak kasat mata. Mereka hanya berdiri menatap lobby rumah sakit. Mereka sudah melakukan itu sejak berita tentang Bunga yang diantar ke rumah sakit oleh hidden crazy rich Jaksel dan hidden crazy rich Jakbar dirilis!


Dan di tengah kejenuhan situasi di depan rumah sakit, ternyata diam-diam Zaim sedang bercakap dengan Monaco melalui sambungan video call. Zaim tak mau tahu lebih perihal bagaimana Monaco dan orang-orangnya bisa menerobos pengamanannya di bandara. Zaim hanya ingin menawarkan kesepakatan kepada calon ayah mertuanya tersebut.


" … Terus yang Anda takutin pasti soal itu kan? Soal gimana kalo netizen atau media sampe tau penyebab foto kecil Nia sampe sememprihatinkan itu karena dianiaya istri Anda. Iya kan?"


"Ya mana mungkin saya mau buang-buang uang dua koper kalo bukan demi istri sama anak saya," sahut Monaco pada Zaim.


"Anda gak perlu khawatir, Pak Monaco. Katanya Atlas berani jamin gak bakal ada netizen, media, atau orang idup di bumi ini yang bakal tau penyebabnya selain kita." Zaim menoleh pada Joff. "Iya kan, Joff?"


Terlihat Joff hanya mengangguk sambil terus menjejali senapannya dengan peluru.


"Oke kalo gitu."

__ADS_1


Zaim tersenyum pada Monaco. "Ada lagi?"


Bowen, polisi paling berpengaruh di Taiwan sekaligus kenalan Monaco berdeham, "Soal kasus ini yang berkaitan sama hubungan antar negara gimana? Kan harus dikelarin dengan menjarain pelaku. Terus saya mau terlibat juga bukan karna sogokannya uang dua koper aja loh. Tapi ini bentuk kampanye saya. Taun depan kan saya mau nyalon Presiden."


"Soal itu Anda juga gak perlu khawatir, Pak Bowen. Bapak pasti jadi Presiden. Saya bakal jadi pendukung utama Bapak."


Bowen kembali berdeham, sembari menahan girang. "Oke kalo gitu. Setuju-setuju."


"Ada lagi?"


Tampak Monaco dan Bowen menggeleng bersamaan.


"Kalo gitu, Pak Sobari. Tolong anter Pak Monaco, Pak Bowen dan temen-temennya ke bandara ya," imbuh Zaim. "Oh iya satu lagi. Pak Monaco, ini yang terakhir ya, Anda dan orang-orang Anda masuk Indonesia. Besok-besok kalo Anda masih nekat, urusannya sama Atlas. Oke?" Zaim mengakhiri panggilan video call itu setelah mengedipkan sebelah matanya.


"Atlas siapa? Lebih bahaya dari Zaim Alfarezi?"


"Gimana saya jelasinnya ya, Pak," balas Sobari pada Monaco. "Intinya kalo Pak Zaim yang punya Indonesia, Pak Joff itu yang bisa ngeratain Indonesia."


...•▪•▪•▪•▪•...


Terlihat mobil Ushi baru saja memasuki gerbang SMA Andalan Teladan, mengekori mobil para guru. Namun meski mesin mobil berbentuk roti tawar itu sudah mati, Nia dan Ikbal tampak tak bergegas. Wajar. Keduanya merasa belum puas dengan libur panjang yang diberikan sekolah. Terlebih, keduanya malas karena yakin betul jika berita viral Nia tempo hari akan menjadi bahan gunjingan semua penghuni Andalan Teladan!


"Pada nungguin apaan? Nungguin Ibu meleduk? Itu belnya udah bunyi juga."


"Males, Bu. Pasti heboh. Pasti banyak yang nanya-nanya gak penting." Ikbal menarik ikat rambut Nia. "Gara-gara lu nih."


"Bodo amat. Heh, lagian dari sekian banyak motif ****** ngapain lu milih yang motifnya stroberi sih? Lu kan bukan anak TK. Terus emang otak lu sekosong itu ya sampe nilai ulangan aja kaya nomer absen?"


"Heh, sampul buku lu hello kitty aja gue gak protes. Ngapain lu protes? Terus emang otak gue doang yang kosong? Nilai ualngan lu malah kaya peringkat lomba tau gak."


"Enak aja. Terus nih ya gua kasih tau. Mau seburik apapun, foto kecil tuh dipajan bukan diumpetin. Biar gak jadi senjata makan tuan kaya gini. Contoh gua dong contoh. Foto kecil gua pas lagi disunat aja dipajang di ruang tamu. Lu ma–"


"Stop-stop," sela Ushi pada Ikbal. "Kalian mau lanjut berantem apa masuk kelas?"


"Jangan jalan bareng gua. Awas lu." Ikbal memelototi Nia seraya keluar dari mobil.


Ushi menghela napas. "Kalo kamu dibully atau dilecehin sama temen-temen atau guru-guru kamu lagi langsung bilang ke Ibu. Ngerti?"


Nia tak menjawab, hanya keluar dari mobil dengan mulut monyong.


"Itu anak bener-bener ya. Kupingnya cuma pajangan apa gimana sih? Gak bisa dibiarin."


"Shi." Edo menahan Ushi yang hendak mengejar Nia. "Aku bisa ketinggalan pesawatku nih."


Ushi kembali menghela napas menanggapi Edo, dan terpkasa melanjutkan agenda padatnya hari itu. Di sepanjang perjalanan Ushi terus merasa khawatir pada Nia. Khawatir kalau-kalau Nia akan kembali dirundung atau dilecehkan. Namun, sia-sia saja Ushi mengeluarkan tenaga untuk hawatir. Karena di luar dugaan, tak ada satu pun teman-teman maupun guru-guru yang membahas berita viral Nia beberapa waktu lalu.

__ADS_1


Sebaliknya, mereka malah membahas topik lumrah seperti kegiatan yang mereka lakukan selama libur sekolah sambil melepas rindu satu dengan yang lain. Nia yang semula merasa sama khawatirnya dengan sang ibu pun seketika mengikuti arus. Hari pertama sekolah yang digadang akan menjadi hari terburuk nyatanya malah menjadi hari yang paling membahagiakan, penuh canda, serta kejutan.


Kejutan? Ya kejutan. Karena Denar tiba-tiba saja memanggil Nia ke ruangannya dan memberi sebuah kado sebagai bentuk rasa bangganya pada Nia yang sudah kuat menghadapi masalah dan bahkan tetap bersemangat pergi ke sekolah. Tak hanya itu, usai bel pulang sekolah berdering, Zaim pun ikut memberi kejutan. Zaim tiba-tiba menjemput Nia di sekolah, dan membisikkan ajakan kencan romantis!


" … Sumpah ini rasanya kaya kepiting saos padang bikinan Ibu," ujar Nia sembari menerima suapan daging kepiting dari Zaim.


"Kapan bikinnya? Pas di pondok Bukit Pelangi?"


Nia mengangguk. "Abis ini kita ke situ lagi yuk? Fotoin aku di batu karang yang itu. Terus pesen kepiting saos padang lagi dong."


"Anything for you, Sayang*."


*Apapun untukmu, Sayang.


"Duh mimpi apa ya aku sampe dimanjain cowok super seksi begini."


Zaim hanya tertawa menanggapi Nia.


Nia ikut tertawa. "Oh iya lupa. Aku kan mau live inst*gram." Nia buru-buru mencuci tangannya dan merogoh ponselnya dari dalam saku ransel. "Kamu deketan dong. Kalo kamu keliatan kan yang nonton banyak. Tuh kan bener. Langsung seratus orang dong yang nonton. Apa nih? Katanya kamu haram." Nia tertawa lagi.


"Kok bisa?"


"Karna segala keindahan duniawi ada di kamu." Nia tak henti tertawa. "Ciye digombalin cewek. Gimana rasanya?"


"Biasa aja. Parahan kamu kali gombalnya."


"Aku kapan pernah gombal?"


"Sering. Gombalnya sambil *****-***** roti sobek aku lagi," balas Zaim.


Spontan Nia membekap mulut Zaim sembari tertawa semakin geli.


"Tuh ada yang nanya, lagi ngedate di mana," imbuh Zaim. "Aku jawab ya. Bukan lagi ngedate tapi lagi nyicil honeymoon."


"Dih gak. Boong-boong. Sumpah ya mulutnya. Siapa nih yang ngefans sama Zaim Alfarezi. Liat nih aslinya ngeres banget." Nia terus tertawa sambil membaca ratusan komentar dari penonton. "Katanya, aku suka cowok ngeres apalagi cowoknya Zaim Alfarezi." Nia tertawa lagi. "Aduh kacau."


Zaim ikut membaca komentar. "Kak Yesenia suruh Kak Zaim buka kancing bajunya yang nanggung itu dong. Tuh kamu disuruh."


"Eh gak boleh. Bahaya."


"Iya bahaya. Soalnya kalo baju aku udah dibuka, yang buka baju aku juga harus buka baju bi–"


"Mulutnya juga kacau nih," sela Nia seraya kembali membekap mulut Zaim. "Malu sedikit …"


Di tengah keuwuwan pasangan yang sedang dimanjakan virus bucin itu, para penonton terus memberikan beragam komentar. Dan di antara komentar dari ratusan penonton, ada satu komentar yang luput dari Nia serta Zaim yang kini tengah bersenda gurau. Benar, komentar dari wanita itu. Wanita yang tak pernah diprediksi siapa pun akan muncul dan bahkan kembali menginjakkan kakinya di ibukota.

__ADS_1



__ADS_2